Indonesia
NovelToon NovelToon
Brondong Konglomerat Sang Janda

Brondong Konglomerat Sang Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Janda / Mandul
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21

Kamu Viral, Sayang

Karina menjawab pertanyaan itu dengan menggenggam tangan Nathan.

"Aku mau kamu," katanya. "Bukan nama keluargamu."

Nathan menatapnya lama, lalu mencium buku-buku jarinya yang masih memegang kapas obat. Tidak ada gurauan. Hanya napas lega yang pelan.

Tiga hari kemudian, Nick menelepon membawa kabar penyelesaian insiden lintasan. Rekaman menunjukkan dua pengemudi dari keluarga Salim lebih dulu menjepit mobil Nathan. Pengelola klub memanggil perwakilan keluarga, saksi, dan perusahaan asuransi. Setelah mediasi, pihak lawan membayar kerusakan serta biaya pemeriksaan, sementara perkelahian tidak diteruskan karena kedua pihak sepakat berhenti dan tidak ada luka berat.

"Mereka juga dilarang masuk klub enam bulan," kata Nick melalui pengeras suara.

"Kurang lama," gumam Nathan.

Karina menatapnya. "Kamu sudah berjanji berhenti balapan sampai anak-anak lahir."

"Aku ingat."

"Dan tidak memukul orang."

"Yang itu kamu belum minta."

"Sekarang aku minta."

Nathan menghela napas. "Baik, selama mereka nggak menyentuhmu."

Karina membawa Nathan ke rumah sakit swasta untuk pemeriksaan lanjutan. Foto rontgen menunjukkan tidak ada retak tulang atau cedera dalam. Dokter menyarankan kompres hangat setelah fase bengkak, obat pereda nyeri yang sesuai, dan istirahat dari aktivitas berat.

Dokter meminta Nathan mengangkat lengan perlahan. Gerak bahu kanan masih terbatas, tetapi napas dan tekanan darah normal. Karina mencatat jadwal obat sambil mengajukan pertanyaan sampai dokter tersenyum.

"Yang sakit siapa?" tanya dokter.

"Dia," jawab Karina, "tapi yang harus memastikan dia patuh saya."

Nathan tampak sangat puas disebut demikian. Di meja administrasi, dia membayar sendiri dan menyerahkan kuitansi kepada Nick untuk dimasukkan dalam penyelesaian ganti rugi. Karina senang karena urusan itu memiliki bukti dan penutup, bukan diselesaikan dengan ancaman kosong.

Sebelum pergi, mereka singgah ke poli kandungan. Tiga denyut masih stabil. dr. Wibisono mengingatkan Karina agar tidak ikut kegiatan yang memicu stres lagi. Nathan langsung berjanji atas nama mereka berdua.

"Aku bisa menjawab sendiri," protes Karina di lorong.

"Kalau jawabanmu salah, anak-anak rugi."

"Kamu baru tiga hari jadi suami sudah mengatur."

Nathan tersenyum. "Berarti kamu mengakui aku suami."

"Puas?" tanya Nathan setelah keluar.

"Aku cuma takut tidak bisa menjawab keluargamu kalau terjadi sesuatu."

"Bilang istriku terlalu sayang sampai memeriksakan memar."

"Aku bilang takut, bukan sayang."

Nathan tersenyum. "Sama saja bagiku."

Di perjalanan menuju kantor Karina untuk mengambil dokumen terakhir, ponsel Nathan tidak berhenti bergetar. Awalnya dia mengabaikan. Setelah notifikasi melewati seratus, Karina mengambil ponselnya.

Video kampanye ponsel pasangan Hartawan Group resmi dirilis pagi itu. Potongan wajah Nathan memenuhi X, Instagram, dan TikTok. Tatapan di akhir video membuat komentar meledak.

Siapa cowok rambut abu-abu ini?

Anak Universitas Nusantara, katanya.

Tolong cari pacarnya. Kalau belum ada, aku antre.

Tagar nama Nathan masuk daftar populer. Tautan pemesanan awal menunjukkan stok gelombang pertama habis dalam beberapa jam.

"Kamu viral, Sayang," kata Karina.

Nathan lebih tertarik pada panggilan pertama itu daripada layar. "Ulangi."

"Apa?"

"Sayang."

Karina baru sadar dan memalingkan wajah. "Aku membaca judul pesan."

"Nggak ada kata Sayang di layar."

Nathan mengejarnya sampai lift kantor terbuka. Karina masuk lebih dulu dan mengancam akan meninggalkannya di lobi jika terus menggoda.

Di lantai agensi, sekelompok staf perempuan mengelilingi meja Vera. Video Nathan diputar berulang-ulang.

