"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"
"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"
"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."
"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"
"Itu hakmu untuk menyimpulkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24. SEBELUM PERJALANAN
BAB 24. Sebelum Perjalanan
Pintu ruang CEO menutup pelan di belakang Kalandra. Percakapan yang baru saja didengarnya di depan lift masih teringat jelas. Tidak ada satu pun kalimat yang benar-benar melampaui batas. Semua terdengar wajar. Bahkan Hagia pun menanggapi dengan sewajarnya. Namun, justru kewajaran itulah yang membuat pikirannya tidak benar-benar tenang.
Kalandra meletakkan map hasil pertemuan di atas meja, lalu duduk tanpa segera membukanya. Ruangan menjadi sunyi. Beberapa detik berlalu. Barulah ia mengembuskan napas pelan.
"Haris."
Sekretaris pribadinya yang sedang memeriksa beberapa dokumen di ruang luar segera masuk.
"Ya, Pak."
"Kosongkan agenda saya mulai Jumat."
Haris mengangkat kepala.
"Mulai Jumat?"
"Iya."
"Semua agenda?"
"Semua."
Alis Haris sedikit terangkat.
"Apa itu berarti... Bapak akan mengambil cuti?"
"Iya."
Jawaban singkat itu membuat Haris benar-benar terdiam. Selama bertahun-tahun menjadi sekretaris pribadi Kalandra, ia hampir tidak pernah mendengar kata cuti keluar dari mulut atasannya sendiri.
"Berapa hari, Pak?"
"Tiga hari."
"Tumben, Pak." Haris tersenyum tipis. "Selama saya bekerja dengan Bapak, rasanya belum pernah melihat Bapak mengambil cuti."
"Saya harus melakukan perjalanan beberapa hari," jawab Kalandra sambil menarik sebuah map di atas meja.
Haris mengangguk kecil.
"Perjalanan dinas?"
Tangan Kalandra kembali meraih sebuah pulpen, tetapi matanya masih fokus pada isi map. "Bisa jadi."
Haris segera membuka kembali agenda di tabletnya.
"Kalau begitu, pertemuan dengan investor Singapura hari Jumat?"
"Kalau mereka bersedia, majukan ke besok."
"Kalau tidak memungkinkan?"
"Baru pindahkan ke minggu depan."
"Baik, Pak."
"Rapat evaluasi proyek kawasan timur?"
"Delegasikan pada Direktur Operasional. Minta notulennya dikirim ke saya."
"Siap."
"Lalu, review kontrak pelabuhan?"
"Pastikan selesai Kamis sore."
Jemari Haris terus bergerak di atas layar tablet. Semakin banyak agenda yang dibacanya, semakin jelas pola yang diterapkan Kalandra. Hampir tidak ada pekerjaan yang dibiarkan tertunda. Yang bisa dimajukan, diselesaikan lebih awal. Yang dapat didelegasikan, langsung diserahkan kepada pejabat terkait.
"Bapak benar-benar menyiapkan semuanya sebelum cuti."
Kalandra pun mengangkat pandangan. "Saya tidak ingin perusahaan berhenti bekerja hanya karena saya sedang tidak di kantor."
"Baik, Pak. Saya segera sesuaikan semuanya."
Setelah Haris keluar, ruangan kembali sunyi. Hagia masih memandang layar komputernya, tetapi pikirannya tidak lagi berada pada dokumen yang sedang dikerjakan.
"Tuan."
"Ya?" jawabnya tanpa menoleh.
"Kalau Anda cuti, bagaimana dengan jadwal saya?"
"Ikut."
Hagia berkedip. "Tapi saya belum mengajukan cuti."
"Sudah saya urus."
Hagia mengernyit. "Kita benar-benar melakukan perjalanan?"
Kalandra menoleh sekilas.
"Iya."
Kata perjalanan kembali terngiang di benak Hagia. Ia mencoba mengingat seluruh agenda yang telah disusunnya selama beberapa minggu terakhir. Tidak ada kunjungan proyek, tidak ada rapat di luar kota, tidak ada pertemuan dengan investor yang mengharuskan Kalandra meninggalkan Jakarta. Kalender kerjanya benar-benar kosong.
"Saya tidak menemukan agenda perjalanan apa pun."
"Tugasmu sekarang, pastikan semua pekerjaan selesai sebelum hari Jumat."
Kalimat itu kembali menggantung di udara. Hagia mengembuskan napas pelan. Beberapa hari terakhir, hampir setiap pertanyaannya selalu berakhir dengan jawaban seperti itu. Singkat, tenang dan tidak pernah benar-benar menjelaskan apa yang ingin diketahuinya.
