Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Kultivasi Sandera

Sistem Kultivasi Sandera

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Timur
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!

Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Serat rami yang melilit pergelangan tangan Gu Ran terasa lembap dan berbau minyak tengik.

Tiang kayu hitam di tengah pelataran batu putih itu sudah menyerap terlalu banyak tetesan darah selama puluhan tahun. Di bawah terik matahari pagi yang menyengat lereng Puncak Pedang Utama, permukaannya yang kasar menekan tulang punggung Gu Ran yang tipis.

Gu Ran menggeser sedikit tumitnya. Ujung jerami sandalnya sudah terkoyak, membiarkan kerikil kapur yang tajam menusuk telapak kakinya yang kotor.

Di bawah kukunya, sisa jelaga arang dari Lembah Tungku masih mengerak hitam. Lima tahun membakar batu bara untuk senjata para murid dalam hanya menyisakan batuk kering dan sepasang mata kelabu yang letih.

“Berdiri tegak, sampah!”

Bentakan serak itu datang dari tepi pelataran batu. Mandor Wu melangkah maju dengan perut buncitnya yang berguncang di balik jubah abu-abu berkancing longgar. Tangannya menggenggam cambuk kulit berpilin kawat tembaga, siap diayunkan kapan saja.

Gu Ran tidak membalas. Ia hanya mengangkat kepalanya perlahan, membiarkan helaian rambut putihnya yang kotor tersingkap dari dahi. Matanya yang menyipit menatap kerumunan jubah putih bersulam benang perak yang mulai memadati pinggir arena.

Ratusan murid dalam Sekte Pedang Langit berdiri membentuk lingkaran. Beberapa dari mereka berbisik sambil melipat tangan di dada, menatap tiang kayu itu seolah menatap bangkai babi di rumah jagal.

Bagi mereka, menguji ketajaman pedang pada tubuh budak penempa adalah tontonan pagi yang lumrah.

Langkah kaki berirama santai terdengar dari arah tangga batu pualam.

Kerumunan murid dalam seketika terbelah dua, memberi jalan dengan kepala tertunduk hormat. Dari sela barisan itu, seorang pemuda melangkah dengan dagu terangkat tinggi.

Song Ming mengenakan jubah sutra hijau zamrud dengan mahkota giok putih yang mengikat rambut hitamnya secara rapi. Di pinggang kirinya, tergantung sebuah sarung pedang dari kulit binatang buas bersisik perak.

“Tuan Muda Song!” Mandor Wu buru-buru membungkuk sembilan puluh derajat hingga janggut tipisnya hampir menyapu debu kapur. “Samsak hidup dari tungku nomor tujuh sudah diikat kuat sesuai pesanan Anda. Tulang dan dagingnya liat, sangat pas untuk menguji hasil tempaan perdana.”

Song Ming tidak memandang sang mandor. Jarinya yang lentik dan bersih mengetuk gagang pedang di pinggang.

“Pedang ini selesai ditempa tadi malam,” ujar Song Ming santai. Suaranya jernih, memantul di dinding-dinding tebing arena. “Tiga ratus kati baja meteorit, ditempa dengan api belerang bawah tanah selama empat puluh sembilan hari.”

Ia menarik gagang senjatanya perlahan.

Gesekan logam dingin bergema nyaring. Bilah pedang ramping berwarna hijau bening keluar dari sarungnya, membiaskan cahaya matahari menjadi pantulan zamrud yang menyilaukan. Udara di sekitar pelataran batu mendadak turun beberapa derajat saat hawa pedang tajam menyebar dari bilah tersebut.

“Pedang Hujan Hijau,” gumam beberapa murid dalam dengan nada takjub.

Song Ming melangkah santai ke tengah arena, berhenti persis lima langkah di depan Gu Ran. Ujung pedang hijau itu diangkat, terarah lurus ke pangkal leher Gu Ran.

“Lima tahun lalu, kau dibeli murah dan dilempar ke Lembah Tungku karena meridianmu cacat sejak lahir,” kata Song Ming dengan nada datar, seolah sedang membicarakan cuaca buruk kemarin sore. “Makhluk sampah yang bahkan tidak bisa menampung sebutir debu Qi di dalam tubuhnya.”

Gu Ran menatap ujung pedang yang berjarak sejengkal dari kulit tenggorokannya. Hawa dingin dari logam itu membuat bulu kuduknya meremang tipis, tetapi kelopak matanya tetap terkulai malas.

