Indonesia
NovelToon NovelToon
Di Balik Topeng Sang Don

Di Balik Topeng Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: LORD KING

Luki Subroto— atau yang lebih dikenal dunia bawah tanah Jakarta sebagai "Tuan L" — adalah pemimpin sindikat paling ditakuti di Asia Tenggara. Di ruang rapat organisasinya, satu kata darinya bisa mengakhiri karier, bahkan nyawa. Di jalanan, namanya cukup diucapkan untuk membuat preman kelas kakap gemetar.

Tapi setiap pukul tujuh malam, pintu kamar bernuansa dinosaurus di lantai tiga penthouse-nya terbuka, dan sosok yang muncul bukan lagi Tuan L. Dialah "Ayah" bagi Indra — putranya yang berusia enam tahun dengan IQ yang bahkan membuat neurolog Singapura terheran-heran.

Indra bukan anak biasa. Di usia enam tahun ia sudah membaca jurnal fisika kuantum untuk hiburan, meretas firewall sekolahnya, dan yang paling berbahaya mulai bertanya-tanya kenapa banyak pria berjas hitam selalu mengawal rumah mereka, dan kenapa ada folder terenkripsi bernama "Operasi Elang" di laptop ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LORD KING, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng terlepas

Markas utama organisasi Subroto belum pernah seramai ini di tengah malam. Setiap orang yang bekerja untuk Luki — dari pengawal tingkat rendah hingga kepala divisi paling senior — dipanggil dalam satu jam setelah kejadian di karnaval, semuanya berkumpul di ruangan besar yang biasa digunakan untuk rapat rutin, kini berubah menjadi pusat komando darurat.

Luki berdiri di depan mereka semua, dan orang-orang yang sudah bertahun-tahun mengenalnya sebagai Tuan L yang dingin dan terkendali kini menyaksikan sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya — kemarahan murni yang tidak lagi disaring oleh perhitungan atau strategi, melainkan meledak dalam bentuk paling mentahnya.

"Aku ingin setiap orang yang pernah bekerja untuk Antasena diperiksa ulang," katanya, suaranya rendah tapi menggema ke seluruh ruangan dengan intensitas yang membuat bahkan orang-orang paling berpengalaman sekalipun berdiri lebih tegak. "Aku ingin setiap rekening, setiap properti, setiap kendaraan yang pernah tersentuh olehnya. Aku ingin tahu di mana ia sarapan pagi ini, di mana ia akan tidur malam ini, dan di mana ia akan berdiri besok pagi sebelum ia sendiri memutuskannya."

Bram berdiri di sampingnya, wajahnya sama kerasnya, meski di balik ketegasan itu tersimpan kekhawatiran mendalam akan keadaan atasannya — ia belum pernah melihat Luki seperti ini, bahkan di malam paling gelap sekalipun sepanjang sepuluh tahun mereka bekerja bersama.

"Tuan," kata salah satu kepala divisi, suaranya ragu, "kalau kita bergerak seagresif ini, kita akan memicu perang penuh dengan organisasi Antasena. Korban di kedua belah pihak bisa—"

"Aku tidak peduli soal korban," potong Luki, suaranya kini penuh dengan sesuatu yang jauh lebih dingin dan lebih berbahaya dari kemarahan biasa. "Aku tidak peduli soal wilayah, soal aliansi, soal apa pun yang kalian pikir penting dalam bisnis ini. Ada satu hal, dan hanya satu hal, yang penting bagiku sekarang: anakku kembali, hidup dan utuh. Siapa pun yang menghalangi itu akan menghadapi konsekuensi yang tidak akan mereka lupakan seumur hidup mereka — jika mereka masih hidup cukup lama untuk mengingatnya."

Ruangan itu hening total. Tidak ada satu pun yang berani membantah lebih jauh.

"Bram," lanjut Luki, "kumpulkan tim serangan. Kita mulai dengan gudang pelabuhan tiga, tempat kita tahu dia beroperasi. Kita hancurkan setiap jalur distribusinya malam ini juga."

"Baik, Tuan."

Saat orang-orang mulai bergerak, menjalankan perintah dengan kecepatan yang jarang sekali mereka tunjukkan bahkan dalam operasi paling mendesak sekalipun, Alena berdiri di sudut ruangan, menyaksikan semuanya dengan campuran rasa takut dan kekaguman yang membingungkan dirinya sendiri.

Ini bukan Luki yang selama ini ia kenal — bukan ayah yang lembut membacakan dongeng, bukan pria yang pernah gemetar menggenggam tangannya di ruang kerja beberapa hari lalu. Ini adalah Tuan L sepenuhnya, tanpa topeng, tanpa filter, dan Alena melihat langsung betapa menakutkannya pria yang ia cintai bisa menjadi menakutkan ketika sesuatu yang paling berharga baginya terancam.

