Indonesia
NovelToon NovelToon
Rumah Yang Menggantikan Aku

Rumah Yang Menggantikan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Kehidupan di Kantor / Keluarga & Kasih Sayang / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 SURAT KEMATIAN YANG TERLALU CEPAT

Enam hari.

Delapan belas September, permohonan penetapan kematiannya diajukan. Dua puluh empat September, pencarian resmi dihentikan. Enam hari mungkin tidak terlihat lama bagi orang lain. Bagi seseorang yang sedang hilang dan mungkin masih menunggu ditemukan, enam hari bisa menentukan apakah orang-orang terus mencari atau mulai menerima bahwa ia tidak akan pulang.

Salindri mengambil kembali tabletnya. “Kita belum bisa menyimpulkan niat siapa pun hanya dari tanggal.”

“Tapi ini tidak biasa,” kata Kaluna.

“Tidak biasa, iya. Bukti kejahatan, belum.”

Naren berdiri di dekat jendela ruang tunggu. Ia membaca salinan laporan pencarian yang berada di tangannya.

“Di laporan ini disebutkan keluarga meminta pencarian diperluas sampai aliran sungai bagian utara,” katanya.

Kaluna menoleh. “Siapa yang meminta?”

“Tidak ada nama. Hanya tertulis perwakilan keluarga.”

Salindri membuka dokumen lain. “Permohonan kematian juga tidak diajukan langsung oleh Arsen.”

Nama di bagian bawah surat tercetak terlalu kecil. Kaluna mendekat untuk membacanya. Kuasa hukum keluarga Mahardika. Di bawahnya terdapat tanda tangan dan stempel sebuah kantor hukum yang pernah beberapa kali menangani urusan perusahaan.

“Siapa yang memberi kuasa?” tanya Kaluna.

Salindri menggulir halaman. “Lampirannya belum dikirim.”

“Bisa diminta?”

“Bisa. Pertanyaannya, apakah mereka akan langsung memberikannya.”

Kaluna mengarahkan pandangan ke pintu ruang rapat yang sudah tertutup. Bramasta dan beberapa anggota dewan telah pergi. Arsen juga tidak terlihat sejak keluar dari ruangan.

“Kalau surat itu diajukan melalui perusahaan, pasti ada jejaknya.”

Naren mengangguk. “Surat keluar, surel, pembayaran biaya hukum, atau paling tidak memo persetujuan.”

Salindri menutup mapnya. “Kita mulai dari kantor hukum yang mengajukan permohonan.”

Kaluna mengambil tasnya. “Sekarang?”

“Semakin lama kita menunggu, semakin besar kemungkinan orang-orang di dalam gedung ini mulai merapikan arsip.”

Kaluna tidak bertanya siapa yang dimaksud. Ia tahu dokumen tidak selalu hilang karena kecelakaan.

Mereka baru keluar dari ruang tunggu ketika Arsen berjalan dari arah lift. Ia berhenti setelah melihat ketiganya.

“Kalian mau ke mana?”

“Memeriksa surat kematianku.”

Arsen memandang tablet di tangan Salindri. “Apa yang kalian temukan?”

Kaluna ingin mengatakan bahwa itu bukan urusan Arsen. Arsen tetap termasuk orang yang seharusnya tahu bagaimana istrinya bisa dinyatakan meninggal.

“Permohonannya diajukan enam hari sebelum pencarian dihentikan,” kata Salindri.

Arsen mengernyit. “Tidak mungkin.”

“Dokumennya mengatakan begitu.”

“Pencarian waktu itu masih berjalan.”

“Nah, itu.”

Arsen menerima tablet yang disodorkan Salindri. Ia membaca dua tanggal tersebut, lalu memeriksa halaman berikutnya.

“Aku tidak pernah meminta ini diajukan pada tanggal itu.”

“Apakah kamu menandatangani surat kuasa?” tanya Salindri.

Arsen terdiam sejenak. “Aku menandatangani banyak dokumen setelah kecelakaan.”

“Termasuk surat kematian istrimu?”

“Aku tidak ingat.”

Kaluna menghela napas pelan. “Kamu nggak ingat lagi.”

Arsen mengangkat wajah. “Saat itu aku hampir tidak tidur. Polisi terus menelepon. Elara menangis setiap malam. Perusahaan juga sedang bermasalah.”

“Aku tidak tanya hidupmu sulit atau tidak.”

Arsen diam.

“Jadi, apa yang kamu mau tahu?”

“Aku cuma ingin tahu kenapa dokumen tentang kematianku tidak benar-benar kamu periksa.”

Arsen mengatupkan rahang. “Aku percaya kepada orang-orang yang mengurusnya.”

“Orang-orang yang juga ngurus pemindahan sahammu itu?”

