#history Romantic
by : Saphal_tha
Anna adalah istri yang tidak pernah Xavier inginkan… sekaligus kelemahan yang tak pernah ia sangka.
Kekayaan, kekuasaan, dan kecerdasan. Xavier Romanov memiliki segala sesuatu yang diimpikan banyak orang. Sebagai seorang CEO muda yang disegani, hidupnya nyaris sempurna, kecuali satu hal yang tidak pernah ingin ia miliki, seorang istri.
Pernikahan tidak pernah ada dalam rencana hidup Xavier, sampai sebuah ancaman pemerasan memaksanya bertunangan dengan wanita yang hampir tidak ia kenal.
Annastasia Clifford ahli waris perusahaan perhiasan sekaligus putri dari musuh terbarunya.
Tidak peduli seberapa cantik atau menawannya wanita itu, Xavier akan melakukan segala cara untuk memusnahkan bukti ancaman tersebut dan membatalkan pertunangan mereka.
Namun satu hal yang tidak pernah ia predeksi akan terjadi, sekarang setelah mendapatkan Anna... ia tidak sanggup melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saphal_tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Xavier
Kepalan tanganku menghantam perutnya, keras dan tepat sasaran. Pukulan pertamaku malam ini.
Adrenalin mendesir hebat di dalam diriku saat Vann mengerang menahan benturan. Orang lain mungkin sudah tersandung dan sesak napas, tetapi sesuai ciri khas seorang Vann, dia hanya berhenti sejenak beberapa detik sebelum mengibaskannya seolah tak terjadi apa-apa.
“Kamu kelihatan lagi kesal,” katanya sambil membalas dengan pukulan left hook. Aku menghindar ke samping hanya selisih beberapa milimeter. “Hari yang buruk di tempat kerja?”
Ada nada geli yang tersirat dari pertanyaannya, meskipun dia baru saja menerima pukulan telak dariku. “Bisa dibilang begitu.”
Keringat menetes dari dahiku dan membasahi punggungku selagi aku meluapkan rasa frustrasiku di dalam ring.
Aku langsung datang ke Valhalla Club sepulang kerja. Sebagian besar anggota lebih menyukai fasilitas spa, restoran, atau klub eksklusif pria yang ada di sini, yang berarti area gym tinju ini jarang dikunjungi orang, kecuali aku dan Vann.
“Kudengar kesepakatan dengan Santeri berjalan lancar, jadi tidak mungkin karena masalah itu.” Vann hampir tidak tersengal-sengal meskipun babak pembuka kami berlangsung sangat agresif. “Mungkin bukan masalah pekerjaan. Jangan-jangan…” Ekspresinya berubah penuh tanya. “Ini ada hubungannya dengan pertunanganmu dengan seorang putri ahli waris bisnis perhiasan?”
Dia kembali mengerang kecil saat aku berhasil mendaratkan pukulan di tulang rusuk bawahnya, tetapi hal itu tidak menghentikannya untuk tertawa melihat raut wajahku yang makin cemberut.
“Kamu harusnya tahu kalau menyembunyikan rahasia sebesar ini itu sia-sia,” katanya. “Satu kantor sedang heboh membicarakannya.”
“Karyawanmu harusnya menghabiskan lebih banyak waktu untuk bekerja dan mengurangi gosip. Mungkin dengan begitu, angka sirkulasi mediamu tidak akan turun.”
Pengumuman pertunanganku sebenarnya baru dijadwalkan terbit di kolom Style daring milik majalah Mode Palle Vie pada pertengahan September. Namun, media fashion dan gaya hidup mewah itu merupakan permata utama dari kerajaan media keluarga Lauu. Aku tidak akan kaget jika Vann sudah tahu soal pertunangan ini lebih awal.
“Tidak pernah terpikir aku akan melihat hari di mana kamu akhirnya menikah.” Dia mengabaikan sindiranku. “Dengan Annastasia Clifford pula. Bagaimana bisa kamu menyembunyikan hubungan dengannya sekian lama?”
“Kami belum menikah.” Aku menangkis percobaannya melayangkan pukulan lain. “Dan aku tidak menyembunyikan siapa pun. Pertunangan kami murni urusan bisnis. Aku tidak pakai acara kencan manis dulu sebelum kami meresmikan kesepakatannya.”
Kata pertunangan meninggalkan rasa pahit di mulutku. Pikiran untuk mengikatkan diri dengan seseorang seumur hidup rasanya sama menariknya dengan berjalan masuk ke dalam lautan dengan balok semen terikat di kakiku.
Aku jauh lebih menyukai pekerjaan dibandingkan manusia, banyak di antara mereka yang tidak suka dijadikan prioritas kedua setelah kontrak dan rapat bisnis. Namun, bisnis itu menguntungkan, praktis, dan sebagian besar dapat diprediksi. Hubungan asmara tidak seperti itu.
“Itu baru masuk akal,” kata Vann. “Harusnya aku tahu kalau urusan akuisisi dan penggabungan perusahaan pasti bakal merembet sampai ke kehidupan pribadimu.”
“Lucu sekali.”
