Mobil mogok di depan sebuah rumah makan sederhana mempertemukan Dawin, pasukan khusus elite yang tegas namun berhati lembut, dengan Kwila, perawat baik hati dari keluarga Lidar. Pertemuan yang tak terduga itu berubah menjadi cinta yang tumbuh di tengah bahaya, ketika keluarga Kwila justru menjadi incaran organisasi kriminal BlackSystem yang begitu ditakuti. Antara tugas melindungi negara dan menjaga wanita yang dicintainya, Dawin harus menghadapi pengkhianatan, pengejaran, dan pertaruhan nyawa sementara Kwila belajar bahwa cinta sejati kadang datang justru saat dunia terasa paling berbahaya. Namun kisah ini tak berhenti di pelaminan. “Dawin dan Kwila” adalah saga keluarga yang membentang lintas generasi merayakan pernikahan, kelahiran, perjuangan mengejar mimpi, hingga anak-anak mereka tumbuh dewasa dan menemukan cinta serta jalan hidup masing masing. Dari aksi menegangkan hingga kehangatan meja makan keluarga, novel 150 bab ini adalah perjalanan panjang tentang keberanian, penebusan, dan bagaimana kebaikan kecil bisa berbuah kebahagiaan yang tak pernah berhenti bertumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukti di meja kapten
Setelah kondisi Nenek Sarah mulai stabil dan keluarga Lidar bisa sedikit bernapas lega, Dawin kembali fokus pada tanggung jawab besarnya dalam memimpin operasi penyelidikan terhadap organisasi BlackSystem tersebut. Pagi itu, dia membawa seluruh bukti foto yang berhasil dikumpulkan Sinta dari ruang bawah tanah rumah sakit tersebut, menghadap langsung kepada Kapten Endrik untuk melaporkan perkembangan signifikan tersebut.
"Kapten, kami berhasil dapatkan bukti konkret mengenai praktik ilegal perdagangan organ di rumah sakit yang dicurigai," lapor Dawin dengan penuh keyakinan, menyerahkan sebuah tablet yang menampilkan berbagai foto bukti yang telah dikumpulkan Sinta tersebut kepada atasannya.
Kapten Endrik memeriksa foto-foto tersebut dengan seksama, ekspresi wajahnya menunjukkan kemarahan yang begitu mendalam menyaksikan bukti kejahatan yang begitu keji tersebut. "Ini luar biasa kejinya, Dawin. Memanfaatkan institusi kesehatan untuk kejahatan sebesar ini."
"Betul, Kapten. Dan berdasarkan informasi yang kami kumpulkan, Direktur Harjono adalah otak utama di balik operasi ilegal ini, bekerja sama langsung dengan BlackSystem," jelas Dawin, menyampaikan analisis mendalam mengenai jaringan kejahatan yang telah mereka selidiki tersebut selama beberapa minggu terakhir.
Kapten Endrik menyandarkan tubuhnya ke kursi, mempertimbangkan berbagai langkah yang harus mereka ambil selanjutnya mengingat bukti yang telah mereka miliki tersebut sudah cukup kuat untuk melancarkan operasi penangkapan resmi. "Dawin, dengan bukti sekuat ini, kita sudah bisa mengajukan surat perintah penangkapan terhadap Direktur Harjono dan seluruh jaringannya."
"Saya setuju, Kapten. Tapi kita perlu strategi yang matang, mengingat kemungkinan besar BlackSystem punya informan di dalam institusi kepolisian yang bisa membocorkan rencana penangkapan ini sebelum waktunya," ujar Dawin, menyampaikan kekhawatirannya mengenai risiko kebocoran informasi yang bisa menggagalkan seluruh operasi yang telah mereka rencanakan dengan begitu matang tersebut.
Kapten Endrik mengangguk setuju, menyadari pentingnya menjaga kerahasiaan operasi tersebut hingga saat eksekusi tiba. "Kita akan koordinasikan langsung dengan unit khusus anti-korupsi kepolisian yang sudah terbukti bersih dari infiltrasi mafia, bukan melalui jalur kepolisian reguler yang mungkin sudah terkontaminasi."
Mereka berdua kemudian menyusun rencana operasi penangkapan yang lebih detail, mempertimbangkan berbagai skenario yang mungkin terjadi, termasuk kemungkinan perlawanan bersenjata dari pihak BlackSystem yang mungkin akan berusaha melindungi Direktur Harjono dan seluruh jaringan operasinya tersebut dari upaya penegakan hukum yang akan segera mereka lancarkan.
"Selain operasi penangkapan di rumah sakit, kita juga perlu pertimbangkan bagaimana caranya membongkar markas utama BlackSystem sekaligus, supaya mereka tidak sempat menghilangkan bukti-bukti penting lainnya," usul Dawin, memberikan pertimbangan strategis mengenai pentingnya melancarkan operasi secara simultan di berbagai lokasi.
"Ide bagus, Dawin. Tapi kita perlu identifikasi dulu lokasi pasti markas BlackSystem tersebut. Apakah kamu punya informasi mengenai hal itu?" tanya Kapten Endrik, mempertimbangkan kelayakan strategi tersebut mengingat kompleksitas yang mungkin timbul dari operasi berskala besar semacam itu.
