Indonesia
NovelToon NovelToon
Komplotan di Malam Basah

Komplotan di Malam Basah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang
Popularitas:873
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Larasati dikenal seantero kalangan sosialita sebagai **cewek matre kelas kakap**. Demi bisa naik kelas dan menikahi anak konglomerat, ia rela jadi **simpanan** Galih Prasetyo, taipan muda yang cukup ternama.

Malam itu, di apartemen SCBD yang gelap gulita, Laras menyelinap masuk dan langsung memeluk mesra pria yang ia kira kekasihnya—

*"Sayang… kucing liarmu pulang, nih~"*

Tapi begitu lampu menyala, Galih justru berdiri kaku di ambang pintu. Dan pria yang barusan ia peluk erat-erat, yang lehernya baru saja ia cium… adalah **Narendra Hardjanto**—**saudara angkat Galih sejak kecil**, konglomerat berdarah dingin yang paling muak pada perempuan matre.

Laras baru saja meraba-raba **kakak angkat kekasihnya sendiri.**

Ia pikir insiden memalukan itu akan berlalu begitu saja. Nyatanya, keesokan harinya Naren menyudutkannya:

*"Rayuanmu semalam murahan sekali. Berani-beraninya nempel ke saudaraku. Gimana kalau… kulatih biar becus?"*

Ia menolak. Tapi Naren sudah menggenggam rahasia yang bisa menghancurkan seluruh hidupnya. Dan syaratnya paling keji: **di depan umum, Laras tetap jadi perempuan Galih. Diam-diam, ia milik Naren.**

Sekali, dua kali, tak terhitung lagi—di malam-malam basah yang penuh dosa, mereka berdua jadi **komplotan**: sepasang pengkhianat yang menikung saudara sendiri, dan sama-sama membencinya diri sendiri.

Yang tak Naren tahu: di balik topeng "perempuan matre" itu, **setiap rupiah yang Laras kumpulkan mengalir ke sebuah rumah singgah untuk anak-anak perempuan yang dibuang keluarganya.**

Dan yang tak Laras tahu: pria dingin yang menyanderanya ini ternyata **menyimpan rahasia yang sama persis dengannya.**

Sampai rahasia mereka pecah, persaudaraan hancur, dan seluruh Jakarta menudingnya sebagai **perebut, bekas simpanan sahabat**—di hari Laras akhirnya memutuskan pergi, Naren mencengkeram bahunya, untuk pertama kalinya kehilangan seluruh kendali:

*"Kuberikan seluruh hartaku padamu. Jangan pergi—bisa, nggak?"*

Ternyata, sang penguasa tertinggi… rela menunduk, rela mengkhianati saudaranya sendiri, demi satu perempuan.

——
*Dongeng penyelamatan ala Cinderella dewasa. Yang paling dingin, ternyata yang paling nekat mencintai.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6

Aliran Dana yang Janggal

“Ini bukan pola belanja cewek matre biasa, Pak.”

Fahmi meletakkan tiga lembar rekening koran di meja kerja Naren. Matahari siang memantul pada gedung-gedung SCBD, tetapi tirai kantor Grup Wibisana tertutup setengah. Ruangan itu lebih mirip ruang interogasi daripada kantor direktur.

Naren tidak langsung menyentuh berkas.

“Aku minta aliran dananya, bukan penilaianmu.”

“Maaf.” Fahmi menggeser lembar pertama. “Tapi angkanya memang janggal.”

Naren menyandarkan punggung. Beberapa hari lalu ia memerintahkan Fahmi melakukan pemeriksaan terbatas terhadap Laras. Alasannya sederhana: perempuan itu sudah masuk ke lingkaran pribadi keluarga Prasetyo dan bisa menyeret namanya bila skandal pecah.

Setidaknya itu alasan yang ia berikan.

Ia berharap menemukan pembelian tas, tagihan salon, liburan, atau penarikan tunai besar. Bukti bahwa penilaiannya sejak awal tepat. Laras mendekati Galih demi hidup mewah, menerima uang Naren karena harga adalah satu-satunya bahasa yang ia pahami.

Kertas di depannya justru bercerita lain.

Fahmi menunjuk baris-baris yang dilingkari tinta merah. “Setiap bulan ada sekitar tujuh juta keluar ke rekening yang sama. Kadang enam setengah, kadang delapan, tergantung pemasukan akun jual beli barang preloved miliknya.”

“Dia menjual hadiah Galih?”

“Sebagian besar begitu. Tas, sepatu, dua jam tangan. Dijual lewat akun kecil, lalu uangnya masuk ke sini.”

Ujung pena Fahmi berhenti pada kolom keterangan.

cicilan tanah - tahap 8.

cicilan tanah - tahap 9.

cicilan tanah - tahap 10.

“Transfer sembilan puluh juta dari Anda langsung dipindahkan ke rekening khusus pada hari yang sama,” lanjut Fahmi. “Keterangannya sama. Cicilan tanah.”

Naren akhirnya mengambil lembar itu. “Penerima?”

