Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.
Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.
Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27.Lagi dan lagi
Sambungan telepon dari Raymond seketika memotong habis sisa kehangatan pagi di villa tersebut. Kalimat demi kalimat yang diucapkan sekretaris kepercayaannya itu membakar isi kepala Arka. Pria berusia 39 tahun itu mendadak terdiam, rahang tegasnya mengetat keras hingga urat-urat di leher dan pelipisnya menonjol jelas.
Aira, yang semula bersandar nyaman di dada Arka, merasakan perubahan drastis pada ketegangan otot tubuh suaminya. Pendar mata hitam Arka yang beberapa detik lalu dipenuhi aura kelembutan kini berubah menjadi dingin, pekat, dan sangat berbahaya.
"Mas... ada apa?" bisik Aira cemas, jemari lentiknya refleks memegang lengan Arka yang melingkar di tubuhnya.
Arka tidak langsung menjawab. Ia menahan napas sejenak, berusaha keras mengendalikan gelora amarah di dadanya agar tidak meledak di depan Aira.
Namun, ekspresi wajah Arka yang mengeras bagaikan batu karang tak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi di luar sana.
"Raymond," panggil Arka melalui telepon, suaranya terdengar begitu rendah dan menusuk hingga membuat bulu kuduk merinding.
"Amankan semua saluran media utama dalam dua jam ke depan. Tahan berita itu agar tidak menyebar ke platform digital yang lebih luas. Saya dan Aira kembali ke Jakarta sekarang."
"Baik, Pak Arka. Tim hukum kita sudah berada di kantor pusat untuk menyiapkan pernyataan tandingan," balas Raymond patuh sebelum menutup sambungan telepon.
Arka meletakkan ponselnya kembali ke atas meja nakas dengan dentuman pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Aira. Melihat sorot mata istrinya yang dipenuhi kepanikan dan kebingungan, rasa iba dan posesif dalam diri Arka mendadak memuncak.
"Mas..." Aira memegang kedua pipi Arka, menatap lurus ke dalam iris mata suaminya.
"Tolong jangan sembunyikan apa pun lagi dari Aira. Suara Pak Raymond tadi terdengar jelas... Ibu melakukan sesuatu, kan? Ini tentang Aira, kan?"
Arka mengusap lembut jemari Aira yang menempel di pipinya, lalu menggenggam kedua tangan mungil itu dan menciumnya erat. Pria itu sadar, bersembunyi lebih lama hanya akan membuat Aira merasa lebih lemah.
"Dengarkan Mas, Aira," tutur Arka dengan intonasi serak namun mantap.
"Ibu baru saja mengadakan konferensi pers mendadak di Jakarta. Beliau membawa pengacara keluarga dan... Hendra beserta Lina."
Deg.
Jantung Aira serasa berhenti berdetak seketika. Seluruh darah di tubuhnya mendadak berdesir dingin menuju kepala. Wajahnya yang semula merona pucat pasi dalam hitungan detik.
"A-Ayah... sama Tante Lina...?" bisik Aira terbata-bata, tenggorokannya mendadak terasa amat kering.
"Kenapa... kenapa Ibu membawa mereka?"
"Ibu memanfaatkan mereka berdua untuk menyerang keabsahan pernikahan kita," jawab Arka dingin, matanya memancarkan kilatan amarah yang membara.
"Mereka berakting di depan media, mengaku bahwa Mas telah menekan dan 'membeli' kamu secara tidak sah. Mereka memutarbalikkan fakta demi mendapatkan simpati publik dan uang tambahan dari Ibu."
Aira terpaku.
Kata-kata Arka bagaikan belati tajam yang menghujam tepat di dada kirinya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes membasahi pipinya. Trauma masa lalu saat ia dijual oleh ayah kandungnya sendiri dan selingkuhannya—sementara Ibu Wahyuni terbaring lemah tak berdaya akibat stroke demi membutuhkan biaya pengobatan—kembali mencengkeram jiwanya dengan begitu kejam.
Hendra dan Lina yang dulu menjualnya demi uang dua miliar, kini tega berdiri di samping Nyonya Rosalia untuk menghancurkannya dan menjatuhkan nama baik pria yang sudah menyelamatkan hidupnya dan biaya berobat ibunya.
"Ini semua karena Aira..." bisik Aira lirih, suaranya bergetar hebat diiringi isak tangis yang pecah.
