Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:85.8k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Ayah yang Selalu Ada

Mata Levia membesar. "Perusahaan?"

"Benar," jawab Gultom mantap. "Ayah punya pabrik tekstil. Bahan baku bisa kita ambil dari sana. Kamu bisa mulai dari skala kecil."

Ia menunjuk desain di atas meja. "Produksi terbatas. Cari penjahit dan tim kecil. Kalau produknya bagus, kita pasarkan secara daring ke luar kabupaten."

Levia rasanya tak percaya mendengar perkataan ayahnya itu. "Jadi... Ayah mau bantu aku?"

Gultom tersenyum. "Kenapa tidak?"

"Tapi aku belum punya pengalaman, Yah," jujur Levia.

Di kehidupan sebelumnya, Vivian memang pernah memiliki butik dan bekerja sama dengan sebuah perusahaan. Ia terbiasa membuat desain, mengurus pesanan, bahkan berhadapan dengan klien.

Namun memiliki perusahaan sendiri?

Ia bahkan tidak pernah berani membayangkannya, apalagi memimpikannya.

Selama ini, ia hanya berpikir bagaimana caranya mengembangkan butik yang sudah dimilikinya. Tak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa suatu hari akan ada seseorang yang berkata kepadanya,

"Kalau kamu memang serius, buat perusahaan fashion kecil dulu."

"Ayah punya pabrik tekstil. Bahan baku bisa kita ambil dari sana. Kamu bisa mulai dari skala kecil."

Dan orang itu adalah ayah yang bahkan baru dikenalnya setelah berada di tubuh Levia.

"Pengalaman bisa dipelajari." Gultom menatap putrinya dengan penuh keyakinan. "Yang penting kamu punya kemauan."

Levia terdiam. Entah kenapa, kalimat sederhana itu terasa begitu dalam. Di kehidupan sebelumnya, Vivian juga pernah bekerja keras mengejar impiannya. Namun sosok ayah yang ia kenal hanya tahu bagaimana meminta hasil dari kerja kerasnya tanpa pernah benar-benar peduli seberapa besar tenaga yang sudah ia keluarkan.

Tak pernah ada pertanyaan apakah ia lelah. Tak pernah ada kalimat bahwa dirinya mampu. Apalagi dukungan seperti ini.

Sedangkan pria di hadapannya...

Bahkan tanpa ragu menawarkan pabrik miliknya sebagai langkah awal untuk mewujudkan impian putrinya.

Levia menundukkan wajah. Dadanya terasa sesak. "Levia... kamu punya ayah sebaik ini. Kenapa dulu kamu gak pernah melihatnya? Bodoh banget."

Selama ini Levia begitu sibuk mengejar Vandra sampai tidak menyadari ada seseorang yang selalu berdiri di belakangnya. Seseorang yang bekerja keras bukan untuk mendapatkan pujian, melainkan agar putrinya bisa hidup berkecukupan. Seseorang yang tidak pernah meminta apa pun sebagai balasan.

Mata Levia perlahan memanas. "Ayah..."

"Hm?"

"Terima kasih," ucapnya tulus.

Gultom tersenyum kecil. "Untuk apa?"

"Untuk semuanya." Ia menggenggam tangan ayahnya. "Dan... maaf."

Gultom mengernyit. "Kenapa minta maaf?"

"Karena selama ini aku gak pernah bener-bener menghargai Ayah."

Gultom terdiam.

Levia tersenyum getir. "Ayah udah ngasih banyak hal buat aku, tapi aku malah sibuk ngejer orang yang bahkan gak nganggep aku penting."

Gultom mengusap kepala putrinya penuh kasih. "Jangan pikirkan yang sudah lewat."

"Tapi sekarang aku mau berubah." Levia menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku mau buat Ayah bangga."

Bibir Gultom kembali melengkung. "Ayah gak butuh kamu jadi siapa-siapa untuk bangga." Ia menggenggam tangan putrinya lebih erat. "Selama kamu bahagia dan menjadi orang baik, itu sudah cukup."

Levia menahan air mata. Dalam hati, Vivian berjanji pada dirinya sendiri. "Kalau di kehidupan sebelumnya aku punya ayah yang selalu menuntut tanpa pernah melihat perjuanganku... maka di kehidupan ini, aku akan menghargai setiap kasih sayang yang diberikan Ayah Gultom."

