Indonesia
NovelToon NovelToon
The Lazy Emperor: Rise Of The Undying Demon King

The Lazy Emperor: Rise Of The Undying Demon King

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: BAGERAAA

Kaisar Iyan: Kebangkitan Raja Iblis Abadi

Kaisar Iyan hanyalah seorang pemuda pemalas yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur dan menghindari masalah.

Namun suatu hari, ia terbangun di dunia yang sama sekali berbeda.

Tanpa mengetahui bagaimana dirinya bisa sampai di sana, Iyan menemukan bahwa tubuhnya memiliki kemampuan yang tidak pernah dimiliki manusia biasa.

Ia dapat menciptakan clone dirinya sendiri.

Ia dapat memanggil pahlawan dan monster dari dunia lain.

Ia bahkan mampu membangkitkan mayat dan tulang menjadi pasukan undead yang tidak mengenal kematian.

Namun kemampuan paling mengerikan yang dimilikinya adalah sebuah kekuatan yang memungkinkan pasukannya bangkit kembali setiap kali terbunuh—selama mana miliknya masih tersisa.

Awalnya, Iyan hanya ingin hidup tenang.

Sayangnya, dunia baru ini tidak memberinya kesempatan.

Perang, kerajaan, bangsawan, monster, pahlawan, dan pengkhianatan perlahan menyeretnya ke dalam konflik yang jauh lebih besar.

Sampai akhir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENTENG KETIGA

Saat terus menelusuri terowongan, kami akhirnya menemukan sebuah pintu gerbang besar di depan sana. Cikipi mulai memberi tahu tuannya bahwa gerbang tersebut terbuat dari batu yang sangat kuat sehingga akan sulit untuk dihancurkan.

Namun, sebelum Cikipi menjelaskan lebih lanjut, tiba-tiba Doroti menghantamkan pedang baru yang kuberikan kepadanya ke arah tembok.

DUARRRRR!

Aura hitam pekat keluar dari pedang tersebut. Hanya dengan satu tebasan, gerbang batu yang begitu kokoh itu langsung hancur seketika.

Aku dan Cikipi hanya bisa menganga. Kami benar-benar tidak menyangka pedang itu memiliki kekuatan sebesar ini.

Doroti kemudian menyindir Cikipi.

"Jangan pernah meremehkan barang yang diberikan Tuan kepadamu. Lagipula, Tuan tidak mungkin memberikan barang berharga seperti ini kepada kita tanpa alasan."

Aku yang mendengar perkataan Doroti hanya terdiam. Aku kemudian bergumam dalam hati.

"Apa jangan-jangan ini memang hadiah untuk mereka? Aku sendiri tidak menyangka pedang itu bisa sekuat ini."

Namun, sebelum kami sempat berbicara lebih jauh, tiba-tiba gerombolan Goblin dan Ogre muncul dari balik gerbang yang telah dihancurkan.

Suara geraman para monster terdengar jelas menggema di dalam terowongan.

Aku, Cikipi, dan Doroti langsung terkejut melihat jumlah mereka yang begitu banyak.

Cikipi kemudian berkata,

"Tuan, jumlah mereka diperkirakan mencapai seribu ekor."

Aku hanya bisa bergumam dalam hati.

"Astaga... ini tidak masuk akal. Mana mungkin tiga orang melawan seribu gerombolan Goblin dan Ogre?"

Tanpa menunggu lebih lama, para Goblin dan Ogre langsung menyerang.

Cikipi segera merapalkan mantranya dan memanggil ribuan tikus untuk bergabung dalam pertempuran. Dalam sekejap, gerombolan tikus memenuhi terowongan dan menyerbu para monster.

Sementara itu, Doroti berlari maju dengan kecepatan tinggi.

Ia mengayunkan pedang panjangnya.

CRAKK!

Kepala seekor Ogre langsung terpenggal hanya dengan satu tebasan. Tubuh Ogre itu pun jatuh tanpa sempat beregenerasi.

Bahkan dengan satu ayunan pedang, Doroti mampu melemparkan puluhan Goblin dan Ogre sekaligus.

Aku yang melihatnya hanya bisa bergumam.

"Hmm... apa boleh buat."

Aku mulai mencabut pedangku dari sarungnya.

Saat pedang itu keluar, tiba-tiba aku merasakan sesuatu mendidih dari dalam tubuhku. Perasaan itu... aneh, tetapi sangat menyenangkan.

Aura hitam pekat mulai muncul dari tubuhku.

Cikipi yang berdiri di sampingku bahkan sampai merinding melihat aura tersebut.

