Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Matahari pagi baru saja mengintip di sela-sela tirai jendela kamar apartemen, membawa pancaran hangat yang menyentuh lembut kulit.
Namun, sebelum Alena sempat merencanakan rutinitas paginya, sebuah pelukan hangat dari belakang lebih dulu menyergap pinggangnya.
Baskara sudah berdiri di sana, mengenakan kemeja kasual rapi dengan senyuman misterius tersungging di bibirnya.
"Bangun, Sayang. Hari ini kita ada jadwal spesial," bisik Baskara tepat di dekat telinga istrinya, suaranya terdengar lembut namun sarat akan antusiasme.
Alena mengerjap beberapa kali, memutar tubuhnya perlahan menghadap sang suami sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Jadwal spesial apa, Bas? Kamu ini bikin penasaran saja. Kita mau kemana memangnya?" tanya Alena dengan nada setengah heran, mengabaikan rasa penasarannya yang mulai membuncah.
Alih-alih menjawab, Baskara justru terkekeh pelan.
Ia meraih sebuah kain penutup mata berbahan sutra lembut dari balik saku jaketnya.
"Kalau dikasih tahu sekarang, namanya bukan kejutan, dong."
Baskara melangkah mendekat, lalu dengan sangat hati-hati membingkai wajah Alena dan memasangkan penutup mata tersebut, memastikan pandangan istrinya benar-benar gelap dan tidak bisa melihat ke sekitar.
Alena refleks memegang tangan suaminya yang berada di sisi wajahnya.
Sensasi tanpa penglihatan itu sempat membuat debaran jantungnya meningkat, namun rasa percaya yang begitu besar kepada sang suami membuatnya langsung tenang.
"Bas, kita mau kemana, sih? Jangan bilang kamu mau isengin aku ya," protes Alena dengan nada manja, bibirnya mengerucut tipis meski ia tidak bisa menahan senyuman di balik kain penutup mata itu.
Baskara menuntun langkah Alena perlahan-lahan keluar dari kamar menuju ruang tengah, memastikan setiap pijakan kaki sang istri aman dan tidak ada penghalang.
"Rahasia, Sayang," jawab Baskara dengan nada berbisik di dekat telinganya, tangan kekarnya merangkul erat pundak Alena untuk memberikan rasa aman penuh.
"Cukup pegang tanganku, nikmati perjalanannya, dan biarkan aku memanjakan ratuku hari ini."
Suara deru halus mesin mobil yang melambat menandakan perjalanan mereka telah berakhir.
Baskara mematikan mesin, lalu dengan sigap melepas sabuk pengamannya dan bergegas keluar untuk membukakan pintu di sisi Alena.
Angin pagi yang segar menyapa, berpadu dengan aroma khas mentega dan roti baru dipanggang yang langsung menggelitik indra penciuman.
"Sudah siap, Sayang?" tanya Baskara lembut, jemarinya menggenggam erat tangan Alena yang masih terhalang kain penutup mata, menuntun langkah sang istri keluar dari kabin mobil dengan sangat hati-hati.
Alena mengangguk pelan, detak jantungnya berdegup lebih kencang karena rasa penasaran yang teramat sangat.
"Aku deg-degan, Bas. Ini bau apa ya? Kok harum banget." tanya Alena dengan penuh penasaran.
Baskara tersenyum penuh rahasia di balik punggung sang istri.
Perlahan, tangannya terulur ke belakang kepala Alena, membuka simpul kain sutra penutup mata itu dan menariknya perlahan.
"Buka matamu, Sayang," bisik Baskara tepat di dekat telinga Alena.
Cahaya pagi yang benderang langsung menyapa mata Alena, membuatnya mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri.
Namun, begitu pandangannya fokus pada apa yang ada di hadapannya, napas Alena mendadak tercekat.
Seketika itu juga, air mata haru langsung menggenang di pelupuk matanya.
Di hadapannya kini, bangunan toko roti kesayangannya—yang dulu hancur lebur dan tinggal puing-puing hitam akibat dibakar orang suruhan masa lalu—kini berdiri megah, utuh, dan jauh lebih indah dari sebelumnya.
