Dia bukan siapa-siapa di keluarganya sendiri. Dihina, dipukul, dan dianggap sampah oleh adik kandungnya sendiri, Su Yu hanya punya satu harga diri tersisa: kepatuhan. Ketika ia diperintahkan masuk ke Hutan Kelabu yang mematikan untuk mencari Tanduk Rusa Malam, ia tidak punya pilihan selain menurut.
Namun di dalam hutan, ia menyaksikan pertarungan antara dua makhluk dahsyat yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Ketika seorang peri cantik terjatuh tak berdaya di hadapannya, Su Yu dihadapkan pada pilihan sederhana: pergi menyelamatkan diri, atau mempertaruhkan nyawanya untuk orang asing.
Ia memilih yang kedua.
Tanpa disadarinya, satu tindakan kecil itu akan mengubah takdirnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Esensi Naga Phoenix dan Kunpeng
Waktu berlalu dalam keheningan di dalam goa kristal itu. Di luar goa, langit Hutan Kelabu perlahan berubah, dari rona jingga menjadi kegelapan pekat.
Sementara itu, di dalam goa, kabut merah muda yang sebelumnya menutupi seluruh area telah lenyap tanpa sisa.
Di pinggir kolam, Su Yu berbaring di samping Peri Cangle. Keduanya masih terlelap di bawah gemerlap cahaya kristal yang memantul dari dinding-dinding batu.
Beberapa saat kemudian, kelopak mata Peri Cangle bergerak perlahan, lalu terbuka. Ia mengangkat tangannya untuk menopang tubuh, pada saat yang sama Su Yu juga tersadar dan segera mengangkat kepalanya. Keduanya kemudian bangkit dengan susah payah dan duduk di tepi kolam, lalu saling menatap tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Peri Cangle tiba-tiba mengangkat tangannya dan menunjuk tepat ke arah Su Yu. Wajahnya memerah, sedangkan alisnya terangkat tinggi ketika ia membuka mulut.
"Kau... benar-benar keterlaluan!" bentaknya. "Bagaimana mungkin kau bertindak seceroboh itu terhadap ku, apalagi ketika aku sedang berada dalam keadaan tidak berdaya?!"
Su Yu langsung pucat. Kemudian ia berlutut di hadapan wanita itu dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kedua tangannya diletakkan di depan tubuhnya, sementara suaranya terdengar penuh penyesalan.
"Maafkan saya, Nona... Saya sudah keterlaluan. Saya salah, dan bersedia menerima apa pun hukuman yang Nona kehendaki. Saya benar-benar menyesal, tetapi saya tidak pernah berniat melakukan hal seburuk itu. Dalam hidup ini, saya tidak pernah sekalipun berpikir untuk bertindak menjijikkan seperti itu. Tolong maafkan saya."
Peri Cangle tertegun mendengar rentetan kata yang keluar dari mulut pemuda itu. Ia menatap punggung yang tertunduk, memperhatikan betapa Su Yu menyerahkan dirinya sepenuhnya tanpa perlawanan. Jari-jarinya yang semula terulur lurus perlahan turun ke sisi tubuh, lalu mengepal erat.
"Sudahlah," ucapnya akhirnya dengan suara yang lebih pelan. "Lagipula kejadian tadi bukan sepenuhnya kesalahanmu. Aku pun tidak mampu mengendalikan diri di bawah pengaruh... itu, apalagi manusia biasa sepertimu."
Su Yu mengangkat kepalanya perlahan.
"Terima kasih. Anda... sungguh memaafkan saya?"
"Jangan membuatku mengulangi kata-kata itu."
Belum sempat pemuda itu menanggapi, cahaya terang tiba-tiba menyeruak dari dalam air kolam.
SPLASH!
Cahaya merah menyembur dari dalam air.
Keduanya langsung menoleh, dan melihat riak air menyebar ke segala arah.
Setelah itu sebuah gelembung cahaya berwarna merah terang perlahan muncul dari dasar kolam. Permukaannya diselimuti semburat emas yang bergerak tanpa henti, seolah-olah terdapat kehidupan yang sedang berputar di dalamnya.
Gelembung itu terus naik hingga berhenti sekitar satu zhang di atas permukaan air.
Peri Cangle langsung berdiri.
"Esensi darah Phoenix...?"
Suaranya nyaris tidak terdengar. Namun, sesaat kemudian matanya melebar, dan ia segera menggeleng.
"Tidak... ini bukan esensi Phoenix biasa. Aura ini jauh lebih murni, bahkan garis darahnya memiliki karakteristik yang berbeda. Jangan-jangan..."
Peri Cangle melangkah mendekat, lalu mengangkat tangan untuk merasakan aliran energi yang keluar dari gelembung tersebut.
"Esensi darah Naga Phoenix!"
Napasnya tertahan, dan kedua matanya melebar.
"Bagaimana mungkin benda seperti ini muncul di zaman ini...?" gumamnya sambil mengepalkan tangan.
