Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.
Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.
Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!
Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!
Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!
Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Yang Kutakutkan Malah Datang!
Jam kerja pun tiba, dan kafe akhirnya dibuka.
Para pekerja—Moiro dan senior-seniornya—juga telah siap dengan pakaian maid baru mereka. Pelayan natal!
Sebuah pakaian pelayan seperti maid yang didominasi oleh warna merah dan putih seperti Santa. Tak lupa, topi natal atau aksesoris kepala lainnya yang bertema sama, dan sarung tangan hangat juga dikenakan oleh mereka sebagai pelengkap dan menyempurnakan penampilan.
Mereka semua terlihat sangat cantik. Pakaian natal lengan panjang menambah keindahan penampilan mereka, meski desain tiap-tiap orang berbeda. Bagian rok atau celana lebih mencolok karena terlihat sangat berbeda.
Seperti Shizuka yang mengenakan rok panjang dan tebal sampai ke mata kaki. Genki yang mengenakan celana pendek sepaha dengan stoking merah gelap panjang yang imut. Hikari yang mengenakan rok lebih tipis selutut dengan kaos kaki natal panjang. Sarasara dengan rok panjang yang terbuka di bagian depan seperti gaun istana dengan hiasan kain putih di bagian ujung-ujungnya disertai tambahan celana stoking dengan satu ikatan di paha. Juga Sora yang mengenakan celana panjang dengan hiasan tipis ala-ala natal yang elegan.
^^^>Ilustrasi dari AI.^^^
Imut BANGEEET!!!
Sementara Moiro, ia hanya duduk diam di bagian paling ujung kafe sendirian, hanya menatap dirinya yang entah kenapa malah semakin imut.
Pakaian maid tema natal lengan panjang terlihat bagus dan cocok dikenakannya, ditambah celana panjang sedikit ketat berwarna merah yang dilapisi rok selutut menambah keimutan dan keindahan penampilan dirinya. Tak lupa juga, topi natal terpasang dan terlihat cocok dengan dirinya.
^^^>Ilustrasi dari AI.^^^
Mo-MOIROOOO...?!
"Kenapa malah makin imut...?!" serunya dalam batin. Satu tangannya diangkat menutup mulutnya, wajahnya sebal-sebal malu, "Sebelumnya aku dah mulai terbiasa sama pakaian maid, masa sekarang harus adaptasi lagi?! Malu...!"
Tiba-tiba, Sarasara datang menghampirinya.
"Moiro? Kamu tidak apa-apa?" tanyanya pelan, suaranya selembut sutra, membuat hati terasa lebih tenang.
Moiro menoleh cepat. Wajahnya masih terlihat merah karena tak terbiasa dengan penampilannya. Matanya kemudian melirik sembarang arah, "A-Aku..."
Sarasara tersenyum setelah melihatnya. Dia membuka kedua tangannya lebar lalu mendekat perlahan.
"Ja-Jangan peluk..." tolak Moiro pelan, satu tangannya diangkat rendah.
Aku aja yang dipeluk!
Sarasara berhenti. Dia menurunkan satu tangannya lalu yang satunya diangkat mengusap kepala Moiro.
"Kamu sudah bisa menolak nih, ya~?" godanya lembut sembari tersenyum manis.
Moiro masih menutupi mulutnya, wajahnya kian merah, matanya tak berani menatap Sarasara, "I-Itu.."
"Tidak apa-apa~ Aku datang hanya ingin mengajakmu kembali bekerja~"
Tangannya diturunkan perlahan, lalu melanjutkan, "Meski kamu belum terbiasa, tapi kamu tetap harus bekerja, ya~"
Telunjuknya diangkat perlahan, hampir menyentuh hidung Moiro yang terkejut, "Ingat ini, meski dalam keadaan sesulit apapun, tetaplah jadi dirimu sendiri~"
Moiro tersentak halus, matanya membulat seketika. Mendengar ucapan itu memang selalu membuatnya merasa nyaman.
Mamih emang jagonya nenangin orang.
Perlahan, ia kembali tersenyum, lalu mengangguk pelan pada Sarasara.
