Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.
Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.
Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Singgasana yang Runtuh
Suara denting gelas kristal, dentang piano klasik, dan aroma parfum custom-made bernilai puluhan juta rupiah yang biasa memenuhi mansion megah keluarga Wijaya di kawasan Pondok Indah itu mendadak lenyap.
Berganti dengan aroma minyak tanah, selokan mampet, dan debu jalanan yang menyengat tenggorokan.
Namaku Clarissa.
Di usiaku yang baru menginjak 19 tahun, aku pernah berada di puncak dunia.
Ayahku, Baskoro Wijaya, adalah seorang konglomerat terpandang di industri manufaktur.
Ibuku, Siska, adalah wanita sosialita kelas atas yang penampilannya selalu memancarkan kemewahan tanpa cela.
Aku tumbuh sebagai putri tunggal yang dimanjakan berperawakan tinggi semampai, berwajah manis dengan mata bundar yang jernih, serta lekuk tubuh indah bagai gitar Spanyol yang kerap membuat pasang mata menatap kagum.
Ditambah dengan otak yang encer, masa depanku seharusnya sudah tertata rapi di atas karpet merah.
Namun, dunia bisnis tidak pernah mengenal rasa kasihan.
Dalam hitungan minggu, saham perusahaan Ayah anjlok drastis akibat pengkhianatan terencana dari mitra bisnis terpercayanya.
Kerajaan bisnis yang dibangun puluhan tahun runtuh seketika.
Sertifikat rumah, mobil-mobil sport, hingga koleksi tas dan perhiasan Ibu disita oleh pihak bank tanpa sisa.
Kami terdepak dari puncak kemewahan, terlempar keras ke dasar kenyataan.
Tak berhenti di situ, takdir seolah belum puas menghantam kami.
Di tengah kekacauan finansial dan kejaran para keditor, sebuah kecelakaan beruntun di jalan tol merenggut fungsi kedua kaki Ayah.
Pria gagah yang dulu selalu berdiri tegap dengan setelan jas mahal itu kini harus terikat selamanya di atas kursi roda.
"Kenapa harus begini, Mas?!
Kenapa kamu harus lumpuh di saat kita tidak punya apa-apa lagi?!" jerit Ibu malam itu.
Suaranya melengking memecah kesunyian kontrakan sempit beratap seng yang kami sewa di gang sempit Jakarta.
Aku yang saat itu masih duduk di kelas 3 SMA hanya bisa berdiri membeku di balik pintu kamar yang lapuk, menggenggam erat rok seragam sekolahku.
Tanganku gemetar, menahan tangis yang sudah sesak di dada.
Ayah tidak menjawab.
Beliau hanya menunduk di atas kursi roda murah yang kami beli dari sisa tabungan terakhir.
Tangannya yang gemetar menatap kedua kakinya yang tak lagi bisa digerakkan, tertutupi celana kain lusuh.
"Aku tidak bisa begini terus!
Aku tidak terbiasa hidup seperti tikus di got ini!
Aku harus mencari uang!" bentak Ibu sebelum membanting pintu kayu yang lapuk itu hingga bergetar, meninggalkan kami dalam kegelapan malam.
Sejak hari itu, Ibu selalu pulang larut malam dengan alasan mencari nafkah.
Namun, bukannya membawa kedamaian, rumah kontrakan kami justru semakin mirip neraka.
Yang tersisa setiap hari hanyalah Ayah yang sakit-sakitan dengan penyakit komplikasi diabetes dan ginjal yang kian memburuk serta aku yang harus membagi waktu setengah mati antara belajar untuk ujian akhir SMA dan merawat Ayah.
Suatu sore yang terik, ketika aku baru saja menginjakkan kaki di rumah setelah pulang sekolah, aku mendapati Ayah sedang sibuk mengikat beberapa kantong plastik berisi snack kering di samping roda kursi rodanya.
"Ayah... mau melakukan apa?" tanyaku dengan suara bergetar.
Tas sekolahku hampir terlepas dari genggaman.
Ayah mendongak, memberikan senyuman paling hangat yang pernah kubayangkan, meski wajahnya sangat pucat dan matanya cekung.
"Ayah masih seorang kepala keluarga, Rissa," jawab Ayah pelan namun tegas, mengelus kepalaku lembut.
"Selama tangan Ayah masih bisa bergerak dan napas ini belum diangkat, Ayah tidak akan biarkan kamu dan ibumu mati kelaparan.
Ayah tidak mau jadi beban."
