Indonesia
NovelToon NovelToon
Sebelum Jadi Istrimu, Aku Sudah Bernoda

Sebelum Jadi Istrimu, Aku Sudah Bernoda

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:73.6k
Nilai: 5
Nama Author: bunda Qamariah

"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."

Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.

Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.

Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.

Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Batas Yang Terlanggar

Selesai memasak untuk anak-anak Siska, Humaira bermaksud menyandarkan tubuhnya yang lunglai. Namun, Siska mendadak masuk ke dapur, berdiri santai di sana tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Kalau sudah selesai masak, kamu sekalian suapin mereka, ya," perintah Siska seenaknya.

Humaira yang sudah berada di batas puncak kelelahannya tegas menggeleng. "Saya sudah masak untuk mereka, Mbak. Seharusnya Mbak sendiri yang menyuapi mereka."

"Lho, berani kamu membantah?!" bentak Siska, matanya melotot. "Lagian siapa yang kamu panggil Mbak-Mbak?!"

"Terserah Mbak saja," sahut Humaira acuh tak acuh karena sudah terlalu lelah dan ingin segera istirahat.

Humaira berbalik hendak keluar dari dapur. Namun Siska langsung mengadang jalannya. "Kamu berani nggak mau dengerin aku?!"

"Siska! Ada apa ini?" Tiba-tiba Elisa masuk ke dapur karena mendengar kegaduhan.

Melihat kehadiran ibunya, Siska langsung memasang raut muka teraniaya dan mengadu. "Ini lho, Bun! Siska cuma minta tolong dikit aja, tapi dia malah ngamuk-ngamuk! Siska kan baru sampai, masih capek banget. Siska cuma minta dia masak makanan dan suapin anak-anak. Eh, dianya malah marah-marah dan ngata-ngatain Siska!"

Elisa menatap tajam ke arah Humaira. "Apa benar begitu, Humaira?!"

"Kamu ini ya! Siska cuma minta tolong sedikit saja masa tidak bisa?! Buruan sana suapin itu anak-anak! Siska mau istirahat dulu, dia baru sampai. Lagipula pelayan rumah juga sedang tidak ada!" Lanjut Elisa tanpa mau peduli siapa benar siapa salah.

Seperti biasa, Humaira tidak mau membuang energi untuk berdebat dengan orang-orang yang memang sudah membencinya sejak awal.

Tanpa sepatah kata pun, Humaira mengambil piring makanan yang telah ia siapkan, lalu melangkah ke ruang tengah menghampiri kedua anak Siska.

Ia duduk dengan tenang di depan anak-anak itu, menyuapi mereka satu per satu dengan penuh kesabaran dan kelembutan—mengalihkan rasa lelah di tubuhnya demi kepolosan balita-balita tersebut.

Melihat Humaira yang akhirnya pasrah menurut, Siska tersenyum puas dan penuh kemenangan dari balik dinding dapur.

"Siska, Bi Ina dan Susi ke mana?" tanya Elisa bingung tak melihat pembantu dirumah itu.

Sebenarnya tadi ia hanya menggunakan alasan pelayan tidak ada di depan Humaira, padahal ia sendiri tidak tahu keberadaan asisten rumah tangganya.

"Sudah Siska suruh pulang, Bun," jawab Siska santai tanpa beban.

"Loh? Kok kamu suruh pulang? Bi Ina kan yang biasa mengurus rumah ini sehari-hari."

"Sengaja! Biar si anak haram itu saja yang mengerjakan semua pekerjaan rumah ini!" ujar Siska dengan senyum licik.

"Biar dia tidak betah, cepat-cepat kapok, lalu kabur dari rumah ini dan minta cerai dari Mas Zidan! Muak banget Siska lihat muka sok sucinya itu!" Lanjut Siska geram.

"Kamu ini ada-ada saja. Jangan sampai ayahmu tahu kamu buat seperti ini sama kakak iparmu. Kalau sampai Ayah tahu, kamu pasti diamuk Ayah," ujar Elisa mengingatkan putrinya.

Meskipun Elisa sendiri tidak terlalu menyukai Humaira, ia masih teringat pada suaminya. Pria itu tentu tidak akan tinggal diam jika tahu menantunya diperlakukan sewenang-wenang seperti pembantu di rumah mereka.

"Halah, Ayah kan lagi enggak ada di rumah! Justru ini kesempatan kita dong buat ngerjain dia," sahut Siska santai, sama sekali tidak merasa takut.

