Indonesia
NovelToon NovelToon
Takdir Sang Ophelia

Takdir Sang Ophelia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:500
Nilai: 5
Nama Author: Ashe Lepidoptera

Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.

Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.

Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.

Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Sakit. 

Ophelia berbaring telungkup di atas kasur. Bergerak sedikit saja dan rasa sakit di punggungnya akan langsung menjalar ke seluruh badan. 

Kemarin ia langsung dibawa pulang oleh Randi dan dihukum cambuk saat itu juga.

Kejadian yang sama, ruangan yang sama, seragam yang sama. 

Bedanya, Ophelia yakin kalau seragamnya bahkan tidak robek, ia yakin kalau darah yang keluar bahkan tidak menetes ke karpet. Ia melakukan kesalahan yang sama, lebih buruk malah. 

Tapi ia masih hidup. 

Ophelia menatap ke arah jendela sana. Apa mungkin ini berarti, beberapa hal di masa depan akan tetap terjadi, tapi akibat dari hal itu bisa sedikit ia ubah? 

Dulu apapun yang Ophelia lakukan untuk menyelamatkan Airin gadis itu masih terluka. Ia masih diserang, tapi dia bisa sembuh sekarang. 

Hari ini juga. Kejadian dengan Reine masih terjadi, Ophelia masih dihukum. Tapi ia tetap hidup. 

Dia menghela napas. Takdir macam apa yang menantinya setelah ini? Entah kenapa Ophelia benar-benar pesimis.

Ophelia menutup mata. Ia masih lelah karena hampir tidak tidur kemarin dan sekarang punggungnya terlalu sakit untuk bisa beristirahat. 

Ia juga benar-benar lapar. 

Randi mengambil ponselnya dan mengunci Ophelia di kamar dari kemarin. Dia tidak mengirimkan makanan atau obat apapun, rasanya seperti Ophelia disuruh tiada saja di kamar ini. 

Tapi tentu, ia tidak akan begitu. 

Ophelia akan hidup dan membayar Randi atas setiap rasa sakit yang ia rasakan. Dia hanya butuh lebih banyak pion, lebih banyak koneksi. 

Butuh sedikit lebih banyak waktu lagi. 

“Chelsea bagaimana ya?” gumamnya. 

Berbeda dengan Ophelia yang langsung dibawa pulang, Chelsea yang dilihat sebagai penengah di pertikaian itu tetap sekolah hingga jam pulang. Tapi Ophelia tidak tahu kakaknya itu dihukum juga atau tidak. 

Semoga saja keadaannya tidak lebih parah dari dia. 

Gadis itu mencoba memejamkan mata, tapi suara kunci dan pintu yang terbuka membuatnya terbangun lagi. 

“Ada Nona Airin di ruang tamu,” ujar seorang pelayan yang masuk ke kamarnya. “Tuan besar bilang kalau Nona harus turun, tapi jangan sampai terlihat kalau sedang kesakitan.” 

Ophelia memutar mata dan mencoba duduk dengan perlahan. “Kalau begitu setidaknya beri aku penahan sakit. Dia kira aku ini robot atau apa?” 

“Saya… tidak diperbolehkan untuk itu.” 

Ophelia menghela napas. “Aku akan turun sebentar lagi.” 

Ia mencuci muka dan memakai jaket hitam dan celana jeans-nya yang biasa. Ophelia menegakkan punggung, mencoba berjalan normal tapi rasanya sakit sekali. 

Menyebalkan.

“Lia.” panggil Airin ketika ia sampai di ruang tamu. “Kamu beneran sakit? Wajahmu pucat begitu.” 

Ophelia mengangguk. “Kemarin aku tiba-tiba nggak enak badan, makanya pulang.” 

“Kalian ada janji untuk belajar bersama ‘kan ya?” Randi yang duduk dengan senyumannya yang biasa terdengar ramah. “Mungkin bisa ditunda, Ophelia harus—”

“Aku nggak apa-apa.” sela Ophelia cepat. 

Randi langsung terdiam namun senyum itu masih ada di wajahnya. “Maksudnya?” 

“Sebentar lagi ada ulangan penting. Airin mesti belajar untuk itu.” 

“Dia pasti bisa belajar sendiri dulu, kamu mesti istirahat,” tegas Randi. 

Ophelia menatap Airin. Entah bagaimana gadis itu mengerti kode yang ia kirim dan langsung berdiri dari duduknya. “Kalau cuma sebentar kayaknya Ophelia bisa. Aku bener-bener butuh bantuannya sekarang.” 

Randi menghela napas dan berjalan ke arah Ophelia. Dia memegang bahu gadis itu, mencengkeramnya tepat di atas luka yang masih segar kemudian bicara. 