Di Benua Langit, bahkan mereka yang berdiri di puncak hanya dapat menemukan jejak peninggalannya. Esensi semurni ini seharusnya telah lenyap sejak zaman awal ketika benua itu baru terbentuk. Namun kini ia menemukannya di sini... setelah melewati gelombang dimensi kacau, lalu dikejar Elang Pemangsa Langit sampai memasuki benua yang fana ini. Semua penderitaan itu ternyata tidak sia-sia.
Peri Cangle mengangkat tangan dan perlahan mengepalkannya.
'Jika aku membawa esensi ini kembali, maka ayah dan ibu tidak lagi memiliki alasan untuk memaksaku menikah dengan siapa pun. Dan dengan darah Naga Phoenix, jalan kultivasi ku di masa depan akan berubah sepenuhnya.'
Sementara itu, Su Yu ikut bangkit dari posisi berlututnya, lalu berdiri memandangi gelembung yang berkilau di atas kolam. Baginya, benda itu hanya tampak seperti bola cahaya tanpa bentuk khusus, namun dari ekspresi wanita itu, jelas tersimpan makna yang jauh melampaui pemahamannya.
"Nona, benda apakah itu sebenarnya?"
Peri Cangle menoleh kepadanya dengan tatapan tajam. "Kenapa?! Kau ingin merebutnya dariku?!"
Su Yu mengangkat kedua tangannya di depan dada. "Tidak, Nona, jangan salah paham. Saya hanya ingin tahu karena belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya."
"Baguslah," jawab Cangle singkat. "Kalau kau berniat macam-macam, aku akan membunuhmu saat ini juga tanpa ragu."
Su Yu langsung menggeleng pelan tanpa menjawab. Ia menelan ludah dan memilih diam sambil memperhatikan gerak-gerik wanita itu.
Peri Cangle mendengus melihat reaksi pemuda itu, lalu kembali mengarahkan pandangannya kepada gelembung merah keemasan. Matanya menyipit saat pikirannya bekerja dengan cepat.
Hingga akhirnya ia sampai pada satu kesimpulan: Esensi darah itu muncul karena terkontaminasi energinya dan energi pemuda di sampingnya.
Dan itu terjadi setelah mereka tadi...
Peri Cangle wajahnya memerah, kemudian ia menggeleng cepat.
"Jangan memikirkan hal itu sekarang."
Ia segera mengangkat kedua tangan dan membentuk beberapa segel. Cahaya putih mulai berkumpul di antara telapak tangannya, lalu menyatu menjadi aliran energi yang melesat menuju gelembung tersebut.
"Cahaya darah yang telah menunggu selama zaman awal dari segalanya... datanglah kepadaku. Mulai saat ini kekuatanmu akan menjadi bagian dari tubuhku."
Energi putih menyentuh gelembung merah keemasan.
Zzrrtt!
Gelembung itu bergetar.
Kemudian, tanpa perlawanan, benda tersebut bergerak mendekati Peri Cangle.
Wanita itu mengulurkan telapak tangannya, lalu menghentikan gelembung itu tepat di hadapannya. Setelah itu ia menoleh kepada Su Yu.
"Mulai sekarang, kau bertanggung jawab menjaga tempat ini. Penyatuan esensi darah akan membuatku tidak dapat memperhatikan keadaan sekitar. Jangan pergi dari goa ini, dan apabila sesuatu mendekat, beri tahu segera."
Su Yu mengangguk. "Saya memahami perintah nona, dan akan berjaga di sekitar ruangan ini."
"Jangan hanya berdiri di dekat saya. Menjauhlah sedikit, karena jika penyatuan dimulai, tekanan energinya dapat melukai tubuhmu."
"Baik, nona."
Su Yu kemudian bergerak menjauh dengan langkah cepat. Setelah jaraknya cukup jauh ia berhenti, lalu mengedarkan pandangan keseluruh ruangan.
Di sisi lain, Peri Cangle duduk bersila di dekat kolam. Kedua tangannya kembali membentuk segel, dan gelembung merah keemasan itu perlahan bergerak mendekati dadanya.
"Masuklah..."
Begitu suara itu jatuh, gelembung tersebut menembus tubuhnya.
Tubuh Peri Cangle langsung bergetar keras. Energi besar meledak dari tubuhnya dan mengguncang seluruh ruangan. Kristal-kristal di dinding bergetar, sementara Su Yu segera mundur beberapa langkah menghindari kristal yang jatuh.
Peri Cangle menggertakkan gigi.
"Jangan melawan... tunduklah kepadaku."
Energi merah keemasan berputar di sekitar tubuhnya, lalu memasuki setiap bagian tubuh secara bertahap. Wajahnya memucat, tetapi kedua tangannya tetap mempertahankan segel.
Su Yu menatap dari kejauhan. Raut kekhawatiran terlihat jelas di wajah pemuda itu, namun ia tidak berani mendekati.
Waktu berlalu perlahan.
Dua jam kemudian, Su Yu yang semula berdiri menjaga dengan siaga, kini duduk di atas sebuah batu besar. Punggungnya bersandar pada dinding goa, sementara kedua matanya menatap kosong ke arah lorong.