Arsen menoleh tajam, tetapi Naren tetap berdiri tenang.

“Kami belum tahu siapa yang memindahkannya,” kata Arsen.

“Iya. Makanya sekarang jangan anggap semua yang dulu beres begitu saja.”

Salindri mengambil kembali tabletnya. “Kami akan meminta lampiran surat kuasa dari kantor hukum.”

“Aku ikut,” kata Arsen.

Kaluna langsung menggeleng. “Tidak perlu.”

“Namaku mungkin ada di surat itu.”

“Kalau memang ada, kami akan memberitahumu.”

“Kaluna.”

“Jangan panggil aku begitu. Seolah semuanya masih sama.”

Arsen belum menjawab ketika Kaluna berjalan menuju lift. Naren dan Salindri mengikutinya. Sesaat sebelum pintu menutup, tangan Arsen menahan daun pintu.

“Aku berhak tahu siapa yang memakai namaku,” katanya.

Kaluna menghadapnya. “Aku juga berhak tahu. Tiga tahun, Arsen. Selama itu aku bahkan nggak tahu apa yang terjadi sama hidupku.”

Pintu lift menutup setelah Arsen melepaskan tangannya.

Kantor hukum yang mengajukan surat kematian Kaluna berada tiga blok dari gedung Mahardika Medika. Bangunannya tidak terlalu besar, tetapi tampak mahal. Dinding kaca memenuhi bagian depan, sementara nama kantor terpasang dengan huruf logam di dekat pintu masuk.

Salindri berbicara dengan resepsionis dan menunjukkan surat permintaan dokumen. Mereka diminta menunggu di ruang tamu.

“Kalau mereka menolak?” tanya Kaluna.

“Kita ajukan permintaan resmi melalui pengadilan.”

“Berapa lama?”

“Tergantung seberapa keras mereka mencoba menunda.”

Kaluna bersandar di sofa. Ia tidak menyukai jawaban yang bergantung pada waktu. Tiga tahun hidupnya sudah hilang karena menunggu ingatan kembali.

Sekitar dua puluh menit kemudian, seorang staf membawa mereka ke ruang pertemuan kecil. Seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun sudah menunggu. Kaluna mengenal wajahnya, meskipun lupa namanya.

“Bu Kaluna,” katanya sambil berdiri. “Saya tidak menyangka akan bertemu Anda lagi.”

“Banyak orang mengatakan begitu.”

Lelaki itu memperkenalkan diri sebagai Daryatna, salah satu pengacara senior yang dahulu menangani urusan keluarga Mahardika. Ia mempersilakan mereka duduk, lalu memandang Salindri.

“Saya sudah membaca permintaan Anda. Beberapa dokumen dilindungi kerahasiaan klien.”

“Klien dalam perkara ini adalah keluarga Mahardika,” jawab Salindri. “Kaluna adalah salah satu pihak yang dinyatakan meninggal melalui dokumen tersebut.”

“Saya memahami posisinya.”

“Kalau begitu, berikan lampiran surat kuasanya.”

Daryatna menyatukan kedua tangan di atas meja. “Arsip tiga tahun lalu tidak semuanya berada di kantor ini.”

“Di mana?”

“Sebagian dipindahkan ke penyimpanan eksternal.”

Naren yang duduk di ujung meja bertanya, “Apakah surat kuasa termasuk yang dipindahkan?”

“Saya perlu memeriksa.”

“Berapa lama?” tanya Kaluna.

“Beberapa hari.”

Kaluna menghela napas. “Aneh, ya. Begitu soal kematianku, semua orang selalu butuh waktu.”

Daryatna tampak tidak nyaman. “Saya tidak bermaksud menghambat.”

“Siapa yang meminta kantor ini mengajukan permohonan?”

“Saya tidak bisa menjawab tanpa melihat berkas.”

“Apakah Arsen?”

“Saya sungguh tidak ingat.”

Jawabannya terdengar terlalu mirip dengan Arsen.

Salindri membuka salinan surat yang sudah mereka miliki. “Dokumen ini ditandatangani oleh Anda.”

Daryatna menerima kertas tersebut. “Ya, ini tanda tangan saya.”

“Berarti Anda mengajukannya.”

“Saya mengajukan berdasarkan instruksi klien.”

“Siapa klien yang memberi instruksi?”

Lelaki itu kembali terdiam. Kaluna memperhatikan wajahnya. Daryatna tidak tampak takut. Ia hanya terlalu hati-hati memilih kata.

“Pak Daryatna,” kata Kaluna, “ketika surat ini diajukan, tim pencari masih berada di sungai. Apa Anda tahu?”

“Saya menerima informasi bahwa kemungkinan korban selamat sangat kecil.”

