Indonesia
NovelToon NovelToon
Jatuhkan Talakmu, Gus

Jatuhkan Talakmu, Gus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami
Popularitas:26.7k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Perjalanan kembali menuju Mojokerto ditempuh dalam keheningan yang pekat. Mobil sedan hitam itu membelah kawasan pegunungan Pacet yang kian menusuk. Pohon-pohon pinus berdiri jangkung di kanan kiri jalan, diselimuti kabut tebal yang tak kunjung terangkat meski waktu sudah menunjuk pukul sebelas siang.

Begitu kendaraan berhenti di pelataran ndalem utama Pesantren Al-Anwar, suasana terasa amat mencengkeram. Tidak ada senyum santri yang biasanya menyapa ketibaan mobil Reyhan. Beberapa ustadzah yang melintas di koridor madrasah hanya menunduk singkat tanpa menghentikan langkah.

Reyhan turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Rani, lalu membawakan koper kain lusuh milik perempuan itu.

"Langsung ke ndalem barat saja, Gus?" bisik Rani, tubuhnya agak menggigil terkena terpaan angin dingin pegunungan.

"Tidak. Kita sowan ke Abi dan Umi dulu di ndalem utama," jawab Reyhan mantap, walau di dalam dadanya jantungnya berdegup tak beraturan.

Mereka melangkah menaiki tangga teras ndalem utama. Di ruang tamu berukiran Jepara yang megah, Kyai Ahmad sedang duduk membaca kitab gundul, sementara Bu Nyai Khadijah merajut taplak meja di sudut sofa. Kehadiran Reyhan dan Rani membuat gerakan tangan kedua orang tua itu terhenti seketika.

Bu Nyai Khadijah meletakkan rajutannya. Pandangannya yang biasa hangat kini berubah begitu dingin dan asing saat tertuju pada Rani. Sementara Kyai Ahmad melepas kacamata bacanya dengan gerakan sangat pelan.

"Assalamu’alaikum, Abi, Umi..." Reyhan mengucap salam seraya menundukkan kepala dalam-dalam. Rani di belakangnya ikut menunduk rapat, tak berani menatap lantai yang di pijaknya.

"Wa’alaikumsalam," sahut Kyai Ahmad. Suaranya berat dan bergema di ruangan yang luas itu. "Sudah kamu jemput, Reyhan?"

"Injih, Abi. Rani pun kulo ajak wangsul," jawab Reyhan dengan bahasa krama halus.

Kyai Ahmad menatap putranya, lalu beralih pada Rani. "Bagus kalau kamu sudah sadar akan tanggung jawabmu. Karena kamu yang memilih jalan ini, maka kamu harus menanggung konsekuensinya sampai tuntas."

Rani mengangguk cepat. "Injih, Kyai... nyuwun pangapunten atas sedaya kalepatan kulo..."

"Tidak perlu meminta maaf padaku," potong Bu Nyai Khadijah tiba-tiba. Suaranya halus, namun kandungan rasa kecewa di dalamnya begitu pekat hingga sanggup mengiris hati siapa saja yang mendengarnya. "Minta maaflah pada dirimu sendiri dan pada Gusti Allah. Karena akibat perbuatan kalian berdua, kita semua kehilangan permata terbaik yang pernah dimiliki pesantren ini."

Kata-kata Bu Nyai membuat suasana ruangan mendadak membeku. Naya—nama yang tidak diucapkan secara eksplisit itu—kembali hadir bagai bayangan tak kasat mata yang menghimpit dada Reyhan. Pria itu meremas jemarinya sendiri, tak sanggup membalas tatapan ibunya.

"Segera urus berkas pernikahan kalian ke KUA kecamatan," pangkas Kyai Ahmad tegas, tidak ingin memperpanjang ketegangan. "Abi tidak mau ada status siri yang menggantung di lembaga ini. Minggu depan, pernikahan kalian harus tercatat secara sah oleh negara. Sekarang, bawa Rani ke ndalem barat."

