"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Ruang keluarga ndalem utama pagi itu mendadak menjadi tempat yang sangat mencekam. Kyai Ahmad duduk di kursi utamanya dengan wajah yang sangat tegas namun menyembunyikan duka yang mendalam. Di sampingnya, Bu Nyai Khadijah duduk dengan mata sembab yang membengkak akibat menangis sepanjang malam. Disisi lain ruangan, Arsyaka duduk mendampingi Naya yang tampak tenang di atas sofa kayu.
Reyhan, duduk bersimpuh di atas karpet di tengah ruangan. Wajahnya yang masih lebam sisa dari pukulan Kyai Ahmad.
Sementara di atas sofa kayu, Naya duduk bersedekap dengan punggung tegak. Wajahnya begitu tenang, namun dari sorot matanya yang jernih dan berjarak, terpancar keteguhan yang tak lagi bisa digoyahkan oleh ratapan atau penyesalan.
Di samping Naya, Arsyaka duduk pasang badan, menyilangkan kaki dengan tatapan sekeras batu karang.
"Assalamu’alaikum..."
Suara pelan dan bergetar mengalihkan perhatian semua orang ke ambang pintu. Mbak Zaenab dan Mbak Mala melangkah masuk, memandu seorang santriwati berbalut gamis abu-abu dan jilbab putih yang menunduk dalam-dalam. Rani. Langkah kakinya begitu pelan, terseret seolah tiap incinya memikul beban seberat gunung.
Saat mata Rani terangkat sebentar dan bertabrakan dengan sosok Reyhan yang bersimpuh di tengah karpet—wajahnya lebam pucat dengan napas memburu—gadis itu makin merapatkan himpitan jemarinya. Rani berlutut beberapa meter di samping Reyhan, tak berani menatap Kyai Ahmad maupun Naya.
"Sudah lengkap semuanya," ujar Kyai Ahmad dengan suara parau yang amat berat.
Beliau menatap putranya, lalu beralih pada Rani. "Rani... kamu santriwati senior di Al-Anwar. Kamu dididik dengan kitab akhlak dan kami membesarkan pesantren ini dengan asas kejujuran. Kamu santri yang kami sayangi, kami beri kepercayaan. Kenapa kamu melakukan kebohongan sejauh ini bersama Reyhan?"
Rani semakin menundukkan kepala. Bahunya mulai terguncang pelan. "M-mohon maaf, Kiai... Bu Nyai... Rani salah... Rani bersedia menerima hukuman apa saja dari pondok... Tapi demi Allah, Rani tidak pernah ada niat merusak rumah tangga Ning Naya... Rani cuma... Rani cuma mau menjaga kehormatan karena perasaan ini..."
"Kehormatan?" Arsyaka memotong dengan nada dingin yang langsung menyayat udara pagi. Tawa sinis terpancar tipis dari sudut bibirnya. "Kamu bicara soal kehormatan setelah sebelas bulan menjadi benalu dalam pernikahan adik saya? Kamu berlindung di balik kata 'cinta karena Allah', padahal kamu dengan sengaja memanfaatkan celah celah ego seorang pria yang merasa hebat!"
"Gus Syaka, tolong..." Reyhan mencoba menyela dari posisinya di karpet, suaranya serak dan memohon. "Jangan salahkan Rani sepenuhnya. Saya yang mendatangi dia. Saya yang mengajaknya—"
"Tutup mulutmu, Reyhan!" bentak Kyai Ahmad, menepuk lengan kursi jati hingga menimbulkan dentuman keras yang bergema di seluruh ruangan.
Bu Nyai Khadijah memejamkan mata rapat-rapat, tak sanggup melihat kejatuhan moral putra tunggalnya.
