Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Pria tua itu langsung berlari menabrak meja pembatas dan mendekatkan wajahnya ke arah batu raksasa di atas mesin. Napas Master Zainal langsung tercekat di tenggorokan seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekiknya kuat-kuat.
Kedua lutut tua pria itu mendadak lemas dan ia langsung jatuh berlutut di atas lantai marmer dengan mata terbelalak horor.
Bruk.
"G-Giok Salju Surgawi... Dan ini adalah bagian Inti Murni yang tidak memiliki sehelai retakan rambut pun!" teriak Master Zainal histeris bercucuran air mata.
Dua ahli giok lainnya ikut berlari mendekat dan mereka langsung memegang kepala mereka sendiri saking syoknya. Mereka menganga lebar melihat harta karun dewa yang baru saja mereka hina sebagai batu jembatan beberapa menit yang lalu.
"Ini mustahil! Giok Salju Surgawi sudah dinyatakan punah dari pasar lelang dunia sejak lima puluh tahun lalu!" teriak ahli giok kedua dengan suara melengking.
"Ukurannya sebesar kepala manusia dewasa! Ya Tuhan, ini bukan sekadar harta karun, ini adalah mukjizat alam semesta!" sahut ahli giok ketiga menangis terharu bisa melihatnya langsung.
Aurel Larasati yang selalu dijuluki sebagai Ratu Es kota ini akhirnya hancur lebur pertahanan emosionalnya. Mata wanita cantik itu membesar sempurna dan bibir merahnya sedikit terbuka menahan napas kekaguman yang luar biasa.
Tubuh Aurel sedikit bergetar saat ia melangkahkan kaki jenjangnya mendekati mesin pemotong bagaikan tersihir oleh cahaya biru tersebut.
"Gibran... Bagaimana kau bisa menemukan benda pusaka legendaris ini di tumpukan sampah pasar loak?" bisik Aurel dengan suara parau nyaris tidak terdengar.
Aurel menatap punggung tegap Gibran dengan perasaan campur aduk antara rasa tidak percaya, kekaguman mutlak, dan rasa hormat yang mendalam.
Gibran membalikkan badannya dan menyandarkan punggungnya ke dinding kaca ruangan dengan gaya sangat maskulin. Ia menatap Master Zainal yang masih menangis tersedu-sedu meratapi kebodohannya sendiri di lantai.
"Master Tua Zainal, apakah kau masih berpikir memotong batu ini hanya membuang-buang tagihan listrik Nona Aurel?" ejek Gibran dengan suara pelan namun menancap tajam ke sanubari.
Master Zainal buru-buru bersujud ke arah Gibran berkali-kali tanpa mempedulikan harga dirinya yang sudah hancur menjadi debu.
"Ampuni mata buta saya Tuan Gibran! Saya hanyalah katak dalam tempurung yang berani menceramahi seekor naga sakti!" mohon pria tua itu dengan rasa malu yang luar biasa.
"Tuan Gibran adalah dewa giok yang sesungguhnya turun ke bumi! Kami semua tidak pantas bahkan hanya untuk membawakan sepatu Anda!" tambah dua ahli giok lainnya ikut menunduk hormat.
Gibran hanya mendengus geli melihat perubahan sikap drastis dari orang-orang arogan yang menjilat ludah mereka sendiri. Ia mengalihkan pandangannya menatap mata tajam Aurel yang kini memancarkan api ambisi yang sangat berkobar-kobar.
"Taksiran harga dasar benda ini di pasar gelap adalah sepuluh miliar rupiah murni tanpa cacat sedikit pun."
"Tapi jika benda ini dilelang di acara puncak pelelangan akbar nanti, para konglomerat dunia akan saling membunuh untuk memilikinya dengan harga puluhan miliar," jelas Gibran menyampaikan fakta mentah.
Aurel menelan ludahnya pelan dan menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias menyetujui perhitungan brilian Gibran.
"Kau benar, batu ini adalah senjata pamungkas yang tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh Master Giok sewaan Bratasena Mahendra."
"Dengan Giok Salju Surgawi ini, kita tidak hanya akan menghancurkan reputasi Keluarga Mahendra, tapi juga membuat nama Larasati bergema di kancah internasional," ucap Aurel dengan dada naik turun menahan gairah bisnisnya.
Aurel tanpa sadar melangkah maju mendekati Gibran hingga jarak mereka berdua hanya tersisa kurang dari setengah meter. Aroma parfum mawar hitam yang mahal dari tubuh Aurel menyerbak masuk memenuhi indra penciuman Gibran.
"Gibran, kehadiranmu di kota ini benar-benar membawa perubahan gila yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya."
"Katakan padaku, apa lagi yang sebenarnya kau sembunyikan di balik sepasang matamu yang berbahaya itu?" bisik Aurel sambil menatap lurus ke dalam pupil mata Gibran.
Gibran tidak mundur sedikit pun mendapat provokasi jarak dekat dari wanita paling berkuasa di kota ini. Ia justru sedikit mencondongkan wajahnya ke depan hingga napas hangatnya menyapu dahi Aurel.
"Aku hanya menyembunyikan akhir yang sangat tragis untuk semua orang yang pernah merendahkanku, Nona Aurel."
"Simpan batu ini baik-baik di brankas tingkat tertinggimu, karena pertunjukan besar kita baru saja dimulai," jawab Gibran dengan seringai tipis yang membuat jantung Aurel berdetak satu ketukan lebih cepat.
Aurel mundur satu langkah perlahan mencoba menormalkan kembali ritme napasnya yang mendadak terasa sedikit sesak. Ia belum pernah bertemu pria yang bisa membuat auranya tertunduk dominan seperti pemuda desa yang kini berdiri di depannya ini.
"Master Zainal, urus proses pemolesan batu ini malam ini juga secara rahasia dan jangan sampai ada informasi yang bocor keluar gedung ini."
"Jika sampai ada satu helai informasi yang sampai ke telinga Bratasena, aku akan mengubur kalian bertiga hidup-hidup di garasi ini," ancam Aurel kembali memakai topeng Ratu Es-nya kepada para bawahannya.
Ketiga ahli giok tua itu langsung mengangguk panik dan bersumpah dengan nyawa mereka untuk menjaga kerahasiaan Giok Salju Surgawi tersebut.
Gibran berjalan santai keluar dari ruang pemotongan kaca steril itu menuju truk kargo miliknya.
"Tugas utamaku hari ini sudah selesai Nona, aku akan kembali ke hotel untuk tidur siang karena menipu pedagang pasar loak ternyata cukup menguras tenaga," pamit Gibran sambil tertawa renyah.
Aurel hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat punggung pria itu menjauh dengan gaya urakan namun penuh wibawa mutlak.
"Tidur yang nyenyak Gibran, karena mulai besok badai besar dari Bratasena pasti akan menghantammu tanpa henti," batin Aurel dengan senyum tipis yang jarang sekali ia tunjukkan kepada siapa pun.
Persiapan senjata nuklir dari Gibran telah selesai disiapkan. Kini Keluarga Mahendra hanya tinggal menghitung hari menuju jurang kehancuran mutlak tanpa mereka sadari sedikit pun.