⚠️ PERINGATAN
Jika Anda hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.
Contoh Fang Ye 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst
Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.
Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.
Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:
Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.
Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebencian, dan kehidupan yang begitu panjang hingga tidak lagi memiliki arti.
Ketika seseorang telah memiliki segala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PIL YANG TIDAK CUKUP UNTUK SEMUA ORANG [POV FRAGMEN KEEMPAT: GU TIANMING]
Wabah demam merah kembali muncul delapan bulan setelah Gu Tianming terakhir kali mendengar namanya diucapkan dengan ngeri—kali ini bukan di rumah Su Wan, tapi di Desa Xiaohe, dua hari perjalanan dari Akademi Qingxu, tempat sumur utama desa tercemar setelah banjir musim panas membawa sesuatu yang tidak seharusnya bercampur dengan air minum.
Ketika ia dan tiga muridnya tiba, delapan puluh tiga orang sudah menunjukkan gejala. Tiga sudah meninggal.
Dan di dalam kotak obatnya, hasil dari tiga bulan persiapan tergesa-gesa begitu kabar wabah pertama kali sampai ke akademi, hanya ada tiga puluh Pil Penurun Panas Merah—pil yang bahannya membutuhkan akar Xuehua, tanaman langka yang hanya tumbuh di lereng utara Gunung Qingxu, dan hanya bisa dipanen sekali setahun.
Tiga puluh pil. Delapan puluh tiga pasien.
---
"Bagaimana kita membaginya, Guru?" Chu Yan, murid termudanya, berdiri di sampingnya, wajahnya pucat menatap deretan tandu yang terus bertambah panjang di balai desa yang diubah menjadi ruang perawatan darurat. "Apakah berdasarkan siapa yang datang lebih dulu?"
"Tidak," Gu Tianming menjawab, sudah bergerak dari satu pasien ke pasien lain, memeriksa denyut nadi, warna lidah, suhu tubuh dengan gerakan cepat namun teliti yang sudah menjadi kebiasaan puluhan tahun. "Kalau kita membagi berdasarkan siapa yang datang lebih dulu, kita mungkin menghabiskan pil untuk orang yang gejalanya masih ringan dan bisa bertahan tanpa pil, sementara orang yang gejalanya parah dan datang belakangan mati menunggu giliran."
"Lalu berdasarkan apa?"
"Berdasarkan siapa yang paling mungkin diselamatkan pil ini, dan paling mungkin mati tanpa pil ini," Gu Tianming berkata, suaranya tetap tenang meski setiap kata terasa seperti batu yang harus ia angkat sendiri. "Bukan yang paling ringan. Bukan pula yang paling berat—kalau seseorang sudah terlalu jauh hingga pil ini tidak lagi bisa menyelamatkan mereka, memberikannya berarti membiarkan orang lain yang masih bisa diselamatkan mati sia-sia."
Chu Yan menelan ludah. "Itu berarti... kita harus memilih siapa yang hidup dan siapa yang tidak."
"Ya," Gu Tianming berkata, tanpa menghindar dari kebenaran itu. "Itu tepat yang kita lakukan hari ini."
---
Ia sudah membagi pasien dalam tiga kelompok sebelum matahari terbenam: kelompok merah, gejala kritis tapi masih responsif terhadap pengobatan; kelompok kuning, gejala sedang, kemungkinan bertahan tanpa pil jika dirawat intensif; kelompok hitam, gejala sudah terlalu parah, di mana bahkan pil tidak lagi cukup untuk membalikkan kerusakan yang sudah terjadi pada tubuh mereka.
Tiga puluh pil dialokasikan untuk kelompok merah—dua puluh delapan pasien, menyisakan dua pil cadangan untuk kemungkinan darurat.
Kelompok kuning akan menerima perawatan suportif intensif: kompres, ramuan herbal biasa, cairan, dan doa yang tidak pernah ia sebutkan secara terbuka tapi selalu ia panjatkan diam-diam untuk setiap pasien yang ia lewati.
Kelompok hitam—lima orang—akan menerima perawatan untuk mengurangi penderitaan mereka, meski ia tahu, berdasarkan pengalaman puluhan tahun, kemungkinan besar mereka tidak akan bertahan hingga fajar.
---
Keributan dimulai saat malam turun, ketika seorang pria berpakaian mahal—jelas bukan penduduk desa biasa—mendorong masuk ke balai desa, diikuti dua pengawal bersenjata.
"Aku Zhao Heng, tuan tanah wilayah ini," ia berkata, suaranya penuh otoritas yang biasa didengar tanpa perlu diulangi dua kali. "Anakku sedang ada di sini, aku ingin ia segera diberi pil."
