Galang Kurniawan, seorang pedagang makanan kecil bernasib sial yang hidupnya selalu jalan di tempat. Di malam terburuk dalam hidupnya ketika gerobaknya dihancurkan dan ia hampir menyerah, Galang tiba-tiba membangkitkan Sistem Kuliner Acak yang memaksanya berjualan di lokasi-lokasi aneh dengan hadiah gacha yang fantastis. Dimulai dari berjualan di rumah sakit, Galang harus menghadapi berbagai macam pelanggan baru, persaingan bisnis yang kotor, koki arogan yang meremehkannya, hingga tantangan memasak bahan-bahan langka dari sistem.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
DING.
[Progres Penjualan: 320/500 porsi.]
Layar biru di sudut matanya terus berkedip memberikan notifikasi pencapaian yang semakin bertambah.
Asap harum dari dapur kedai itu terus mengepul tanpa henti hingga membuat orang-orang yang lewat di jalan raya ikut menelan ludah.
Waktu berlalu dengan sangat cepat ketika seseorang sedang berada di puncak kesibukannya.
Matahari mulai tenggelam digantikan oleh lampu-lampu jalan yang menyala terang di sekitar kawasan kampus.
Jam dinding di dalam kedai sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Stok beras di dapur Galang sudah masuk ke karung yang kelima hari ini.
"Bang Galang, stok ayam potong kita sisa dua ekor lagi di kulkas!" lapor Bima yang masuk ke dapur membawa piring kotor.
"Nasi putih di termos besar juga tinggal cukup untuk dua puluh porsi nasi goreng saja Bang."
Galang mengelap keringat yang membanjiri dahi dan lehernya menggunakan handuk kecil.
"Bagus, itu tandanya penderitaan kita hari ini akan segera berakhir Mas Bima," jawab Galang sambil tersenyum lebar.
Ia melirik ke arah layar sistem yang kini menunjukkan angka yang sangat krusial.
[Progres Penjualan: 480/500 porsi.]
[Waktu tersisa: 2 jam 50 menit.]
Ia hanya butuh menyelesaikan dua puluh porsi terakhir sebelum target misi gila ini resmi tertutup.
Dan untungnya, antrean pelanggan di depan masih ada sekitar lima belas orang yang belum mendapat makanan.
"Tolong umumkan ke depan Mas Bima, kedai kita sudah mau tutup karena bahan habis," perintah Galang.
"Hanya sisa dua puluh porsi untuk pelanggan yang sudah antre, sisanya mohon maaf disuruh kembali besok saja."
"Siap laksanakan Bos!" seru Bima langsung berlari keluar menuju area ruang makan.
Galang mengerahkan sisa tenaga terakhirnya untuk meracik dua puluh porsi penutup tersebut.
Sreng sreng.
Bawang putih tunggal, kecap premium, dan telur ayam kampung berpadu menghasilkan aroma karamelisasi yang sangat pekat.
Trak trak trak.
Ia menyajikan nasi-nasi itu ke atas piring dengan presisi yang sama persis seperti porsi pertamanya tadi pagi.
Satu per satu piring itu dibawa oleh Bima ke meja pelanggan yang sudah menunggu lama dengan perut keroncongan.
Setiap kali pelanggan menyuapkan makanan itu ke dalam mulut mereka, suara lonceng sistem berbunyi menghitung mundur sisa target.
DING.
[Progres Penjualan: 495/500 porsi.]
DING.
[Progres Penjualan: 499/500 porsi.]
Galang bersandar pada meja beton dapurnya sambil mengatur napasnya yang mulai tersengal.
Punggungnya terasa sangat kebas dan tangannya sedikit gemetar karena tidak berhenti memegang wajan selama dua belas jam penuh.
Pelanggan terakhir di meja paling sudut adalah seorang mahasiswa bertubuh gemuk yang memesan satu porsi nasi goreng jumbo.
Mahasiswa itu mengunyah suapan terakhirnya dengan sangat nikmat hingga menjilat sisa bumbu di sendoknya.
Trang.
Suara sendok diletakkan di atas piring kosong itu memicu reaksi berantai di dalam kepala Galang.
Layar biru transparan mendadak muncul dengan ukuran yang sangat besar dan bersinar terang menyilaukan mata.
DING.
[Misi Utama Tahap Satu Berhasil Diselesaikan!]
