"Mo Ling'er! Kau berjanji memberiku tiga tahun!" raungnya seperti harimau yang terluka. "Sekarang baru dua tahun! Kenapa kau lakukan ini padaku! Kenapa?!"
Mo Ling'er menyeringai, tersenyum penuh penghinaan.
"Menunggumu? Hmmph!
"Kau tidak pantas!"
Kalimat itu menghantam arena seperti petir.
"Aku dulu buta karena menganggapmu istimewa," kata Mo Ling'er sengaja lantang, biar semua orang mendengar.
"Kau memang Tuan Muda Ketiga Keluarga Feng, tapi selama enam belas tahun apa yang kau raih?"
"Jiwa Bela Diriku Peringkat Enam! Aku jenius Keluarga Mo, sekaligus jenius nomor satu di antara rekan-rekan di Kota Wushuang! Sementara kau hanya Peringkat Dua, apa hakmu menyuruhku menunggu?
"Hari ini, kau juga hanya sanggup membangkitkan Jiwa Bela Diri diperingkat Dua. Perempuan saja bahkan lebih baik darimu!"
"Dasar sampah!"
Seketika hati Feng Wuchen terasa seperti ditusuk ribuan pisau.
Enam belas tahun kenangan indah mereka terlintas di benaknya. Tawa, senda gurau, janji, kebersamaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Seni Dewa Naga Tertinggi
Feng Wuchen duduk bersila di atas ranjang.
Luka di tubuhnya memang sudah pulih, tetapi pikirannya justru jauh lebih kacau daripada sebelumnya.
Ingatan Dewa Naga Jahat terus bermunculan satu demi satu.
Teknik kultivasi.
Formasi.
Alkimia.
Pengalaman bertarung selama ribuan tahun.
Semakin banyak yang ia pahami, semakin sulit baginya mempercayai keberuntungan yang baru saja jatuh ke tangannya.
"Orang ini benar-benar monster..."
Feng Wuchen menarik napas panjang.
Ia tidak tahu mengapa Dewa Naga Jahat bisa tersegel di dalam tubuhnya.
Ia juga tidak tahu siapa sosok misterius yang menyebutnya sebagai Tuan Muda.
Namun untuk sekarang, semua itu bukan hal terpenting.
Kekuatan.
Itulah yang paling ia butuhkan.
Feng Wuchen mulai memilah berbagai teknik kultivasi yang tersimpan di dalam ingatan Dewa Naga Jahat.
Sebagian besar begitu rumit hingga mungkin membutuhkan puluhan tahun bagi kultivator biasa hanya untuk memahaminya.
Namun ada satu teknik yang langsung menarik perhatiannya.
Seni Dewa Naga Tertinggi.
Teknik utama milik Dewa Naga Jahat sendiri.
Di Benua Jiwa Surgawi, teknik bela diri umumnya terbagi menjadi empat tingkat: Kuning, Misterius, Bumi, dan Surga.
Masing-masing masih dibagi menjadi tingkat Rendah, Menengah, dan Tinggi.
Namun Seni Dewa Naga Tertinggi berada jauh melampaui semua itu.
Bahkan dalam ingatan Dewa Naga Jahat, teknik tersebut termasuk warisan yang sangat mengerikan.
Feng Wuchen tersenyum.
"Kalau begitu, kita mulai dari ini."
Ia kembali memejamkan mata.
Karena telah mewarisi pengalaman Dewa Naga Jahat, ia tidak perlu memahami teknik tersebut dari awal.
Jalur energi.
Cara bernapas.
Perputaran energi spiritual.
Semuanya sudah tertanam sempurna di dalam pikirannya.
Feng Wuchen segera mengedarkan Seni Dewa Naga Tertinggi.
Detik berikutnya—
Energi spiritual di dalam kamar bergerak.
Awalnya hanya sedikit.
Namun dalam beberapa tarikan napas, energi spiritual dari sekitar kediaman mulai mengalir ke arahnya seperti arus sungai.
Feng Wuchen membuka mata dengan terkejut.
"Secepat ini?"
Ia segera memejamkan mata kembali.
Energi spiritual terus memasuki tubuhnya.
Dibandingkan teknik kultivasi yang ia gunakan sebelumnya, kecepatannya hampir sepuluh kali lipat lebih cepat.
