Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Tembok Ketenangan
Pagi itu begitu cerah di koridor lantai dua Gedung Laboratorium Komputer. Suara langkah kaki mahasiswa yang bergesekan dengan lantai marmer bersahut-sahutan di sepanjang lorong. Bayu Anggara berjalan santai di samping Dimas, memasang satu earphone kabel hitam sederhana di telinga kirinya. Kabel itu terhubung ke ponsel Android murah yang tersimpan rapi di dalam saku kemeja kebesarannya.
"Bay, lu yakin pakai earphone sebelah begitu tidak bakal ditegur dosen?" tanya Dimas seraya membetulkan letak tali tas ranselnya. "Pak Bambang kan paling sensitif kalau melihat mahasiswa pakai earphone pas mau masuk kelas."
Bayu membetulkan letak kacamata tebalnya dengan telunjuk. "Tidak akan, Dim. Jarvis sudah menyesuaikan keluaran frekuensi suaranya. Hanya mikro-suara yang masuk ke gendang telingaku, orang di sampingku tidak akan mendengar apa pun."
"Koneksi modul analisis perilaku aktif, Bayu," suara Jarvis terdengar sangat halus namun jernih di telinga kiri Bayu. "Saya memantau area sekitar melalui sensor mikromodel mikrofon dan kamera tepi saku Anda."
"Sip. Bagus kalau begitu," gumam Bayu pelan.
"Lu ngomong sama gue atau sama Jarvis?" kekeh Dimas sambil menoleh ke arah Bayu.
"Dua-duanya," jawab Bayu tersenyum tipis.
Saat mereka berbelok di persimpangan koridor menuju laboratorium basis data, tiga figur berdiri sengaja menutup akses jalan utama. Nadeo bersandar di dinding dengan gaya khasnya yang arogan, memegang cangkir kopi mahal, didampingi oleh Rian dan Fajar di samping kiri dan kanannya.
"Nah, ini dia dua kroco fakultas kita baru sampai," ejek Nadeo dengan suara keras, sengaja menarik perhatian beberapa mahasiswi yang berjalan tidak jauh di belakang mereka.
Dimas langsung menghentikan langkahnya, rahangnya mengeram ketat. "Nadeo. Mau lu apa lagi pagi-pagi gini?"
Nadeo melangkah maju dua langkah, menyeruput kopinya lambat-lambat sebelum melempar pandangan merendahkan ke arah Bayu. "Gue cuma heran saja, Dim. Si miskin ini kok masih berani nampakkan muka di kampus? Bukannya kemarin lu nangis-nangis nyari biaya rumah sakit?"
Rian dan Fajar terkekeh kompak, menyilangkan tangan di dada.
Dimas hendak melangkah maju dengan emosi menyala, namun Bayu menahan lengan Dimas secara lembut. Sentuhan tangan Bayu begitu tenang, membuat Dimas menoleh kaget.
"Analisis biomekanik dan nada suara subjek Nadeo selesai," suara Jarvis berbisik presisi di telinga Bayu. "Frekuensi detak jantung subjek terdeteksi sembilan puluh delapan ketukan per menit. Sudut bibir kiri turun dua milimeter, pupil mata melebar tiga persen. Subjek mengalami indikasi stres dan kecemasan implisit. Sumber ancaman, Nilai Ujian Tengah Semester mata kuliah Struktur Data yang baru diumumkan di papan pengumuman sepuluh menit lalu. Subjek mendapat nilai D minus."
Bayu menatap Nadeo lurus-lurus. Di balik bingkai kacamata tebalnya, pandangan matanya begitu tajam dan damai, tanpa sedikit pun keraguan.
"Nadeo," panggil Bayu dengan nada suara yang begitu datar, jernih, dan tenang.
"Apa lu?! Berani lu sebut nama gue dengan nada sok begitu?" tantang Nadeo seraya menunjuk dada Bayu.
"Papan pengumuman hasil Ujian Tengah Semester baru saja diperbarui lima belas menit yang lalu di lantai satu," kata Bayu santai, kalimatnya meluncur tanpa interupsi. "Mata kuliah Struktur Data Paket B. Nilaimu D minus."
Nadeo mendadak membeku. Jari tangannya yang menunjuk dada Bayu sedikit gemetar, matanya membelalak kaget. "Lu... lu ngomong apa, bangs4t?!"
"Kamu berdiri di lorong ini dan mencoba menghinaku bukan karena kamu merasa lebih tinggi," lanjut Bayu mendetail, melangkah satu titik mendekati Nadeo dengan postur tubuh yang tegak. "Tapi kamu sedang merasa panik dan cemas. Kamu butuh objek pengalihan emosi agar kamu tidak memikirkan ancaman pemotongan uang saku dari ayahmu jika nilai semestermu hancur."
Dimas melotot menatap Bayu, lalu memandang Nadeo yang wajahnya mendadak memerah padam.