"Injih, Abi. Maturnuwun," bisik Reyhan seraya memohon pamit.

**

Pintu kayu jati berukir di ndalem barat berderit halus saat terdorong. Reyhan melangkah masuk lebih dulu. Tangan kanannya menjinjing koper kusam milik Rani, sementara jemari kirinya memegang erat gagang pintu. Di belakangnya, Rani mengekor dengan langkah pelan.

"Kemasi barang-barangmu, Rani. Kamu tidur di kamar utama," ujar Reyhan, suaranya terdengar begitu datar, tanpa intonasi gembira dari seorang suami yang baru kembali membawa istrinya pulang.

Rani menghentikan langkah tepat di ambang pintu kamar. Wajah polosnya terangkat, menatap punggung Reyhan yang membelakanginya.

"Kamar utama, Gus?"

"Iya," sahut Reyhan singkat. Ia menghembuskan napas panjang, merapikan lipatan koko biru laut yang dikenakannya. "Kamu beristirahatlah dulu, bersihkan badan. Saya masih ada keperluan yang harus diselesaikan."

"Mau ke mana, Gus?" tanya Rani halus, nada suaranya mengatup rapuh dengan tatapan mengiba yang biasa ia tunjukkan.

"Ke ndalem utama. Ada hal penting yang perlu saya bicarakan dengan Abi," jawab Reyhan tanpa berbalik.

Rani menunduk pelan, meremas jemarinya sendiri di depan gamis abu-abunya. "Inggih, Gus..."

Reyhan melangkah keluar dari ndalem barat tanpa membuang waktu. Langkah kakinya membawa pria dua puluh tujuh tahun itu menyeberangi pelataran berbatu kembali menuju ndalem utama—rumah besar tempat kedua orang tuanya tinggal.

Namun, begitu ujung teras kayu ndalem utama terpijak dan jarinya baru hendak mendorong daun pintu yang sedikit terbuka, gerakan Reyhan terhenti seketika. Suara percakapan dari ruang tamu dalam terdengar mengalun lembut, memecah kesunyian rumah besar tersebut.

"Naya tadi suara teleponnya terdengar tenang sekali, Bi... Tapi justru itu yang bikin dada Ummi rasanya makin sesak," tutur Bu Nyai Khadijah. Suaranya bergetar menahan keharuan yang mendalam.

"Sabar, Ummi..." Kyai Ahmad menyahut pelan. Ada helaan napas berat dari pengasuh pesantren tersebut. "Naya anak yang cerdas dan dewasa. Dia tahu persis mana jalan terbaik untuk masa depannya."

"Tapi rasanya Ummi bersalah sekali," tangis Bu Nyai Khadijah pecah pelan. "Kepergian Naya jauh-jauh ke luar negeri ini pasti karena luka yang dibuat Reyhan. Naya sampai harus meninggalkan tanah airnya sendiri demi menata hatinya kembali..."

Dada Reyhan bagai dihantam batu besar. Berita itu merayap bagai sengatan dingin yang membekukan aliran darahnya. Luar negeri? Naya pergi ke luar negeri?

"Ummi tidak boleh berpikir begitu terus-terusan," Kyai Ahmad berusaha menenangkan istrinya, suaranya terdengar bijaksana namun tegas. "Biarkan Naya menjalani kehidupannya yang baru. Dia sekarang bukan lagi bagian dari keluarga kita, kasihan kalau pikiran kita terus menahannya di masa lalu."

"Sampai kapan pun, selamanya Naya itu tetap putri Ummi, Bi!" pangkas Bu Nyai Khadijah dengan nada membela yang pekat. "Tidak ada yang bisa menggantikan posisi Naya. Buktinya apa? Walaupun hatinya hancur dan statusnya sudah bukan menantu lagi, dia mau berangkat saja masih menyempatkan telepon, pamit baik-baik sama kita."