Kyai Ahmad menatap putranya dengan pandangan menghukum. "Kamu pikir Abi membawakan ilmu dari Mesir untuk kamu pakai membohongi istri sahmu? Kamu menyia-siakan Naya, menolak menyentuhnya dengan alasan pensucian spiritual, sementara di belakangnya kamu membagi raga dan perhatianmu untuk wanita lain? Di mana letak akal sehat dan imanmu, Muhammad Reyhan Al-Fatih?!"
Reyhan menunduk dalam-dalam, menekan dadanya yang ngilu teramat sangat. Kata-kata sang ayah menghantam egonya hingga hancur berkeping-keping.
Namun, yang paling membakar jiwanya bukanlah kemarahan sang ayah atau makian Arsyaka, melainkan keheningan dari Naya. Wanita yang selama satu tahun ini selalu menyambutnya dengan senyum lembut, yang selalu menyiapkan teh kapulaga hangat di malam-malam dingin Pacet, kini menatapnya seperti menatap orang asing yang tak bernilai. Tidak ada benci di mata Naya, hanya ada kekosongan total. Dan kekosongan itulah yang membuat Reyhan merasa benar-benar telah mati.
Naya lalu menatap Rani. "Rani... aku tidak akan menyalahkanmu sepenuhnya. Karena tepukan tangan tidak akan berbunyi jika hanya satu orang yang mengayunkan."
Kemudian, Naya beralih menatap Reyhan yang matanya merah dan sembab. Ia memajukan tubuhnya sedikit di atas sofa, menatap mertuanya dengan sopan.
"Abi, Umi..." suara Naya mengalun tenang, bening tanpa ada getaran emosi yang meledak-ledak. "Naya berterima kasih atas seluruh kebaikan, kasih sayang, dan ilmu yang Abi serta Umi berikan sejak Naya pertama kali menginjakkan kaki di Al-Anwar saat SMP. Kasih sayang Umi sudah Naya anggap seperti kasih sayang ibu kandung Naya sendiri."
Bu Nyai Khadijah kembali terisak mendengar tutur kata menantunya yang begitu anggun di tengah terluka.
"Namun," Naya melanjutkan, matanya kini lurus menghujam netra Reyhan yang memerah, "pernikahan dibangun di atas fondasi kejujuran dan rasa hormat. Ketika kejujuran itu dihancurkan oleh kebohongan yang dirancang berbulan-bulan, dan rasa hormat itu mati karena pengkhianatan... maka tidak ada lagi alasan bagi Naya untuk bertahan."
"Naya... saya mohon, Nay..." Reyhan merangkak beberapa inci mendekati sofa Naya, air matanya menetes jatuh melintasi lebam di pipinya. "Saya mengaku salah. Saya khilaf. Tolong beri saya kesempatan... saya akan lepaskan Rani hari ini juga! Saya akan selesaikan pernikahan siri itu! Tolong jangan minta cerai, Nay..."
Rani menoleh kaget menatap Reyhan saat mendengar kata-kata 'lepaskan Rani hari ini juga'. Ada kilat kekecewaan dan kecemasan yang melintas sekejap di mata santriwati itu.
Naya hanya tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh keprihatinan. "Mas Reyhan... kamu melipat gandakan dosamu sendiri. Dulu kamu berjanji melindunginya atas nama pernikahan siri, lalu sekarang dengan mudahnya kamu ingin membuangnya saat posisi dan egomu terancam? Itu bukan khilaf. Itu bukti bahwa kamu hanya mencintai dirimu sendiri."
Kata-kata Naya bagai belati tumpul yang menguliti kesombongan Reyhan sampai habis. Pria itu terpaku, lidahnya mendadak kelu. Penyesalan dahsyat merayapi dadanya—ia baru menyadari betapa dalam dan cerdasnya cara berpikir Naya, wanita yang selama ini ia sepelekan dan ia anggap sekadar pasangan hasil perjodohan.
"Abi," Naya beralih pada Kyai Ahmad. "Naya memohon ridho Abi dan Umi untuk merestui perpisahan ini. Hari ini Naya akan pulang bersama Mas Syaka. Surat gugatan cerai akan diserahkan oleh pengacara keluarga kami minggu ini."
