Anindya (22 tahun) terpaksa menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Vane (28 tahun), CEO kejam dari Vane Group, demi membayar biaya pengobatan adiknya. Adrian hanya memanfaatkan pernikahan ini untuk membalas dendam pada keluarga Anindya yang ia tuduh memfitnah keluarganya di masa lalu.
Adrian bersikap dingin, arogan, dan menetapkan batasan ketat: tidak boleh ada rasa cinta. Namun, saat rahasia masa lalu yang sebenarnya perlahan terkuak dan musuh bisnis Adrian mulai menargetkan Anindya, Adrian sadar bahwa wanita yang ia benci telah menjadi pelindung jiwa dan takdir hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gastor Gaming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Tabir
Suasana di dalam ballroom megah seketika kacau balau. Ratusan kilatan lampu kamera menyambar wajah Clara yang pucat dan gemetar di tengah lorong utama. Suara bisik-bisik wartawan berubah menjadi gemuruh spekulasi yang memekakkan telinga.
Siapa wanita itu? Apakah dia kekasih rahasia Adrian Vane?
Apa katanya tadi? Mengambil darah untuk menyembuhkannya?
"Tuan Adrian! Tolong jelaskan apa maksud pernyataan wanita ini!"
Adrian mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya yang semula begitu tenang dan penuh kendali kini tampak menegang. Ia segera melangkah ke depan mikrofon, mencoba menguasai keadaan.
Keamanan! Bawa wanita ini keluar sekarang juga!
perintah Adrian dengan suara berat dan menggelegar, menggema di seluruh ruangan.
Jangan sentuh aku! jerit Clara histteris saat dua pengawal berbadan tegap memegang kedua lengannya. Matanya yang berkaca-kaca menatap lurus ke arah Adrian. Adrian! Kau berjanji padaku!
Kau bilang wanita itu cuma wadah donor yang kau beli! Kenapa kau bilang pada media bahwa kau mencintainya?!
Anindya berdiri terpaku di samping panggung. Suara Clara yang nyaring bagaikan petir yang menyambar kesadarannya. Wadah donor? Jadi wanita ini adalah alasan sebenarnya aku dijebak dalam pernikahan ini? pikir Anindya, merasakan dingin menyebar di seluruh dadanya.
Bawa dia pergi! Sekarang! teriak Adrian lagi, kali ini dengan urat-urat leher yang menonjol.
Para pengawal menyeret Clara keluar dari ballroom dengan paksa, meninggalkan riuh pertanyaan para wartawan yang kian tak terkendali. Adrian berbalik, mencengkeram lengan Anindya dengan sangat erat, lalu membimbingnya secara kasar turun dari panggung menuju pintu belakang khusus VIP.
Adrian, lepaskan tanganku! Kau menyakitiku! protes Anindya seraya berusaha menghentakkan tangannya saat mereka menyusuri lorong sepi menuju area parkir bawah tanah.
Diam, Anindya! Masuk ke mobil! bentak Adrian dingin. Pria itu mendorong Anindya masuk ke dalam kabin belakang Rolls-Royce, lalu menyusul masuk dan membanting pintu hingga tertutup rapat.
Jalan! Kembali ke penthouse sekarang! perintah Adrian pada sopirnya dengan nada murka.
Mobil mewah itu melaju kencang meninggalkan area gedung. Di dalam kabin yang kedap suara, suasana mendadak terasa begitu menyesakkan. Anindya mengelus pergelangan tangannya yang memerah bekas cengkeraman Adrian, lalu menatap pria di sampingnya dengan tatapan penuh kebencian.
Jadi wanita tadi adalah Clara? tanya Anindya dengan suara dingin, memecah keheningan. Cinta pertamamu yang sakit-sakitan itu?
Adrian tidak menoleh. Matanya menatap lurus ke luar jendela mobil. Bukan urusanmu.
Bukan urusanku?! Anindya tertawa sinis, sebuah tawa pahit yang sarat akan rasa jijik. Dia baru saja berteriak di depan ratusan kamera bahwa aku cuma wadah donor yang kau beli untuk menyembuhkannya! Dan kau masih bilang ini bukan urusanku?!
Aku membiayai operasi adikmu, Anindya! Aku memberi puluhan miliar untuk keluarga bangkrutmu!
sahut Adrian seraya memutar tubuhnya, menatap Anindya dengan tatapan tajam yang mengerikan.
Kau tidak punya hak untuk mempertanyakan dari mana atau untuk siapa darahmu digunakan!
Aku manusia, Adrian! Bukan barang dagangan atau alat medis yang bisa kau beli dan kau peras sesukamu! jerit Anindya, air mata kemarahannya tak lagi bisa ditahan.
Di mataku, kau adalah apa pun yang kuinginkan sesuai isi kontrak! balas Adrian pedas. Kau menandatanganinya! Kau menyetujuinya! Jadi tutup mulutmu dan jalankan peranmu!
Aku setuju menjadi istrimu di atas kertas, bukan menjadi tumbal untuk wanita lain! Anindya mengepalkan tangannya. Kenapa bukan kau saja yang mendonorkan darahmu padanya jika kau memang sangat mencintainya?!
Karena darahku tidak cocok dengannya, Anindya!
teriak Adrian, emosinya akhirnya meledak sepenuhnya. Darah Clara rusak karena racun kelainan langka, dan hanya darah dengan struktur Bombay Phenotype murni seperti milikmu yang bisa menetralkan tubuhnya melalui transfusi berkala!