Tawanya memudar saat aku menghantam rahangnya dengan pukulan uppercut, dan dia membalas dengan pukulan yang menyedot habis udara dari paru-paruku.
Percakapan kami mereda, berganti dengan erangan dan umpatan selagi kami saling menghajar satu sama lain.
Vann adalah orang yang bersikap paling halus yang kukenal, tetapi dia memiliki jiwa kompetitif yang sangat kejam. Kami mulai bertinju bersama tahun lalu, dan dia menjadi rekan utamaku untuk meluapkan emosi karena dia tidak pernah menahan diri.
Siapa yang butuh terapi kalau kamu bisa meninju wajah temanmu sendiri setiap minggu?
Pukul, merunduk, elak, pukul. Berulang-ulang sampai kami mengakhiri malam dengan hasil seri dan memar yang jauh lebih banyak daripada saat baru datang tadi.
Namun, aku akhirnya berhasil meluapkan gejolak amarahku. Saat aku bertemu Vann di ruang ganti seusai mandi, pikiranku sudah cukup jernih hingga aku tidak akan meledak emosi lagi pada adikku.
Aku tadi sudah sangat dekat untuk memutus akses keuangannya setelah percakapan kami siang tadi masa bodoh dengan segala janji dan syarat. Itu memang hukuman yang setimpal untuknya, tapi aku sedang tidak punya energi untuk menghadapi amukan kekanak-kanakannya malam ini.
“Sudah merasa lebih baik?” Vann sudah berpakaian rapi saat aku masuk.
Kemeja berkancing, blazer, dan kacamata berbingkai kawat hitam tipis. Seluruh jejak petarung mematikan dari dalam ring tadi telah lenyap, berganti menjadi sosok terpelajar yang sangat berkelas.
“Sedikit.” Aku berpakaian dan mengusap rahangku yang terasa pegal. “Pukulanmu lumayan keras juga.”
“Makanya kamu memanggilku. Kamu bakal benci kalau aku sengaja mengalah, kan?”
Aku mendengus. “Sama bencinya seperti kamu yang benci kalah.”
Kami keluar dari tempat tinju dan naik lift menuju lantai satu. Valhalla Club adalah perkumpulan global eksklusif untuk orang-orang dengan nilai kekayaan tertentu, dan klub ini memiliki cabang di seluruh dunia. Namun, markas utamanya di New York adalah yang terbesar dan paling megah, membentang seluas empat lantai dan mencakup satu blok kota penuh di kawasan atas Manhattan.
“Aku sudah beberapa kali bertemu Annastasia,” kata Vann santai saat pintu lift berdenting terbuka. “Dia cantik, pintar, dan memesona. Nasibmu bisa saja jauh lebih buruk dari ini.”
Rasa jengkel berdesir di dadaku. “Kalau begitu, kenapa tidak kamu saja yang menikahi dia?”
Aku tidak peduli mau Annastasia itu seorang malaikat model papan atas yang suka menyelamatkan anak anjing dari kebakaran di waktu luangnya. Dia hanyalah seseorang yang harus kutoleransi kehadirannya sampai aku berhasil memusnahkan semua foto-foto itu.
Sayangnya, laporan terbaru dari Edgard mengonfirmasi bahwa Jarvis menyimpan foto-foto tersebut baik dalam bentuk digital maupun cetak.
Edgard bisa dengan mudah membereskan bukti digital, tetapi memusnahkan bukti fisik jauh lebih rumit ketika kami belum tahu berapa banyak salinan cadangan yang disimpan Jarvis. Aku tidak bisa mengambil risiko sebelum kami seratus persen yakin telah menemukan seluruh tempat penyimpanannya.
“Kalau bisa, sudah kulakukan.” Bayangan suram di mata Vann lenyap secepat kemunculannya. Sebagai ahli waris kekayaan keluarga Young, masa depannya bahkan sudah ditakdirkan lebih kaku daripada jalanku.
“Aku cuma mau bilang, jangan jadi pria berengsek.” Vann mengangguk memberi salam pada anggota klub lain yang melintas, lalu menunggu sampai mereka berada di luar jangkauan pendengaran sebelum melanjutkan, “Bukan salahnya harus terjebak dengan pria kasar sepertimu.”
Andai saja dia tahu cerita sebenarnya.
“Kurangi mengurusi hidupku dan urusi saja hidupmu sendiri.” Aku mengangkat sebelah alis menatap kancing manset kemejanya. Singa emas dengan mata batu amatis, bagian dari lambang keluarga Young. “Sovia Young tidak bakal menunggu selamanya untuk mendapatkan cucu.”
“Beruntung buat dia, dia sudah punya dua cucu dari kakak perempuanku. Dan jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan.” Kami melintasi area pintu masuk berlantai marmer hitam yang berkilau menuju jalan keluar. “Aku serius soal ucapan tentang Annastasia tadi. Bersikaplah yang baik.”
Gigi belakangku mengatup rapat. Mau aku menyukainya atau tidak, Annastasia adalah calon tunanganku, dan aku mulai sangat muak mendengar namanya keluar dari mulut Vann.
“Jangan khawatir,” kataku. “Aku akan memperlakukannya persis seperti yang layak dia dapatkan.”