Air matanya akhirnya menetes. "Dia sudah menghabiskan hidupnya untukku. Sekarang giliran aku membuat hidupnya lebih bahagia."

Gultom terkejut melihat bulir bening itu menetes dari sudut mata putrinya. Tangannya terangkat mengusap air mata putrinya." Kenapa nangis? Ayah gak suka lihat kamu nangis."

Levia menggenggam tangan yang menghapus air matanya itu, lalu mengecup telapaknya. "Aku nangis karena terlalu bahagia. Terima kasih, Yah."

Seutas senyum kembali tersungging di bibir Gultom. "Jangan berterima kasih dulu."

Levia mengerutkan dahinya. "Kenapa?"

Gultom memegang kedua lengan putrinya. "Kalau mau punya perusahaan, kamu harus bekerja keras."

Levia tertawa. "Aku siap."

Gultom ikut tertawa meski matanya berkaca-kaca. "Bagus."

Ia kembali melihat desain-desain di depannya. Dalam hati ia merasa lega sekaligus bahagia. "Teryata putriku bukan lagi gadis yang sibuk mengejar suaminya. Sekarang, bahkan dia memiliki kemampuan, impian, dan masa depan yang gak pernah aku bayangkan."

Beberapa saat kemudian Levia merapikan kembali desainnya. "Kalau begitu aku ke kamar dulu, Yah."

"Iya."

Levia berdiri.

Namun sebelum keluar, Gultom memanggilnya. "Via."

Levia menoleh. "Ya, Yah?"

Gultom tampak ragu sejenak. "Soal Ninis..."

Levia menunggu.

Gultom menghela napas. "Ayah tahu apa yang dia lakukan sudah membuat kamu mengambil banyak keputusan yang akhirnya merugikan dirimu sendiri. Termasuk hubunganmu dengan Vandra."

Levia tidak menjawab.

"Ayah juga sadar, kalau selama ini kamu terlalu percaya padanya sampai hubungan Ayah dan kamu sendiri sempat merenggang." Gultom mengusap wajahnya pelan. "Tapi Ayah gak ingin langsung memecat Ninis."

Levia mengernyit. "Kenapa?"

"Ibunya dulu bekerja untuk keluarga kita. Dia sudah lama mengabdi kepada ibumu dan selalu memperlakukannya dengan baik." Gultom terdiam sebentar. "Setelah ibunya meninggal, keadaan keluarganya juga gak baik."

Levia mendengarkan tanpa menyela.

"Ayahnya pemabuk dan gak bertanggung jawab. Kamu tahu sendiri, dulu Ninis bahkan hampir dijual oleh ayahnya."

Vivian terdiam, ia tahu itu dari ingatan Levia yang tertinggal.

"Selama tinggal di rumah ini, setidaknya Ayah bisa memastikan dia aman. Ayahnya juga gak berani datang dan mengganggunya." Gultom menatap putrinya. "Jadi Ayah masih kasihan."

Levia mengangguk perlahan.

"Tapi..." Gultom melanjutkan dengan nada lebih tegas. "Kasihan bukan berarti Ayah akan membiarkan dia melakukan apa pun."

Pandangan Gultom beralih ke pintu. "Mulai sekarang Ayah akan mengawasinya. Kalau dia benar-benar berubah, Ayah akan tetap memberinya kesempatan. Tapi kalau dia kembali mencoba memengaruhi atau menyakitimu..."

Gultom berhenti sejenak. "...Ayah sendiri yang akan mengambil tindakan."

Levia tersenyum kecil. "Aku ngerti, Yah."

Gultom mengangguk. "Jangan terlalu memikirkan Ninis. Fokus saja pada apa yang ingin kamu bangun."

"Iya." Levia berjalan menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh. "Yah."

"Hm?"

"Kalau Ninis memang tetap tinggal di sini, aku gak masalah. Tapi aku gak akan lagi biarin dia ngatur hidupku."

Senyum tipis muncul di wajah Gultom. "Itu yang Ayah harapkan."

Levia mengangguk. "Kalau begitu aku ke kamar dulu."

"Iya."

Levia meninggalkan ruang kerja.

Gultom menatap pintu yang telah tertutup di belakang putrinya. Ia memang belum berniat mengusir Ninis. Bukan karena ia masih percaya sepenuhnya, melainkan karena ia tidak tega membiarkan gadis itu kembali ke lingkungan keluarganya yang buruk.

Namun mulai sekarang, semuanya akan berbeda. Kepercayaan Gultom kepadanya tidak lagi sama.