Namun, ia tetap fokus mengomandoi ribuan tikusnya.

Aku pun mulai berlari ke arah musuh.

SRAKK!

Satu Goblin tertebas.

SRAKK!

Goblin lainnya jatuh.

Aku terus menebas mereka satu per satu.

Setiap kali pedangku mengenai tubuh musuh, aku merasakan sesuatu seperti jiwa mereka terserap ke dalam tubuhku.

"Apa ini...?"

Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Namun, entah kenapa, semakin banyak musuh yang kutebas, semakin kuat pula perasaan menyenangkan itu.

Benteng Ketiga

Di sisi lain, Josep dan pasukannya mulai menyelinap masuk melalui gerbang belakang Benteng Ketiga.

Mereka bergerak dengan hati-hati, membunuh satu per satu Goblin yang berjaga di dalam gerbang.

Sementara itu, di luar benteng, Bob dan pasukan lainnya telah bersiap untuk menyerang begitu gerbang berhasil dibuka.

Beberapa jam kemudian, akhirnya gerbang tersebut terbuka.

Josep berhasil membuka pintu dari dalam.

Bob yang melihatnya langsung mengangkat kapaknya.

"Huaaaaaaa! Seranggggg!"

Teriakannya menggema di tengah malam.

Pasukan langsung berlari memasuki benteng dan membantai para Goblin yang berjaga.

Bahkan para Goblin yang berada di atas tembok tidak sempat memberikan perlawanan. Hujan anak panah sudah lebih dahulu menancap di kepala mereka.

Pasukan Josep dan Bob terus maju dan membantai para Goblin yang tersisa.

Namun, pertempuran itu juga memakan banyak korban.

Prajurit cadangan yang dibawa Josep pun tidak luput dari kematian.

Tiba-tiba, Josep melihat salah satu prajuritnya dihantam oleh seekor Ogre yang muncul dari arah kastil.

DUAKKKK!

Hantaman keras itu menghantam garis depan pasukan.

Puluhan prajurit langsung tewas dalam sekejap.

Josep yang melihat kejadian itu menjadi sangat geram.

Namun, sebelum ia sempat bertindak, kapak milik Bob sudah melayang ke arah kepala Ogre tersebut.

CRIAKKK!

Kepala Ogre itu hancur terkena kapak Bob.

Josep kemudian melihat ke samping.

Dari sana, muncul puluhan Ogre lainnya.

Jumlahnya sekitar dua puluh tujuh ekor, disertai ratusan Goblin.

Pasukan Josep mulai kewalahan menghadapi jumlah musuh yang begitu banyak.

Namun, tiba-tiba beberapa ekor beruang muncul dan langsung mencabik-cabik para Ogre.

Josep terkejut melihat sebelas beruang cokelat bergabung dalam pertempuran.

Beruang-beruang itu menerjang para Ogre dan Goblin dengan brutal.

GRRAAAAH!

Tubuh para Goblin terlempar tanpa arah.

Josep kemudian melihat ke kejauhan.

Di atas atap sebuah gedung, Kael berdiri sambil melambaikan tangannya.

Di sampingnya berdiri Kaela.

Kaela kemudian merapalkan mantranya.

Tiba-tiba, akar-akar berduri muncul dari dalam tanah.

SRAKKK!

Akar-akar tersebut menusuk dan mencabik-cabik tubuh para Ogre dan Goblin.

Bahkan Serof dan pasukan kavalerinya berhasil menghancurkan gerbang depan Benteng Ketiga dengan mudah.

Pasukan Kekaisaran yang dibawa Serof langsung memasuki benteng dan membantai para Goblin yang tersisa.

Namun, tiba-tiba muncul sosok besar di antara gerombolan monster.

Seorang Raja Goblin.

Bersamanya terdapat puluhan Ogre.

Josep dan Serof langsung terkejut.

"HAAAAAAAAAA!"

Raja Goblin itu mengeluarkan teriakan mengerikan.

Tubuhnya jauh lebih besar dibandingkan Goblin pada umumnya. Ia mengenakan sebuah mahkota di kepalanya dan menggenggam pedang besar di tangannya.

Dengan brutal, ia mencengkeram kepala seorang prajurit dan menghancurkannya begitu saja.

Melihat hal itu, Serof dan Josep langsung menyerang ke arahnya.

Namun, serangan mereka terhalang oleh gerombolan Ogre.

Tiba-tiba, sebuah gada besar berduri melayang ke arah mereka berdua.

DUAMMM!

Serof dan Josep berhasil menahannya menggunakan pedang mereka.