"Belum sepenuhnya pasti, Kapten, tapi berdasarkan pola pergerakan Piku dan anak buahnya yang lain, kami menduga markas utama mereka berada di sebuah kompleks gudang tua di pinggiran kota bagian barat," jelas Dawin, membagikan informasi yang telah dia kumpulkan melalui berbagai sumber intelijen yang telah dia bangun selama penyelidikan tersebut.
Kapten Endrik mempertimbangkan informasi tersebut dengan seksama, menyadari bahwa untuk melancarkan operasi berskala besar semacam itu, mereka membutuhkan persetujuan dan dukungan penuh dari komando pusat, termasuk kemungkinan melibatkan pasukan tambahan untuk memastikan keberhasilan operasi tersebut. "Baik, saya akan ajukan proposal operasi gabungan ini ke komando pusat. Untuk sementara, kita fokus dulu mengumpulkan bukti tambahan dan memantau pergerakan mereka lebih dekat."
Setelah pertemuan tersebut, Dawin kembali ke ruang kerjanya, menyusun laporan lebih detail mengenai seluruh perkembangan penyelidikan yang telah mereka capai, sambil terus memikirkan berbagai langkah yang harus dia ambil untuk memastikan keselamatan Kwila dan keluarganya tetap terjamin di tengah operasi besar yang akan segera mereka jalankan tersebut
Di tengah kesibukannya tersebut, Rehan mendatanginya dengan wajah yang menunjukkan sedikit kekhawatiran. "Dawin, ada kabar dari unit intelijen. Mereka bilang, ada seorang wanita yang mengaku kenal kamu dari masa lalu, katanya mau ketemu langsung."
Mendengar informasi tersebut, Dawin merasa sedikit bingung, mencoba mengingat-ingat siapa gerangan yang dimaksud tersebut. "Siapa namanya, Rehan?"
"Katanya namanya Alya," jawab Rehan, menyebutkan nama yang membuat Dawin langsung terdiam sejenak, mengenang kembali sosok yang pernah menjadi bagian penting dalam kehidupannya di masa lalu, seorang wanita yang pernah menjadi tunangannya sebelum akhirnya hubungan mereka berakhir dengan cara yang begitu menyakitkan beberapa tahun lalu.
"Alya," gumam Dawin pelan, merasakan berbagai perasaan campur aduk yang tiba-tiba muncul mengenang kembali masa lalu yang telah lama dia coba lupakan tersebut, tidak menyangka bahwa sosok yang pernah begitu penting dalam hidupnya tersebut akan kembali muncul di tengah kesibukannya menjalankan tugas berat sebagai pemimpin operasi penyelidikan terhadap organisasi kriminal paling berbahaya di kota tersebut, sebuah kemunculan yang akan segera membawa komplikasi baru dalam kehidupan personalnya, terutama mengingat perasaan yang baru saja mulai berkembang begitu dalam terhadap Kwila, wanita yang telah mencuri hatinya dengan cara yang begitu tulus dan berbeda dari pengalaman cintanya di masa lalu tersebut.
"Kamu kenal dia, Dawin? Kelihatannya kamu kaget banget denger namanya," tanya Rehan dengan penuh rasa ingin tahu, memperhatikan perubahan ekspresi wajah sahabatnya yang begitu jelas menunjukkan gejolak emosi tersebut.
"Dia mantan tunangan saya, Rehan. Kami putus beberapa tahun lalu, sebelum saya sepenuhnya fokus ke karier militer," jelas Dawin dengan nada yang berusaha terdengar biasa saja, meski dalam hatinya sendiri, berbagai kenangan pahit mengenai perpisahan tersebut kembali menghantui pikirannya.
"Terus, kamu mau ketemu dia?" tanya Rehan lagi, penasaran mengenai keputusan yang akan diambil sahabatnya tersebut mengingat kompleksitas hubungan masa lalu yang tampaknya masih menyimpan berbagai perasaan yang belum sepenuhnya terselesaikan tersebut.
Dawin terdiam sejenak, mempertimbangkan berbagai kemungkinan mengenai alasan di balik kemunculan Alya tersebut secara tiba-tiba, terutama mengingat waktu kemunculannya yang begitu bersamaan dengan operasi besar yang sedang dia jalankan tersebut. "Saya akan temui dia, Rehan. Mungkin ada hal penting yang perlu dia sampaikan, atau mungkin cuma kebetulan semata. Tapi saya harus tetap fokus sama tugas utama saya sekarang."
Keputusan tersebut, meski terdengar sederhana, akan segera membawa Dawin pada pertemuan yang penuh dengan berbagai kejutan dan komplikasi emosional, sebuah pertemuan yang akan menguji sejauh mana komitmennya terhadap Kwila, sekaligus mengungkap berbagai rahasia dari masa lalunya yang mungkin memiliki keterkaitan yang jauh lebih kompleks dengan penyelidikan besar yang sedang dia jalankan terhadap organisasi BlackSystem tersebut, sebuah keterkaitan yang bahkan belum sepenuhnya dia sadari sendiri pada saat itu