Dia bukan siapa-siapa di keluarganya sendiri. Dihina, dipukul, dan dianggap sampah oleh adik kandungnya sendiri, Su Yu hanya punya satu harga diri tersisa: kepatuhan. Ketika ia diperintahkan masuk ke Hutan Kelabu yang mematikan untuk mencari Tanduk Rusa Malam, ia tidak punya pilihan selain menurut.
Namun di dalam hutan, ia menyaksikan pertarungan antara dua makhluk dahsyat yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Ketika seorang peri cantik terjatuh tak berdaya di hadapannya, Su Yu dihadapkan pada pilihan sederhana: pergi menyelamatkan diri, atau mempertaruhkan nyawanya untuk orang asing.
Ia memilih yang kedua.
Tanpa disadarinya, satu tindakan kecil itu akan mengubah takdirnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Lorong Dimensi
Su Yu terus berjalan ke arah selatan bersama Xioutian yang sesekali terbang rendah di sampingnya. Sepanjang perjalanan, pikirannya tidak lepas dari pedang hijau milik Tetua Keempat. Senjata itu seharusnya masih berada di dekat jurang, terpisah saat tubuhnya terlempar oleh serangan gabungan. Padahal ia sudah berniat memakainya kelak untuk memenggal kepala pemiliknya sendiri.
"Sayang sekali," gumamnya pelan tanpa menghentikan langkah.
Xioutian yang terbang tidak jauh dari bahunya menoleh. "Tuan, sejak tadi kau sibuk dengan pikiranmu sendiri. Apa yang sebenarnya kau sesali?"
Su Yu tidak langsung menanggapi. Ia menyibak dahan yang menghalangi jalan, lalu melompati akar besar yang melintang di tanah.
"Bukan urusanmu."
"Hmp." Burung kecil itu mendengus. "Kita sudah hampir satu hari saling mengenal. Bukankah seharusnya kita mulai memperkenalkan diri masing-masing?"
Su Yu menatap Xioutian sekilas, lalu kembali memfokuskan pandangannya ke depan.
"Tidak perlu. Kita bisa saling memahami seiring perjalanan nanti."
Xioutian mengepakkan sayapnya lebih cepat agar sejajar dengan bahu tuannya. "Kau terlalu tertutup, Tuan. Aku ini burung kontrakmu. Apa susahnya bercerita sedikit saja?"
Su Yu tersenyum tipis, tetapi tidak memberi jawaban apa pun. Percakapan itu berhenti di sana, dan keduanya melanjutkan perjalanan tanpa suara selain desau angin yang menerpa dedaunan.
Dua hari berikutnya mereka habiskan dengan berjalan kaki. Malam digunakan untuk beristirahat di bawah pohon atau di celah batu, sementara pagi hingga sore dipakai untuk menembus hutan yang semakin jarang dilalui manusia.
Xioutian beberapa kali menangkap hewan kecil untuk makan malam, sementara Su Yu bertugas menyalakan api dengan energi spiritualnya.
Siang ini, mereka tiba di area terbuka berbatu di tengah hutan.
Pemandangannya berubah drastis. Pepohonan besar menghilang, digantikan hamparan batu abu-abu yang terbentang luas di antara tebing-tebing rendah.
Puluhan pendekar besi tahap menengah sudah lebih dulu berkumpul di sana, membentuk kelompok-kelompok kecil yang saling berjaga jarak.
"Ini kesempatan langka," ucap salah satu dari mereka kepada temannya. "Sekte Serigala Putih dan Sekte Singa Perak akan datang sebentar lagi. Mereka bilang tempat ini menyimpan lorong dimensi menuju suatu wilayah tersembunyi."
Pendekar di sebelahnya mengangguk cepat. "Aku dengar lorong itu baru ditemukan seminggu yang lalu. Kalau bukan karena kedua sekte itu, tidak mungkin kabar ini tersebar."
Su Yu memperlambat langkahnya. Ia menepuk bahu Xioutian pelan, memberi isyarat agar burung itu bersembunyi di balik tudung jubahnya. Xioutian paham dan langsung masuk ke dalam kerah pakaian tuannya.
"Xioutian, bagaimana pendapatmu?" tanya Su Yu lirih.