"Terserah kamu deh. Bunda nggak mau masuk campur, takut diamuk Ayah," Elisa segera keluar dapur pergi meninggalkan putrinya.

_____

Zidan sedang dalam perjalanan pulang dari rumah sakit. Tiba-tiba ponsel di dashboard mobilnya berdering. Nama Melodi tertera di layar.

"Mas, kamu di mana?" suara Melodi terdengar merengek di ujung telepon saat pria itu menjawab panggilannya.

"Aku sudah dalam perjalanan pulang. Kenapa, Melodi?" tanya Zidan balik.

"Boleh enggak kamu ke apartemen aku dulu?"

"Mau buat apa di sana?" Zidan heran.

"Pokoknya kamu ke sini dulu deh, aku pengin minta tolong sesuatu," desak Melodi tak ingin dibantah.

"Baiklah," putus Zidan.

Pria itu sama sekali tak menolak dan langsung memutar arah, melajukan mobilnya menuju apartemen Melodi.

Melodi memang memiliki apartemen hunian pribadi —tempat favoritnya melarikan diri setiap kali enggan tinggal di rumah ibunya.

Tak lama kemudian, Zidan pun tiba dan memarkirkan mobilnya, melangkah langsung masuk kedalam lalu segera naik menggunakan lift menuju lantai apartemen Melodi.

Ting!

Suara bel berbunyi. Mendengar denting tersebut, Melodi bergegas berlari membuka pintu.

Namun, Zidan terkejut saat pintu terbuka. Melodi berdiri di hadapannya hanya dengan balutan lingerie tipis yang transparan, dengan jelas memperlihatkan pakaian dalamnya.

"Baju apa yang kau pakai itu?" tegur Zidan merasa tidak nyaman dengan penampilan terbuka Melodi yang menurutnya terlalu berani.

Bukannya malu atau canggung, Melodi justru mengulas senyum. Tanpa membuang waktu, ia meraih tangan Zidan dan menarik pria itu masuk ke dalam apartemennya, menuntunnya menuju arah kamar miliknya.

Begitu tiba di depan pintu kamar, Zidan mendadak menahan pijakan kakinya. Ia enggan melangkah lebih jauh karena area di dalam kamar itu tampak gelap gulita.

"Mau apa ke kamar?" tanya Zidan curiga semakin tidak nyaman dengan tingkah laku Melodi.

"Lampu kamar aku mati, Mas. Makanya aku panggil kamu ke sini, minta tolong buat gantiin lampunya," jelas Melodi tanpa memudar senyuman diwajahnya.

Mengetahui alasannya, pria itu akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar yang gelap tersebut, mencoba membantunya mengganti lampu yang sudah mati ke yang baru.

Tak butuh waktu lama, Zidan sudah selesai. Begitu bohlam baru itu terpasang, langsung menerangi seluruh sudut kamar, Zidan menyapu pandangannya sejenak lalu bergegas merapikan kemejanya.

"Sudah selesai. Lampunya sudah menyala. Aku langsung pulang, ya," ujar Zidan, seraya menggerakkan kakinya, berniat melangkah keluar dari kamar tersebut.

Namun, belum sempat kakinya melewati ambang pintu, tiba-tiba Melodi memeluknya dari belakang dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Zidan dengan sangat erat.

"Kok buru-buru banget sih, Mas? Kamu kan baru aja sampai..." bisik Melodi dengan nada manja, menyandarkan kepalanya di punggung kokoh Zidan, menggesekkan pipinya di sana.

Tak berhenti di situ, jemarinya yang lentik perlahan merayap naik, meraba dada bidang pria itu di balik kemejanya.

Melodi seperti sengaja berusaha membangkitkan gairah pria itu.

Zidan tersentak hebat oleh tindakan berani Melodi. Sensasi kulit dingin Melodi yang dibalut pakaian minim itu justru membuatnya merasa sangat tidak nyaman dan risih.

Dengan sigap, Zidan memegang kedua pergelangan tangan Melodi, berusaha melepaskan cengkeraman wanita itu dari dadanya.

"Melodi! Apa yang kamu lakukan?!" tegur Zidan dengan nada mulai terdengar tidak suka.

Bukannya menyurutkan niatnya, Melodi justru makin berani. Ia memutar tubuhnya cepat, berdiri tepat di hadapan Zidan dan memangkas jarak di antara mereka hingga tak tersisa batas.

Ia menatap Zidan dengan tatapan aneh, menyisipkan jemarinya di sela-sela kancing kemeja Zidan yang teratas.