Keheningan sejenak melingkupi ruangan itu sebelum Kyai Ahmad kembali berucap. "Iya, Abi paham. Tapi jangan sampai rasa sayang kita justru membebankan status itu pada Naya. Naya berhak bahagia dengan jalannya sendiri. Dia pamit pada kita karena dia punya akhlak dan rasa hormat yang luar biasa. Hampir separuh masa remajanya sampai dewasa dihabiskan untuk mengabdi di pondok ini, menimba ilmu dan mengajar. Dia ingin pamit dengan terhormat, sebagaimana dulu dia datang dengan terhormat."

Di balik selasar pintu, Reyhan mematung. Jemarinya yang menempel pada daun pintu kayu bergetar hebat. Kakinya terasa menancap di lantai, tak sanggup dibawanya melangkah masuk.

Ketuk palu perceraian mereka baru saja diketuk beberapa waktu lalu di Pengadilan Agama. Reyhan mengira Naya hanya akan kembali ke rumah orang tuanya di Jombang, menenangkan diri di sana seperti yang biasa dilakukan perempuan pada umumnya. Sama sekali tidak pernah terlintas dalam benak Reyhan bahwa wanita yang selama satu tahun ini ia ingkari kehadirannya... benar-benar melangkah pergi menyeberangi samudra.

Ke mana kamu pergi, Naya? Di bagian bumi mana kamu akan tinggal? Kenapa harus sejauh itu? Apa yang sebenarnya mau kamu kejar?

Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk hebat di dalam kepala Reyhan, membakar dada dan egonya yang selama ini tegak berdirinya. Ada dorongan liar yang mendadak membuncah dari dasar jiwanya—sebuah gairah mendesak untuk berlari, mengejar Naya ke bandara, menahannya di balik pintu pemeriksaan, dan memohon agar wanita itu tidak melangkah pergi.

Namun, kenyataan pahit menghantam badannya kembali. Ia tidak lagi punya hak. Jangankan untuk menahan langkah Naya, menyapa namanya pun kini terasa bagai sebuah pelanggaran. Naya telah memutus seluruh ikatan dengan keanggunan yang sempurna, meninggalkan Reyhan dalam jerat keputusan yang ia buat sendiri.

