Aku menikahi dia, tapi justru pamannya yang membuatku kehilangan akal. Setiap kali pria itu menatapku, ada bara yang tak bisa kupadamkan. Di mata keluarga, pria itu hanyalah paman dari suamiku. Di hatiku, dia adalah pria yang tak pernah boleh kusentuh. Namun, semakin aku menghindar, semakin dekat dia datang, membawa bisikan-bisikan yang memecah pertahananku. Bagaimana jika cinta ini terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENDADAK CUTI
"Siapa?" tanya Seline sambil berdiri dan meletakan piring kotor ke wastafel.
"Riana! Dia sedang membuat keributan di bagian ibu dan anak. Bisa datang ke sini tidak?"
"Dokter yang biasa menangani dia, apakah tidak ada?" tanya Seline lagi.
"Tidak ada, mendadak cuti!" jelas Lin Yue.
"Apakah darurat?"
"Tidak, hanya saja dia membuat drama di sini. Asistenmu sampai menangis dibuatnya. Aku pun tidak dapat menanganinya. Karena aku bukan dokter kandungan. Jika saja iya, sudah pasti aku akan menyeretnya ke dalam ruang pemeriksaan." Jelas Lin Yue panjang lebar.
Seline terdiam sesaat, berpikir bahwa semua harus diperjelas maka dia pun memutuskan untuk datang ke Rumah Sakit. Setelah berganti pakaian, dia pun langsung melajukan mobilnya ke Rumah sakit.
Sesampainya dia sana, benar saja Riana tidak ada berhentinya membuat drama Playing Victim. Seline langsung bersedekap tenang, dia pun berkata "Aku ada disini, berhenti melampiaskan kepada mereka!"
Asisten Seline yang sedari tadi dibuat menangis, langsung berdiri di samping dokter kesayangannya itu. Sambil memegang lengannya. Seline menepuk tangan asistennya itu. "Jangan takut, aku sudah datang!"
Asisten itu mengangguk, lalu membawanya kepada Riana. "Dia adalah pasien yang sangat sulit ditangani!"
"Selama itu bukan hantu, seharusnya kita bisa menanganinya!" Kata Seline seraya memakai jas putih panjangnya.
Asistennya itu berkata lagi, "Kali ini aku lebih memiliih menangani Hantu dari pada pasien yang ini!"
"Hush!" kata seline yang dijawab olwh tawa oleh asistennya itu.
"Jadi mana pasien yang telah menggagalkan waktu cutiku?" Katanya sambil melihat kepada Riana yang sedang duduk bersama ibu-ibu hamil yang lain.
Namun, anehnya malah Seline yang mendapatkan tatapan aneh dari para ibu hamil. Terasa seperti tatapan kebencian.
Riana berdiri, berjalan pelan sedikit tertatih. Wajahnya memang terlihat sedikit pucat. "Mengapa datang lama sekali, sengaja ya?"
Seline diam tidak menjawab, dia memapah Riana Si Selingkuhan masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Riana dibaringkan diranjang periksa.
Tiba-tiba saja Riana beteriak, padahal seline tadi hanya memberi infus agar Riana tidak terlalu lemah.
"Ada apa... kau kenapa?" kata Seline seraya mengambil berkas laporan pemeriksaan Riana di meja. Mempelajari pemeriksaan terakhir Riana. Memastikan tidak ada alergi obat.
Asisten Seline ikut masuk, "Ada apa ini?" katanya sambil memegang tubuh Riana yang mulai meronta karena kesakitan.
Rasa sakit yang mendera Riana, datang seperti gelombang yang tidak memberinya kesempatan untuk bernapas.
Dia sampai meringkuk di atas ranjang, kedua tangannya mencengkeram seprai dengan jemari gemetar. Wajahnya yang semula penuh keyakinan kini pucat pasi. Air mata mengalir tanpa henti ketika sakit perlahan menghantam dirinya.
"Bayinya, terjadi sesuatu pada bayiku!"
“Tidak...” bisiknya berulang kali. “Selamatkan bayiku, selamatkan!"
Perutnya masih terasa nyeri. Tubuhnya lemah, tetapi rasa sakit di dadanya jauh lebih sulit ditahan. Untuk sesaat, dia terdiam, seolah baru menyadari bahwa keputusan yang diambilnya sendiri telah membawa akibat yang tidak mungkin ditarik kembali.
Riana menutup wajah dengan kedua tangan. Ada penyesalan. Ada ketakutan.
Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang lebih besar, keinginannya untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari kesalahan.
Ketika Lin Yue datang dengan beberapa perawat dan bertanya apa yang terjadi, Riana mengangkat wajahnya. Tangisnya semakin deras.
“Dia yang melakukan ini kepadaku.”
Satu kalimat itu keluar dengan suara bergetar.