Sarasara membalas senyumannya, lalu kembali mengajaknya kembali bekerja.
Akhirnya, Moiro kembali bekerja. Ia menerima pesanan, mengantar dan mengembalikan pesanan. Meski kadang masih ada beberapa kendala, hal yang membuatnya malu, tapi ia tetap bekerja layaknya seorang ahli.
Saat bekerja, ia melihat salah seorang seniornya—Genki—berada di tempat foto berlatar pohon natal bersama pelanggan.
Moiro yang sedang membawa nampan berisi pesanan pelanggan di atasnya tak sengaja diam menatapnya.
Di sana, Genki terlihat sangat antusias penuh senyuman. Dia berfoto bersama pelanggan yang seorang perempuan—saling menempelkan pipi dan satu tangan mereka yang membentuk pose hati, sementara tangan satunya saling rangkul dan membentuk pose dua jari ke arah kamera. Mereka terlihat seperti dua orang yang sudah sangat akrab. Keduanya terlihat lucu.
Dan yang memotret mereka adalah maid yang lain.
"Mereka imut juga..." batin Moiro.
Ia tersadar dan langsung menggelengkan kepalanya. Ia segera kembali bekerja, berjalan menuju meja pelanggan yang tengah menunggu.
Di perjalanan, Moiro terpikirkan sesuatu, wajahnya tampak serius, "Apa nanti aku bakal kayak gitu juga ya...?"
Punggungnya bergetar seketika—merinding.
Giginya merapat, wajahnya kesal, "Aku ngak ngarep sih...!"
Ia pun sampai di meja pelanggan dan memberikan mereka senyum. Dua orang perempuan di meja itu memesan minuman hangat yang sama, yaitu salah satu menu event hari ini—Hot Christmas Blend Coffee.
"Eh, kamu manis banget," ucap salah satu pelanggan.
Moiro terkejut. Matanya terbelalak dengan senyum tipis yang masih terpaku.
"Iya," balas pelanggan satunya sambil menutup mulutnya ringan, "Kamu gak keberatan kan kalau foto bareng kami?"
"Benar, benar. Ide bagus," lanjut yang satunya membalas temannya, lalu kembali menoleh pada Moiro, "Boleh, kan?"
"Aku... foto sama mereka...?!" ujung bibir Moiro tersungging kaku.
Bwahaha. Aku mau tengok hasil fotonya ntar! Please, Author!
...***...
Sekarang, alisnya yang terangkat kaku. Bibirnya masih sedikit tersinggung halus saat di depan kamera.
Kini, Moiro dan dua orang pelanggan tadi sedang bersiap untuk berfoto dengan latar yang sama—pohon natal. Posisi Moiro berada di tengah, dan ketiganya berpose membentuk hati dengan kedua tangan mereka.
"Kenapa aku harus di tengah?!" teriaknya dalam hati, sambil melirik pelan ke samping, "Terlebih lagi... diapit oleh dua cewek!"
Ia menunduk, ekspresinya terlihat panik, dahinya membiru, "Masih mending sih daripada diapit dua cowok. Tapi tetep aja, aku gak terbiasa!"
"Baiklah~ bersiap untuk difoto~" ucap Sarasara sambil tersenyum, yang kebetulan menjadi orang yang akan memotret mereka.
"Eh?! Tiba-tiba banget! Aku belum siap!" seru batin Moiro, tersentak ke arah kamera.
"Kumulai, ya~? Katakan Maid Christmas di hitungan ke tiga~" Sarasara mulai menghitung, "Satu~ Dua~"
Tiba-tiba, kedua lengan Moiro langsung digandeng oleh kedua pelanggan tadi dan kembali membentuk pose hati.
"Eh...?! EEH?!" seru Moiro terkejut. Pupil matanya mengecil singkat dengan wajah memerah padam.
"Tiga~" ucap Sarasara lembut.
"Maid Christmas!" seru kedua pelanggan sambil tersenyum di samping Moiro yang terlihat kaku dan malu.
Cekrek!