Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Rumah besar Wijaya kembali kedatangan tamu pada minggu berikutnya. Victor Wijaya datang dengan membawa sekotak kue buatan istrinya dan senyum lebar yang terlihat begitu tulus. Setelah kejadian dengan Kevin, banyak orang menyangka bahwa Victor akan menjauh dan menyimpan dendam. Tetapi justru sebaliknya, Victor datang dengan sikap yang lebih ramah dari biasanya.
Adrian menyambut kedatangan kakaknya dengan hati-hati. Meskipun sudah mengetahui pengkhianatan yang terjadi, Adrian masih berusaha menjaga hubungan keluarga. Elena menyuguhkan teh dan camilan dengan senyum yang terpaksa. Sementara William duduk di kursi favoritnya sambil mengamati setiap gerak-gerik Victor dengan tatapan tajam.
Adeline duduk di sudut ruangan sambil memeluk boneka beruangnya. Gadis kecil itu tidak bermain seperti biasanya. Dia hanya diam, matanya tertuju pada pamannya yang sedang berbicara dengan ayahnya tentang perbaikan hubungan keluarga.
"Adrian, aku tahu aku sudah membuat banyak kesalahan," kata Victor dengan suara yang terdengar penuh penyesalan. "Aku terlalu ambisius dan aku membiarkan istriku dan anakku terbawa arus. Tapi aku benar-benar menyesal. Aku tidak ingin kehilangan keluargaku."
Adrian menghela napas panjang. "Aku juga tidak ingin kehilangan keluargaku, Victor. Tapi kepercayaan itu tidak bisa dibangun dalam semalam."
Victor mengangguk dengan wajah bersalah. "Aku mengerti. Aku tidak meminta kepercayaanmu segera. Aku hanya meminta kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bisa berubah." Dia menoleh pada Adeline dan tersenyum manis. "Adeline, Paman minta maaf ya kalau Paman dan Kevin pernah membuatmu takut. Paman berjanji tidak akan melakukan hal-hal buruk lagi."
Adeline menatap pamannya dengan mata yang dalam. Dia tidak menjawab, tetapi kepalanya sedikit miring seperti sedang mendengarkan sesuatu. Matanya yang jernih tiba-tiba menyipit dan alisnya berkerut.
Di dalam kepalanya, suara Victor berbicara dengan sangat jelas. Suara itu sama sekali berbeda dengan kata-kata manis yang keluar dari mulutnya.
Aku hanya perlu berpura-pura sedikit lagi. Adrian memang bodoh, dia akan percaya padaku. Begitu aku mendapatkan kembali akses ke perusahaan, aku akan menghancurkannya dari dalam. Keluarga ini pantas hancur. Mereka semua sombong dan tidak pernah menghargai usahaku.
Adeline merasakan tubuhnya gemetar. Dia mendengar kebencian yang begitu dalam di dalam suara hati pamannya. Victor tidak menyesal sama sekali. Dia hanya berpura-pura untuk mendapatkan kepercayaan keluarga lagi. Dan yang paling menakutkan, dia benar-benar pandai berpura-pura.
Pertemuan itu berlangsung selama dua jam. Victor berbicara tentang masa lalu, tentang kenangan manis saat mereka masih kecil bersama Adrian. Dia tertawa, dia menangis, dia menunjukkan semua emosi yang seharusnya dirasakan oleh seseorang yang benar-benar menyesal. Dan sepanjang waktu itu, Adeline terus mendengar bisikan jahat di kepalanya.
Mereka semua bodoh. Lihatlah betapa mudahnya aku membodohi mereka. Adrian bahkan hampir menangis mendengar ceritaku. Aku akan membuat mereka semua menyesal karena merendahkanku selama ini.
Ketika Victor akhirnya pamit pulang, Adrian mengantarnya ke pintu dengan tangan bersalaman. "Aku akan mempertimbangkan kembali posisimu di perusahaan," kata Adrian pelan. "Tapi butuh waktu."
Victor tersenyum dan berjabat tangan erat. "Terima kasih, Adrian. Aku tidak akan mengecewakanmu." Namun di dalam hati Victor, bisikan lain terdengar. Tentu saja aku akan mengecewakanmu. Itu seluruh tujuanku.
Adeline yang berdiri di belakang ayahnya, menatap punggung pamannya yang menjauh. Gadis kecil itu tidak mengatakan apapun sampai Victor benar-benar pergi dari halaman rumah. Ketika pintu tertutup, dia langsung menarik lengan ayahnya.
"Ayah," bisik Adeline dengan suara bergetar. "Paman Victor berbohong. Dia tidak menyesal. Dia hanya berpura-pura."
Adrian berhenti dan menatap putrinya. "Apa maksudmu, Sayang?"
"Dia bilang Ayah bodoh," lanjut Adeline. "Dia bilang dia akan menghancurkan keluarga kita. Dia tertawa di dalam hatinya karena Ayah percaya padanya. Paman Victor jahat, Ayah. Dia lebih jahat dari yang Ayah tahu."
Adrian merasakan dadanya sesak. Dia baru saja hampir mempercayai Victor. Dia baru saja berpikir untuk memberi kakaknya kesempatan kedua. Dan sekarang putrinya mengatakan bahwa semua itu hanya tipu muslihat.
"Ayah, jangan percaya padanya," kata Adeline dengan suara yang hampir menangis. "Aku takut, Ayah. Aku takut Paman Victor akan menyakiti Ayah. Aku takut dia akan mengambil semuanya."
Adrian berlutut di hadapan putrinya dan memeluknya erat. "Ayah tidak akan membiarkan itu terjadi, Sayang. Ayah berjanji. Ayah akan selalu waspada terhadap Paman Victor."
William yang mendengar percakapan mereka dari dalam rumah, berjalan keluar dengan wajah serius. "Victor tidak akan berubah," katanya dengan tegas. "Aku sudah melihatnya sejak dia masih kecil. Dia selalu iri pada Adrian. Dia selalu merasa lebih berhak mendapatkan segalanya. Orang seperti itu tidak akan pernah berubah hanya karena dimaafkan."
Elena menghampiri dan ikut memeluk putrinya. "Kita harus tetap bersatu," katanya. "Selama kita saling percaya dan saling melindungi, Victor tidak akan bisa berbuat apa-apa."
Adeline mengangguk, tetapi di dalam hatinya dia masih merasa takut. Dia mendengar begitu banyak kebencian dari pamannya, begitu banyak rencana jahat yang tersembunyi di balik senyum manis. Dan dia tahu, ini baru permulaan. Victor akan terus berusaha sampai dia berhasil menghancurkan mereka semua.
Malam itu, ketika semua orang sudah tidur, Adeline terbangun dari tidurnya. Dia mendengar suara hati Victor lagi, meskipun pamannya tidak ada di dekat rumah. Suara itu datang dari jarak yang jauh, tetapi cukup keras untuk didengar oleh telinga batinnya.
Aku akan menghancurkan mereka satu per satu. Adrian, Elena, William, bahkan anak kecil itu. Tidak ada yang bisa menghentikanku.
Adeline memeluk boneka beruangnya dan menutup matanya rapat-rapat. Air mata mengalir di pipinya. Dia masih anak kecil. Dia seharusnya bermain dan tertawa, bukan mendengar kebencian dan merasakan ketakutan seperti ini. Tetapi dia juga tahu, dia adalah satu-satunya yang bisa mendengar kebenaran. Dan selama dia bisa mendengar, dia tidak akan pernah berhenti melindungi keluarganya.