Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:343.2k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Ayah yang Selalu Ada

Mata Levia membesar. "Perusahaan?"

"Benar," jawab Gultom mantap. "Ayah punya pabrik tekstil. Bahan baku bisa kita ambil dari sana. Kamu bisa mulai dari skala kecil."

Ia menunjuk desain di atas meja. "Produksi terbatas. Cari penjahit dan tim kecil. Kalau produknya bagus, kita pasarkan secara daring ke luar kabupaten."

Levia rasanya tak percaya mendengar perkataan ayahnya itu. "Jadi... Ayah mau bantu aku?"

Gultom tersenyum. "Kenapa tidak?"

"Tapi aku belum punya pengalaman, Yah," jujur Levia.

Di kehidupan sebelumnya, Vivian memang pernah memiliki butik dan bekerja sama dengan sebuah perusahaan. Ia terbiasa membuat desain, mengurus pesanan, bahkan berhadapan dengan klien.

Namun memiliki perusahaan sendiri?

Ia bahkan tidak pernah berani membayangkannya, apalagi memimpikannya.

Selama ini, ia hanya berpikir bagaimana caranya mengembangkan butik yang sudah dimilikinya. Tak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa suatu hari akan ada seseorang yang berkata kepadanya,

"Kalau kamu memang serius, buat perusahaan fashion kecil dulu."

"Ayah punya pabrik tekstil. Bahan baku bisa kita ambil dari sana. Kamu bisa mulai dari skala kecil."

Dan orang itu adalah ayah yang bahkan baru dikenalnya setelah berada di tubuh Levia.

"Pengalaman bisa dipelajari." Gultom menatap putrinya dengan penuh keyakinan. "Yang penting kamu punya kemauan."

Levia terdiam. Entah kenapa, kalimat sederhana itu terasa begitu dalam. Di kehidupan sebelumnya, Vivian juga pernah bekerja keras mengejar impiannya. Namun sosok ayah yang ia kenal hanya tahu bagaimana meminta hasil dari kerja kerasnya tanpa pernah benar-benar peduli seberapa besar tenaga yang sudah ia keluarkan.

Tak pernah ada pertanyaan apakah ia lelah. Tak pernah ada kalimat bahwa dirinya mampu. Apalagi dukungan seperti ini.

Sedangkan pria di hadapannya...

Bahkan tanpa ragu menawarkan pabrik miliknya sebagai langkah awal untuk mewujudkan impian putrinya.

Levia menundukkan wajah. Dadanya terasa sesak. "Levia... kamu punya ayah sebaik ini. Kenapa dulu kamu gak pernah melihatnya? Bodoh banget."

Selama ini Levia begitu sibuk mengejar Vandra sampai tidak menyadari ada seseorang yang selalu berdiri di belakangnya. Seseorang yang bekerja keras bukan untuk mendapatkan pujian, melainkan agar putrinya bisa hidup berkecukupan. Seseorang yang tidak pernah meminta apa pun sebagai balasan.

Mata Levia perlahan memanas. "Ayah..."

"Hm?"

"Terima kasih," ucapnya tulus.

Gultom tersenyum kecil. "Untuk apa?"

"Untuk semuanya." Ia menggenggam tangan ayahnya. "Dan... maaf."

Gultom mengernyit. "Kenapa minta maaf?"

"Karena selama ini aku gak pernah bener-bener menghargai Ayah."

Gultom terdiam.

Levia tersenyum getir. "Ayah udah ngasih banyak hal buat aku, tapi aku malah sibuk ngejer orang yang bahkan gak nganggep aku penting."

Gultom mengusap kepala putrinya penuh kasih. "Jangan pikirkan yang sudah lewat."

"Tapi sekarang aku mau berubah." Levia menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku mau buat Ayah bangga."

Bibir Gultom kembali melengkung. "Ayah gak butuh kamu jadi siapa-siapa untuk bangga." Ia menggenggam tangan putrinya lebih erat. "Selama kamu bahagia dan menjadi orang baik, itu sudah cukup."

Levia menahan air mata. Dalam hati, Vivian berjanji pada dirinya sendiri. "Kalau di kehidupan sebelumnya aku punya ayah yang selalu menuntut tanpa pernah melihat perjuanganku... maka di kehidupan ini, aku akan menghargai setiap kasih sayang yang diberikan Ayah Gultom."

Air matanya akhirnya menetes. "Dia sudah menghabiskan hidupnya untukku. Sekarang giliran aku membuat hidupnya lebih bahagia."

Gultom terkejut melihat bulir bening itu menetes dari sudut mata putrinya. Tangannya terangkat mengusap air mata putrinya." Kenapa nangis? Ayah gak suka lihat kamu nangis."

Levia menggenggam tangan yang menghapus air matanya itu, lalu mengecup telapaknya. "Aku nangis karena terlalu bahagia. Terima kasih, Yah."

Seutas senyum kembali tersungging di bibir Gultom. "Jangan berterima kasih dulu."