"Ibunya memang berjasa pada keluarga ini. Tapi jika Ninis kembali menyentuh kehidupan putriku... kali ini aku tidak akan tinggal diam. Aku akan mengawasinya."

 

...✨“Terkadang, seseorang tidak membutuhkan jalan yang mudah untuk menggapai mimpinya. Ia hanya membutuhkan satu orang yang percaya bahwa dirinya mampu.”...

...“Kasih sayang orang tua tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata; terkadang ia berupa kesempatan, dukungan, dan keyakinan bahwa anaknya mampu berdiri dengan kakinya sendiri.”✨...

.

To be continued

1
Puji Hastuti
kaaaan, bingung sendiri kamu van
Ma Em
Vandra bingung mau bilang apa pada Levia karena di dlm hatinya Vandra tdk mau berpisah dgn Levia .
asih
.. sekedar untuk bicara ya kak
Kadek Sri
lanjut
Septi Wijaya
status nya blm cere kan ya .. harusnya jgn bawa lelaki ke rumah...
Ma Em
Vandra hatinya sdh senang karena surat cerai blm di tanda tangan oleh Levia tapi Levia malah bilang kalau Vandra mau mengambil surat cerainya .
Uthie
selalu dibikin nagih terus baca kisah cerita mereka 😁👍👍
Ass Yfa
ya ampun..nyesek bngt..pulang jerumah istri yg buka pintu orang luar...maksutnya gimana..kalo Vandra nggk bisa mengelola emosi jelas mencak2,,,Via juga buasa aja...dia bukan Levia...mssalahnya dia Viviana..jadi rasa cinta iti tak pernah ada😭😭
Ass Yfa
ribet bngt sih Van..cintamu
Ass Yfa
kenapa harus Risa yg nelpon...berharap Levia....harusnya tiap kali Risa nrlpon tdk usah diangjt diabaikan saja...ters meners ngasih harapan ke Risa...Vandra sendiri tdk tegas
Anitha
Van jangan biarkan Levia tanda tangan surat cerai itu, ayo kamu ngomong jangan kelu gitu di depan Via...buktikan kalo kamu mesih mencintai Levia dan menginginkannya💪
mery harwati
Ini minum kopi online dulu lah pagi², agar kalian (Vandra, Andri & Levia) gak salah paham lagi, apapun akhir cerita ini, mau berpisah baik² mencari pasangan hidup masing² silahkan, mau dilanjut sebagai suami istri terserah, karena author yang punya alur ceritanya 😍
Wardi's
beuh berat vandra... berat..., hayo loh mau jawab apa .. mo ngomong apa..., jangan malu., akuin aja klo kamu mau batalin perceraian itu...
mery harwati
Sengaja alurnya dibuat Andri yang buka pintu saat Vandra berkunjung ke rumah Pak Gultom mertua Vandra, padahal ada Bu Sari ART di rumah Pak Gultom 😀
Apa iya Andri Mahesa sebagai tamu sekaligus rekan bisnis Brenda malah yang membukakan pintu saat ada tamu di rumah Pak Gultom? Sedangkan posisi Andri sendiri juga tamu 😂
Dan Pak Gultom sebagai tuan rumah tidak memperkenalkan Andri pada Vandra, kesannya dibuat agar salah paham antara Vandra, Andri & Levia 🤭
Anitha
setahun bertugas dan baru pulang ingin menemui istrinya,dan sampai rumah di sambut dengan adanya Andri yang nginep du rumah Levia...

panggilan kak Andri membuat Vandra membeku😄
Wardi's
pasti nyess bgt rasanya ya vandra.., yg sabar ya., anggap aja ujian atas perbuatanmu selama ini.. msh berhubungan sama risa pdhl blm cerai..
Wardi's
omegat gmn tuh rasanya vandra..., disaat sdh mulai menerima levia., tp ada pria lain yg nginap dirumahnya .
aku
terkesan plin plan. kmren bandingin sm si onoh yg bergelar dokter. klo skrg d blg ke via jd mkirnya org pasti krn via lbh sukses. 😌
Wardi's
nah loh.... pagi2 vandra d kejutkan ada andri nginep d rumah levia...
Anitha
kejutan untuk Vandra di saat pulang ke rumah Levia di sambut dengsn adanya Andrii yang nginep di rumah Levia...kamu jangan salah paham dulu ya Van..bersikaplah dengan bijak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!