Kyai Ahmad mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca. "Abi ridho, Naya... Abi mengikhlaskan keputusanmu. Maafkan Abi dan Umi yang tidak bisa menjaga amanah ini."
"Abi! Tidak, Abi!" Reyhan berteriak histeris, mencoba bangkit namun tubuhnya yang lemas membuat ia kembali tersungkur di atas karpet.
“Tolong, jatuhkan talakmu, Mas.”
"Abi..." suara Reyhan terdengar serak, memecah hening yang melingkupi ruangan tersebut. "Reyhan tidak mau menceraikan Naya... Reyhan mohon, Abi... Jangan paksa Reyhan ikrar talak..."
Kyai Ahmad menatap putranya tanpa ada lagi sisa kepedulian atas rengekannya. "Keputusan ini bukan di tanganmu lagi, Reyhan. Kamu sudah membuktikan bahwa kamu tidak layak memegang amanah sebagai suami bagi wanita seperti Naya."
Kyai Ahmad lalu menatap Naya dengan pandangan mata seorang ayah yang meminta maaf.
"Naya, anakku..." suara Kyai Ahmad bergetar tipis. "Abi atas nama pribadi, atas nama pengasuh Pesantren Al-Anwar, dan atas nama ayah dari Reyhan... memohon maaf yang sebesar-besarnya atas luka berat yang sudah ditorehkan putra Abi padamu. Hari ini, Abi sendiri yang akan menjadi saksi atas kembalinya hakmu sebagai wanita bebas."
Naya menundukkan kepala perlahan. "Nggih, Abi... Naya sudah memaafkan semuanya secara pribadi. Tapi pernikahan ini harus selesai hari ini juga."
"Naya! Tidak, Naya!" teriak Reyhan histeris, mencoba merangkak mendekati Naya, namun Arsyaka langsung berdiri pasang badan memblokir pandangannya.
"Jatuhkan talakmu sekarang, Reyhan," perintah Kyai Ahmad dengan nada yang tidak menerima bantahan sedikit pun. Suaranya bergema di seluruh ruangan, memancarkan wibawa pimpinan tertinggi Al-Anwar yang tak bisa diganggu gugat.
"Ucapkan kata itu di depan Abi, Umi, dan kakak kandung istrimu. Jangan buat Abi makin malu memiliki putra seperti kamu!"
Reyhan menggelengkan kepalanya hebat. Airmata bercampur keringat dingin menetes deras dari pelipisnya. Pria yang biasanya fasih melantunkan ayat-ayat suci itu kini mendadak seperti kehilangan lidahnya.
"Saya... saya tidak bisa, Abi... Naya, tolong..." tangis Reyhan pecah, dadanya naik turun menahan keputusasaan yang luar biasa.
"Ucapkan, Muhammad Reyhan Al-Fatih!" bentak Kyai Ahmad, menepuk meja kayu di sampingnya hingga berdentum nyaring.
Di tengah tekanan sang ayah, keputusasaan yang mendalam, dan tatapan mata Naya yang begitu dingin tanpa ada lagi sisa cinta di dalamnya, Reyhan akhirnya membuka mulutnya yang bergetar hebat.
"D-demi Allah..." suara Reyhan tercekik, air matanya jatuh tak terbendung. "H-hari ini... saya... saya jatuhkan..."
Kalimat ikrar itu menggantung di udara subuh Pacet.
***
apalah arti perasaan anak dara liat cowok ganteng pasti ada suka..tggl cowoknya aja ngeladeni atau cuekin..🤔
dibikin ruwett nyesal akhirnya 🤭😄
sepolos"nya org pasti masih punya hati dan akan berfikir sblm mengambil keputusan yg menyangkut org lain.
kalau kamukan ...begitu dah