"Aira ini memang cuma beban buat Mas Arka... Aira punya ayah dan ibu tiri serakah yang bisa melakukan apa saja demi uang... Sekarang nama baik Mas Arka, nama besar Danuartha Group... semuanya hancur gara-gara keluarga Aira..."
Aira menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya berguncang hebat oleh tangisan yang teramat pilu.
Kehangatan malam dan kebahagiaan pagi ini seolah sirna berganti menjadi mimpi buruk yang tak bertepi.
Melihat Aira yang tenggelam dalam penyesalan dan rasa hina, Arka tidak tinggal diam. Pria itu menyambar tubuh Aira, menariknya kuat-kuat ke dalam dekapannya. Arka memeluk tubuh gemetar itu begitu erat, seolah-olah ingin menyatu dan melindunginya dari seluruh kekejaman dunia.
"Cukup, Aira! Jangan pernah katakan hal itu lagi!" bisik Arka tegas di dekat telinga Aira, suaranya sarat akan emosi yang mendalam.
"Kamu bukan beban! Kamu adalah korban dari kerakusan mereka! Tidak ada satu orang pun—termasuk wanita yang melahirkan Mas—yang berhak menyebutmu sampah atau mengusik keberadaanmu di sisi Mas!"
"Tapi uang dua miliar itu, Mas..." isak Aira di dada bidang Arka. "Mereka bilang ke media kalau Mas menjebak mereka..."
Arka mengangkat wajah Aira dengan kedua tangannya, memaksa mata cokelat yang basah oleh air mata itu menatap langsung ke matanya yang penuh keteguhan.
"Uang dua miliar itu adalah biaya yang Mas keluarkan untuk menyelamatkanmu dari mereka dan menjamin seluruh perawatan Ibu Wahyuni di rumah sakit terbaik, Aira! Mas punya bukti kuitansi medis dan perjanjian legalnya!" tegas Arka dengan binar mata yang menyala. "Mas menikahimu secara sah di mata hukum dan agama. Kamu milik Mas, dan Mas tidak akan pernah melepaskanmu!"
Arka mencium bibir Aira dengan intensitas yang luar biasa—sebuah ciuman yang tidak hanya didorong oleh gairah, tetapi oleh sumpah setia seorang pria dewasa yang siap mengorbankan segalanya demi melindungi wanita yang dicintainya. Ciuman itu menyerap seluruh rasa bersalah Aira, menyalurkan rasa aman yang mutlak hingga tangisan gadis itu perlahan mereda menjadi hembusan napas yang memburu.
"Pakai pakaianmu sayang," bisik Arka lembut setelah melepaskan ciumannya, mengusap sisa air mata di pipi Aira dengan ibu jarinya.
"Kita pulang ke Jakarta sekarang. Mas akan tunjukkan pada mereka semua siapa pemilik kekuasaan di keluarga ini sebenarnya."
Tiga jam kemudian, helikopter pribadi milik Danuartha Group mendarat mulus di helipad puncak gedung Danuartha Tower di Jakarta Selatan.
Arka sengaja tidak menggunakan jalur darat biasa untuk menghindari kepungan puluhan wartawan dan media massa yang sudah memadati area depan gedung sejak pagi.
Arka menggandeng erat tangan Aira saat mereka melangkah turun dari helikopter. Pria berusia 39 tahun itu mengenakan setelan jas hitam elegan berpotongan sempurna, memancarkan dominasi yang amat pekat.
Di sampingnya, Aira mengenakan gaun terusan formal berwarna krem lembut, dipadukan dengan blazer gelap hasil padanan Arka. Walau wajahnya masih agak pucat, genggaman erat dan hangat dari jemari besar Arka memberi Aira kekuatan ekstra untuk berdiri tegak.
Raymond beserta empat pengawal pribadi berbadan tegap langsung menyambut mereka di pintu masuk ruang eksekutif.
"Pak Arka," panggil Raymond sigap seraya menyerahkan sebuah tablet digital.
"Konferensi pers Nyonya Rosalia baru saja selesai 30 menit yang lalu. Beberapa media online sudah menaikkan beritanya dengan narasi yang sangat memojokkan Nyonya Aira. Saat ini Nyonya Rosalia, Dania, serta Pak Hendra dan Bu Lina berada di ruang rapat utama lantai 40."