“Nama perseorangan. Kami cek sebatas data publik. Pemilik bidang tanah di pinggiran kota. Belum ada tanda tanah itu atas nama Larasati, mungkin proses akta jual beli belum selesai.”

“Utang?”

“Tidak terlihat seperti utang. Pembayaran tahapannya terlalu rapi.”

Naren menatap angka-angka itu. Rp90 juta yang baginya tak lebih dari biaya jamuan bisnis telah berpindah dalam hitungan menit. Laras tidak membeli perhiasan. Tidak memesan liburan. Ia bahkan masih tinggal di kontrakan sempit dan naik ojek online.

“Mungkin dia sedang menyiapkan rumah untuk kabur bersama orang lain,” ujar Naren.

Fahmi diam satu detik terlalu lama. “Mungkin.”

“Kamu tidak setuju?”

“Saya tidak punya cukup data untuk setuju atau tidak.”

“Tapi?”

“Kalau tujuannya rumah pribadi, biasanya ada pembayaran furnitur, survei bangunan, atau biaya pindahan. Di sini tidak ada. Ada beberapa transfer kecil untuk obat, bahan makanan dalam jumlah banyak, dan toko alat sekolah.”

Fahmi membuka halaman kedua. “Galih mentransfer lima belas juta setiap bulan ke rekening berbeda. Laras hanya memakai sebagian kecil untuk kebutuhan harian. Tidak ada kartu kredit premium atas namanya. Tagihan ponselnya prabayar, sewa kontrakan dibayar tiga bulan sekali, dan perjalanan paling mahal selama enam bulan terakhir cuma tiket kereta ke Jawa Tengah.”

“Dia tetap menerima uang Galih.”

“Betul.”

“Jadi penampilannya hanya strategi.”

“Bisa jadi.” Fahmi menjaga wajah tetap netral. “Atau penampilannya yang strategi, sementara tujuan uangnya sesuatu yang lain.”

Naren meletakkan lembar itu lebih keras daripada perlu. “Kamu sekarang membelanya?”

“Saya membaca angka, Pak.”

Jawaban itu membuat ruangan kembali sunyi. Angka tidak punya belas kasihan. Angka juga tidak mengenal prasangka. Selama dua tahun, uang Galih masuk pada tanggal yang sama. Dua atau tiga hari sesudahnya, lebih dari separuh berpindah ke rekening tanah. Sisa saldo Laras hampir selalu turun mendekati batas minimum.

“Ada satu hal lagi,” ujar Fahmi. “Ia pernah mengembalikan transfer ke rekening Galih.”

“Kapan?”

“Empat bulan lalu. Dua puluh juta, dengan keterangan kelebihan. Tidak ada perempuan yang berniat menguras seseorang mengembalikan uang karena nominalnya salah.”

Naren menatap Fahmi sampai asistennya menunduk.

“Kau terlalu banyak menyimpulkan hari ini.”

“Maaf, Pak.”

Naren mengangkat mata. “Alat sekolah?”

“Buku tulis, pensil warna, seragam anak. Pembelian berulang.”

Fahmi mengeluarkan satu lembar tambahan. Tiga struk elektronik terlampir di sana. Laras membeli dua belas pasang sepatu anak dengan ukuran berbeda, tetapi alamat pengiriman disamarkan melalui gudang titipan.

“Cari alamat akhirnya,” kata Naren.

Fahmi meraih map.

“Tidak.”

Tangan asistennya berhenti.

Naren mengetuk lembar rekening dengan telunjuk. “Catat saja. Jangan masuk lebih jauh.”

“Baik, Pak.”

“Dan jangan ada yang tahu aku meminta ini. Termasuk Galih.”

“Tentu.”

Fahmi mengumpulkan salinan, menyisakan satu lembar sesuai isyarat Naren. Sebelum keluar, ia sempat melihat atasannya memperbesar sebuah struk sepatu anak di layar komputer.

Pintu kantor tertutup.

Naren memutar kursi menghadap jendela. Dalam pantulan kaca, ia melihat wajahnya sendiri dan teringat Laras yang duduk di balkon, menghitung lima batang rokok tanpa pernah bertanya mengapa.

Kalau perempuan itu benar-benar hanya ingin naik kelas, mengapa seluruh pola hidupnya mengarah pada tempat yang tidak pernah ia nikmati sendiri?

Ia membuka komputer, membuat folder baru, lalu memasukkan tangkapan layar rekening, bukti transfer, dan struk sepatu anak ke dalamnya. Sistem meminta nama folder.

Naren mengetik satu huruf.

L.

Kursor berkedip di sampingnya seperti pertanyaan yang menolak ditutup.

Ponselnya menyala karena pesan Galih yang mengajak makan malam bertiga akhir pekan nanti. Naren tidak segera menjawab. Di layar komputer ada kehidupan rahasia Laras; di layar ponsel ada saudara yang memercayainya. Ia membalik ponsel sampai layar itu tertutup meja.

1
𝐀⃝🥀Weny
niat hati ingin bermesraan sama pacar.. eee.. ternyata salah orang, gara² lampu gak di nyalain/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!