Levia mengerutkan dahinya. "Kenapa?"

Gultom memegang kedua lengan putrinya. "Kalau mau punya perusahaan, kamu harus bekerja keras."

Levia tertawa. "Aku siap."

Gultom ikut tertawa meski matanya berkaca-kaca. "Bagus."

Ia kembali melihat desain-desain di depannya. Dalam hati ia merasa lega sekaligus bahagia. "Teryata putriku bukan lagi gadis yang sibuk mengejar suaminya. Sekarang, bahkan dia memiliki kemampuan, impian, dan masa depan yang gak pernah aku bayangkan."

Beberapa saat kemudian Levia merapikan kembali desainnya. "Kalau begitu aku ke kamar dulu, Yah."

"Iya."

Levia berdiri.

Namun sebelum keluar, Gultom memanggilnya. "Via."

Levia menoleh. "Ya, Yah?"

Gultom tampak ragu sejenak. "Soal Ninis..."

Levia menunggu.

Gultom menghela napas. "Ayah tahu apa yang dia lakukan sudah membuat kamu mengambil banyak keputusan yang akhirnya merugikan dirimu sendiri. Termasuk hubunganmu dengan Vandra."

Levia tidak menjawab.

"Ayah juga sadar, kalau selama ini kamu terlalu percaya padanya sampai hubungan Ayah dan kamu sendiri sempat merenggang." Gultom mengusap wajahnya pelan. "Tapi Ayah gak ingin langsung memecat Ninis."

Levia mengernyit. "Kenapa?"

"Ibunya dulu bekerja untuk keluarga kita. Dia sudah lama mengabdi kepada ibumu dan selalu memperlakukannya dengan baik." Gultom terdiam sebentar. "Setelah ibunya meninggal, keadaan keluarganya juga gak baik."

Levia mendengarkan tanpa menyela.

"Ayahnya pemabuk dan gak bertanggung jawab. Kamu tahu sendiri, dulu Ninis bahkan hampir dijual oleh ayahnya."

Vivian terdiam, ia tahu itu dari ingatan Levia yang tertinggal.

"Selama tinggal di rumah ini, setidaknya Ayah bisa memastikan dia aman. Ayahnya juga gak berani datang dan mengganggunya." Gultom menatap putrinya. "Jadi Ayah masih kasihan."

Levia mengangguk perlahan.

"Tapi..." Gultom melanjutkan dengan nada lebih tegas. "Kasihan bukan berarti Ayah akan membiarkan dia melakukan apa pun."

Pandangan Gultom beralih ke pintu. "Mulai sekarang Ayah akan mengawasinya. Kalau dia benar-benar berubah, Ayah akan tetap memberinya kesempatan. Tapi kalau dia kembali mencoba memengaruhi atau menyakitimu..."

Gultom berhenti sejenak. "...Ayah sendiri yang akan mengambil tindakan."

Levia tersenyum kecil. "Aku ngerti, Yah."

Gultom mengangguk. "Jangan terlalu memikirkan Ninis. Fokus saja pada apa yang ingin kamu bangun."

"Iya." Levia berjalan menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh. "Yah."

"Hm?"

"Kalau Ninis memang tetap tinggal di sini, aku gak masalah. Tapi aku gak akan lagi biarin dia ngatur hidupku."

Senyum tipis muncul di wajah Gultom. "Itu yang Ayah harapkan."

Levia mengangguk. "Kalau begitu aku ke kamar dulu."

"Iya."

Levia meninggalkan ruang kerja.

Gultom menatap pintu yang telah tertutup di belakang putrinya. Ia memang belum berniat mengusir Ninis. Bukan karena ia masih percaya sepenuhnya, melainkan karena ia tidak tega membiarkan gadis itu kembali ke lingkungan keluarganya yang buruk.

Namun mulai sekarang, semuanya akan berbeda. Kepercayaan Gultom kepadanya tidak lagi sama.

"Ibunya memang berjasa pada keluarga ini. Tapi jika Ninis kembali menyentuh kehidupan putriku... kali ini aku tidak akan tinggal diam. Aku akan mengawasinya."

 

...✨“Terkadang, seseorang tidak membutuhkan jalan yang mudah untuk menggapai mimpinya. Ia hanya membutuhkan satu orang yang percaya bahwa dirinya mampu.”...

...“Kasih sayang orang tua tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata; terkadang ia berupa kesempatan, dukungan, dan keyakinan bahwa anaknya mampu berdiri dengan kakinya sendiri.”✨...

.