***

1
Herman Lim
kyk u ga bakalan bahagia Rani yg pasti nanti ada lagi rani2 laiklnnya 🤪🤪
Uyen Uyen
laki laki yang mudah mendua dibelakang istrinya suatu saat akan melakukan lg hal yang sama
sunaryati jarum
Kamu bahagia karena berhasil menyingkirkan istri sah, kebahagiaan yang kau rasakan mungkin hanya sementara.Rayhsn melegalkan pernikahan kalian bukan karena cinta dan tanggung jawab,tapi pskdaan dan hukuman atas kesalahannya pada Naya.Pengkhianatan pada ikatan suci pada Naya.Dan mengkhianati jabatan,nama,dan Agama yang diamanatkan pada padanya
Agnezz: siapa tau bisa menyembuhkan Gus Rayhan dari kerapuhan emosional dan menyembuhkan Rani yg saking obsesi jadi mantu pengasuh ponpes bikin dia ODGJ
total 2 replies
Tini Uje
belom nmpk hilal kah thor tanda2 karma mnghampiri pelakor yg tidak syar'i itu 😏
Agnezz
3 manusia memulai lembaran baru, Naya , Rayhan dan Rani.
Naya, selamat ya, kesempatan besar untuk impian terbentang dihadapanmu. Allah memberikan Ridho padamu untuk meraih kesempatan itu. Kelak ilmu yg kamu dapat akan sangat berguna bagi masyarakat luas yg membutuhkannya.
Rayhan, sekarang saatnya kamu belajar bertanggung jawab dengan langkah yg kamu ambil di masa lalu. Jadilah kepala keluarga yg tanggung jawab memimpin istrimu dan anak2mu kelak kalo ada. Terutama sekaranh didiklah istrimu, pegang kendali dan jangan malah yg terpedaya oleh Rani.
Rani, kemenanganmu itu SEMU, kalo tujuanmu cuma status menjadi menantu pemilik pondok pesantren bersanding dengan anaknya maka orang2 tidak respek terhadapmu, kamu hanya dicemooh orang. Apalagi suamimu akan berkurang cintanya. Jangan memakai trik wanita lemah dihadapan suamimu bakal tidak ngefek karena acuan Rayhan sekarang adalah Naya, wanita yg anggun , lembut, tenang dan cerdas.
falea sezi
🤣🤣 rela amat ya gatel sok poloss demi gelar ning 🤣🤣 aduh halu aja lu pelakor lu gk akan bahagia🤭
dyah EkaPratiwi
Naya dengan kebahagiaan nya Reyhan dengan penyesalan nya selamat menikmati 🤭
Nurminah
wanita yg rela ngangkang demi merebut laki-laki beristri pastilah bukan wanita baik dan gua sombong akhirnya mendapatkan krikil setelah membuang berlian miris hidup enak jual harga diri makanya
setiap orang tanya anaknya di pondok bisa apa saya selalu jawab masih belajar memperbaiki diri adab ahlak kita keturunan orang biasa yg lagi berproses menjadi manusia lebih baik karena sejati masuk pondok bukan hanya kelak si anak menjadi ulama besar itu adalah bonus tapi berharap didalam pondok dia menjadi manusia berakhlak beradab mulia yg tidak mengorbankan akhiratnya demi dunia yg sementara dan selalu berharap dijauhkan dari sifat sombong iri dengki
Mundri Astuti
tetep bae buruk dimata org 😛
diawalin dng buruk...kedepannya akan buruk juga....
Mukeseh
kyke dokter sepecial itu jodohnya raya ndnti 🥰
lia juliati
tidak dapat mengubah keadaan sang pelakor tetap saja
dua2nya emang punya kepentingan.... karna rumor sudah tersebar d mana2 jgn harap da respeck
sunaryati jarum
Sayangn



Akhirnya Rani mengakui apa yang ia lakukan dengan kelembutan dan kepolosan itu hanya pencitraan untuk menarik Rayhan dan berhasil.Namun kasihan Rayhan malah selalu mengingat Naya, itulah akibat salah yang disengaja.Rani kelihatan banget agresif nya
falea sezi
gatel bgt ya si poloss🤣 pengen di garuk tuh istri mu reyhan🤣🤣 modal ngangkang ma suami orang pasang kedok terluka poloss🤭 alahh jalang
Mundri Astuti
tuh kan ....kaya begini dibilang polos...
sepolos"nya perempuan (klo bener), didekatin pa lagi diajak nikah sama pria beristri, pasti akan nolak.
tuh Gus katanya kamu lulusan Mesir, pinter dong harusnya
Tini Uje
mudahan pelakor g bisa punya anak..dah itu aja trus gugus nya nikah lagi 😂biar dia ngerasain jadi ning naya
Mukeseh: auto
🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Anonim
Lanjut
Tarwiyah Nasa
jangan sok jadi korban Han 🤣
Anonim
Heeeemmmmmm
dyah EkaPratiwi
seperti keputusan yg kurang tepat Rani kembali ke pondok sedangkan hati Reyhan buat naya
Agnezz
Jangan senang dulu Rani, jangan terlalu naif bisa mengunci hati Rayhan kembali seperti dulu. Sebenarnya kamu sudah bisa merasakan hati Rayhan tidak seperti dulu lagi terhadapmu, tidak semanis dahulu. Rahyan berada dititik dia mengalami perubahan, kalo Rani tidak bisa membaca ini , siap2 hatinya kecewa dan terluka.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!