"Aku cuma kangen sama kamu, Mas. Kenapa sih kamu harus buru-buru pulang ke rumah itu? Di sana cuma ada cewek dekil itu, kan? Kenapa enggak malam ini kamu di sini aja sama aku?" bisik Melodi, mengikis jarak wajah mereka hingga nafas beraroma parfum mewahnya menerpa bibir Zidan.

Zidan menatapnya dengan kening berkerut. Heran, selama bertahun-tahun mereka menjalin hubungan, Melodi selalu mencitrakan dirinya sebagai wanita berkelas, anggun, dan sangat menjaga batasan fisik.

Melodi yang dikenal Zidan adalah sosok wanita yang selalu ingin dihormati dan memegang kendali atas harga dirinya.

Namun malam ini, untuk pertama kalinya sepanjang sejarah hubungan mereka, Melodi bertindak sangat nekat, berani, dan terkesan murahan.

Melihat Zidan hanya diam. Melodi semakin berani, mendekatkan bibirnya ingin mencium bibir pria itu, dengan satu tangan menurunkan tali lingerie yang dia pakai.

1
Nar Sih
😭😭😭sedih bundaa ...kok arumi putus tgh jln pdhl lgi seru,,nyaa😭😭
bunda Qamariah: sebenarnya bisa di lanjutin sayangg. tapi kalau mau Revisi ulang, astaghfirullahalazim 🤧 butuh tenaga ekstra 🤧
total 1 replies
Syakirah Dzaky
Yah Allah syg skali Thor , lagi seru2nya harus berhenti😭, di saat lagi cinta secinta2nya tiba2 harus berakhir, rasanya sakit tau g 😭 Aku slalu menanti karya2mu bunda dan sukses slalu 🤲🤲 berharap Azhar bisa di lanjutin
bunda Qamariah: iya syang. maaf ya, karena harus berhenti di tengah jalan. soalnya lagi mumet kalau mau Revisi dari no🤧


jangan lupa mampir di karya baru aku ya, say. udah terbit kok
total 1 replies
Syakirah Dzaky
Akhirnya Humairah dan Alva bahagia menanti calon bayi untk kesempurnaan keluarga mereka , dan buat Zidan yeah Akhirnya ketemu jodohnya juga . Ditunggu yah toh novel baru nya , jgn lama2 loh🤭
Aysah Meta: Sesuai kak,dengan sifat zidan yg ha ho haa hooo🤭🤭 pintar tapi bodoh🤣🤣🤣🤣
total 4 replies
Nar Sih
mau bangettt bunda lanjut kisah zidan dan gadis kribo penjual ikan nya pasti seruu dan lucuu🙏🥰🥰
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya terbongkar juga semua kebusukan melodi😏
Jamayah Tambi
Setelah gabis masa nifas nikahkan Davin dan Melidi.Dulu bukan main kamu anak betanak menghina Humaira dan Yanti.Mengatakan perempuan jalang,murahan ,pelacur dan anak haram.
bunda Qamariah: betul itu say🤧
total 1 replies
Jamayah Tambi
Kesian kan.
Jamayah Tambi
Bapak dah masukbpenjara,ni mak saudara pulak.Apa mau
Jamayah Tambi
Ni Alva tak cerita lagi kejalangan Melodi
Jamayah Tambi
Rasakan Melidi.Ingat nak makukan Humaira,kau sendiri yg malu
Jamayah Tambi
Lambat,banyak drama
Jamayah Tambi
Ah tak sabarnya nak malu
Jamayah Tambi
Kau tak sadar diri Melidi.Dah berapa bulan menjadi isteri Zidan masih belum di sentuh.Kalau Alce mengeluarkan gambae2 lucahmu dgn selingkuhan mu siapa yg lebih malu
Jamayah Tambi
Apa lagi ulah dan rancangan Melidi
bunda n3
dan yg paling menyakitkan itu dikhianati orang terdekat kita
bunda n3
Humaira hamil sepertinya
Nar Sih
ahir nya semua terbongkar ,zidannn....malang nya nasib mu yaa..semoga stlh ini kmu dpt kan kebagiaan mu nanti
Syakirah Dzaky
Kasian Zidan , aku bisa merasakan betapa sakit dan hancur nya dia😭 . terimakasih thor akhirnya kau update juga
bunda Qamariah: sama2 say🫰
total 1 replies
Jamayah Tambi
Jawab Alva.
Jamayah Tambi
Lepas ni jangan nak cemburu buta.Ramai yg antin di luar sana mau merampas Alva .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!