Salah satu staf memperbesar cuplikan terakhir. "Lihat tatapannya. Pasti dia memikirkan seseorang."

Karina teringat pesan yang Nathan ketik saat syuting, meski tidak tahu kalimatnya digunakan atau tidak. Ujung telinganya kembali panas.

"Bu Karina suka tipe begini?" tanya Vera.

"Terlalu muda."

"Brondong lagi tren, Bu. Yang penting setia."

Kalimat sederhana itu menusuk tepat pada ketakutan Karina. Nathan setia sekarang, tetapi apakah api usia dua puluh akan bertahan ketika tangis tiga bayi menggantikan malam bebas dan lintasan balap?

Bu Wanda yang mendengar hanya menepuk bahunya. "Jangan biarkan omongan internet menentukan apa yang pantas untuk hidupmu."

Karina menatap mantan atasannya. Seolah Bu Wanda tahu lebih banyak daripada yang dikatakan, tetapi perempuan itu tidak bertanya.

"Bu Karina! Lihat model baru Hartawan. Gila, ganteng banget," seru Vera.

Karina melihat Nathan berhenti di balik dinding kaca, sengaja tidak masuk agar hubungan mereka tidak terbuka. Dia menahan senyum.

"Biasa saja," jawabnya.

"Biasa dari mana? Netizen sudah mencari pacarnya. Katanya dia anak kampus kaya yang masih single."

Ponsel Karina berbunyi. Josie mengirim sembilan tangkapan layar dengan pesan: Aku resmi berhenti mengidolakan Julian. Kenalkan aku pada brondong ini.

Karina membalas: Cari sendiri.

Josie langsung menelepon. "Jangan bilang kamu nggak tahu. Itu nomor isengmu, kan?"

"Pelankan suara."

"Astaga. Jadi yang kamu sembunyikan selama ini calon selebritas?"

"Nanti aku jelaskan."

"Kamu selalu bilang nanti."

Bu Wanda menyerahkan dokumen akhir masa kerja, memeluk Karina, dan berpesan agar dia tidak hilang dari dunia kreatif. Karina berterima kasih lalu meninggalkan kantor bersama satu kotak barang.

Di lift, dia membuka komentar lagi. Semakin banyak perempuan menyebut Nathan sebagai calon suami, pacar nasional, atau meminta identitas kekasihnya dibongkar.

Rasa bangga yang muncul perlahan berubah menjadi sesuatu yang pahit.

Nathan berusia dua puluh, tampan, kaya, dan sekarang dipuja satu negara. Karina adalah janda tiga puluh tahun yang sedang hamil, baru saja meninggalkan pekerjaan, dan masih menyembunyikan pernikahan.

Di parkiran, Nathan mengambil kotak dari tangannya. "Kenapa diam?"

"Capek."

"Kamu membaca komentar."

Karina menutup ponsel. "Semua orang ingin tahu pacarmu."

"Aku nggak punya pacar."

Jantungnya turun.

Nathan mengangkat tangan mereka, memperlihatkan cincin. "Aku punya istri."

Karina memukul lengannya pelan. Nathan menariknya ke pelukan, hati-hati agar tidak mengenai perut.

"Mereka hanya melihat satu video," bisiknya. "Kamu satu-satunya yang tahu aku mendengkur kalau bahuku sakit."

"Kamu juga bicara saat tidur."

"Rahasia suami jangan dibocorkan."

Karina tertawa, tetapi notifikasi baru muncul di layar. Sebuah akun gosip mengunggah foto buram Nathan di kampus dan menulis bahwa perburuan identitas kekasih sang model baru sudah dimulai.

Nathan mematikan ponselnya.

Dia juga menghubungi tim kampanye dan meminta mereka tidak membangun promosi dengan rumor pasangan. Identitas pribadi siapa pun yang tertangkap kamera harus diburamkan, dan akun yang menyebarkan lokasi real-time diminta menghapus unggahan demi keamanan.

"Kamu bisa kehilangan momentum," kata Karina.

"Aku menjual ponsel, bukan kehidupanmu."

"Netizen mungkin tetap mencari."

"Biarkan mereka bosan."

Nathan membuka pintu mobil dan memasang sabuk Karina. Di luar, dua mahasiswi mengenalinya dan meminta foto. Nathan melayani dengan ramah, tetapi menjaga jarak. Setelah itu dia langsung kembali kepada Karina dan mencium cincin di jarinya.

Kecemburuan kecil di dada Karina mereda, menyisakan malu karena sempat takut pada orang-orang yang bahkan tidak dikenal Nathan.

"Biarkan mereka mencari," katanya. "Mereka tidak akan menyentuhmu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!