Ardi, seorang pemuda miskin yang tulus, tiba-tiba dicampakkan oleh Siska, kekasihnya selama lima tahun, demi Bagas, sahabat Ardi yang baru saja naik jabatan menjadi manajer yang kaya raya. Di tengah keputusasaan dan hinaan brutal, Ardi secara tak terduga membangkitkan [Sistem Flash Sale Rp1], sebuah antarmuka misterius yang memungkinkannya membeli barang apa pun—dari mobil sport mewah, penthouse, hingga seluruh perusahaan—hanya dengan satu rupiah. Dengan kekayaan instan yang tak terbayangkan ini, Ardi mulai membalas dendam secara face-slapping kepada mereka yang meremehkannya, sembari menjelajahi kehidupan barunya sebagai miliarder muda yang paling berkuasa di negeri ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Angin laut berembus kencang menerpa wajah Ardi yang sedang berdiri di geladak teratas kapal pesiar Sea King.
Hamparan laut biru sejauh mata memandang benar-benar membuat pikirannya menjadi sangat tenang setelah berbagai konflik di ibu kota.
"Tuan Ardi, kita akan segera merapat di dermaga utama Pulau Nirwana dalam lima menit lagi," lapor Kapten Smith yang berjalan menghampiri dari ruang kemudi.
"Terima kasih Kapten, pelayarannya sangat nyaman dan pelayanannya luar biasa," jawab Ardi sambil tersenyum menatap siluet pulau eksotis di depannya.
Pulau Nirwana terlihat sangat memukau dengan hamparan pasir putih bersih dan barisan pepohonan kelapa yang rimbun melambai tertiup angin.
Di tengah pulau itu, berdiri megah sebuah resor mewah yang desainnya menyatu sempurna dengan alam sekitar.
Kapal raksasa itu perlahan bermanuver dan merapat di dermaga kayu pulau yang ukurannya sangat panjang serta kokoh.
Suara desing mesin kapal perlahan mereda saat jangkar besi berukuran raksasa diturunkan ke dasar laut.
Ardi melangkah turun dari tangga hidrolik kapal pesiar dan langsung disambut oleh barisan panjang staf resor yang berseragam putih bersih.
Di barisan paling depan, berdiri seorang wanita cantik berambut pirang kecokelatan dengan setelan jas profesional yang membalut tubuh rampingnya.
"Selamat datang di Pulau Nirwana Tuan Ardi, saya Elena, manajer utama resor ini," sapa wanita itu sambil membungkuk sangat sopan dan anggun.
Ardi menatap Elena dan sedikit terpesona melihat kecantikan wanita campuran Eropa dan Asia yang memancarkan aura kedewasaan di depannya ini.
"Senang bertemu denganmu Elena, pulau ini terlihat jauh lebih indah daripada di brosur," jawab Ardi membalas sapaannya dengan hangat.
"Semua staf di sini sudah siap melayani setiap kebutuhan Anda selama berlibur Tuan," ucap Elena tersenyum manis memamerkan deretan giginya yang rapi.
"Karena pulau ini sekarang adalah properti pribadi Anda, kami telah membatalkan seluruh reservasi tamu luar untuk bulan ini."
"Bagus, aku memang sedang butuh ketenangan mutlak tanpa ada gangguan orang luar yang menyebalkan," balas Ardi mengangguk puas.
Namun, belum sempat Ardi melangkah menuju mobil golf yang menjemputnya, sebuah suara radio komunikasi berbunyi nyaring dari pinggang seorang petugas keamanan.
"Gawat Nona Elena! Tim keamanan sektor barat diserang oleh sekelompok orang tidak dikenal yang bersenjata!" teriak suara dari dalam radio itu terdengar sangat panik.
"Mereka memaksa masuk ke area gua bersejarah di belakang resor, sepertinya mereka komplotan pencuri artefak kuno!"
Wajah cantik Elena seketika berubah menjadi pucat pasi dan dia langsung menoleh panik ke arah Ardi.