Cat dindingnya tampak segar, papan nama kayu berukir elegan terpasang rapi di atas pintu kaca yang berkilau, dan etalase kaca bersih memantulkan cahaya matahari pagi.
Belum habis rasa terkejut dan bahagianya, pintu toko terbuka dari dalam.
Tanti bersama dua orang karyawan setia yang dulu sempat bekerja bersama mereka muncul mengenakan seragam baru berwarna krem yang rapi dan bersih.
Mereka tersangat lebar, menyambut kedatangan Alena dengan mata berkaca-kaca.
"Selamat datang kembali, Nyonya!" seru Tanti riang, sementara kedua karyawan lainnya membentangkan senyuman hangat penuh haru.
Alena menutup mulutnya dengan kedua tangan, isak tangis bahagia akhirnya pecah.
Ia menoleh ke samping, mendapati sosok papa dan mamanya berdiri di dekat pintu masuk, tersenyum bangga sambil merentangkan tangan menyambut putri mereka.
Alena tidak bisa berkata-kata lagi. Seluruh kepingan lelah, ketakutan, dan kenangan pahit masa lalu seolah terhapus tuntas, digantikan oleh kebahagiaan luar biasa yang tengah merayap memenuhi rongga dadanya.
Dengan langkah gemetar namun dipenuhi rasa haru yang teramat sangat, Alena melangkah masuk melewati pintu kaca toko rotinya.
Langkahnya seolah membawa kembali kenangan masa lalu, namun suasana di dalam ruangan kini jauh melampaui apa yang pernah ia bayangkan.
Interior toko roti itu kini mengusung konsep modern minimalis yang hangat dan elegan.
Perpaduan warna kayu terang, pencahayaan lampu warm white yang estetik, serta etalase kaca kristal yang memajang berbagai macam pastry dan roti fresh menciptakan atmosfer yang sangat nyaman dan berkelas. Jauh berbeda dari bangunannya yang dulu sederhana.
Tanti dan kedua karyawan setianya dengan sigap menemani di belakang, ikut tersenyum lebar melihat reaksi takjub sang pemilik toko.
"Masuklah lebih dalam, Sayang," bisik Baskara lembut sambil merangkul pundak istrinya, menuntun langkah Alena menyusuri setiap sudut ruangan lantai dasar yang tertata begitu sempurna.
Tidak berhenti sampai di situ, Baskara kemudian menuntun Alena menuju sebuah sudut ruangan di mana terdapat tangga minimalis berlapis kayu dengan pegangan besi hitam yang kokoh.
"Ayo, masih ada satu kejutan lagi di atas," ajak Baskara dengan senyuman penuh binar kebanggaan.
Dengan hati-hati, Alena menaiki anak tangga tersebut, didampingi sang suami dan kedua orang tuanya yang mengekor di belakang sambil tersenyum hangat. Begitu sampai di lantai dua, mata Alena kembali membelalak lebar.
Lantai dua tersebut disulap menjadi area kafe indoor yang sangat nyaman khusus bagi para pengunjung yang ingin menikmati kelezatan roti buatan Alena secara langsung.
Tersedia beberapa meja kayu bergaya modern yang dipadukan dengan sofa empuk berwarna pastel, serta sudut-sudut ruangan yang dipermanis dengan tanaman hias hijau yang menyegarkan pemandangan.
Jendela kaca besar di sisi depan memberikan pencahayaan alami sekaligus pemandangan jalanan luar yang menenangkan.
"Ini, semua untuk aku, Bas?" tanya Alena terbata-bata, menatap suaminya dengan air mata yang kembali luruh di pipinya, bukan karena sedih, melainkan karena rasa haru dan bahagia yang membuncah di dadanya.
Baskara membawa Alena ke dalam dekapannya, mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Iya, Sayang. Toko roti ini milikmu, perjuanganmu yang sempat direbut, sekarang sudah kembali. Dan tempat ini siap menyambut babak baru kesuksesanmu, bersama jagoan kita di sini," bisik Baskara lembut, mengusap punggung istrinya yang bergetar karena terlalu bahagia.
kalo pun ad di real life yx perbandingan ny 1 : 10000
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