Xioutian menjulurkan kepalanya sedikit dari kerah jubah. "Kita tunggu saja di sini. Tapi kalau benar ada lorong dimensi dan tuan memutuskan untuk masuk... berhati-hatilah. Wilayah tersembunyi sering menjanjikan banyak peluang, tetapi bahaya yang mengintai di dalamnya juga sebanding."
Su Yu mengangguk kemudian memilih berdiri di sisi luar kerumunan, dekat tebing rendah yang memberinya pandangan luas ke seluruh area. Kedua tangannya masuk ke dalam lengan jubah, sementara matanya mengamati gerak-gerik para pendekar di hadapannya.
Tidak lama kemudian, getaran halus menyebar dari dalam tanah. Batu-batu kecil bergetar di tempatnya, sementara udara tiba-tiba terasa lebih berat. Su Yu menoleh ke arah barat dan melihat dua kelompok besar tiba hampir bersamaan.
Kelompok pertama berjumlah dua puluh orang. Mengenakan jubah putih berhiaskan gambar kepala serigala di dada kiri. Mereka berbaris rapi, dipimpin oleh pria berwajah dingin dengan pedang melengkung tergantung di pinggang.
Kelompok kedua berjumlah tiga puluh orang. mereka mengenakan pakaian perak dengan lambang singa di punggung. Pemimpinnya bertubuh jangkung, membawa tombak pendek bersarung emas di punggung.
"Serigala Putih dan Singa Perak..." bisik salah satu pendekar di dekat Su Yu. "Mereka benar-benar datang."
Su Yu masih memperhatikan dari tempatnya. Kedua kelompok itu berhenti di tengah area, tepat di atas permukaan batu yang retak-retak membentuk pola melingkar.
Pria dari Serigala Putih mengangkat satu tangan, lalu menjatuhkannya ke bawah.
"Cepat buka."
Beberapa anak buahnya bergerak cepat membentuk lingkaran mengelilingi retakan tersebut. Masing-masing mengeluarkan batu putih yang mereka tanam di titik tertentu. Begitu batu terakhir tertanam, cahaya putih menyembur dari dalam tanah dan membentuk gerbang melengkung setinggi tiga zhang.
Terlihat pusaran energi warna putih ditengah gerbang yang berputar perlahan. Energi spiritual di sekitar area itu langsung berputar pelan, menciptakan pusaran yang menyedot udara dari luar
Suasana menjadi riuh. Banyak pendekar yang maju beberapa langkah, tidak sabar untuk masuk.
Pemimpin Singa Perak mengangkat tombaknya sembari menatap ke arah kerumunan pendekar.
"Kami akan masuk lebih dulu. Kalian semua boleh mengikuti di belakang, tapi jangan ada yang berani saling serang sebelum melewati gerbang. Urusan di dalam, biarkan hukum rimba yang menentukan."
"Baik tuan!" jawab para pendekar serentak.
Setelah jawaban itu, kelompok sekte serigala putih dan sekte singa perak masuk bersamaan ke dalam pusaran energi.
Ketika dua kelompok besar menghilang sepenuhnya, para pendekar pun mulai bergerak menuju gerbang itu dengan langkah tenang.
Su Yu menoleh kepada Xioutian yang masih bersembunyi di balik kerah jubahnya.
"Kita ikuti mereka."
Xioutian menatapnya tajam.
"Tuan yakin?"
Su Yu menarik tudungnya lebih rendah, menutupi sebagian besar wajahnya. "Peluang seperti ini tidak datang dua kali. Aku juga penasaran dengan apa isi dibaliknya."
"Huh, baiklah."
Mereka mulai bergerak mengikuti kerumunan. Su Yu langsung mengambil posisi di tengah-tengah para pendekar. Tubuhnya tegang, tetapi langkahnya tetap tenang, seperti pendekar biasa yang ikut terbawa arus.
Beberapa meter di belakangnya, seorang wanita muda mengenakan jubah biru dengan tudung separuh terbuka menatapnya. Wajahnya tidak menunjukkan ketertarikan berlebihan, tetapi matanya selalu mengikuti punggung Su Yu.
biasanya novel karyamu selalu mendapatkan atensi yang banyak🤔🤔🤔