To be continued

1
Lucyana H
risa harus tanggung dgn segala resikonya karna emang dia yg salah,harusnya ga gitu jendral,anak salah kok masih di bela
Lucyana H
rasain Risa kena batunya,nikma aja hotel prodeo bareng si Ninis
Lucyana H
Risa jd cewek jgn murahan atuh..kmu itu dokter,anak jendral ,kmu jg berpendidikan pasti tau etika dong,masa ngejar "suami orang ,emang ga malu kmu,udah putus kalo ya urat malunya,salah di vandranya sih..knp ngasih harapan dulunya
Lucyana H
vandra harusnya masalah rumah tangga kmu jgn sampe denger sm orang luar,apalagi si Risa katanya seorang dokter,bapanya jendral masa dtg ke rumah yg masih jd suami orang,pantes jg ga,
Lucyana H
ih..Ninis ga jelas bgt,....ngarep bgt jd si levia...mimpi aja Lo nis
Lucyana H
dih siapa Lo Ninis sadar.....Lo tuh cuma Pembokat...ga usah ngarep .....cih ngehalu
Siska Safitri
lanjut
Sulati Cus
👍🏻
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Ninis ini masih saja ingin mencuri desain Levia. Otaknya perlu dicuci ini orang. Tak ada rasa bersyukur telah ditolong Gultom untuk bekerja dan tinggal di rumah Gultom.

Mimpi kali Ninis. Mau menjatuhkan Levia.

Ninis sendiri nanti yang nyungsep terjerembab karena ditendang keluar dari rumah Gultom.
anonim
Risa jangan berharap banyak pada Vandra yang masih belum mantap ingin menceraikan Levia.

Bagaimana caranya mau bikin Vandra mengurungkan niatnya untuk menceraikan Livia. Niat banget nih Risa.
anonim
Risa ini sudah disikapi dingin Vandra masih juga berharap.

Vandra tidak memberi peluang kepada Risa untuk membahas masa lalu.

Risa mau bikin Vandra cemburu atau marah ketika memberitahu tentang Levia yang menjalin kerjasama dengan Andri Mahesa.

Risa ngomongnya mbulet aja. Sudah Risa, kamu nggak ada peluang lagi untuk mendapatkan Vandra.
anonim
Vandra cemburu sama Andri makanya mengingatkan Levia masih istrinya.

Sekarang pusat dunia Vandra adalah Levia. Levia sendiri pusat dunianya Brenda, sudah bukan sang Kapten lagi.
anonim
Vandra menghubungi Levia, cemburu terselubung. Mengingatkan Levia masih istrinya.

Vandra belum bilang mau membatalkan perceraian. Belum punya nyali dia, belum tahu alasannya apa kalau Levia bertanya😁.

Salahnya sendiri kasih surat cerai untuk ditandatangani Levia. Kini menyesal.
anonim
Selama ini Vandra gigih untuk menceraikan Levia. Kini istrinya banyak mengalami perubahan terutama fisiknya dan tidak mengejar dirinya seperti dulu.

Sekarang Vandra tidak ingin kehilangan Levia. Mau membatalkan perceraian. Bingung sendiri jadinya.
anonim
Rekan-Rekan Vandra semakin gencar ngomong tentang Levia dengan segala perubahannya.

Mereka tertawa tanpa merasa dosa sedikitpun. Sedangkan Vandra tidak ikut tertawa. Ingatannya ada pada foto Levia yang tersenyum, berdiri di samping Andri Mahesa.

Vandra semakin diam, semakin nggak karuan rasanya ketika rekan-rekannya semakin gencar membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi nanti.

Rekan-rekan Vandra bicaranya semakin bikin Vandra benar-benar galau. Mereka dengan enaknya bicara seperti mengejek Vandra dengan kenyataan yang ada.
anonim
Rekan-rekan Vandra pada membicarakan Levia yang bekerja sama dengan Mahesa retail.

Yang punya Nahesa Retail masih muda, belum menikah pula.

Daun telinga Vandra panas ngga tuh mendengar obrolan rekan-rekannya.

Mereka juga membicarakan Levia di masa sebelum Vandra mendapat tugas tugas ke Libanon.

Vandra hanya diam.
anonim
Vandra membuka Akun Brenda.

Vandra melihat foto Levia sedang berjabat tangan dengan Andri yang dia tidak mengenalnya.

Perasaannya mulai tidak nyaman mengetahui Andri seorang pengusaha muda, belum menikah.

Vandra menyesal ngga setelah melihat foto-foto Levia dengan aktifitasnya dan segala perubahannya.

Belum bercerai namun sudah memberi surat perceraian untuk ditandatangani Levia.

Sepertinya Vandra masih punya harapan untuk bersama Levia yang belum menandatangani surat cerai.
anonim
Risa siap-siap saja menerima kenyataan kalau Vandra tidak jadi menceraikan istrinya yang sekarang jelas lebih menarik, lebih mandiri, punya perusahaan sendiri dan semua perubahan yang terjadi pada Levia.

Dari dulu Risa saja yang mengganggap remeh Levia.
A.R
knp ngk di ganti tuhh namanx calon mantan suami mu,,ntar dia liat teruss kepedeaan Krn km blum bisa move on
A.R
nihh Ninis jatuh cinta kh SM bpknx Levis atau gmna??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!