Gu Tianming memeriksa catatannya. "Zhao Ming. Gejala ringan, suhu masih di bawah ambang kritis, denyut nadi stabil. Ia masuk kelompok kuning."
"Aku tidak peduli kelompok apa," Zhao Heng berkata, nadanya mulai tajam. "Ia anakku. Aku sudah menyumbang untuk pembangunan akademi kalian tahun lalu. Aku berhak meminta perlakuan khusus."
"Sumbangan Tuan Zhao untuk akademi kami dicatat dengan penuh rasa terima kasih," Gu Tianming berkata, tetap tenang, tidak sedikit pun menaikkan suaranya. "Tapi pil ini tidak dialokasikan berdasarkan sumbangan, jabatan, atau kekayaan. Pil ini dialokasikan berdasarkan siapa yang paling membutuhkannya untuk bertahan hidup. Putra Anda, berdasarkan pemeriksaan medisku, kemungkinan besar akan pulih tanpa pil ini, dengan perawatan yang tepat."
"'Kemungkinan besar' bukan kepastian," Zhao Heng mendesis. "Kalau anakku mati karena kau memilih memberikan pil itu pada anak petani miskin daripada anaknya tuan tanah, aku akan memastikan akademi kalian kehilangan setiap dukungan yang pernah kalian terima dari keluarga kami."
---
Ruangan menjadi hening. Chu Yan dan murid-murid lain menahan napas, menunggu bagaimana gurunya akan merespons ancaman yang, mereka semua tahu, bukan gertakan kosong.
Gu Tianming berdiri diam sejenak, menatap Zhao Heng dengan mata yang tidak berubah sedikit pun dari ketenangannya.
"Tuan Zhao," ia akhirnya berkata, "aku memahami kekhawatiranmu sebagai seorang ayah. Aku sungguh memahaminya. Tapi kalau aku memberikan pil pada anakmu hanya karena ancamanmu, sementara ada anak lain di ruangan ini yang gejalanya jauh lebih kritis dan hanya bisa bertahan dengan pil itu, maka anak itu akan mati—bukan karena penyakitnya, tapi karena aku memilih uangmu di atas nyawanya."
Ia melangkah mendekat, suaranya tetap rendah, tapi tegas.
"Aku sudah membuat lebih dari dua ribu pil sepanjang hidupku. Aku belum pernah, dan tidak akan pernah, membuat satu pun keputusan medis berdasarkan siapa yang bisa membalasku paling banyak jika aku menuruti mereka." Ia berhenti sejenak. "Kalau kau ingin mencabut dukunganmu dari akademi karena aku menolak permintaanmu, itu hakmu. Tapi aku tidak akan mengubah keputusan ini."
---
Zhao Heng menatapnya lama, wajahnya merah padam antara marah dan—Gu Tianming curiga, meski tidak bisa memastikannya—rasa takut yang tidak sepenuhnya bisa ia tunjukkan di depan pengawalnya sendiri.
Akhirnya, tanpa kata lain, Zhao Heng berbalik dan pergi, meninggalkan ancaman yang menggantung di udara tanpa perlu diucapkan lebih jelas lagi.
Chu Yan mendekat setelah kepergiannya, suaranya bergetar. "Guru, kalau ia benar-benar mencabut dukungannya, akademi kita bisa kehilangan sepertiga pendanaan kita."
"Aku tahu," Gu Tianming berkata sederhana.
"Dan kau tetap menolaknya?"
"Chu Yan," Gu Tianming berkata, berlutut agar sejajar dengan muridnya yang masih gemetar antara ketakutan dan kekaguman yang belum sepenuhnya ia pahami sendiri, "kalau suatu hari kau harus memilih antara pendanaan akademimu dan nyawa seorang anak yang tidak punya siapa pun untuk membelanya, aku ingin kau selalu memilih anak itu. Bukan karena itu pilihan yang mudah. Karena itu satu-satunya pilihan yang bisa membuatmu tetap menjadi tabib yang layak dipercaya besok pagi, dan pagi setelahnya, dan seterusnya."
---
Malam itu berlangsung panjang. Tiga dari lima pasien kelompok hitam meninggal sebelum fajar, meski semua perawatan yang bisa diberikan sudah diberikan. Gu Tianming duduk di samping masing-masing dari mereka di detik-detik terakhir, memegang tangan mereka, memastikan tidak seorang pun mati sendirian malam itu—hal kecil yang tidak bisa ia tuliskan sebagai keberhasilan medis, tapi yang selalu ia anggap sama pentingnya.