Anindya membeku. Jawaban Adrian terasa seperti tamparan keras yang menghantam wajahnya. Transfusi... berkala? Maksudmu, kau tidak cuma mengambil darahku sekali?
Adrian tersenyum dingin, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit. Tentu saja tidak. Proses penetralan itu membutuhkan pengambilan darah rutin setiap bulan selama satu tahun penuh. Tepat selama masa kontrak pernikahan kita.
Pengambilan darah rutin setiap bulan?! Anindya menggelengkan kepalanya tak percaya. Tubuhku tidak akan kuat, Adrian! Kau bisa membunuhku secara perlahan!
Asisten medis terbaikku akan memastikan kau tetap hidup, sahut Adrian santai tanpa belas kasihan.
Lagipula, bukankah ini pertukaran yang adil? Satu liter darahmu setiap bulan untuk satu bulan kehidupan adikmu di ruang ICU.
Kau benar-benar monster tanpa hati... bisik Anindya dengan bibir gemetar.
Aku sudah memberitahumu sejak awal, Anindya. Jangan berharap ada belas kasihan di rumahku," kata Adrian dingin tepat saat mobil mereka berhenti di parkiran pribadi penthouse.
Pintu mobil dibuka oleh pengawal. Adrian keluar terlebih dahulu, meninggalkan Anindya yang masih lemas di dalam kabin. Namun baru beberapa langkah Adrian melangkah menuju lift pribadi, ponsel genggam di dalam saku jasnya berdering nyaring.
Adrian merogoh ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut. "Ada apa, Sarah? Aku baru saja sampai di--
Tuan Adrian! Gawat, Tuan! suara Sarah di ujung telepon terdengar luar biasa panik, disertai suara sirene dan teriakan riuh di latar belakang.
Langkah Adrian terhenti seketika. Bicara yang jelas! Ada apa?!
Nona Clara, Tuan! Setelah diseret keluar dari ballroom tadi, Nona Clara langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi! jerit Sarah dari balik telepon.
Lalu apa yang terjadi padanya?! bentak Adrian, raut wajahnya berubah panik secara drastis.
Mobil Nona Clara mengalami kecelakaan beruntun di jalan tol utama! Mobilnya ditabrak truk kontainer dan jatuh ke jurang!
Adrian merasa jantungnya seperti berhenti berdetak. Bagaimana keadaannya sekarang?! Jawab aku, Sarah!
Nona Clara kritis dan kehilangan banyak darah di lokasi kejadian! Ambulans sedang membawanya ke rumah sakit pusat! suara Sarah bergetar hebat.
Dokter bilang... pendarahan dalamnya sangat parah! Jika Nona Clara tidak mendapatkan transfusi darah Bombay Phenotype dalam waktu tiga puluh menit dari sekarang, Nona Clara tidak akan selamat!
Adrian mengepalkan tangannya, matanya yang liar langsung berbalik menatap ke arah mobil Rolls-Royce, di mana Anindya baru saja melangkah keluar dengan wajah pucat dan tubuh yang lemas.
Adrian berlari cepat mendekati Anindya, lalu mencengkeram kedua bahu wanita itu dengan kekuatan yang membikin Anindya meringis kesakitan.
Adrian! Apa-apaan kau ini?! jerit Anindya terkejut.
Ikut aku ke rumah sakit sekarang juga! perintah Adrian dengan suara panik yang bercampur kemarahan mendalam.
Rumah sakit? Untuk apa?! tanya Anindya bingung dan ketakutan melihat perubahan drastis pada ekspresi Adrian.
Clara kecelakaan dan dia kritis! teriak Adrian di depan wajah Anindya. Dokter butuh darahmu sekarang juga untuk menyelamatkan nyawanya!
Anindya menatap mata Adrian yang memerah, lalu melihat ke arah tangan kirinya yang masih terikat jam tangan pelacak medis. Sebuah keberanian nekat tiba-tiba muncul di dalam dadanya.
Tidak, jawab Anindya pelan namun sangat tegas.
Adrian terperanjat, matanya membelalak tak percaya. "Apa katamu?!
Aku bilang... tidak, ulang Anindya sembari menatap lurus ke dalam manik mata pria arogan itu. Aku tidak akan sudi menyerahkan setetes pun darahku untuk menyelamatkan wanita yang ingin merusak hidupku.
Anindya! Ini soal nyawa seseorang! bentak Adrian, suaranya bergema memenuhi parkiran bawah tanah yang sepi.
Lalu bagaimana dengan nyawaku?! teriak Anindya balik, menyuarakan seluruh rasa sakit hati dan penderitaannya. Kau tidak pernah peduli pada nyawaku atau nyawa adikku! Mengapa aku harus peduli pada nyawa wanita yang kau cintai?!
Jika kau menolak, ancam Adrian dengan gigi tergetar menahan amarah yang membara, aku bersumpah demi Tuhan, detik ini juga aku akan menyuruh dokter mematikan seluruh alat penunjang hidup adikmu di ICU!
Anindya tersenyum pahit, senyuman paling dingin yang pernah ia perlihatkan. Tangannya perlahan terangkat ke arah jam tangan titanium di pergelangan tangannya.
Coba saja lakukan itu, Adrian, bisik Anindya dengan nada suara yang begitu tenang hingga terasa sangat mengerikan. Karena jika kau berani menyentuh alat hidup adikku... aku akan langsung memotong nadi pergelangan tanganku ini di depan matamu. Kita lihat saja, siapa yang akan mati lebih dulu--adikku, atau cinta pertamamu yang kehabisan darah!