Sementara itu, Kalandra kembali membuka ponselnya. Ia memilih satu nama dari daftar kontak, lalu menekan tombol panggil. Sambungan tersambung hanya dalam dua kali dering.
"Saya ingin memastikan, semua sesuai rencana."
"..."
"Sebelum Jumat malam, pastikan semuanya siap."
Pandangannya sekilas beralih ke arah Hagia yang masih menatap layar komputernya.
"Jangan ada yang berubah."
Beberapa detik kemudian, sambungan telepon berakhir. Kalandra meletakkan kembali ponselnya ke atas meja tanpa memberikan penjelasan apa pun.
Di seberang ruangan, Hagia sudah kembali menatap layar komputernya. Semakin banyak potongan peristiwa yang ia lihat hari itu, semakin yakin ia bahwa perjalanan yang dimaksud Kalandra telah dipersiapkan jauh-jauh hari. Hanya satu hal yang masih menjadi misteri. Ke mana sebenarnya Kalandra akan membawanya?
***
Menjelang akhir jam kerja, ruang CEO kembali lengang. Hampir seluruh pekerjaan yang sengaja dimajukan selama beberapa hari terakhir, akhirnya selesai sesuai rencana. Agenda yang tidak bisa ditinggalkan telah didelegasikan kepada orang yang tepat, sementara sisanya dijadwalkan ulang tanpa mengganggu jalannya perusahaan.
Kalandra menutup laptopnya, lalu mengambil jas yang tergantung di sandaran kursi.
"Haris."
"Ya, Pak."
"Kalau ada yang benar-benar mendesak, hubungi saya."
"Baik, Pak."
Ia kemudian menoleh ke arah Hagia. "Sudah selesai?"
Hagia menyimpan map terakhir ke dalam laci meja.
"Sudah."
"Kalau begitu, kita jalan."
Mobil meninggalkan kawasan Arshaka Group dengan tenang. Hagia sempat mengira tujuan mereka seperti biasa adalah rumah sakit. Namun, beberapa persimpangan kemudian, mobil justru berbelok menuju sebuah pusat perbelanjaan.
Ia menoleh ke arah Kalandra.
"Kita tidak langsung ke rumah sakit?"
"Nanti."
Jawaban singkat itu membuat Hagia kembali diam. Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di area parkir bawah tanah. Kalandra mematikan mesin, lalu melepaskan sabuk pengamannya.
"Kita masuk."
Hagia mengikuti langkahnya tanpa banyak bertanya. Begitu memasuki supermarket, Kalandra langsung mengambil sebuah troli. Ia berjalan menyusuri beberapa lorong dengan langkah mantap. Hagia hanya mengikutinya dari belakang sambil sesekali memperhatikan barang-barang yang berpindah ke dalam troli. Tidak sampai setengah jam, troli itu sudah hampir penuh.
Berbagai macam barang memenuhi isinya. Makanan praktis, perlengkapan pribadi, obat-obatan ringan, hingga beberapa kebutuhan lain yang menurut Hagia lebih cocok dibawa bepergian daripada disimpan di penthouse.
Ia akhirnya tidak dapat menahan senyum. "Kalau saya lihat-lihat... ini lebih mirip perbekalan orang yang mau mengasingkan diri di dalam goa."
Kalandra menoleh sekilas.
Hagia menunjuk troli di depan mereka. "Saya jadi penasaran, sebenarnya kita mau ke mana sampai harus menyiapkan sebanyak ini."
Kalandra melirik isi troli beberapa
detik sebelum kembali mendorongnya. "Nanti juga tahu."
"Itu bukan jawaban."
"Tapi benar."
Hagia hanya menggeleng kecil.
Semakin lama mengenal pria itu, semakin ia memahami satu hal.
Kalandra hampir tidak pernah menghindari pertanyaan. Ia hanya menjawab seperlunya.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di kasir. Setelah seluruh pembayaran selesai, beberapa kantong belanja dipindahkan ke bagasi mobil. Kalandra menyusunnya sendiri dengan rapi sebelum menutup pintu bagasi.
"Selesai."
Hagia mengangguk. "Berikutnya?"
"Rumah sakit."
Mobil kembali melaju meninggalkan pusat perbelanjaan. Beberapa menit pertama mereka lalui dalam diam. Hagia sempat menoleh ke arah Kalandra, seolah ingin kembali bertanya. Namun, ketika melihat pria itu tetap fokus menyetir dengan ekspresi yang sama tenangnya, ia akhirnya mengurungkan niat.
Ia hanya tersenyum kecil. "Baiklah."
Kalandra melirik sekilas. "Apa?"
"Saya akan berhenti bertanya."