"Subjek mengalami lonjakan emosi defensif," Jarvis melaporkan secara instan. "Karakter respon, Agresif verbal. Gerakan refleks bahu kanan naik lima derajat, menandakan dorongan fisik impulsif. Risiko kontak fisik: Tujuh puluh persen. Rekomendasi: Geser posisi kaki kanan lima sentimeter ke belakang untuk menjaga keseimbangan optimal."
Bayu menggeser pijakan kakinya secara tak kasat mata sesuai petunjuk Jarvis, tetap berdiri teguh.
"Lu jangan sok tahu soal hidup gue, anak miskin!" bentak Nadeo, suaranya naik satu oktav karena rasa malu yang membakar dadanya. "Harta bapak gue sanggup beli seluruh masa depan lu!"
"Harta ayahmu memang sangat banyak, Nadeo," balas Bayu tenang, suaranya tetap konsisten lembut namun merasuk ke pendengaran orang-orang di sekitarnya. "Namun harta itu tidak bisa mengeksekusi logika algoritma pada lembar ujianmu. Marah padaku tidak akan mendongkrak nilai D minus itu menjadi nilai A."
Rian dan Fajar saling berpandangan dengan wajah canggung. Beberapa mahasiswa lain di sekitar lorong mulai berbisik-bisik sambil menatap Nadeo.
"Kurang ajar lu ya, Bayu!" Nadeo mencengkeram kerah kemeja lusuh Bayu dengan wajah beringas. "Lu pikir lu siapa, berani ceramahi gue?!"
Dimas merangsek maju. "Nadeo! Lepasin tangan lu dari kemeja Bayu!"
"Jangan, Dim," tahan Bayu tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari mata Nadeo. Bayu bahkan tidak menepis cengkeraman tangan Nadeo. Ia hanya menatap wajah pemuda kaya itu dengan rasa iba yang tulus.
"Analisis postur cengkeraman: Tekanan jari subjek lemah akibat kehilangan rasa percaya diri," tutur Jarvis di telinga Bayu. "Subjek tidak akan melakukan pukulan karena takut terkena sanksi akademis di depan laboratorium."
"Jika kamu butuh bantuan asistensi untuk kelas perbaikan basis data minggu depan," kata Bayu pelan tepat di depan wajah Nadeo, "kamu bisa mengajukan permohonan ke ketua lab. Aku tidak keberatan mengajarimu dasar-dasar pemrogramannya. Gratis."
Tawaran bantuan yang sangat tenang dan bermartabat itu menghantam harga diri Nadeo lebih keras daripada sebuah pukulan fisik. Nadeo merasakan tangannya bergetar. Ketenangan Bayu yang mutlak membuat gertakan dan kekayaannya terasa sama sekali tidak berguna dan konyol.
Nadeo menghentakkan tangannya, melepaskan kerah baju Bayu dengan kasar. "Gue nggak butuh bantuan dari sampah kayak lu!"
"Terserah kamu, Nadeo. Pintu laboratorium sudah dibuka," jawab Bayu seraya merapikan lipatan kerah kemejanya yang agak kusut dengan gerakan jemari yang teratur.
Pak Bambang tampak berjalan di ujung lorong menuju laboratorium membawa laptopnya. Melihat kehadiran dosennya, Rian menyenggol lengan Nadeo dengan panik.
"Deo, Pak Bambang datang. Ayo masuk," bisik Rian cemas.
Nadeo menatap Bayu dengan kebencian dan rasa malu yang meluap-luap. "Urusan kita belum selesai, Bayu Anggara. Lu bakal menyesal udah bikin gue malu!"
Nadeo memutar badannya dan berjalan terburu-buru masuk ke dalam laboratorium bersama kedua pengikutnya, meninggalkan cangkir kopinya yang sengaja dihentakkan di atas meja luar.
Dimas menghembuskan napas panjang, menatap Bayu dengan mulut menganga penuh kekaguman. "Gila... Bay... Lu bener-bener gila! Lu bikin si Nadeo mati kutu tanpa perlu ngeluarin emosi sedikit pun!"
Bayu tersenyum tipis, merapikan letak kacamatanya kembali. "Ketenangan adalah senjata paling ampuh saat menghadapi orang yang hanya mengandalkan amarah, Dim."
"Eksekusi interaksi sosial berhasil dengan tingkat efisiensi seratus persen," puji Jarvis melalui earphone. "Tingkat stres Pengguna Bayu tetap berada pada ambang batas normal lima puluh dua persen."
"Terima kasih, Jarvis," bisik Bayu pelan.
"Lu bisik-bisik sama Jarvis lagi?" goda Dimas seraya merangkul pundak Bayu dengan tawa renyah. "Yuk masuk kelas. Gue bener-bener puas lihat muka si Nadeo merah padam begitu!"
Keduanya melangkah masuk ke dalam ruang laboratorium komputer dengan mantap. Di balik penampilannya yang sederhana dan pakaian lusuhnya, Bayu Anggara baru saja membuktikan bahwa kekuatan sejatinya bukan lagi terletak pada apa yang ia miliki di luar, melainkan pada ketajaman logika dan ketenangan jiwa yang tak tergoyahkan.