Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Queen
Waktu berlalu tanpa ampun, membawa Kerajaan Hikari pada sebuah musim gugur yang kelam ketika Sang Ratu jatuh sakit parah di usia 50 tahun. Di dalam kamar tidur kerajaan yang megah berbalut tirai beludru berat, bau obat-obatan memenuhi udara yang dingin.
Di ambang ajalnya, Sang Ratu terbaring lemah di atas ranjang pualam besar. Di sisi ranjang, Putri Miyura berdiri dengan postur anggun namun kaku, sementara Aragoto berdiri tegak beberapa langkah di belakang sang putri sebagai pelayan pribadi yang setia mendampingi.
Mata Sang Ratu yang sayu perlahan terbuka. Ia menatap lekat-lekat ke arah kedua anak kembarnya yang berdiri berdampingan dalam dunia yang terpisah—satu di puncak takhta, satu lagi di balik bayang-bayang. Di detik-detik terakhir hidupnya, sebuah kesadaran menghantam batin sang ibu; ia melihat bayangan masa lalu yang terpantul jelas pada diri Miyura dan Aragoto. Sorot mata dan garis wajah mereka menyiratkan bahwa rahasia kelam itu perlahan mulai tersingkap oleh insting mereka sendiri.
Sang Ratu membuka bibirnya yang kering, berusaha memanggil nama mereka. Suaranya terdengar sangat parau, nyaris tak lebih dari desisan angin.
"Miyura... Aragoto..." bisik Sang Ratu terbata-bata dengan sisa tenaganya yang hampir habis, jarinya yang kurus gemetar terulur lemah ke arah mereka. "Kalian... kalian adalah..."
Miyura menautkan alisnya, menatap ibunya dengan pandangan menyelidik namun tetap tenang. "Ada apa, Ibu? Apa yang ingin Ibu katakan?"
Sang Ratu ingin mengatakan yang sebenarnya—bahwa mereka adalah saudara kembar, darah daging yang sama yang pernah ia pisahkan demi ambisi singgasana. Namun, suara Sang Ratu yang sudah habis benar-benar lenyap di tenggorokannya. Napasnya terhenti di tengah kalimat, tangannya terkulai lemas ke atas selimut, dan mata sang ratu tertutup untuk selamanya. Sang Ratu berpulang dalam keheningan, membawa rahasia besar itu hingga liang lahat.
Mendengar monitor detak atau melihat tarikan napas terakhir ibunya, Putri Miyura sama sekali tidak menunjukkan isak tangis ataupun kesedihan. Ia hanya memandang jasad ibunya dengan tenang dan dingin, tanpa ada setetes air mata pun di pipinya.
"Ibu sudah pergi," ucap Miyura datar, suaranya menggema di ruangan yang sunyi. Ia menoleh ke arah pelayannya. "Aragoto, panggil para menteri dan pengawal. Urus pemakaman sesuai protokol kerajaan."
Di sisi lain, bertolak belakang dengan sikap dingin sang putri, Aragoto justru merasakan guncangan hebat di dalam dirinya. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam menatap lantai marmer. Saat melihat raga ratu yang tak bernyawa itu, tiba-tiba dadanya terasa sesak luar biasa, seolah ada beban tak kasat mata yang menghantam rongga dadanya. Rasa nyeri yang asing dan mendalam menusuk hatinya, membuat napasnya mendadak berat.
Merasa tidak sanggup lagi menahan gejolak emosi yang aneh dan membingungkan itu di hadapan sang putri, Aragoto mengepalkan kedua tangannya erat-erat.
"Yang Mulia... mohon izinkan saya mengundurkan diri sejenak dari ruangan ini," ucap Aragoto dengan suara bergetar yang berusaha ia kendalikan. Tanpa menunggu jawaban atau izin lanjutan dari Miyura, Aragoto langsung berbalik dan melangkah pergi dengan cepat meninggalkan kamar tidur utama.
Ia berjalan tergesa-gesa menyusuri koridor-koridor istana yang sepi, menjauhi pusat keramaian, hingga akhirnya ia menemukan sebuah sudut lorong sayap barat yang gelap dan tersembunyi dari jangkauan siapa pun.
Di tempat yang sepi dan remang-remang itu, pertahanan Aragoto runtuh. Ia bersandar pada dinding batu yang dingin, lalu meremas kuat-kuat bagian depan kemejanya tepat di atas dadanya sendiri. Isak tangis yang tertahan akhirnya lolos dari bibirnya, bersamaan dengan air mata yang tumpah membasahi pipinya.
