"Berjanjilah kau tidak akan pernah mencintai siapa pun. Cinta adalah kelemahan terbesar yang ada."
Kalimat itu diucapkan ibunya di malam terakhir sebelum wanita itu mati bersimbah darah. Sejak hari itu, Nikolai Ivanov menjadikan janji tersebut sebagai hukum. Kini, di usia tiga puluh delapan, ia menguasai kegelapan Bratva dengan tangan dingin — tak kenal ampun, tak kenal cinta.
Sampai sebuah aliansi memaksanya menikahi Helena Lombardi.
Delapan belas tahun, putri keluarga mafia Italia, dan cukup naif untuk percaya bahwa ia bisa mencairkan pria sedingin es. Helena datang dari negeri hangat menuju istana bersalju yang terasa lebih seperti sangkar emas — ditinggalkan, diabaikan, dan diperlakukan seolah sekadar bagian dari sebuah kontrak.
Namun gadis yang mereka kira lemah ini tidak menangis lalu menyerah. Ia melawan dengan caranya sendiri: dengan keheningan yang berbahaya, dengan keberanian yang menantang, dengan hati yang menolak padam.
Dan tanpa disadari sang penguasa Bratva, dinding es yang ia bangun selama tiga puluh dua tahun mulai retak — satu tatapan, satu sentuhan, satu malam pada satu waktu.
Tapi di dunia tempat cinta dianggap kelemahan, jatuh cinta bisa berarti kematian. Musuh selalu mengintai. Pengkhianatan bersembunyi di tempat yang paling tak terduga. Dan ketika masa lalu berdarah Nikolai datang menagih, ia harus memilih: mempertahankan janji lama pada mendiang ibunya… atau mempertaruhkan segalanya demi satu-satunya perempuan yang berhasil merenggut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 — Bercinta
Nikolai
Helena telah menghindariku dengan segala cara. Gerak-gerik kecil, tatapan yang berpaling, keheningan yang terlalu panjang untuk sekadar kelelahan. Aku tahu alasannya. Aku tahu sejak awal. Aku telah menyakitinya. Bukan secara fisik — kali ini tidak — tetapi dengan cara yang meninggalkan luka yang lebih sulit terlihat. Soal itu aku tak ragu sama sekali.
Sekeras apa pun aku berusaha menjaga jarak, memberinya ruang, berpura-pura tahu cara melakukannya… aku tak bisa jauh darinya. Itu lebih kuat daripada kehendakku. Selalu begitu.
Ia sudah tertidur beberapa saat. Ia berbaring miring, wajahnya damai kini, napasnya tenang. Kamar sunyi, temaram hanya secukupnya agar aku bisa melihat setiap detailnya tanpa membangunkannya. Aku tetap di sini, menjaga tidurnya seakan itu bisa memperbaiki sesuatu.
Mungkin ini rasa bersalah.
Mungkin ini rasa takut.
Mungkin ini cinta, meski aku masih belum tahu cara menyebutnya begitu.
Kata-kata Natalia masih bergema dalam diriku. Terlalu jelas.
"Helena tak sekuat penampilannya.
Helena terbuat dari cinta."
Kuusap wajahku, lelah. Segala hal dalam diriku ditempa untuk melawan, untuk mengendalikan, untuk menang. Tetapi mencintai seseorang seperti Helena menuntut hal lain. Sesuatu yang tak pernah perlu kupelajari… sampai sekarang.
Kutatap ia sekali lagi dan kurasakan bobot pilihan yang selama ini kuhindari untuk kuhadapi.
Berada di dekatnya bukanlah masalahnya.
Masalahnya adalah belajar untuk tidak menyakiti orang yang paling ingin kulindungi.
Dan, sementara malam kian larut dan dunia di luar sana terus berputar, kubuat sebuah janji dalam diam — bukan untuknya, melainkan untuk diriku sendiri:
kalau aku tinggal…
akan berbeda.
Kumatikan laptop. Kamar menjadi lebih sunyi. Aku pergi ke kamar mandi, mandi sebentar, membiarkan air hangat membawa pergi sedikit beban hari ini. Ketika kembali, Helena masih tidur.
Aku berbaring di sampingnya dengan hati-hati. Kutarik tubuhnya mendekat ke tubuhku, perlahan, seolah gerakan itu perlu meminta izin pada keheningan itu sendiri. Ia membenahi posisinya secara naluriah, menyatu denganku. Aku tak ingin berpikir. Aku lelah. Aku hanya ingin merasakan bahwa ia ada di sana, hidup, hangat, aman.