Hati mana yang tidak hancur berantakan melihat pemandangan itu?
Seorang pria yang dulunya dihormati oleh para pejabat, yang namanya selalu tercetak di majalah bisnis terkemuka, kini mengayuh kursi rodanya sendiri menuju tepi jalan raya yang bising, berdebu, dan penuh polusi.
Di sana, di bawah terik matahari Jakarta yang menyengat kulit, Ayah menjajakan snack ringan senilai puluhan ribu rupiah kepada para pengendara mobil dan motor yang melintas.
Setiap kali bel sekolah berbunyi, aku tidak pernah nongkrong seperti teman-teman remajaku yang lain.
Aku langsung berlari menyusul Ayah.
Dengan tubuhku yang tinggi dan paras cantik yang tertutup debu jalanan, aku berdiri kokoh di samping kursi roda Ayah.
Aku menekan rasa malu, membuang jauh-jauh harga diriku demi pria yang sangat kucintai ini.
"Mari snack-nya, Pak... Bu...
Kripiknya renyah, hanya sepuluh ribu..." berteriak parau di tengah deru mesin kendaraan.
Banyak orang menatap kami dengan kasihan, tidak sedikit pula yang memandang sebelah mata atau mengacuhkan kami.
Namun, Ayah selalu tersenyum.
Setiap lembar uang ribuan yang lusuh hasil jualan hari itu disimpannya rapi di dalam kotak kaleng bekas, lalu diserahkannya utuh kepada Ibu saat malam tiba.
Namun, pengorbanan luar biasa itu sama sekali tidak menyentuh hati Ibu.
"Cuma dapat uang sebegini dari jualan di jalanan?!" teriakan Ibu kembali terdengar nyaring di tengah malam yang sunyi.
Uang kertas yang dikumpulkan Ayah dengan mandi keringat dibanting begitu saja ke meja kayu yang goyah.
"Ini bahkan tidak cukup untuk membeli krim wajahku!
Kamu itu cuma beban, Mas!
Pria lumpuh tak berguna!"
"Siska... aku sudah berusaha sebisaku..." suara Ayah terdengar sangat parau, hampir seperti bisikan menahan sakit di dadanya.
"Waktu kita masih kaya... aku selalu memenuhi semua keinginanmu, kan?
Perhiasan, gaun, liburan ke luar negeri...
tidak pernah ada yang kutolak.
Kenapa sekarang kamu tidak bisa sedikit saja bersabar dan mendampingiku?"
"Dulu ya dulu!
Sekarang kamu cuma bangkai bernapas yang merepotkan!" bentak Ibu tanpa belas kasihan.
Aku meringkuk di sudut kamar, meremas dadaku yang terasa sangat sesak.
Ayah yang begitu tulus mencintai Ibu, yang dulu selalu memanjakannya bagai ratu, kini hanya bisa menelan caci maki kehinaan di sisa-sisa usianya yang kian meredup.
*KEPERGIAN TERAKHIR*
Hingga pada suatu malam yang sangat dingin dan hujan deras mengguyur ibu kota, kondisi Ayah mendadak kritis.
Komplikasi penyakitnya mencapai puncak terparah.
Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun menahan sakit yang tak terbayangkan.
"Ayah!
Ayah bertahan, Yah!
Rissa panggilkan bantuan!" jeritku histeris sambil memeluk tubuh Ayah yang kian dingin di atas kasur tipis.
Di pangkuanku, di dalam ruangan sempit yang lembap, Ayah memegang tanganku erat-erat.
Jemarinya yang kasar dan kurus gemetar hebat.
Mata beliau menatapku penuh penyesalan dan kasih sayang yang mendalam.
"Rissa... maafkan Ayah..." bisik Ayah lirik, air matanya menetes melewati pipinya yang kempis.
"Jaga dirimu... Ibumu... dia..."
Kalimat itu tidak pernah selesai.
Genggaman tangan Ayah perlahan melonggar.
Matanya terpejam lambat, dan napasnya terhenti untuk selamanya tanpa kehadiran Ibu yang malam itu, sekali lagi, entah berada di mana dan bersama siapa.
Malam itu, di tengah dentuman petir dan deru hujan, aku meraung memeluk jasad Ayah yang kaku.
Seluruh kehangatan, harapan, dan kebaikan di dalam hatiku mati seketika bersama terhentinya detak jantung Ayah.
Yang tersisa di dalam dadaku hanyalah benih keheningan yang dingin... dan rasa benci yang mulai tumbuh mengakar.