Indonesia
NovelToon NovelToon
Monica'S Magic!

Monica'S Magic!

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Akademi Sihir
Popularitas:539
Nilai: 5
Nama Author: Bintang star_nrl22

​Bagi Monica dan kelompoknya, ini bukan sekadar tugas biasa—ini adalah perjuangan untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.

​Di tengah kepungan musuh dan bayang-bayang naga hitam, mereka terus melangkah maju. Tetapi tidak semua orang bisa pulang. Ketika tabir misteri akhirnya terkuak, darah dan air mata telah tercurah, meninggalkan hanya dua orang yang berdiri di antara puing-puing pengorbanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dualisme Pertempuran

Lembah Hutan Mistik terbelah menjadi dua medan perang yang sunyi namun mencekam.

Di jalur reruntuhan desa tua, Monica, Elena, dan Danis bergerak dalam bayang-bayang. Desa itu tampak seperti tempat mati; rumah-rumah kayu yang lapuk, sumur yang kering, dan angin yang membawa bau tanah basah. Namun, bagi Monica, ketenangan ini jauh lebih menakutkan daripada gerombolan monster.

"Berhenti," bisik Monica, mengangkat tangan kanannya.

Danis, yang sedang melompat di atas atap rumah reyot, berhenti seketika. "Ada apa?"

"Energi di sini... dia berdenyut," jawab Monica pelan. Ia menutup mata, mencoba merasakan aliran mana di sekitarnya. Bukan aliran alami, melainkan aliran buatan yang menjalar di bawah tanah, seperti urat nadi naga yang tersembunyi.

Tiba-tiba, dari balik kabut, bayangan mulai terbentuk. Kali ini, mereka tidak muncul sebagai monster, melainkan sebagai... mereka sendiri. Bayangan Monica, Elena, dan Danis yang tampak seperti cermin gelap, berdiri menghadang di depan altar yang berada di tengah bekas aula desa.

"Ilusi?" Elena menarik busurnya, napasnya sedikit memburu. "Mereka mencoba meniru kita?"

"Jangan tertipu," sahut Danis seraya menghunus belatinya. "Bayangan itu tidak punya mata. Mereka hanya cangkang kosong yang dikendalikan oleh energi altar di belakang sana."

Benar saja, bayangan tiruan Monica mengacungkan tongkat sihir hitam, sementara bayangan Elena bersiap dengan panah bayangan. Pertempuran pun pecah. Monica harus berhadapan dengan bayangan dirinya sendiri, sebuah pertarungan yang aneh di mana setiap mantra yang ia keluarkan, dibalas dengan serangan yang sama oleh bayangannya.

"Elena, fokus hancurkan altar di belakang mereka! Danis, buat celah untuknya!" perintah Monica sambil menangkis serangan bayangannya dengan perisai cahaya.

"Siap!".

Elena berlari zig-zag, menghindari panah bayangan yang melesat tepat di samping telinganya. Danis bergerak lincah, memutar belatinya untuk memotong benang-benang energi yang menghubungkan bayangan-bayangan itu ke altar.

Pertarungan itu sangat teknis; Monica harus benar-benar fokus agar bayangannya tidak meniru gerakan penyembuhan atau serangan terkuatnya.

Sementara itu, di Ngarai Tengkorak, situasinya jauh lebih brutal. Dinding batu yang sempit membuat Reno dan Kazuma tidak punya ruang untuk bergerak bebas. Musuh di sini bukanlah bayangan, melainkan Gargoyle batu yang bernyawa karena sihir gelap.

Duar!

Tameng Reno bergetar hebat setelah menahan hantaman cakar batu raksasa. "Kazuma! Kalau kau tidak segera menghancurkan altar itu, tamengku akan hancur jadi debu!"

Kazuma berada tepat di belakang Reno, tangannya terus-menerus merapal mantra api. "Aku sedang berusaha! Altar ini dilindungi oleh perisai anti-sihir! Api biasa tidak bisa menembusnya!"

"Gunakan gabungan!" seru Reno, otot lengannya menegang. "Aku akan memukul perisai itu dengan dorongan perisai, dan saat perisainya retak, masukkan api terkuatmu!"

"Itu gila! Kau bisa terpental!" bantah Kazuma.

"Lakukan saja!"

Reno berteriak keras, melompat maju dengan perisai besarnya.

Ia tidak menahan serangan Gargoyle, melainkan membiarkan cakar batu itu menghantam perisainya untuk mendapatkan momentum, lalu menggunakan kekuatan itu untuk menerjang altar di depan.

Brak!

Perisai sihir altar retak.

"Sekarang, Kazuma!"

Kazuma tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia merentangkan tangannya, mengeluarkan "Dragon's Breath Flame", semburan api biru yang begitu panas hingga membuat bebatuan ngarai meleleh. Api itu masuk tepat ke celah retakan perisai yang dibuat Reno.

Ledakan hebat terjadi.

Altar batu itu hancur berkeping-keping, dan bersamaan dengan itu, para Gargoyle yang tadinya bergerak beringas, jatuh tersungkur menjadi tumpukan batu mati.

Kembali ke reruntuhan desa, Monica baru saja berhasil melumpuhkan bayangannya setelah Elena melepaskan panah cahaya presisi yang menghancurkan altar di balik bayangan itu.

Seketika, kedua tim merasakan getaran tanah yang sama.

Monica, yang sedang memegang tongkatnya, tiba-tiba merasakan sensasi dingin menjalar di punggungnya. Meski altar telah hancur dan pasukan bayangan lenyap, suasana tidak menjadi lebih baik. Sebaliknya, tekanan sihir di udara justru meningkat berkali-kali lipat.

"Altar hancur," lapor Elena sambil menghampiri Monica, wajahnya bersimbah peluh. "Tapi kenapa... kenapa hawa buruk ini tidak menghilang?"

Danis menatap ke arah pusat lembah dengan wajah pucat. "Sepertinya kita salah, Monica. Altar itu bukan sumber energinya, melainkan hanya pengunci."

Monica menatap langit. Awan hitam yang tadi disinggahi oleh wanita misterius di atas naga hitam, kini kembali berkumpul, memutar membentuk pusaran besar tepat di atas gerbang utama Lembah Kelam.

"Kita baru saja membuka segelnya," bisik Monica dengan suara bergetar. "Dia membiarkan kita menghancurkan altar itu untuk membangkitkan sesuatu yang lebih besar."

Suara tawa perempuan itu terdengar kembali, kali ini tidak di kejauhan, melainkan berbisik tepat di telinga mereka semua, meski sosoknya tidak terlihat.

“Terima kasih... anak-anak manis. Kalian baru saja membukakan pintu untuk tuanku.”

Monica menggenggam tongkatnya semakin erat hingga buku jarinya memutih. "Tim Vanguard, segera berkumpul di gerbang pusat! Jangan biarkan sesuatu keluar dari sana!"

Tanpa membuang waktu, Monica, Elena, dan Danis berlari menembus hutan, sementara dari kejauhan, Reno dan Kazuma sudah terlihat berlari ke arah yang sama.

Mereka sadar, misi mereka telah berubah dari sekadar penyelidikan menjadi sebuah pertaruhan nyawa yang sesungguhnya. Gerbang menuju pusat lembah sudah terbuka, dan apa pun yang ada di baliknya, tidak akan membiarkan mereka lewat begitu saja.

1
Al Dede
novel ini srru bsnget mencrtkn tentsng anak yang pantanv menyerah+akademi sihir,sihir dia terkuat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!