Pikirannya berkecamuk dengan banyak beban. Ia belum menyelesaikan tugasnya untuk membawa Tanduk Rusa Malam, dan sekarang ia terjebak di dalam goa ini bersama seorang wanita misterius. Di sisi lain, sesuatu yang buruk telah ia lakukan terhadap wanita itu tanpa kendali penuh.
Tiba-tiba, Su Yu segera berdiri ketika melihat wanita itu berjalan mendekatinya dari arah kolam.
"Sudah selesai nona?"
Peri Cangle tidak segera menjawab. Setelah sampai di samping Su Yu, ia mengangkat kedua tangannya dan memeriksa telapak tangannya dengan saksama.
"Ini sudah bagus... tapi butuh penyempurnaan saat aku kembali nanti," gumamnya lirih.
Su Yu mengernyitkan dahinya.
"Oh begitu?"
Wanita itu tiba-tiba merasakan sesuatu, ia pun segera berbalik, menatap Su Yu dengan saksama dalam beberapa saat. Setelah itu, ia mengangkat satu tangan dan menunjuk dada pemuda itu.
"Ada sesuatu yang aneh di dalam tubuhmu."
"Tubuh saya aneh?"
Peri Cangle tidak menjawab, sebaliknya ia langsung melesatkan kesadarannya.
Dalam sekejap, kesadarannya menembus lapisan tubuh Su Yu dan menyelusuri aliran energi yang ada di dalamnya. Ia melewati berbagai bagian tubuh pemuda itu hingga mencapai kedalaman kesadarannya. Kemudian langkah kesadarannya berhenti. Di dalam ruang kesadaran Su Yu, sebuah gelembung transparan dengan semburat kebiruan melayang dengan tenang.
Wanita itu menarik kembali kesadarannya, lalu wajahnya berubah muram.
"Ini tidak masuk akal..." desisnya. "Bagaimana mungkin esensi Kunpeng berada di dalam tubuhmu?"
"Esensi Kunpeng... berada di dalam tubuh saya?"
Su Yu segera menundukkan kepala dan memeriksa tubuhnya sendiri. Jubah abu-abu yang compang-camping masih melekat di tubuhnya, tetapi tidak ada benda aneh yang terlihat.
"Saya tidak melihat apa pun, dan tubuh saya masih sama seperti sebelumnya. Apakah nona yakin tidak salah melihat?"
Peri Cangle menyentuh dagunya dengan mata menyipit. "Kesadaranku tidak mungkin salah. Tetapi pertanyaannya adalah; bagaimana esensi itu bisa masuk ke dalam tubuhmu."
Ia berjalan beberapa langkah sambil berpikir.
"Esensi Kunpeng adalah darah makhluk tertinggi. Jadi tidak mungkin ia memilih seseorang tanpa alasan. Bahkan jika kau hanyalah manusia fana, pasti ada sesuatu yang membuat esensi itu menerima tubuh tanpa kultivasi."
Su Yu semakin bingung. "Nona, saya benar-benar tidak memahami apa yang sedang anda bicarakan."
Peri Cangle tidak menjawab, sementara pikirannya menjadi semakin tajam. Kemudian sebuah kemungkinan muncul di dalam benaknya.
'Jangan-jangan... Ketika kami berada di kolam tadi, esensi Kunpeng masuk ke dalam tubuhnya karena energi kami bercampur?'
Peri Cangle mengerutkan dahi.
'Namun mengapa esensi itu memilih tubuhnya dan bukan tubuhku? Aku kultivator dan memiliki garis keturunan lebih baik daripada kebanyakan manusia. Tidak masuk akal jika esensi darah makhluk tertinggi justru memilih seorang manusia fana.'
Ia berbalik, memandang Su Yu dari ujung kepala hingga kaki.
'Atau mungkin... Ini memang keberuntungan yang tidak dapat dijelaskan.'
Peri Cangle kemudian mengepalkan tangannya.
'Dia memperoleh esensi Kunpeng, sedangkan aku memperoleh esensi Naga Phoenix... dan semua itu terjadi setelah kejadian itu.'
Su Yu menatapnya dengan wajah bingung.
"Nona, mengapa anda menatap saya seperti itu?"
"Jangan bertanya."
Su Yu langsung terdiam.
Namun Peri Cangle tidak dapat menenangkan pikirannya. Ia telah memperoleh darah Naga Phoenix, sedangkan Su Yu ternyata menyimpan esensi Kunpeng di dalam kesadarannya. Kedua darah tersebut memiliki asal yang luar biasa.
Jika esensi Kunpeng dapat diambil dan disatukan dengan kekuatan Naga Phoenix yang baru diperolehnya, maka jalan kultivasinya akan terbuka jauh lebih luas daripada yang pernah ia bayangkan.
Matanya berkilat penuh perhitungan, sementara Su Yu hanya berdiri menatapnya dengan gelisah, tidak menyadari apa yang sedang berkecamuk di dalam pikiran wanita itu.
biasanya novel karyamu selalu mendapatkan atensi yang banyak🤔🤔🤔