Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.
Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."
"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."
Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.
Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"
Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.
Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"
Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Pagi itu, cahaya matahari mulai menyelinap masuk melalui celah jendela kamar sederhana tempat Miska menginap. Ia terbangun lebih awal dari biasanya. Tidak ada suara teriakan, tidak ada yang menyuruh-nyuruh. Hanya kesunyian yang damai. Miska duduk di tepi kasur, menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum tipis. Sudah hampir dua minggu sejak ia pergi dari rumah itu, dan setiap harinya terasa semakin ringan.
Ia segera bangkit, merapikan kasur, mencuci muka, lalu bergegas menuju toko kelontong milik Bu Siti yang tidak jauh dari tempatnya menginap. Toko itu sudah buka, pintunya terbuka lebar, dan Bu Siti sedang menyusun barang di rak dengan santai.
"Pagi, Bu Siti!" sapa Miska dengan ceria begitu sampai di depan toko.
Bu Siti menoleh dan langsung tersenyum lebar. "Nah, ini dia orang rajin! Pagi juga sudah datang ternyata. Ayo masuk, Miska. Barang-barang yang kemarin laku sudah aku pisahkan di meja belakang, tinggal kamu foto dan masukkan ke toko onlinemu."
"Terima kasih banyak, Bu! Ibu selalu saja sigap," jawab Miska sambil duduk di meja kayu di bagian belakang toko. Di sana sudah tertata rapi berbagai barang — sabun, sikat gigi, perlengkapan dapur, camilan, dan kebutuhan sehari-hari. Semuanya milik Bu Siti, dan Miska menjualnya secara online tanpa perlu menyetok barang sendiri.
"Itu sudah sewajarnya. Kita kan kerja sama, kamu jual, aku sediakan barang. Sama-sama untung, sama-sama bantu," ujar Bu Siti sambil menyerahkan daftar harga. "Ini daftar harganya ya, yang sudah kita sepakati. Kalau ada yang beli, kamu kabari aku, barangnya aku siapkan, lalu kamu kirim. Sederhana saja kan?"
"Sederhana sekali, Bu. Dan aku bersyukur Ibu memberi aku kesempatan ini," jawab Miska tulus. "Dulu aku tidak pernah berpikir aku bisa punya penghasilan sendiri. Semua uang di rumah itu diatur Askar, bahkan untuk kebutuhan sendiri pun harus minta izin. Sekarang... aku bisa menghasilkan uang sendiri, walau belum banyak."
"Pelan-pelan saja, Nak. Yang penting jujur dan rajin. Pelanggan itu suka penjual yang jujur dan cepat," Bu Siti menepuk bahu Miska pelan. "Sudah, foto dulu barang-barangnya, nanti siang kurir datang ambil paket."
Miska mulai bekerja. Satu per satu barang ia letakkan di atas kain putih bersih, lalu difoto dengan ponselnya yang sederhana. Ia menulis keterangan barang dengan jelas, mencantumkan harga, lalu mengunggahnya ke akun toko online yang Bu Siti bantu buatkan. Setiap kali menekan tombol unggah, hatinya berdebar — ada harapan, ada semangat yang dulu pernah padam.
Belum sampai siang, notifikasi pesanan mulai bermunculan. Satu, dua, lima, hingga sepuluh pesanan masuk berturut-turut. Miska tersenyum lebar setiap kali mendengar bunyi notifikasi itu. Ia segera mencatat nama barang dan jumlahnya, lalu bergegas menemui Bu Siti.
"Bu Siti! Ini daftar pesanan pagi ini," seru Miska sambil menyerahkan kertas catatannya. "Semua barang ada di toko kan?"
Bu Siti melihat daftar itu dan mengangguk puas. "Ada semua! Kamu cepat sekali menjualnya. Tunggu sebentar, aku ambilkan barangnya."
Mereka bekerja sama dengan lancar. Bu Siti mengambil barang dari rak, Miska mengeceknya satu per satu, lalu membungkusnya rapi dan menempelkan label alamat pembeli. Tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang memerintah. Semuanya dilakukan dengan sukarela dan rasa senang. Sambil bekerja, mereka juga berbincang santai — Bu Siti bercerita tentang pembeli yang datang ke toko, Miska bercerita tentang harapannya untuk masa depan.