Perlahan, kelelahan menang. Aku tertidur.
Beberapa jam kemudian, aku terbangun oleh suara pelan, rapuh.
"Nikolai…"
Aku langsung membuka mata. Ia sudah terjaga, berusaha bangkit dengan terlalu hati-hati, wajahnya menegang menahan sakit dan usaha. Tongkatnya jauh, di luar jangkauan.
"Hei… tenang," kataku, suaraku masih serak karena tidur.
Aku cepat bangkit, mencapainya sebelum ia membebani pergelangan kakinya. Kuletakkan satu tangan mantap di punggungnya, satu lagi di lengannya.
"Jangan coba sendirian."
Ia menarik napas dalam, frustrasi. Kudekatkan tongkat itu dan kuletakkan dalam jangkauannya, tetapi tak kulepaskan topanganku.
"Aku ada di sini," kataku pelan. "Panggil aku. Selalu."
Ia mengangguk, sedikit canggung, sedikit lega. Kubantu ia berdiri kokoh, perlahan, mengikuti temponya.
Dan pada momen sederhana itu — tanpa pidato, tanpa janji — jelas bagiku:
tinggal itu mudah.
yang sulit adalah belajar untuk tinggal dengan cara yang benar.
Meski begitu, aku tak menjauh.
Aku berdiri di ambang kamar mandi, tanpa masuk, tanpa menjauh. Kubiarkan ia mendapat ruang yang dibutuhkannya, tetapi aku tetap di sana. Hadir. Beberapa menit kemudian, pintu terbuka.
Aku melangkah ke samping, memberinya jalan. Aku tak berkata apa-apa. Ia melintas perlahan, bertumpu pada tongkat, wajahnya letih. Ia kembali ke ranjang dengan hati-hati dan berbaring.
Kutarik selimut dan kuselimuti ia dengan saksama, mengaturnya agar tidak menekan pergelangan kakinya. Lalu aku berbaring di sampingnya, menjaga jarak sekecil mungkin, cukup untuk tidak mengganggu… tak cukup untuk pergi.
Ia memutar tubuh, mencoba membelakangiku.
Sebelum ia menyelesaikan gerakan itu, kuletakkan tangan dengan tegas tetapi lembut di lengannya dan kuputar ia kembali menghadapku. Bukan dengan paksaan. Dengan ketegasan.
Wajah kami berdekatan. Kutatap matanya tanpa berpaling, tanpa tergesa. Aku ingin ia melihat persis di mana aku berada.
Napasnya berubah. Ia berkedip beberapa kali, gugup.
"Ada apa?" tanyanya, pelan.
Aku menjawab dengan sebuah ciuman.
Lambat. Hati-hati. Seakan sedang menguji pijakan sebelum melangkah. Aku mengikuti temponya, tanpa tergesa, tanpa desakan, membiarkan dialah yang memimpin gerakan pertama ini.
Kurasakan tubuhnya mendekat, menempel ke tubuhku sedikit demi sedikit, seolah gerakan itu tak terelakkan. Tangannya menemukan dadaku, cukup mantap untuk menahanku di sana, cukup dekat agar aku paham bahwa ini bukan penolakan.
Ciuman itu bukan lapar.
Itu pengakuan.
Kuputar tubuhku perlahan, berada di atas tubuhnya, menopang berat badanku pada kedua lengan agar tidak menyakitinya. Tak ada ketergesaan. Tak ada desakan. Hanya kedekatan.
Ia tak menarik diri.
Matanya tetap pada mataku, terjaga, terbuka, seakan sedang membaca sesuatu yang bahkan aku sendiri tak bisa jelaskan. Kurasakan napasnya sedikit memburu, bercampur dengan napasku.
Aku berhenti di sana.
Kuberi ia ruang secukupnya untuk memilih. Selalu.
Keningku menyentuh keningnya perlahan, ibu jariku menggambar jejak lambat di sisi wajahnya, sebuah sentuhan yang nyaris penuh khidmat.
"Helena…" bisikku, lebih sebagai peringatan daripada panggilan.
"Bercintalah denganku…"
Ia memohon dengan suara nyaris tak terdengar.
Kuturunkan wajahku ke lehernya, kucium dengan lembut, seakan sedang mempelajari wilayah keramat. Kedua tanganku bergerak perlahan, tubuhku mengenali tubuhnya. Inilah untuk pertama kalinya dalam hidupku aku bercinta, dengan tenang, perlahan. Menatap matanya. Dunia melambat, aroma dan rasa dirinya meresap ke dalam diriku.