Menjelang subuh, seorang wanita muncul di ambang pintu balai desa, membawa sekeranjang kain bersih dan air rebusan herbal, seorang anak kecil menempel di roknya.
Su Wan.
"Aku dengar ada wabah," katanya, meletakkan keranjangnya. "Aku ingin membantu. Aku sudah pernah merawat suamiku dulu—aku tahu apa yang perlu dilakukan, meski aku tidak berhasil menyelamatkannya."
Gu Tianming menatapnya, teringat wanita yang sebelas hari tidak makan di ranjangnya delapan bulan lalu, kini berdiri di depannya dengan mata yang masih berduka namun jelas hidup, jelas memilih untuk terus bergerak maju.
"Terima kasih," ia berkata sederhana, menyerahkan sekelompok kain kompres untuk kelompok kuning. "Bantuanmu sangat berarti."
A-Rou, yang sudah lebih besar sejak terakhir kali Gu Tianming melihatnya, duduk di sudut ruangan dengan tenang, membantu menyiapkan air minum untuk pasien-pasien yang masih sadar, seolah sudah lama terbiasa dengan pekerjaan yang jauh lebih berat daripada usianya.
---
Menjelang siang, dua puluh lima dari dua puluh delapan pasien kelompok merah menunjukkan tanda pemulihan. Kelompok kuning, dengan perawatan intensif sepanjang malam, kehilangan hanya dua orang. Zhao Ming, putra tuan tanah, pulih sepenuhnya tanpa pernah membutuhkan pil sama sekali, persis seperti perkiraan Gu Tianming.
Total: enam nyawa hilang dari delapan puluh tiga yang terjangkit. Angka yang, dalam pengalaman Gu Tianming selama puluhan tahun menangani wabah, adalah hasil yang jauh lebih baik daripada rata-rata—tapi angka yang tidak pernah, dalam benaknya, terasa seperti "kemenangan" ketika enam wajah spesifik masih terbayang jelas setiap kali ia menutup mata.
Ia duduk di luar balai desa saat matahari mulai tinggi, terlalu lelah untuk berdiri lebih lama, menulis catatan kasus untuk arsip akademi seperti biasa.
Enam orang meninggal hari ini, ia menulis. Bukan karena kesalahan pengobatan. Bukan karena kelalaian. Tapi karena dunia tidak menyediakan cukup obat untuk semua orang yang membutuhkannya, dan seseorang harus memutuskan siapa yang menerima yang tersedia.
Aku sudah lama percaya bahwa menyelamatkan kehidupan adalah tindakan yang benar. Hari ini aku belajar bahwa terkadang, menyelamatkan kehidupan berarti secara sadar memilih untuk tidak menyelamatkan kehidupan yang lain—dan tidak ada jumlah kebijaksanaan yang bisa membuat pilihan itu terasa ringan.*
Mungkin itulah harga sebenarnya dari menjadi seseorang yang dipercaya memegang obat: bukan hanya kemampuan menyembuhkan, tapi kesediaan menanggung berat dari setiap kali kemampuan itu tidak cukup.
---
Su Wan duduk di sampingnya beberapa saat kemudian, membawakan dua mangkuk teh hangat.
"Kau terlihat lelah, Tabib Gu," katanya, menyerahkan salah satu mangkuk.
"Aku baik-baik saja," Ia menjawab, meski keduanya tahu itu tidak sepenuhnya jujur.
"Terima kasih," Su Wan berkata pelan, "karena delapan bulan lalu, kau tidak menyerah padaku, meski aku memberimu setiap alasan untuk menyerah."
Gu Tianming menatapnya, lalu menatap A-Rou yang tertidur di pangkuan seorang wanita desa lain yang menjaganya, kelelahan setelah semalaman membantu tanpa keluhan.
"Kau yang memilih untuk tidak menyerah," ia berkata. "Aku hanya memberimu kesempatan untuk memilih dengan sadar."
Mereka duduk diam beberapa saat, menyesap teh yang mulai dingin, menyaksikan matahari pagi perlahan menghangatkan desa yang baru saja selamat dari malam paling berat dalam sejarahnya.
Gu Tianming tidak tahu apakah Zhao Heng akan benar-benar mencabut dukungannya. Ia tidak tahu apakah suatu hari nanti ia akan menghadapi wabah lain, dengan pil yang lebih sedikit lagi, pasien yang lebih banyak lagi, pilihan yang lebih berat lagi.
Tapi untuk pagi ini, dengan enam puluh tujuh orang yang selamat duduk atau berbaring di sekelilingnya, bernapas, hidup, ia membiarkan dirinya sendiri, sejenak, meletakkan beban itu dan hanya merasakan kehangatan matahari di wajahnya.