Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.
Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Pagi di desa terasa sedikit berbeda. Saat Arka sedang mengaduk adonan bumbu kacang di teras belakang dan Kinanti merapikan daun pisang, deru mesin motor besar menggelegar menembus jalanan tanah desa, berhenti tepat di halaman rumah panggung mereka.
Kinanti menyipitkan mata, mengintip dari balik tirai. "Mas... ada tamu tuh. Pakai motor gede."
Arka melepas celemeknya. Tatapannya mendadak waspada. Namun begitu melihat dua sosok yang turun dari motor tersebut, sudut bibir Arka terangkat tipis.
Seorang pemuda berparas tampan dengan gaya rambut mullet kekinian melepas helmnya, menyisir rambut dengan jemarinya santai. Ia mengenakan jaket kulit longgar. Di sampingnya, seorang wanita melangkah turun dengan anggunmengenakan rok span ketat, blazer rapi, dan syal leher melingkar sempurna, persis seperti seorang pramugari maskapai komersial.
"Sepi banget desa lu, Bos! Hampir salah jalan gua gara-gara GPS muter-muter di kebun teh!" seru pemuda bermullet itu dengan nada santai tanpa beban.
"Lingga... jangan teriak-teriak! Nanti dikira preman pasar!" semprot wanita berpenampilan pramugari itu seraya menepuk lengan suaminya dengan tas tangan. "Baju aku sampai kena debu tanah kan, gara-gara kamu bawanya grasak-grusuk!"
"Aduh, Sarah, sayang... kan namanya juga naik motor, ya kena angin lah," sahut Lingga terkekeh santai.
Kinanti berjalan keluar bersama Arka, matanya membelalak kagum menatap gaya nyentrik kedua tamu tersebut. "Mas Arka... mereka siapa?"
Arka merangkul bahu Kinanti lembut. "Ini Lingga, teman lama Mas. Dan itu Sarah, istrinya."
Lingga ,pimpinan tertinggi dari The White Dragon, kelompok paling disegani di wilayah timur langsung menyunggingkan cengiran ramah. "Halo, Mba Kinanti! Salam kenal ya. Kita datang mau ngerusoh eh, mau main maksudnya!"
"Lingga! Yang sopan dong!" potong Sarah cepat seraya menyenggol pinggang Lingga, lalu tersenyum manis ke arah Kinanti. "Maaf ya, Mba Kinanti. Suami saya memang rada tengil. Oh iya, ini ada oleh-oleh dari kota, tapi maaf ya pakaian aku agak berdebu habis naik motor."
Kinanti tertawa kecil, seketika merasa akrab dengan ketulusan dan kecerewetan Sarah. "Nggak apa-apa, Mbak Sarah! Ayo masuk, pas banget Mas Arka lagi bikin cilok hangat!"
Di saat Kinanti dan Sarah berjalan mendahului masuk ke dapur sambil mengobrol seru tentang pakaian pramugari Sarah, Lingga berjalan melangkah pelan di samping Arka.
Raut santai di wajah tampan Lingga mendadak berubah menjadi serius dalam hitungan detik.
"Gwang dari The Black Dragon udah mati di batas kota tadi malam. Gua dan anak-anak The White Dragon yang urus mayatnya," bisik Lingga amat pelan.
Arka melirik Lingga. "Thanks, Ngga."
"Tapi ada kabar buruk, Bos," lanjut Lingga seraya menyulut rokoknya. "Bukan cuma The Black Dragon yang bergerak. Kelompok Club Strawberry sudah mulai turun tangan. Mereka baru saja mengeksekusi tiga jaringan lokal kita di Jakarta. Target mereka selanjutnya... tempat ini."
Mata Arka menyipit dingin. Club Strawberry kelompok psychopath bayaran yang dikenal tanpa ampun.
"Biarkan mereka datang," bisik Arka dingin. "Tanah desa ini punya banyak ruang buat kuburan mereka."
Suara gelak tawa terdengar nyaring dari arah dapur. Sarah yang berpenampilan anggun ala pramugari itu rupanya sangat cekatan membantu Kinanti. Sambil memotong daun bawang, mulutnya tidak berhenti mengoceh mengomentari kelakuan Lingga selama perjalanan dari Jakarta.
"Mbak Kinanti harus ekstra sabar ya kalau punya suami model begitu," ujar Sarah seraya mengibaskan tangannya gemas. "Sepanjang jalan dia cuma fokus sama gaya rambut mullet-nya! 'Sayang, helmnya merusak rambut aku nggak?' gitu terus dari tadi! Kan menyelin banget!"
Kinanti terkekeh geli melihat wajah bersungut-sungut Sarah yang terkesan sangat menggemaskan. "Tapi Mas Lingga kelihatannya sayang banget sama Mbak Sarah. Sama kayak Mas Arka... kadang pendiam, tapi protektifnya bukan main."
Sarah menatap Kinanti dengan binar mata hangat. "Arka memang begitu dari dulu, Mbak. Tapi jujur, baru kali ini aku lihat mata Arka punya cahaya hangat. Itu semua gara-gara Mbak Kinanti."
Sementara kedua wanita itu makin akrab di dapur, suasana di teras belakang rumah jauh lebih pekat dan tenang.
Lingga menyandarkan punggungnya di tiang kayu rumah panggung, menyesap kopi hitam buatan Kinanti seraya menikmati embus angin gunung. Pria berambut mullet itu tampak sangat santai, namun jemari tangannya yang menyapu pemantik api memancarkan kesiapsiagaan seorang komandan tempur.
"Anak-anak The White Dragon udah disebar dari pintu tol Pasteur sampai perbatasan jalan perkebunan ini, Bos," kata Lingga dengan nada rendah, menyembunyikan pembicaraan dari pendengaran para wanita. "Gua nggak mau keselamatan Sarah sama Mbak Kinanti terancam."
"Gimana pergerakan Club Strawberry?" tanya Arka dingin tanpa menoleh. Tangannya masih tenang mengasah bilah pisau lamanya di atas batu asah.
"Gaya main mereka beda sama The Black Dragon yang suka langsung main terobos," sahut Lingga dengan senyum miring. "Club Strawberry lebih suka pakai racun, penyamaran, atau teror psikologis. Pemimpin sel mereka di Jawa Barat dipanggil 'Cherry'. Dia perempuan, tapi kepalanya dihargai sangat mahal di pasar gelap karena cara mengeksekusinya yang sangat sadis."
Arka menghentikan gesekan pisaunya. Pria itu menyapu permukaannya yang makin mengilap pantulan cahayanya.
"Mereka pikir nama manis seperti 'Strawberry' bisa bikin mereka lolos dari aku?" bisik Arka, tatapannya membeku seketika. "Begitu mereka menginjakkan kaki di desa ini, pastikan tidak ada satupun dari mereka yang bisa kembali dalam keadaan bernapas."
"Siap, Bos," jawab Lingga santai seraya menepuk bahu Arka. "Gua sama The White Dragon bakal ada di garis depan. Lu fokus aja jaga Mbak Kinanti."
"Mas Arka! Mas Lingga! Cilok gorengnya udah matang nih, ayo makan dulu!" panggil suara ceria Kinanti dari pintu dapur.
Aura membunuh di teras belakang lenyap tanpa sisa dalam sekejap mata. Arka menyelipkan pisaunya ke balik pinggang, lalu menyunggingkan senyum hangatnya seraya melangkah masuk mendatangi sang istri.