“Tuan Muda Song,” suara Gu Ran serak, kering karena sejak subuh belum menyentuh seteguk air pun. “Talinya diikat terlalu kencang. Bahu kiriku pegal sekali.”

Kerumunan murid di tepi arena terdiam sejenak. Mandor Wu melotot tajam, jemarinya mencengkeram gagang cambuk hingga bergetar karena kegusaran.

Song Ming tertawa pendek. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang meremehkan.

“Bagus. Berarti kau masih punya tenaga untuk merasakan sakit,” kata Song Ming pelan. “Anggap saja ini kehormatan terbesarmu sebelum mati. Darah kotor dari sampah penempa sepertimu akan menjadi pelumas pertama bagi pedang baruku.”

Gu Ran menghela napas pendek. Debu kapur yang terhembus dari lantai menggelitik hidungnya.

“Kalau mau menebas, tolong agak miring sedikit ke bawah,” bisik Gu Ran datar. “Di leher kiriku ada urat nadi besar. Jangan sampai meleset dan membuat bajuku makin kotor.”

Mendengar kata-kata itu, senyum di wajah Song Ming lenyap.

Alis sang tuan muda bertaut rapat. Di depan ratusan murid yang mengaguminya, ketenangan budak kurus ini terasa menusuk harga dirinya.

“Mencari mati!”

Kaki kanan Song Ming menghentak tanah berkapur. Batu di bawah telapak sepatunya retak halus saat aliran Qi Pemurnian Qi Tingkat 7 meluap di sekujur lengannya.

Lengan baju hijau zamrud itu mengayun cepat.

Tebasan Daun Gugur!

Bilah Pedang Hujan Hijau berdesing membelah udara, meninggalkan lintasan cahaya hijau tipis yang melengkung tajam. Kecepatannya melesat melebihi kedipan mata orang biasa.

Bilah pedang itu menghantam bahu kiri Gu Ran, merobek kain abu-abu yang lapuk dan membelah daging sedalam dua inci sebelum tertahan oleh tulang selangka.

Darah segar berwarna merah pekat memancar keluar, membasahi dada kurus Gu Ran dan menetes deras ke permukaan batu kapur putih di bawah kakinya. Bau amis logam hangat seketika menyengat udara pagi.

Gu Ran terkesiap pendek. Rasa panas yang membakar menjalar liar dari bahunya menuju ke leher, disusul denyutan ngilu yang membuat lututnya hampir menekuk. Keringat dingin merembes deras di pelipisnya, membakar matanya yang perih.

Di hadapannya, Song Ming menarik bilah pedang yang kini berlumuran cairan merah kental. Sang Tuan Muda melangkah mundur satu langkah, mengamati darah yang mengalir di alur bilah barunya dengan pandangan puas.

“Bilah yang tajam,” gumam Song Ming seraya mengangkat kembali pedangnya, kali ini mengarahkan ujungnya tepat ke tenggorokan Gu Ran yang terbuka tanpa pelindung. “Tebasan kedua akan membelah lehermu.”

Napas Gu Ran tersengal berat. Darah dari bahunya terus mengucur deras, menodai tali rami pengikat hingga berubah merah kehitaman.

Pandangannya sedikit berkunang-kunang. Nyeri tajam berdenyut seirama detak jantung. Rasa lelah menumpuk di tengkuknya; lima tahun menghirup abu arang membuat segalanya terasa hambar.

Song Ming mengambil ancang-ancang. Otot lengannya menegang, siap melepaskan ayunan maut yang akan memenggal kepala sang budak penempa.

Tepat saat bilah hijau itu mulai bergerak membelah angin, sebuah getaran aneh meledak di dasar kesadaran Gu Ran.

Suara itu berdenting tajam di dalam gendang telinganya, dingin seperti ketukan besi di ruang hampa.

Di depan mata kelabunya yang letih, udara mendadak membeku. Sebaris teks bercahaya abu-abu kehampaan muncul mengambang di udara:

[Niat Membunuh Terdeteksi. Agresi Fisik Fatal Tervalidasi.]

[Sistem Tali Gantung Jiwa Menginisiasi Pengikatan Kausalitas…]

[Memindai Entitas Tertinggi dalam Radius Lima Puluh Li…]

1
Selarik Syarah
system model baru, menarik utk di baca
Rayzent
🔥👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!