"Luki," katanya, mendekat setelah sebagian besar orang sudah pergi menjalankan perintah, meninggalkan mereka berdua dalam ruangan yang kini terasa jauh lebih sepi dari sebelumnya. "Aku tahu kamu marah. Aku tahu kamu takut. Tapi kalau kamu bergerak seperti ini, tanpa perhitungan, tanpa strategi — bagaimana kalau itu justru membahayakan Indra lebih jauh?"

Luki berbalik menatapnya, dan untuk sesaat, Alena melihat kilatan kemarahan di matanya yang hampir membuatnya mundur — bukan kemarahan pada dirinya, tapi kemarahan yang begitu besar sehingga hampir tidak terkendali, mencari arah mana pun untuk meledak.

"Kamu ingin aku bagaimana, Alena?" suaranya keras, hampir berteriak, sesuatu yang belum pernah ia lakukan pada Alena sebelumnya. "Duduk diam? Menunggu Antasena mengirim tuntutan tebusan seolah ini hanya soal uang? Kamu tidak mengerti dunia ini. Kamu tidak mengerti apa yang harus kulakukan untuk membawanya pulang."

"Aku mengerti kamu takut," jawab Alena, tetap tenang meski suaranya sendiri mulai bergetar. "Tapi ketakutan yang tidak terkendali membuat orang membuat kesalahan fatal, Luki. Kamu butuh strategi, bukan hanya kemarahan."

"Strategi?" Luki tertawa pahit, suara yang jauh dari kehangatan yang biasa ia tunjukkan pada Alena. "Kamu pikir aku belum berstrategi selama sepuluh tahun terakhir? Kamu pikir kerajaan ini dibangun dari kemarahan semata? Aku tahu persis apa yang harus kulakukan, dan aku tidak butuh psikolog untuk memberitahuku bagaimana caranya melindungi anakku sendiri."

Kata-kata itu menghantam Alena lebih keras dari yang dimaksudkan Luki, dan untuk sesaat, ruangan itu dipenuhi keheningan yang menyakitkan, keduanya menyadari bahwa kata-kata yang baru saja diucapkan telah menorehkan luka yang tidak sepenuhnya bisa ditarik kembali.

Luki menyadari kesalahannya hampir seketika, wajahnya melunak, tangannya bergerak mendekati Alena. "Alena, aku—"

"Nggak apa-apa," potong Alena, meski matanya berkaca-kaca. "Kamu benar. Ini bukan waktunya untuk aku mengajarimu bagaimana caranya jadi ayah, atau bagaimana caranya menjalankan duniamu. Aku di sini bukan untuk itu. Aku di sini karena aku peduli pada Indra, dan aku peduli padamu, dan aku hanya ingin kalian berdua selamat."

Luki menatapnya lama, kemarahannya perlahan mereda digantikan oleh rasa bersalah yang mendalam. "Maaf," katanya, suaranya kini jauh lebih lembut. "Aku tidak seharusnya bicara begitu padamu. Kamu satu-satunya orang yang benar-benar peduli, dan aku baru saja—"

"Aku tahu," jawab Alena, mendekat, meraih tangannya. "Aku tahu kamu takut. Aku juga takut. Tapi kita harus menghadapi ini bersama, bukan saling menyalahkan atau saling mendorong menjauh."

Luki mengangguk, menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kembali kendali yang sempat hilang sepenuhnya. "Kamu benar," katanya akhirnya. "Aku butuh kepala dingin untuk ini, bukan hanya kemarahan."

"Aku akan membantu dengan caraku," kata Alena tegas. "Aku mengenal cara berpikir Indra lebih baik dari siapa pun selain kamu. Kalau dia disandera, dia tidak akan diam saja. Dia akan mencoba mencari cara untuk membantu dirinya sendiri, dengan caranya sendiri. Kita perlu memikirkan bagaimana caranya menemukan dia berdasarkan cara dia akan berpikir, bukan hanya berdasarkan lokasi fisik Antasena."

Sejak berita penculikan itu tiba, sesuatu yang menyerupai harapan mulai muncul di wajah Luki, menyadari bahwa mungkin — hanya mungkin — jalan keluar dari mimpi buruk ini tidak hanya terletak pada kekuatan dan kekerasan, tapi juga pada kecerdasan anaknya sendiri, yang bahkan di tengah ketakutan sekalipun, tidak akan pernah berhenti berpikir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!