[Evaluasi Grand Opening: Fenomenal. Kedai Host kini dikenal oleh 40% populasi mahasiswa lokal.]
Galang memejamkan matanya dan tersenyum sangat lebar menikmati momen kemenangan ini.
Ancaman kedai terbakar hangus dan kembali menjadi pedagang jalanan akhirnya lenyap tanpa sisa.
Ia kini resmi menjadi pemilik kedai yang sukses di hari pertamanya.
[Sistem Kuliner Acak berhasil mencapai Level 3.]
[Fitur Dapur Otomatis berhasil dibuka. Host kini dapat memanggil asisten bayangan untuk membantu persiapan bahan.]
Mata Galang langsung terbuka lebar membaca fitur baru yang sangat luar biasa tersebut.
"Asisten bayangan? Jadi aku tidak perlu lagi mencuci piring dan memotong sayur sendirian?" batin Galang kegirangan.
Fitur ini benar-benar datang di saat yang tepat karena ia mulai kewalahan melayani ratusan porsi setiap harinya.
[Sistem memberikan Satu Resep Rahasia Bintang Tiga untuk Host.]
[Resep Mie Tarik Naga Pedas berhasil diklaim.]
[Pengetahuan resep sedang diunggah ke dalam memori otak Host.]
Rasa sakit yang lumayan tajam menusuk kepala Galang selama beberapa detik seiring dengan masuknya ribuan informasi baru.
Kini ia tahu persis bagaimana cara mengadon tepung gandum pilihan, menarik mie dengan tangan kosong, dan meracik bumbu cabai level dewa.
Resep bintang tiga ini jelas memiliki tingkat kesulitan dan efek magis yang jauh lebih kuat dari dua resep sebelumnya.
"Terima kasih sistem, besok menu baru ini akan jadi senjata utamaku untuk memonopoli kawasan ini," gumam Galang mengusap kepalanya.
Jam di dinding menunjukkan pukul setengah sebelas malam saat pelanggan terakhir akhirnya keluar dari kedai.
Bima masuk ke dapur sambil membawa setumpuk uang kertas yang sangat tebal di tangannya.
Wajah karyawan kurus itu terlihat sangat lelah namun matanya berbinar-binar penuh kebahagiaan.
"Bang Galang, ini hasil penjualan kita dari pagi sampai malam ini," lapor Bima meletakkan tumpukan uang itu di meja dapur.
"Saya tadi iseng hitung, total kotornya tembus lebih dari tujuh belas juta rupiah sehari Bang!"
Galang tertawa pelan melihat antusiasme Bima yang belum pernah melihat uang tunai sebanyak itu secara langsung.
Tujuh belas juta dalam sehari adalah rekor omzet paling gila yang pernah ia capai seumur hidupnya.
"Kerja bagus hari ini Mas Bima, saya benar-benar sangat tertolong dengan kehadiran Mas Bima di depan," puji Galang tulus.
Galang mengambil lima lembar uang seratus ribu dari tumpukan itu dan menyodorkannya pada Bima.
"Loh Bang, gaji saya kan kesepakatannya cuma seratus ribu sehari," tolak Bima dengan wajah bingung bercampur sungkan.
"Itu gaji pokoknya, sisa empat ratus ribunya ini adalah bonus karena Mas Bima sudah berani pasang badan waktu diserang preman tadi," jelas Galang memaksa Bima menerimanya.
"Bawa uang ini pulang, bayar uang semesteran kampusmu, dan besok pagi kita berjuang lebih gila lagi."
Mata Bima berkaca-kaca menahan tangis haru menerima uang yang sangat besar artinya bagi kehidupannya itu.
"Terima kasih banyak Bang Bos, saya janji akan kerja lebih rajin lagi besok," ucap Bima sambil membungkuk hormat.
Setelah Bima pulang, Galang mengunci semua pintu dan jendela kedainya rapat-rapat.
Ia duduk sendirian di tengah ruang makan yang sudah sunyi sambil menghitung sisa bahan untuk esok hari.
Meskipun hari ini ia menang telak, ia tahu perang sesungguhnya dengan Wijaya barulah dimulai.
Sabotase preman tadi hanyalah ujian kecil dari pengusaha licik tersebut.
"Tunggu saja pembalasanku Pak Wijaya," batin Galang menatap jalanan raya dari balik jendela kaca kedainya.
"Kerajaan kulinerku baru saja bangkit, dan tidak ada yang bisa merobohkannya sekarang."