Indonesia
NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Janda / Menikahi tentara
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32: Mama Cuma Punya Dua Tangan

Nala menjerit. Sena terkejut oleh jeritannya sendiri, tetapi tangannya malah mencengkeram telinga itu semakin erat.

"Lepas, Sayang. Itu telinga, bukan pegangan."

Aku mencoba membuka jemari Sena sambil menopang Nala dengan siku. Nala menendang, tumitnya mengenai perutku. Sena ikut menangis. Dalam tiga detik, kamar kecil itu terdengar seperti tempat latihan terompet yang gagal total.

Pintu diketuk dua kali, lalu terbuka setelah aku menjawab. Bram berdiri di sana mengenakan kaus gelap dan celana olahraga. Rambutnya masih basah, tanpa seragam dan pangkat yang biasanya membuat seluruh tubuhku otomatis tegak.

"Apa yang terjadi?"

"Sena menemukan telinga baru."

Ia masuk, melepaskan jemari Sena satu per satu, lalu mengangkatnya ke bahu. Bayi itu masih meraung sampai pipinya menempel pada kaus Bram. Sesaat kemudian, Sena menggigit bahunya.

Bram mendesis. "Kenapa semua benda harus masuk mulutmu?"

Tangis Sena berhenti. Ia mulai mengunyah kain dengan puas.

Aku menahan tawa sambil memeriksa telinga Nala. Merah, tetapi tidak luka. "Ternyata bahu Bapak lebih enak daripada telinga."

"Informasi ini jangan masuk laporan klinik."

Aku menggendong Nala dan mengusap punggungnya. Gerakan tergesa sejak kemarin membuat pinggangku seperti ditarik dari dua arah. Saat membungkuk mengambil kain, nyeri tajam menyambar sampai aku kehilangan napas.

Bram melihatnya. "Duduk."

"Saya masih harus bikin sarapan."

"Duduk dulu."

Nada itu bukan suara komandan kepada bawahan, tetapi tetap membuatku menurut. Ia menaruh Sena di pangkuannya, lalu mengambil termos dan menuang air.

"Pengurusan Nala bagaimana?" tanyaku.

"Pemeriksaan hunian siang ini. Setelah itu formulir izin tiga bulan masuk ke logistik dan administrasi personel."

"Kalau ditolak?"

"Kita cari dasar lain yang sah."

"Rumah ini sudah sempit. Saya juga belum tahu cara kerja sambil menjaga dua anak. Lomba tinggal sebentar lagi, urusan Mbah belum selesai, Sarno bisa datang lagi..."

Kata-kataku semakin cepat sampai Bram meletakkan gelas di depan tanganku.

"Pelan-pelan," katanya. "Satu-satu diurus."

Sena mengangkat kepalanya dari bahu Bram. Bekas air liur membentuk lingkaran gelap pada kaus. Ia menatap Nala yang masih sesenggukan, lalu meraih botol susu di atas kasur.

Bram membantu memegang botol itu. Sena mendorongnya ke arah Nala dengan kedua tangan, seolah ia tidak pernah menarik telinga siapa pun semenit lalu.

Nala berhenti menangis dan menyentuh ujung botol.

"Nah," bisikku. "Begitu caranya minta maaf."

Bram memandang dua anak itu. Wajahnya melunak begitu jelas hingga aku harus mengalihkan mata ke gelas.

Pagi itu akhirnya berjalan dengan pembagian tugas yang tidak pernah kurencanakan. Bram menggendong Sena sementara aku menyusui Nala. Setelah itu ia mengupas pisang dengan gerakan kaku dan membiarkanku mencampurnya ke bubur. Sena memukul meja karena ingin ikut makan. Nala, yang biasanya lahap, hanya menerima beberapa suap sebelum menyandarkan kepala.

"Jangan dipaksa," kata Bram, mengingat instruksi klinik. "Sedikit tapi sering."

"Bapak hafal?"

"Aku mendengar saat dokter menjelaskan."

Ia menyuapi Sena terlalu penuh hingga bubur keluar dari sudut mulut. Aku mengusapnya sambil tertawa.

"Sedikit itu bukan satu sendok prajurit."

"Sendoknya memang kecil."

"Mulutnya lebih kecil."

Bram mengurangi isi sendok berikutnya. Sena menerimanya, lalu menepuk tangan seolah baru memenangkan perdebatan. Di tengah kamar yang sesak, dengan pakaian bayi tergantung di kursi dan dua mangkuk bubur mendingin, kesedihan masih ada. Namun untuk beberapa menit, ia tidak menguasai seluruh udara.

Sebelum pergi, Bram menaruh Sena di boks dan memastikan kait pagarnya terkunci. "Aku kembali setelah pemeriksaan hunian. Kalau pinggangmu sakit lagi, panggil Sari. Jangan angkat keduanya sekaligus."

"Siap, Komandan."

Ia menatapku karena nada bercandaku, lalu sudut bibirnya bergerak tipis.

***

Menjelang siang, petugas junior dari bagian logistik datang membawa meteran dan formulir. Ia memeriksa jarak antar ranjang, ventilasi, penyimpanan air panas, pengaman sudut meja, serta akses menuju klinik. Boks Sena digeser agar jalur ke pintu tidak terhalang. Rak bahan pembersih dipindahkan lebih tinggi.

"Untuk tiga bulan masih memenuhi," katanya. "Tapi harus ditinjau lagi kalau izin diperpanjang."

Aku menandatangani hasil pemeriksaan. Hendra belum membubuhkan persetujuan akhir karena salinan akta Nala masih dicocokkan. Semua halaman diberi nomor, termasuk alasan kematian wali pengasuh dan statusku sebagai ibu kandung.

Sesudah petugas pergi, kubawa kedua anak ke klinik. Anindya memeriksa ruam Nala, memberiku krim pelindung, dan mengingatkan agar kulit dikeringkan sebelum popok baru dipasang. Ia juga menyuruhku meminta bantuan saat pinggang sakit, bukan menunggu sampai tak bisa berdiri.

Dalam perjalanan pulang, aku berpapasan dengan Ratna dan dua perempuan Persit. Tatapan mereka berhenti pada Nala di gendongan depan dan Sena yang digendong Sari di belakangku.

"Nambah anak, ya?" tanya Ratna. "Fasilitasnya ikut nambah juga?"

Sari hendak menjawab, tetapi aku lebih dulu tersenyum.

"Anak kandung saya sedang menjalani izin sementara sesuai prosedur. Kalau Bu Ratna ingin memeriksa berkas, ajukan permintaan ke logistik."

"Saya cuma heran kamu masih sempat ikut lomba. Mengurus satu anak orang saja sudah dapat kamar. Sekarang bawa anak sendiri juga."

"Karena saya bekerja untuk kamar itu, bukan mendapatkannya dari belas kasihan."

Ratna menyilangkan tangan. "Kita lihat saja hasil lombanya."

Aku membetulkan kain gendongan Nala. "Iya. Kita bertemu di lomba. Di sana yang dinilai masakan, bukan jumlah anak yang saya gendong."

Senyum Ratna patah sebelum sempat ia sembunyikan.

1
CV. RK TUNGGAL
ceritanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!