“Aku tanya, waktu surat itu diajukan, Anda tahu tim pencari masih di sungai atau tidak?”

Daryatna mengusap dagunya. “Saya tidak terlibat dalam pencarian.”

“Tapi Anda membantu menyatakan saya mati.”

“Saya menjalankan proses hukum berdasarkan dokumen yang diberikan.”

“Dokumen dari siapa?”

Salindri meletakkan satu lembar kosong di hadapannya. “Kami tidak meminta Anda membuka seluruh komunikasi perusahaan. Cukup beri tahu siapa pemberi kuasa.”

Daryatna memandang lembar itu, lalu mengembalikannya tanpa menulis.

“Saya perlu izin dari klien.”

Naren bersandar. “Kalau harus minta izin dulu ke orang yang sedang kami periksa, ya susah.”

“Saya tidak menyukai tuduhan itu.”

“Kami juga tidak senang sampel DNA itu hilang.”

Daryatna menoleh kepada Naren, tetapi tidak menjawab.

Pertemuan itu berakhir tanpa jawaban. Daryatna berjanji memeriksa arsip dan memberi kabar dalam dua hari.

Begitu keluar dari ruangan, Kaluna berhenti di dekat lorong.

“Dia tahu sesuatu.”

Salindri mengangguk tipis. “Yang jelas, dia nggak lupa sebanyak yang dia bilang.”

“Bisakah kita memaksanya bicara?”

“Belum. Tapi kita bisa mencari jalur lain.”

Mereka sedang berjalan menuju lift ketika seorang perempuan muda keluar dari ruang fotokopi sambil membawa tumpukan map. Saat melewati Salindri, satu lembar kertas terjatuh. Salindri membungkuk untuk mengambilnya, tetapi perempuan itu sudah lebih dulu meraih kertas tersebut.

“Maaf,” katanya cepat.

Kaluna sempat melihat kepala surat di bagian atas. Nama Mahardika Medika tercetak di sana. Perempuan itu segera berjalan menjauh.

Naren memperhatikannya. “Dia tadi kenal kamu, ya?”

Kaluna juga merasa perempuan itu sengaja menghindarinya sejak keluar dari ruangan.

Mereka menunggu sampai pintu lift terbuka. Beberapa detik sebelum masuk, perempuan muda tadi muncul lagi. Kali ini tanpa membawa map. Ia berjalan cepat melewati mereka, lalu menyelipkan sesuatu ke tangan Salindri.

“Jangan buka di sini,” bisiknya.

Ia tidak berhenti. Pintu lift menutup.

Salindri membuka telapak tangannya. Sebuah kertas kecil terlipat berada di sana.

“Apa itu?” tanya Kaluna.

Salindri menunggu sampai lift bergerak turun, lalu membuka lipatannya. Di dalamnya hanya terdapat satu nomor arsip dan sebuah kalimat pendek.

Cari salinan surat kuasa di berkas pembayaran September.

Naren langsung mencatat nomor tersebut.

Salindri memandang Kaluna. “Kalau kantor hukum tidak mau memberikan surat kuasanya, kita cari pembayaran jasanya.”

Mereka kembali ke Mahardika Medika sore itu dengan surat permintaan pemeriksaan transaksi hukum. Salindri menggunakan status sengketa saham untuk meminta akses terbatas terhadap catatan pembayaran.

Bagian keuangan sempat menolak, tetapi setelah hampir satu jam perdebatan, mereka diperbolehkan melihat salinan daftar pengeluaran tanpa mengambil dokumen asli.

Kaluna duduk di depan komputer bersama Salindri. Naren memeriksa nomor arsip dari kertas kecil.

Pembayaran kepada kantor hukum ditemukan pada tanggal tujuh belas September, satu hari sebelum permohonan kematian diajukan.

Tidak tercantum nama Arsen. Kolom pemberi persetujuan hanya memuat kode internal.

“Bisa dilacak?” tanya Kaluna.

Staf keuangan mengangguk ragu. “Kode itu terhubung dengan unit pengaju.”

“Unit mana?”

Perempuan itu mengetik beberapa kali, lalu berhenti dan memeriksa layar lebih lama.

Salindri mendekat. “Tampilkan.”

Layar memperlihatkan data singkat. Permintaan pembayaran tidak berasal dari kantor direktur utama. Bukan pula dari bagian keluarga atau administrasi umum.

Kaluna membaca nama unit yang tercetak di bagian bawah.

Kantor Ketua Dewan.

Naren langsung menoleh kepada Kaluna.

Saat itu Bramasta Mahardika sudah menjabat sebagai ketua dewan. Akan tetapi, nama Bramasta tidak tercantum di bawah kode unit.

Di bawah kode unit itu tercantum nama orang yang memasukkan permintaan.

Revan Daneswara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!