Arka mengambil tablet tersebut, melirik sebentar rekaman video di mana ibunya berdiri anggun di balik podium dengan raut wajah berduka yang dibuat-buat, didampingi Hendra dan Lina yang berakting seolah-olah menjadi korban eksploitasi.
Sebuah senyuman dingin beracun terukir di bibir tegas Arka.
"Bagus," desis Arka dingin.
"Mereka sudah memainkan drama murahan mereka di depan publik. Sekarang saatnya Mas yang menutup pertunjukan ini."
Arka menoleh pada Aira, menatap istrinya dengan kelembutan yang kontras dengan aura membunuh yang dipancarkannya pada Raymond.
"Kamu siap mendampingi Mas di bawah, Sayang?"
Aira menelan ludah. Rasa takut itu masih ada, namun melihat bagaimana Arka berdiri di depannya bagaikan perisai tak tertembus, ketakutan itu perlahan terkikis oleh rasa percaya yang utuh.
Aira mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis. "Aira ikut Mas Arka. Aira nggak akan lari lagi."
Arka mengecup kening Aira singkat, lalu mengikatkan jemarinya kembali ke jemari Aira dengan sangat erat. "Ayo."
Ruang rapat utama lantai 40 Danuartha Tower diisi oleh ketegangan yang pekat. Nyonya Rosalia Danuartha duduk di kursi kepemimpinan dengan gaya aristokrat yang angkuh. Di sampingnya berdiri Dania yang tersenyum puas, serta dua pengacara papan atas. Di sudut meja, Hendra dan Lina duduk dengan raut wajah cemas namun tersirat ketamakan menanti bagian uang imbalan dari Nyonya Rosalia.
Pintu jati berukuran besar di ruang rapat itu mendadak terdorong terbuka dengan keras.
Brak!
Seluruh orang di dalam ruangan seketika melonjak kaget.
Arka Danuartha melangkah masuk dengan aura intimidasi yang begitu masif hingga terasa menekan udara di ruangan tersebut. Di sampingnya, Aira melangkah dengan anggun, menggandeng lengan kokoh suaminya tanpa keraguan sedikit pun.
"Arka!" panggil Rosalia, berusaha mempertahankan ketenangannya walau terkejut melihat putranya datang begitu cepat.
"Bagus kalau kamu sudah pulang. Ibu harap kamu sadar setelah orang tua wanita ini membongkar sendiri transaksi ilegal yang kamu lakukan demi mengambil Aira!"
Arka tidak membalas ucapan ibunya. Ia menuntun Aira duduk di salah satu kursi empuk di meja rapat, lalu berdiri tepat di samping istrinya, meletakkan satu tangannya di bahu Aira sebagai penanda perlindungan mutlak.
Manik mata hitam Arka yang dingin menyapu seluruh orang di ruangan itu, hingga akhirnya tertuju lurus pada Hendra dan Lina—yang seketika gemetar ketakutan di bawah tatapan mata sang pengusaha kaya raya.
"Pak Hendra, Bu Lina," buka Arka dengan nada suara serak yang begitu menakutkan, bagaikan petir sebelum badai.
"Saya tidak menyangka Anda berdua memiliki keberanian untuk muncul di gedung ini setelah menerima uang dua miliar rupiah yang Anda gunakan untuk kepentingan pribadi, sementara seluruh biaya perawatan medis Ibu Wahyuni di rumah sakit justru saya yang menanggungnya secara penuh."
Wajah Lina seketika menjadi pucat pasi.
"P-Pak Arka... kami cuma mau menuntut hak sebagai orang tua—"
"Hak orang tua yang mana?" potong Arka dengan suara yang menggelegar dingin. Pria itu menyuruh Raymond meletakkan sebuah map hitam tebal di atas meja rapat.
"Di dalam map ini terlampir seluruh bukti pembayaran rumah sakit untuk Ibu Wahyuni, rekaman CCTV saat Anda berdua menelantarkan Ibu Wahyuni yang sedang stroke, serta surat kuasa pelepasan hak asuh dan persetujuan pernikahan yang Anda tandatangani di atas materai!" lanjut Arka tanpa ampun.
"Jika Anda menyebut ini pemerasan atau penjualan paksa di depan media, maka detik ini juga tim hukum saya akan melaporkan Anda berdua atas tuduhan penelantaran berat, kesaksian palsu, pencemaran nama baik, dan penipuan dengan ancaman hukuman di atas 10 tahun penjara!"