Jantung Feng Wuchen berdegup keras.
"Ini terlalu gila."
Jiwa Bertarung Tingkat Dua?
Bakat rendah?
Semua penghinaan yang ia dengar kemarin tiba-tiba terasa sangat jauh.
Dengan teknik seperti ini, keterbatasan bakat tidak lagi sesederhana yang mereka bayangkan.
Feng Wuchen terus berkultivasi.
Energi spiritual mengalir melalui meridiannya, lalu berkumpul di dalam Dantian yang baru saja pulih.
Waktu berlalu.
Satu jam.
Dua jam.
Tiba-tiba tubuh Feng Wuchen bergetar ringan.
Boom!
Sebuah penghalang di dalam tubuhnya pecah.
Tingkat Tiga Alam Tempa Tubuh.
Feng Wuchen membuka mata.
Ia terdiam beberapa saat.
"Dua jam..."
Ia menatap kedua tangannya.
Hanya membutuhkan dua jam untuk menembus satu tingkat kultivasi.
Jika kabar seperti ini tersebar, mungkin tidak ada seorang pun di Kota Wushuang yang akan percaya.
Bahkan Feng Wuchen sendiri masih merasa seperti sedang bermimpi.
Ia lalu tertawa pelan.
"Mo Ling'er."
Senyumnya berubah dingin.
"Jiwa Bertarung Tingkat Enam memang luar biasa."
"Tapi tunggu sampai aku mengejarmu."
Feng Wuchen kembali berkultivasi.
Ia tidak sadar bahwa cahaya keemasan tipis mulai muncul di permukaan kulitnya.
Sebuah pola samar berbentuk naga perlahan muncul di antara kedua alisnya.
Segel Naga.
Bersamaan dengan kemunculannya, aura Feng Wuchen mendadak berubah.
Lebih berat.
Lebih dalam.
Tubuhnya seperti sedang mengalami perubahan tanpa ia sadari.
Malam turun.
Feng Wuchen akhirnya membuka mata.
Aura di tubuhnya kembali meningkat.
Tingkat Empat Alam Tempa Tubuh.
Kultivasi yang sebelumnya jatuh akibat Dantiannya hancur kini sudah sepenuhnya pulih.
Bahkan kekuatannya terasa jauh lebih padat daripada sebelumnya.
Feng Wuchen mengepalkan tangan.
Krek!
Sendi jarinya berbunyi keras.
"Jauh lebih kuat."
Ia tersenyum puas.
Dalam satu malam, dirinya kembali dari Tingkat Dua ke Tingkat Empat Alam Tempa Tubuh.
Kecepatan semacam ini benar-benar berada di luar nalar.
Jika ditambah Cairan Spiritual atau pil kultivasi...
Feng Wuchen bahkan tidak berani membayangkan seberapa cepat dirinya bisa berkembang.
"Satu bulan."
Tatapannya menjadi tajam.
"Mo Ling'er, satu bulan sudah cukup."
Ia tidak ingin sekadar mengejar.
Ia ingin melampaui.
Ia ingin melihat sendiri ekspresi Mo Ling'er ketika orang yang kemarin disebut sampah berdiri jauh di atasnya.
Feng Wuchen baru saja hendak kembali berkultivasi ketika sebuah suara terdengar dari luar.
"Tuan Muda Ketiga."
"Masuk."
Pintu terbuka.
Xiaolan melangkah masuk.
"Tuan Muda, Akademi Tianyan sedang menerima murid baru hari ini."
Feng Wuchen mengangkat alis.
"Akademi Tianyan?"
Xiaolan mengangguk cepat.
"Semua keluarga besar sudah berada di panggung pengujian. Bahkan seorang tetua Akademi Tianyan datang langsung."
Feng Wuchen tersenyum tipis.
"Apa hubungannya denganku?"
Xiaolan terdiam.
Untuk masuk Akademi Tianyan, seseorang setidaknya harus membangkitkan Jiwa Bertarung Tingkat Lima.
Sedangkan Feng Wuchen hanya Tingkat Dua.
Namun melihat ekspresi tenang pemuda itu, Xiaolan malah merasa sedikit bingung.
"Tuan Muda..."
"Hm?"
"Anda benar-benar tidak apa-apa?"