"Itu keputusan paling efektif"
"Saya harap, rasa penasaran saya sepadan."
Kalandra tidak menjawab lagi. Namun, sudut bibirnya sempat bergerak nyaris tak terlihat sebelum kembali fokus pada jalan di depannya.
Hagia menyandarkan punggung ke kursi. Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia memilih berhenti menebak-nebak dan menikmati perjalanan itu apa adanya. Tak lama kemudian, gedung rumah sakit mulai terlihat di depan mereka.
Begitu pintu ruang perawatan terbuka, Pak Arshaka yang sejak tadi beberapa kali melirik jam dinding langsung mengangkat kepala. Wajahnya yang semula tampak sedikit bosan seketika berubah cerah.
"Kalian mampir ke mana dulu?"
Hagia tersenyum kecil.
"Iya, Kek. Ada sedikit urusan."
"Pantas saja telat. Tidak seperti biasanya."
Pria tua itu tertawa pelan sebelum mempersilakan mereka duduk. Seperti biasa, mereka menghabiskan waktu dengan percakapan ringan. Hagia membantu mengupas buah yang mereka bawa, sementara Kalandra sesekali menanyakan perkembangan kondisi kesehatan sang kakek.
Menjelang jam besuk berakhir, Kalandra akhirnya berdiri.
"Kek."
Pak Arshaka menoleh.
"Kalau beberapa hari ke depan kami tidak datang... tidak apa-apa?"
Pria tua itu terdiam sesaat. Tatapannya berpindah dari Kalandra kepada Hagia, lalu kembali lagi kepada cucunya. Hanya butuh beberapa detik sampai ia memahami maksud pertanyaan itu.
"Apa kalian jadi pergi?"
Kalandra tidak menjawab. Namun, diamnya sudah cukup menjadi jawaban. Senyum Pak Arshaka langsung melebar.
"Tidak apa-apa." Senyumnya justru semakin lebar. "Ada Hesti yang menemani Kakek. Kalian pergi saja."
Reaksi spontan itu justru membuat Hagia mengernyit. Ia mendekat ke sisi ranjang, lalu sedikit merendahkan tubuhnya.
"Kakek..."
"Hm?"
"Kakek tahu kami mau pergi?"
Pak Arshaka hampir saja mengangguk. Namun, sebelum sempat membuka mulut, ia menangkap tatapan Kalandra yang mengarah kepadanya. Tatapan itu tenang. Tetapi pesannya sangat jelas.
Jangan bilang apa-apa.
Pak Arshaka langsung berdeham kecil. "Eh... maksud Kakek..." Ia menggaruk pelipisnya sendiri sambil tersenyum kikuk. "Ya... namanya juga menebak."
Hagia bergantian menatap Pak Arshaka dan Kalandra. Semakin diperhatikan, semakin ia merasa kedua orang itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Belum sempat ia bertanya lagi, Kalandra sudah lebih dulu meraih pergelangan tangannya dengan pelan.
"Sudah."
Ia menoleh kepada sang kakek. "Kami pamit."
"Hati-hati di jalan."
Pak Arshaka mengangguk sambil menyimpan senyum yang sejak tadi berusaha ditahannya. Begitu pintu ruang perawatan tertutup, Hagia langsung menoleh kepada pria di sampingnya.
"Kakek tahu sesuatu."
"Mungkin."
"Bahkan kelihatannya beliau tahu tujuan kita."
Kalandra tetap melangkah menuju lift.
"Belum tentu."
"Belum tentu bagaimana?"
"Kakek memang suka menebak."
Hagia mendecak pelan.
"Tuan..."
"Ya?"
"Boleh saya bertanya satu kali lagi?"
Kalandra melirik sekilas. "Bukannya tadi kamu bilang sudah menyerah?"
Hagia mengembuskan napas panjang. "Itu sebelum melihat reaksi Kakek."
Sudut bibir Kalandra nyaris terangkat. "Kalau begitu..." Ia menekan tombol lift. "tetaplah bersabar."
Pintu lift terbuka. Hagia hanya bisa menggeleng pelan sambil mengikuti langkahnya masuk.
"Benar-benar menyebalkan."
Kalandra tetap diam. Namun, dari sudut matanya, ia melihat Hagia tidak lagi terlihat cemas seperti beberapa hari terakhir. Setidaknya, rasa penasaran itu berhasil mengalihkan pikirannya dari hal-hal lain.
Next--->
semoga bukunya sukses
semoga saja ada yang menolong 😔🤲
pada penasaran dengan sosoknya, tapi dia ada didepan orang² yang penasaran padanya 🤭
enak dibaca.. ❤️❤️❤️❤️❤️
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