Hendra terperanjat, matanya membelalak lebar. "A-apa?! N-Nyonya Rosalia bilang kami tidak akan dilaporkan dan bakal dapat uang tambahan!" pekik Hendra panik, secara tak sengaja membocorkan persengkongkolan mereka di depan semua orang.
Dania di sebelah Rosalia seketika menggigit bibirnya panik, sementara Rosalia memukulkan tangannya ke meja dengan amarah yang memuncak karena kebodohan dua orang yang disewanya.
"Arka! Cukup!" bentak Rosalia dengan suara melengking. "Kamu berani mengancam di depan Ibu?! Ibu melakukan ini semua demi menyelamatkan nama besar Danuartha dari keluarga benalu seperti mereka!"
Arka melangkah satu tapak mendahului meja, berdiri persis di hadapan ibunya. Tinggi badannya yang menjulang dan aura kekuasaannya membuat Rosalia seketika terdesak secara mental.
"Ibu," tutur Arka dengan intonasi rendah yang sarat akan kecewa mendalam dan keteguhan tak tergoyahkan.
"Nama besar Danuartha tidak hancur karena Aira. Nama besar keluarga ini justru tercemar karena Ibu rela bekerja sama dengan orang-orang serakah seperti Hendra dan Lina hanya demi memuaskan ego aristokrat Ibu."
"Kamu... kamu berani berkata seperti itu pada ibu kandungmu?!" pekik Rosalia dengan dada naik turun menahan murka.
"Saya menghormati Ibu sebagai wanita yang melahirkan saya," balas Arka tegas, matanya menatap lurus tanpa gentar.
"Tapi saya adalah kepala keluarga di rumah tangga saya sendiri. Aira adalah istri sah saya secara hukum dan agama. Mulai detik ini, siapa pun yang mencoba menyentuh atau merendahkan Aira—termasuk Ibu dan Dania—akan saya anggap sebagai musuh pribadi saya."
Arka menarik janjinya lebih jauh, membuat seluruh isi ruangan terhenyak.
"Jika Ibu tidak bisa menerima Aira sebagai bagian dari keluarga Danuartha," lanjut Arka dengan nada suara yang membeku total,
"maka saya resmi mencabut seluruh hak veto Ibu di jajaran komisaris Danuartha Group, dan saya akan memindahkan seluruh aset pribadi saya atas nama Aira Danuartha."
Pernyataan Arka bagaikan bom waktu yang meledak di tengah-tengah mereka. Rosalia terduduk lemas di kursinya, wajahnya berubah pucat bagaikan mayat. Ia tidak pernah membayangkan putra tunggalnya akan nekat mencopot kekuasaannya di perusahaan demi membela istri mudanya.
Hendra dan Lina terduduk lemas ketakutan membayangkan ancaman penjara, sementara Dania hanya bisa terpaku menyadari bahwa rencananya telah hancur total.
Tanpa membuang waktu lagi, Arka berbalik. Ia mengulurkan tangannya pada Aira.
Aira, dengan binar mata yang memancarkan rasa haru dan cinta yang luar biasa dalam, menerima uluran tangan suaminya.
Arka menggandeng Aira melangkah keluar dari ruang rapat tersebut, meninggalkan kekacauan dan kekalahan mutlak bagi pihak sang ibu mertua.
Di dalam lift khusus yang membawa mereka turun kembali menuju lantai dasar, Aira menyandarkan kepalanya di lengan kokoh Arka. Hatinya yang semula dipenuhi ketakutan kini bergetar oleh rasa kehangatan yang amat dalam.
"Terima kasih, Mas Arka..." bisik Aira tulus, menatap wajah tampan suaminya yang selalu menjadi pelindung terbaiknya.
"Terima kasih sudah menjaga Aira dan membiayai pengobatan Ibu Wahyuni..."
Arka merengkuh tubuh Aira, mengecup puncak kepala istrinya dengan rasa cinta yang makin mengakar kuat.
"Mas sudah berjanji, Aira," bisik Arka serak di rambut wangi istrinya. "Dunia boleh membencimu, tapi Mas akan selalu berdiri di depanmu untuk mengalahkan dunia itu."
_Bersambung