Feng Wuchen tertawa kecil.
"Kenapa semua orang menanyakan hal yang sama?"
Xiaolan mengerucutkan bibir.
"Semua orang tahu hubungan Tuan Muda dan Mo Ling'er sejak kecil."
Ia berhenti sejenak.
"Setelah kejadian kemarin... kami semua khawatir."
Tatapan Feng Wuchen berubah sesaat.
Namun ia segera tersenyum.
"Yang kemarin sudah berlalu."
Xiaolan menghela napas lega.
"Baguslah."
Ia lalu berkata pelan, "Lagipula, sekalipun Mo Ling'er masuk Akademi Tianyan, bukan berarti dia akan selalu menjadi yang terhebat. Di sana pasti banyak orang yang lebih kuat."
Feng Wuchen terkekeh.
"Aku memang tidak tertarik pada Akademi Tianyan."
"Tapi karena di luar ramai..."
Ia bangkit.
"Ayo kita lihat."
Pusat Kota Wushuang benar-benar dipenuhi lautan manusia.
Hari ini Akademi Tianyan sedang memilih murid baru.
Setiap kota di Kekaisaran Api hanya mendapatkan dua kuota.
Satu kuota telah menjadi milik Mo Ling'er.
Satu lagi masih diperebutkan.
Di atas panggung, seorang tetua berjubah panjang duduk dengan tenang.
Belasan murid Akademi Tianyan berdiri di belakangnya.
Mo Ling'er berada di antara mereka.
Kehadirannya langsung menjadi pusat perhatian.
Bagi generasi muda Kota Wushuang, Akademi Tianyan adalah tempat berkumpulnya para jenius.
Masuk ke sana berarti status seseorang akan berubah total.
Feng Wuchen berjalan santai bersama Xiaolan.
"Ternyata memang ramai."
Xiaolan tersenyum.
"Karena Tetua Akademi Tianyan datang langsung."
Feng Wuchen mengangkat kepala.
Tatapannya segera bertemu dengan Mo Ling'er.
Mo Ling'er tertegun.
Ia menyangka Feng Wuchen masih terbaring dengan luka parah.
Namun pemuda itu kini berdiri dengan tenang.
Tidak pucat.
Tidak lemah.
Bahkan ekspresinya tidak menunjukkan sedikit pun sakit hati.
Tetua Akademi Tianyan yang duduk di atas panggung juga memperhatikan Feng Wuchen.
Tatapannya menyipit.
"Siapa pemuda itu?"
Patriark Keluarga Yang segera menjawab,
"Dia Feng Wuchen, Tuan Muda Ketiga Keluarga Feng."
Ia tersenyum tipis.
"Jiwa Bertarung yang dibangkitkannya hanya Tingkat Dua."
"Sampah."
Tetua itu justru mengerutkan kening.
"Sampah?"
Ia memperhatikan Feng Wuchen lebih lama.
Langkah pemuda itu stabil.
Tatapannya tenang.
Aura di tubuhnya juga tidak menunjukkan tanda-tanda seseorang yang baru saja hampir mati.
Semakin dilihat, semakin aneh.
Di bawah panggung, seseorang tiba-tiba berseru.
"Tunggu!"
Semua orang menoleh.
"Bukankah kemarin Dantian Feng Wuchen rusak?"
"Benar! Kultivasinya bahkan jatuh ke Tingkat Dua Alam Tempa Tubuh!"
Orang-orang mulai memperhatikan lebih teliti.
Beberapa kultivator langsung berubah ekspresi.
"Ini..."
"Tingkat Empat?"
"Dia sudah kembali ke Tingkat Empat Alam Tempa Tubuh?!"
Kerumunan seketika meledak.
"Mustahil!"
"Dalam satu malam?"
"Obat apa yang dimakan Keluarga Feng?!"
Tetua Akademi Tianyan akhirnya berdiri perlahan.
Tatapannya tertuju lurus kepada Feng Wuchen.
Mo Ling'er juga tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
Kemarin Feng Wuchen menghancurkan Dantiannya sendiri.
Hari ini...
kultivasinya justru telah pulih sepenuhnya.
Feng Wuchen hanya berdiri di tengah kerumunan dengan wajah tenang.
Seolah kegemparan di sekelilingnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.
...----------------...
Bersambung......