"Kenapa...?" gumam Aragoto lirih di dalam kegelapan, suaranya patah dan dipenuhi rasa sakit yang tak bertepi. "Kenapa dadaku terasa begitu sesak? Rasanya begitu sakit... padahal aku tidak mengenalnya lebih dari seorang ratu... tapi kenapa rasanya seperti ada bagian dari diriku yang ikut mati?"
Di tengah kesendirian dan kegelapan lorong istana itu, Aragoto terus meremas dadanya, meratapi kesedihan mendalam yang tidak ia ketahui asal-usulnya—sebuah ikatan darah tak kasat mata yang terus memanggilnya bahkan setelah sang ibu pergi untuk selamanya.
Di tengah kesunyian lorong sayap barat yang gelap dan dingin, isak tangis Aragoto masih terdengar tertahan. Tubuhnya bersandar lemas di dinding batu, jemarinya masih erat meremas bagian dada kemejanya yang basah oleh air mata.
Langkah kaki ringan namun tergesa-gesa tiba-tiba menggema di ujung lorong. Nyonya Martha, yang mendengar kabar wafatnya sang Ratu sekaligus merasakan kecemasan mendalam pada anak angkatnya, langsung berlari mencari keberadaan Aragoto. Begitu melihat sosok pemuda itu meringkuk di sudut yang remang-remang, langkah Martha terhenti seketika. Hatinya seperti diiris sembilu.
Martha perlahan mendekat, tanpa suara. Tanpa ragu sedikit pun, wanita paruh baya itu langsung merengkuh tubuh Aragoto ke dalam pelukannya yang hangat dan penuh keibuan. Ia mendekap erat kepala sang pemuda, menenggelamkannya ke dalam dekapan dadanya, lalu mulai mengelus punggung Aragoto dengan penuh kelembutan.
Aragoto yang tadinya menegang perlahan melemas dalam pelukan itu. Air matanya semakin tumpah membasahi bahu Martha.
"Ibu..." suara Aragoto pecah, terdengar sangat rapuh di pelukan wanita yang membesarkannya. "Kenapa...? Kenapa rasanya sakit sekali, Ibu? Ratu... wanita itu baru saja tiada, tapi kenapa dadaku terasa sesak seolah ada bagian jiwaku yang ikut tercabut? Aku tidak mengerti..."
Martha merapatkan dekapannya, menahan isak tangisnya sendiri yang hampir lolos. Ia tahu betul apa yang dirasakan oleh Aragoto. Ia tahu bahwa ikatan darah tidak bisa dibohongi oleh akal sehat atau status sosial apa pun; rasa kehilangan itu mengalir deras melalui nadi yang sama, meskipun sang anak tidak pernah tahu bahwa wanita yang baru saja berpulang adalah ibu kandungnya sendiri.
"Menangislah, Aragoto... keluarkan semuanya," bisik Martha sangat lembut tepat di dekat telinga pemuda itu, suaranya bergetar menahan duka yang teramat dalam. "Kau boleh menangis sepuasmu di sini, di pelukan Ibu. Kau tidak perlu menanggung beban itu sendirian."
Aragoto memejamkan matanya rapat-rapat, lalu membalas pelukan Martha dengan mencengkeram erat kain seragam wanita itu. Ia membenamkan wajahnya, menumpahkan segala sesak dan kesedihan misterius yang menghantam batinnya.
"Ibu... rasanya begitu gelap," rintih Aragoto di tengah isakannya. "Mengapa dunia terasa begitu kejam, dan mengapa hatiku terus meneriakkan rasa sakit ini?"
Martha mencium puncak kepala Aragoto, membiarkan air matanya sendiri menetes ke rambut hitam pemuda itu. Dengan penuh ketulusan, ia terus mengusap punggung anak angkatnya untuk menyalurkan kehangatan.
"Sstt... semuanya akan baik-baik saja, Nak," bujuk Martha menenangkan, berusaha meredakan badai emosi yang merobek dada Aragoto. "Ibu ada di sini. Ayah dan Ibu tidak akan pernah meninggalkanmu. Bertahanlah... badai ini pasti akan berlalu."
Di dalam pelukan hangat seorang ibu angkat yang menyimpan sejuta rahasia pahit, Aragoto terus menangis meratapi takdirnya yang terbuang, ditemani kesunyian lorong istana yang menjadi saksi bisu atas kepedihan darah yang terbelah.