"Tolong... tolong saya... ada yang mengejar saya..." bisik Elara dengan suara parau dan napas yang membakar kulit dada pria itu.
Detik berikutnya, dua pria yang mengejar Elara mendobrak keluar dari semak-semak. Mereka menghentikan langkah seketika saat melihat pemandangan di depan mereka. Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat membuka mulut untuk meminta maaf atau melarikan diri, Haidar—sang bos mafia yang memimpin wilayah tersebut—beralih pandang. Mata tajamnya yang sedingin es menatap kedua pria pengganggu itu. Tanpa rasa ragu atau sepatah kata pun, Haidar mengarahkan moncong pistolnya ke bawah dan menembak pergelangan kaki pria terdepan.
DOR!
Suara dentuman senjata api memecah keheningan hutan. Pria yang tertembak itu menjerit histeris, terhuyung jatuh ke tanah sambil memegang kakinya yang hancur, sebelum akhirnya merangkak mundur bersama temannya dengan wajah pucat pasi sambil terus membungkuk dan berteriak meminta maaf hysterical kepada Haidar. Mereka tahu betul siapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANCAMAN DI BALIK KETENANGAN
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos gorden kamar, menyapa dua insan yang baru saja mengikat janji suci. Elara masih tertidur lelap dengan napas teratur di dada bidang Haidar. Namun, kedamaian itu mendadak sirna ketika ponsel Haidar yang diset dalam mode getar berdering terus-menerus di atas nakas.
Dengan perlahan dan hati-hati agar tidak membangunkan istrinya, Haidar meraih ponsel itu dan menggeser tombol hijau seraya melangkah keluar kamar menuju ruang kerjanya.
"Bos, kita punya masalah besar," suara kepala keamanan terdengar panik dan tegang dari seberang telepon. "Mobil yang mengantar orang tua Nyonya Elara diadang di tengah jalan. Orang tua Nyonya diculik dan disekap!"
Tubuh Haidar seketika menegak kaku. Rahangnya mengeras, dan pendar hangat di matanya berubah menjadi kilatan membunuh yang amat dingin.
"Dari jejak kendaraan dan pola penyergapan, ini dilakukan oleh kelompok musuh bebuyutan Anda, Bos," lanjut sang anak buah.
Haidar mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tahu persis, kabar ini akan menghancurkan jiwa Elara yang baru saja mulai pulih dari duka keguguran. Ia tidak boleh membiarkan istrinya kembali terguncang.
"Tutup rapat informasi ini dari Elara," perintahkan Haidar dengan suara rendah nan sarat akan ancaman. "Jangan ada satu orang pun di mansion yang berani membocorkan hal ini padanya!"
Haidar segera melangkah turun ke ruang rapat tersembunyi di lantai bawah mansion. Dalam hitungan menit, seluruh petinggi anak buah dan ahli intelijen kelompoknya telah berkumpul mengelilingi meja peta digital.
"Cari tahu lokasi persis penyekapan mereka sekarang juga!" titah Haidar tegas sembari memukul meja. "Lacak seluruh sinyal, CCTV jalanan, dan pergerakan jaringan musuh. Aku ingin rencana penyelamatan siap sebelum matahari terbenam, dan aku sendiri yang akan memimpin pergerakannya!"
Di dalam ruang rapat yang tegang itu, sang bos mafia mulai menyusun strategi matang untuk menumpas musuh abadi dan menyelamatkan mertuanya, demi melindungi senyuman sang istri yang baru saja ia raih.
Elara terbangun pelan, mengusap matanya saat merasakan sisi ranjang di sampingnya sudah dingin dan kosong. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar utama yang hening, lalu tersenyum tipis membayangkan Haidar yang mungkin sudah terbangun lebih awal. Dengan langkah perlahan dan tubuh yang terasa jauh lebih segar, Elara memakai gaun tidurnya dan melangkah keluar kamar untuk mencari sang suami.
Langkahnya terhenti di depan pintu ruang kerja Haidar yang sedikit terbuka. Dari celah pintu, ia melihat Haidar berdiri membelakangi pintu, menatap layar monitor besar yang menampilkan peta digital dan jalur lalu lintas kota. Wajah pria itu terlihat amat tegang, rahangnya mengeras, dan aura dingin kembali melingkupi tubuhnya—jauh berbeda dari sosok hangat yang memeluknya tadi malam.
"Haidar?" panggil Elara lembut seraya mendorong pintu lebih lebar.
Haidar tersentak kecil, lalu dengan sigap mematikan layar monitor utama hanya dalam satu ketukan jari sebelum membalikkan badan. Rona ketegangan di wajahnya langsung disamarkan dengan senyuman hangat yang biasa ia berikan pada Elara.
"Kau sudah bangun, Sayang?" sapa Haidar lembut, melangkah menghampiri Elara dan merengkuh pinggang istrinya. "Kenapa tidak menungguku di kamar?"
Elara menatap mata Haidar dengan selidik, menyadari ada sedikit kelelahan dan kecemasan tersembunyi di sana. "Aku mencarimu... Kau tampak sangat serius tadi. Apa ada masalah pekerjaan yang mengganggu pikiranmu di pagi hari seperti ini?"
Haidar merapikan helai rambut Elara di sekitar dahi, lalu mendaratkan kecupan singkat di sana untuk mengalihkan perhatian istrinya.
"Hanya urusan bisnis biasa yang harus segera kuselesaikan," bohong Haidar dengan nada suara yang begitu tenang dan meyakinkan. "Jangan khawatirkan apa pun. Hari ini fokusmu hanya beristirahat dan memanjakan diri di rumah, paham?"
Elara mengangguk pelan meski ada sedikit rasa janggal di hatinya, membalas pelukan hangat Haidar tanpa menyadari bahaya besar yang kini tengah mengintai kedua orang tuanya di luar sana.