Indonesia
NovelToon NovelToon
Warisan DENDAM

Warisan DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:290
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.

Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.

Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.

Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12 : Cukup membuatmu diam

"Ayo bergerak!"

Petugas segera mengarahkan Victor keluar, namun bayangan kehadirannya terasa tertinggal jauh lebih lama daripada langkah kakinya.

Pintu ruang sidang tertutup.

Dan untuk pertama kalinya sejak pagi, Blair menghembuskan napasnya. Perlahan.

Lucas yang berdiri di sampingnya menoleh, ragu-ragu.

“kau...membebaskannya?” katanya pelan.

“...ya, seperti yang kau lihat." jawab Blair singkat.

Ia bangkit dari kursinya. Jubah hitamnya bergerak mengikuti tubuhnya saat ia berdiri tegak, menatap kursi terdakwa yang kini kosong.

Blair mengangkat dagunya sedikit, suaranya rendah, lebih kepada dirinya sendiri daripada siapa pun.

“tapi ini belum selesai.”

Tangannya mengepal perlahan di balik meja.

...

Malam telah menelan kota.

Lampu-lampu jalan di gang itu berkedip lemah, memantulkan bayangan panjang di aspal yang basah. Victor melangkah keluar dari area tahanan dengan rahang mengeras. Tangannya mengusap pergelangan yang memerah, bekas borgol masih terasa menyengat seolah sengaja mengingatkannya pada penghinaan siang tadi.

“Sial,” gumamnya kesal.

Napasnya berat. Matanya menyipit, dan amarah yang tertahan sejak persidangan kini menemukan jalannya.

“Jalang itu…” katanya lirih, penuh racun. “Seharusnya dia tahu tempatnya.”

Langkahnya makin cepat saat gedung apartemen di ujung gang terlihat. Wilayah itu sunyi, terlalu sunyi. Tidak ada orang berlalu-lalang, tidak ada suara selain langkah sepatunya sendiri. Sudut bibirnya terangkat perlahan.

Tangannya mengepal.

“Lihat saja nanti,” bisiknya. “Aku akan memberinya pelajaran.”

Ia memasuki gedung, menekan tombol lift dengan kasar. Pintu logam menutup, dan pantulan wajahnya terlihat samar, senyum dingin, mata kosong. Lift berhenti di lantai atas. Lorong panjang menyambutnya dengan lampu redup dan keheningan yang menyesakkan.

Victor berjalan ke ujung lorong.

Kunci berputar pelan. Pintu terbuka.

Di dalam, seorang wanita berdiri di dapur, membelakanginya. Suara wajan dan api kecil menjadi satu-satunya tanda kehidupan di ruangan itu.

Senyum Victor melebar.

Ia melangkah masuk tanpa suara. Tangannya meraih sesuatu di dekat pintu, sebuah tongkat besi yang disandarkan sembarangan. Genggamannya mengencang saat ia mendekat, langkahnya perlahan, hampir santai.

Ia berdiri tepat di belakang wanita itu.

“Akhirnya,” katanya rendah, penuh kepuasan. “Kita bertemu lagi, Diana.”

Tongkat itu terayun.

Pukulan menghantam bahu wanita itu. Tubuhnya terhuyung lalu jatuh ke lantai. Suara ringisannya pecah, tertahan, nyaris tak sempat keluar sepenuhnya.

Victor tidak memberi waktu.

Tangannya menjambak rambut wanita itu, menariknya dengan kasar. Wanita itu menjerit pelan, tubuhnya terseret di lantai menuju kamar mandi.

“Kau pikir ini selesai?” hardiknya. “Kau pikir kau bisa lari begitu saja?”

Ia melempar tubuh wanita itu ke dinding kamar mandi. Kepalanya terbentur keras. Victor tertawa pendek, dingin, tanpa sedikit pun empati.

“Bagaimana?” ejeknya. “Rasanya sudah cukup membuatmu diam sekarang?”

Wanita itu tergeletak di lantai kamar mandi. Air dari wastafel yang terbentur tadi mengalir deras, membasahi lantai, bercampur dengan napasnya yang tersengal. Tangannya gemetar saat berusaha menopang tubuhnya sendiri.

Victor berdiri di depannya.

Bayangannya memanjang di dinding, tongkat besi masih tergenggam erat di tangannya. Matanya menatap Diana dari atas ke bawah, puas, seolah sedang menilai hasil kerjanya sendiri.

“Lihat dirimu,” katanya sambil tertawa pendek. “Masih berani melapor, masih berani buka mulut di depan orang-orang itu.”

Ia berjongkok, mencengkeram dagu wanita itu dengan kasar, memaksanya menatap wajahnya.

“Kau pikir hakim itu akan menyelamatkanmu?” lanjutnya rendah. “Sidang ditunda. Aku bebas. Dan kau...”

Kepalanya mendekat, suaranya berubah menjadi bisikan yang menusuk.

“...masih milikku.”

1
Ibu'e Arfan Call
seru deh bacanya,👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!