Alya adalah Ratu mafia yang memimpin sebuah organisasi Order Tabir Hitam dengan nama First Order.
Tapi sayangnya ia mencintai pria kantor biasa saat ia sering menjelajahi tempat yang akan menjadi misinya.
Dan saat itulah ia memutuskan untuk keluar dari dunia hitam dan membuang mahkotanya ke dalam lumpur demi bisa menjalani hidup bahagia bersama sang suami.
Sayangnya pernikahan itu tidak berlangsung lama, mertua tidak menyukainya, dan suaminya menikah dengan manager di tempat kerjanya.
Pembalasan di mulai, Alya kembali mengambil mahkotanya dan menjadi Ratu Mafia kembali dan membawa putri kecilnya menjadi orang ternama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Di belakangnya, sirene mobil-mobil hitam milik jaringan Leon terdengar mendekat dari kejauhan, siap membereskan sisa-sisa reruntuhan Black Cobra sebelum fajar menyingsing.
Alya tak menoleh lagi. Ia melangkah masuk ke dalam mobil SUV-nya, menyalakan mesin, dan langsung menancap gas menuju rumah Lastri.
...*********...
Jam 05.30 Pagi
Dapur Rumah Bibi Lastri
Bau mentega cair dan adonan manis memenuhi ruangan dapur yang hangat.
Sinar matahari pagi menerobos masuk lewat celah jendela, memantul di atas piring porselen putih tempat empat tumpuk pancake hangat bertabur sirup murni dan potongan stroberi tersaji rapi.
Alya berdiri di depan kompor, membalik pancake terakhir dengan terampil. Jaket kulit hitam, bau mesiu, dan tatapan dingin bak iblis semalam telah menguap tanpa sisa.
Kini, yang berdiri di sana hanyalah seorang ibu dengan celemek merah muda, rambut dicepol asal, dan senyum yang teramat lembut.
Langkah kaki mungil yang terseret-seret terdengar mendekat dari arah kamar tidur.
"Mama...?" cicit Alisya pelan sambil memeluk boneka kelincinya dengan mata yang masih setengah terpejam.
Alya berbalik seketika, berlutut di lantai dapur yang dingin dan merentangkan kedua tangannya.
"Selamat pagi, Putri Cantik Mama," panggil Alya hangat.
Alisya langsung berlari kecil dan menghambur ke dalam dekapan Alya. Alya memeluk tubuh mungil itu erat-erat, menghirup aroma minyak telon dan bedak bayi khas Alisya—sebuah penawar racun alami yang langsung menyapu habis rasa lelah dan sisa ketegangan dari pertempuran semalam.
"Mama pulangnya kapan? Alisya semalam nungguin..." bisik Alisya sambil menyandarkan kepala di bahu Alya.
"Mama pulang subuh tadi, Sayang. Kan Mama udah janji, pas Alisya bangun, pancake-nya sudah siap," kata Alya lembut sambil mengecup kedua pipi gembil putrinya.
Mata Alisya langsung berbinar begitu melihat tumpukan pancake di meja makan. "Wah! Ada stroberinya!"
"Ayo cuci tangan dulu, habis itu kita sarapan bareng," senyum Alya.
Setelah selesai mereka makan, Alya membuka pintu mobil.
"Eh Mama, ini mobil siapa?" tanya Alisya penasaran.
"Mobil kita dong," kata Alya.
"Ha? Masa?" tanya Alisya tak percaya.
"Ha ha ha, mama bercanda, ini mobil Tante Lastri. Ayo masuk sayang, nanti terlambat," kata Alya tersenyum.
Sebenarnya itu adalah mobil miliknya, tapi untuk sekarang, ia tidak bisa berkata apa pun, karena ia hanya ingin mengajarkan Alisya artinya kesederhanaan.
Jam 08.00 Pagi
Suasana di depan gerbang TK pagi itu tampak sedikit berbeda. Tidak ada lagi mobil mewah milik keluarga Gunawan yang biasanya parkir sembarangan.
Tidak ada pula Ranti atau Andi yang berdiri angkuh menatap para orang tua murid lainnya.
"Alisya!" panggil Bu Ratna ramah dari dalam gerbang sekolah.
Alisya mendongak menatap ibunya. "Mama, Alisya masuk kelas dulu ya!"
"Iya, Sayang. Nanti sore Mama yang jemput lagi ya. Belajar yang rajin," pesan Alya sambil merapikan kerah seragam Alisya.
"Dah Mama!" Alisya mencium punggung tangan Alya dengan penuh hormat, lalu berlari riang menembus gerbang sekolah.
Alya memperhatikan punggung mungil putrinya hingga menghilang di balik pintu kelas.
Di saat yang sama, ponsel di saku celananya bergetar pelan. Alya merogohnya dan membaca pesan singkat dari Leon:
[Leon]: Madam, Andi dan Ranti sudah dipastikan kehilangan seluruh aset dan hak asuh hukum secara permanen. Organisasi Black Cobra di kota ini telah dibubarkan sepenuhnya. Kota ini sepenuhnya aman untuk Putri Alisya.
Alya mengusap layar ponselnya, mematikan layar, lalu menyunggingkan senyuman tipis.
"Terima kasih, Leon," gumam Alya pelan pada angin pagi.
Alya menghela nafas, akhirnya ia bisa menyingkirkan orang yang paling ia cintai dulunya, adalah orang yang paling ia benci di seluruh hidupnya.