"Tuan Ardi mohon maafkan ketidaknyamanan ini, tolong Anda segera masuk ke bungker aman di bawah resor sekarang juga!" pinta Elena setengah menarik lengan Ardi.
"Saya akan menyuruh tim keamanan utama untuk menahan para penyusup itu sampai polisi perairan laut tiba di sini."
Ardi sama sekali tidak bergerak seinci pun dari tempatnya berdiri, dia justru mengukir senyum tipis di wajahnya.
"Ada berapa banyak tikus penyusup yang masuk ke pulauku ini?" tanya Ardi dengan nada suara yang sangat tenang dan tidak gentar sedikit pun.
"Dari laporan tadi sepertinya ada sekitar belasan orang Tuan, mereka membawa senjata tajam dan sangat nekat!" jawab Elena dengan suara bergetar ketakutan.
"Sempurna, aku kebetulan memang butuh sedikit olahraga ringan setelah lama duduk diam di atas kapal pesiar," ucap Ardi sambil melepaskan jas abu-abunya.
Elena terbelalak lebar mendengar ucapan bos barunya yang terdengar sangat gila dan tidak masuk akal itu.
"Tuan Ardi Anda mau ke mana? Anda tidak boleh ke sana sendirian karena itu sangat berbahaya!" teriak Elena mencoba menahan tubuh Ardi.
"Tunggu saja di sini Elena, aku akan mengurus hama pengganggu ini dalam lima menit saja," jawab Ardi santai sambil berjalan cepat menuju arah barat pulau.
Ardi mempercepat langkah kakinya melewati rimbunnya taman tropis resor menuju area gua bersejarah yang dituju.
Suara teriakan kasar dan benturan benda logam mulai terdengar sangat jelas dari balik semak-semak pepohonan besar.
Saat Ardi tiba di mulut gua yang lembap, dia melihat lima petugas keamanan resor sedang terkapar babak belur di tanah berpasir.
Tiga belas pria berpakaian kotor dan berwajah garang sedang sibuk memasukkan patung-patung emas kuno dari dalam gua ke dalam karung goni besar.
"Hei kalian para pencuri murahan, apakah orang tua kalian tidak mengajari cara mengetuk pintu sebelum masuk ke rumah orang?" tegur Ardi dengan suara lantang dan berat.
Ketiga belas pencuri itu serempak menghentikan aktivitas mereka dan menoleh ke arah sumber suara tersebut.
Pemimpin kelompok sindikat itu, yang memiliki bekas luka codet sayatan di wajahnya, langsung tertawa meremehkan melihat kedatangan Ardi.
"Lihat siapa yang datang ini teman-teman, seorang pemuda kota yang ingin bermain menjadi pahlawan kesiangan," ejek pria berwajah codet itu sambil memutar-mutar linggis besi di tangannya.
"Pulau ini sedang tidak berpenghuni bos besar, barang-barang kuno ini sekarang adalah milik kami yang menemukannya!" tambahnya dengan sangat arogan.
"Milikmu? Bahkan sebutir pasir pun di pulau ini adalah milikku mutlak," jawab Ardi melangkah maju menatap tajam ke mata pria itu.
"Banyak omong kau bocah! Habisi dia cepat dan buang mayatnya ke tengah laut agar dimakan hiu!" perintah si pemimpin pada anak buahnya tanpa ampun.
Empat orang pencuri langsung berlari menerjang maju ke arah Ardi sambil mengayunkan parang berkarat mereka tinggi-tinggi.
Ardi hanya menghela napas pelan, membiarkan insting keahlian Grandmaster MMA mengambil alih seluruh pergerakan otot di tubuhnya.
Wush!
Ardi menunduk dengan kecepatan kilat untuk menghindari tebasan parang pertama yang mengincar lehernya.
Bugh!
Sebuah pukulan uppercut atas yang sangat keras mendarat tepat di rahang pencuri pertama hingga tubuhnya terlempar dua meter ke belakang.