"Kamu tahu, Miska," kata Bu Siti sambil menyusun barang di meja. "Dulu aku sempat khawatir saat pertama kali tahu kamu pergi dari rumah itu. Tapi sekarang melihatmu seperti ini... aku justru merasa lega. Di sana kamu seperti orang yang terus-menerus menunduk, takut salah, takut dimarahi. Di sini, walau sederhana, kamu terlihat hidup. Matamu bersinar lagi."
Miska berhenti membungkus paket sebentar, lalu tersenyum tipis. "Aku juga merasakannya, Bu. Dulu setiap pagi aku bangun dengan perasaan berat — takut Bu Surya marah, takut Askar tidak senang, takut rumah tidak rapi. Sekarang... aku bangun dengan perasaan ringan. Tidak ada yang aku takuti. Aku hanya takut tidak bisa menjual barang, itu saja."
"Itulah namanya kebebasan, Nak. Kebebasan yang dulu kau korbankan demi cinta yang ternyata tidak sepadan," ujar Bu Siti pelan. "Tapi tidak terlambat. Kamu masih muda, masih kuat, dan sekarang sudah punya penghasilan sendiri. Pelan-pelan, nanti kamu bisa menyewa tempat yang lebih layak, lalu perlahan-lahan mengembangkan usahamu sendiri."
Miska mengangguk. "Aku ingin sekali itu, Bu. Setiap hari aku sisihkan sebagian keuntungan untuk ditabung. Nanti kalau sudah cukup, aku ingin menyewa kamar yang lebih bersih dan luas. Supaya lebih nyaman bekerja."
"Itu pasti bisa. Asal kamu rajin dan jujur seperti sekarang," Bu Siti tersenyum tulus. "Dan ingat, kalau butuh barang tambahan atau mau menambah jenis barang, bilang saja. Toko ini punya banyak barang yang belum kamu jual. Kita bisa tambah pelan-pelan."
Tepat pukul satu siang, kurir paket datang. Miska menyambutnya dengan senyum lebar, menyerahkan tumpukan paket yang sudah terikat rapi. Setiap kali paket diambil, hatinya terasa lega sekaligus bangga. Itu adalah hasil kerjanya sendiri — ia yang menjual, Bu Siti yang menyediakan barang, dan keduanya sama-sama mendapat keuntungan. Tidak ada yang harus ia minta pada siapa pun.
Setelah kurir pergi, Miska duduk sebentar untuk beristirahat. Ia membuka buku catatan keuangan kecilnya, mencatat berapa pesanan yang masuk, berapa modal barang dari Bu Siti, dan berapa keuntungan yang ia dapatkan hari itu. Angkanya belum besar, tapi terus bertambah setiap hari. Perlahan tapi pasti.
"Satu hari nanti, Bu," gumam Miska pelan sambil menatap daftar barang di toko. "Aku bisa lebih baik dari sekarang."
Sore harinya, Miska membantu Bu Siti merapikan toko sebelum pamit pulang.
"Terima kasih untuk hari ini, Bu Siti. Besok aku datang lagi seperti biasa ya?" tanyanya saat berdiri di depan pintu toko.
"Tentu saja. Aku tunggu besok pagi. Jangan lupa makan ya, jangan sampai sakit," pesan Bu Siti lembut.
Miska berjalan pulang dengan langkah ringan. Matahari mulai terbenam, menyisakan cahaya keemasan di langit. Ia tidak merasa kesepian. Justru merasa utuh. Di tangannya ada uang hasil keringat sendiri, di hatinya ada harapan untuk masa depan, dan di pikirannya tidak lagi ada bayang-bayang rasa takut.
Ia teringat bagaimana dulu ia selalu berjalan pulang dengan perasaan cemas — takut rumah belum bersih, takut Bu Surya menunggunya dengan wajah marah, takut Askar pulang dengan wajah dingin. Sekarang? Tidak ada yang ditakuti. Yang ada hanya rasa syukur dan semangat untuk hari esok.
Malam itu, Miska tidur lebih awal. Tidak ada lagi menunggu seseorang pulang hingga larut malam. Tidak ada lagi perasaan cemas. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tahu — ia tidak sedang menunggu seseorang untuk menyelamatkannya. Ia sedang menyelamatkan dirinya sendiri.
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