Namun, kekuatan serangan tersebut begitu besar.

Keduanya langsung terlempar jauh.

Josep bahkan menghantam barisan prajuritnya, sementara Serof terlempar dan menghantam dinding hingga retak.

Serangan itu hampir saja membuat mereka berdua tewas.

Namun, berkat fisik mereka yang jauh lebih kuat dibandingkan manusia biasa, keduanya masih mampu berdiri.

Sayangnya, sebelum mereka kembali maju, segerombolan beruang mulai menyerang para Ogre.

Bob juga ikut maju dan menghadapi gerombolan Ogre.

Para beruang dan Bob pun dibuat sibuk menghadapi serangan para Ogre.

Serof dan Josep sudah tidak sanggup lagi mengangkat pedang mereka.

Tiba-tiba, Raja Goblin melesat dengan cepat ke hadapan Josep.

Pedang besarnya langsung diarahkan ke tubuh Josep.

Pada detik-detik terakhir, Josep hanya bisa berpikir bahwa dirinya akan mati di tempat itu.

Namun—

SRAKKK!

Tiba-tiba, akar berduri menebas tangan Raja Goblin hingga putus.

Josep mengeluarkan keringat dingin.

Kematian yang sudah berada di depan matanya akhirnya tertunda.

Ia juga terkejut melihat Raja Goblin berteriak kesakitan akibat tangannya yang tiba-tiba terpotong.

Josep kemudian melihat ke samping.

Kael dan Kaela berjalan lurus ke depan.

Kaela terus menciptakan jalan menggunakan akar-akar berduri.

Setiap Goblin yang mencoba menyerang mereka berdua bahkan tidak sempat menyentuh tubuh mereka.

SRAKK!

Akar-akar berduri lebih dahulu mengoyak tubuh para Goblin yang mencoba mendekat.

Raja Goblin yang melihat situasi itu segera mengambil pedangnya yang terjatuh menggunakan tangan yang tersisa.

Kemudian ia mulai melarikan diri ke dalam kastil.

Namun, begitu Raja Goblin memasuki kastil—

SRAKK!

Kepalanya tiba-tiba terpenggal dan terlempar keluar dari dalam kastil.

Josep, Serof, dan seluruh pasukan terkejut melihat kepala Raja Goblin jatuh di hadapan mereka.

Mereka tidak tahu siapa yang telah membunuhnya.

Beberapa saat kemudian, dari dalam kastil, aku akhirnya keluar bersama Doroti dan Cikipi.

Tubuhku penuh dengan darah.

Pertempuran di dalam terowongan akhirnya selesai.

Aku sendiri tidak menyangka bahwa ujung terowongan tersebut ternyata berada tepat di bawah kastil Benteng Ketiga.

Josep dan Serof benar-benar terkejut ketika melihatku bersama seorang perempuan cantik dan seekor tikus besar yang mengenakan jas.

Mereka tampak sangat kebingungan.

Bagaimana mungkin aku bisa sampai berada di dalam kastil?

Bukankah sebelumnya aku mengatakan bahwa aku tidak akan ikut serta dalam perang ini?

Beberapa jam kemudian, pembantaian Goblin akhirnya selesai.

Benteng Ketiga berhasil direbut.

Aku melihat ke sekeliling.

Mayat para prajurit, Goblin, dan Ogre berserakan di mana-mana.

Aku menghela napas panjang.

"Hufff... akhirnya selesai juga."

Namun, ketika melihat begitu banyak mayat yang berserakan, mataku justru berbinar.

"Wah... mayat-mayat baru nih."

Aku kemudian melihat Josep dan Serof yang berdiri sambil dibantu oleh para prajurit mereka.

Aku berjalan menghampiri mereka.

"Kerja bagus."

Mendengar perkataanku, Josep dan Serof hanya terdiam sesaat.

Kemudian—

"HUAAAAAA!"

Mereka bersorak penuh kegembiraan.

Kemenangan besar akhirnya berhasil diraih hari ini.

Perang yang begitu sengit itu bahkan selesai hanya dalam waktu satu hari.

Beberapa prajurit akhirnya menjatuhkan pedang mereka dan bersujud.

Sebagian lainnya langsung berbaring di tanah karena kelelahan.

Ada yang menangis karena merasa berhasil lolos dari kematian.

Namun, ada juga yang menangis karena kehilangan teman dan keluarganya dalam pertempuran.

Malam itu, Benteng Ketiga akhirnya jatuh ke tangan Kekaisaran.

Dan perang yang memakan begitu banyak nyawa pun berakhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!