Riana menjadikan air matanya sebagai senjata. “Dia membuatku kehilangan bayiku...” katanya sambil menangis.
Semakin banyak orang yang mempercayainya, semakin kuat pula perkataan Riana.
Riana kembali memegang perutnya yang masih terasa sakit. Tangisnya pecah.
“Maafkan Mama...” Untuk pertama kalinya, tidak ada kepura-puraan dalam suaranya. Dia kehilangan bayinya. Tubuhnya terbaring lemah di atas ranjang, sementara wajahnya masih menyimpan sisa-sisa kesombongan yang perlahan runtuh.
Riana baru saja kehilangan kandungannya kehilangan sesuatu yang seharusnya dia jaga, tetapi dengan sadar telah dia pertaruhkan sendiri.
Seline langsung membawa Riana yang terlihat sedang mengalami kram hebat, kemudian perdarahan ke ruangan observasi yang lebih memiliki banyak alat pendukung. Seline mengira kondisi tersebut merupakan komplikasi kehamilan yang terjadi secara spontan.
Namun dengan cepat kemudian, kondisinya semakin tidak stabil.
“Tekanan darahnya turun,” ujar perawat,assistennya Seline.
Seline segera meminta pemeriksaan tambahan. Dia mencurigai ada sesuatu yang memicu ini. Karena tindakan yang dia lakukan hanya baru tindakan dasar, memberi infus. Jadi Seline berpikir, mungkin saja Riana meminum sesuatu yang salah dan memicu semua kekacauan ini. Telah memberikan efek pada tubuhnya.
Kondisi kehamilannya kemudian mengalami komplikasi berat, dan akhirnya Seline menyatakan bahwa kehamilan tersebut tidak dapat dipertahankan. "Kita selamatkan ibunya!" kata Seline kepada semua tim-nya yang hadir di sana.
Bayi telah gugur, hal yang harus segera dilakukan adalah menyelamatkan ibunya. Tindakan penyelamatan berlangsung hampir selama satu jam. Begitu seline keluar dari ruang operasi. Dia malah melihat Eric yang berdiri dengan wajah tegang di depannya.
Dengan wajah datar Seline berkata, "Ibunya selamat, namun si bayi tidak bisa diselamatkan!"
"Kau masih belum bisa masuk, dia masih dalam keadaan di observasi!"
Eric menarik tangan Seline, dia tidak terima dengan sikap acuh tak acuh dari istrinya itu. Hatinya marah, ketika melihat tidak ada rasa cemburu di hatinya.
"Aku lelah!" kata lirih Seline tidak ingin berdebat dengan suaminya.
Teringat pesan papanya, Eric pun melepaskan tangan istrinya itu. Dia hanya bisa memandangi Seline yang berjalan semakin menjauhinya. Memandamgi pinggul ramping yang biasanya dia pelui di setiap malamnya. Memandangi betisnya yang indah, jenjang dan putih bersih.
Lamunan kenangannya langsung buyar ketika suara brankar terdengar, Eric menoleh. Riana yang melihatnya, langsung saja menangis. "Bayi kita... bayi kita!" Suaranya terdengar melirih.
"Dia membunuh bayi kita... semua karena dia!" kata Riana yang malah menyalahkan Seline.
"Jangan bicara sembarangan!" kata Eric.
Mendengar perkataan Eric yang cenderung membela Seline, hati Riana seakaan mau meledak. "Dia kehilangan bayinya, tapi malah membela wanita itu!"
Pada saat ini, kedua keluarga tiba. Nyonya Gia langsung meraih tangan Riana. "Bagaimana bayinya?"
Nyonya Mia langsung berkata, "Mengapa tanya bayinya, yang penting sekarang adalah nyawa putriku!"
Keduanya hampir bersitegang, namun Eric langsunh melerai. "Kita bawa dulu Riana ke kamar rawat inap!"
Perawat yang sedari tadi tertahan mendorong brankarnya langsung berjalan mendorong lagi. Sementara itu, Seline di ruangan kerjanya. Sedang berpikir, bagaimana mungkin Riana kehilangan bayinya hanya karena perkara air infusan. Dia merasa ada sesuatu yang janggal.
Pemikiran Seline buyar, ketika Nyonya Gia masuk ke ruang kerjanya, lalu memakinya. "Kau dasar pembunuh. Kau cemburu, karena tidak bisa memberikan bayi. Lalu kau sengaja membunuh bayi yang ada di dalam kandungan Riana!"
seline kamu polos bed
thor pengen visuaaaaalllllll
biar halu ny enak🤭
semoga si pelakor kena jebakan Batman..niat hati menjebak Selin malah dia yg terbukti bersalah
suka banget dg ketegasan tuan Mo..tapi lebih suka lagi kalau mereka di izinkan berpisah biar Selin jadi adik ipar saja 🤭
pph you the best,,,tp maaf bentar lg bkal jd istri paman
xender aku mau satuuuu