“...jangan memaksakan diri oke?” 

—jangan sampai ada siapapun yang tahu tentang lukamu.

“Kalau ada apa-apa kamu harus langsung pulang.” 

—atau kamu akan menerima akibatnya. 

Ophelia meringis. Ha. Ia bahkan bisa mendengar ancaman yang keluar dari mulut itu walaupun ucapannya berbeda. 

Gadis itu tersenyum dan balas memegang tangan Randi. “Tentu, Ayah nggak perlu khawatir.” 

—membusuk sana di neraka. 

Randi memberikan Ophelia ponselnya dan menatap dalam-dalam sampai mereka berhasil keluar dari kediaman Pratama. 

“Kamu beneran nggak apa-apa?” tanya Airin pelan. “Ayahmu kelihatannya marah.” 

“Dia biasa begitu.” 

Ophelia menatap mobil di depan mereka, tidak ada supir yang keluar. 

“Kamu… nyetir sendiri kesini?” tanyanya. 

Cara menyetir Airin itu masih asal-asalan. Dengan kondisi punggungnya yang sekarang guncangan sekecil apapun pasti akan membuat lukanya sakit. Ophelia juga bukan dalam kondisi yang mampu untuk—

“Aku dianterin sebenarnya,” ujar Airin. 

“Sama siapa?” 

Pintu mobil terbuka, seorang pria yang memakai baju kasual terlihat—hm.

Ophelia menghela napas. Dari semua orang, kenapa malah Aidoneus? 

“Kakaknya Kaiser ya,” gumamnya.

“Aku juga punya nama.” Pria di depan mereka terlihat tidak terima. “Agak tidak sopan lho kalau cuma memanggil dengan sebutan ‘kakaknya Kaiser’ begitu.” 

“Kak Aidoneus?” panggil Ophelia.

“Kepanjangan.” 

Ophelia mengerutkan dahi. Bukannya nama dia memang sepanjang itu? 

“...Kak Aiden?” 

Pria itu tersenyum dan membukakan pintu untuk mereka berdua. “Silahkan masuk.” 

Airin duduk di depan bersama dengan Kak Aiden sedangkan Ophelia sendiri di belakang. Ia berusaha agar bisa duduk tanpa menyandarkan punggungnya ke kursi. 

Tapi rasanya tetap sakit sekali. 

Untungnya mereka berdua terlihat sedang asik bicara, jadi Ophelia beberapa kali meringis pun tidak terdengar. 

Tapi apa ini cuma perasaannya atau mobil yang mereka naiki melaju lebih lambat dari sebelumnya?

“Kita kok lewat sini?” tanya Airin di tengah perjalanan. “Bukannya lebih cepat lewat jalan pintas?” 

“Jalan ini lebih mulus,” jawab kak Aiden singkat. 

Apa dia sadar? 

Ophelia yakin dia sudah mengatur ekspresinya menjadi datar seperti biasa. Apa suaranya tadi terdengar? 

Tapi Kak Aiden tidak mengatakan apapun lagi sampai mereka tiba di kediaman Purnomo. Dia juga langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam seakan itu adalah rumahnya sendiri.

“Kamu udah makan siang?” tanya Airin sembari menggandeng tangannya. “Bunda kayaknya baru selesai masak.” 

Ophelia menghela napas lega. Terlalu fokus pada rasa sakitnya membuat dia lupa kalau sedang kelaparan. 

“...belum.” 

Menu yang disediakan terlihat lengkap dengan daging dan sayuran. Kedua kakak Airin terlihat tidak ada di ruang makan, begitu pula dengan Kak Aiden. 

Entah kemana perginya pria itu.

Ophelia mencoba untuk makan perlahan walau instingnya bilang untuk menelan semua makanan itu sekaligus.

“Kamu pucat sekali. Benar tidak apa-apa?” tanya Bunda Airin pelan. 

Ophelia tersenyum. “Nggak apa-apa. Sayurnya enak Tante.” 

Perbincangan hangat mengalir setelahnya tapi Ophelia tidak bisa fokus sama sekali. Setelah perutnya terisi rasa sakit di punggungnya terasa semakin jelas, membuatnya mesti pergi dulu dari ruang makan untuk mengatur ekspresi. 

Sakit.

Gadis itu menggigit bibir sembari berpegangan pada meja ruang tamu. Ophelia hampir tidak tahan dengan rasa sakitnya, ia merasa ingin pingsan saja—

“Jadi benar di punggung ya?” 

Ia langsung membulatkan mata mendengar suara itu. 

1
aku
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!