Lahir di tengah gemerlap keluarga bangsawan bisnis tak lantas membuat Exel Dirgantara bahagia. Masa lalu kelam menempanya menjadi pria berdarah dingin, berjarak, dan berpandangan tajam seolah mampu membunuh lawan bicaranya dalam hitungan detik. Di balik dinding tebal yang ia bangun, hanya Achmad—sahabat sekaligus asisten pribadinya yang serba bisa dan humoris—yang sanggup memahami luka serta menghadapi kerumitan sikap sang CEO.
Dunia Exel yang tenang dan penuh kontrol mendadak runtuh saat sebuah rencana perjodohan lama mengikatnya dengan Alexa Pramudya. Alexa adalah perwujudan dari segala hal yang dibenci sekaligus dibutuhkan Exel: seorang gadis SMA mungil berparas bak bidadari, namun memiliki suara cempreng, super cerewet, dan energi yang seolah tak pernah habis.
Bersama ketiga sahabatnya yang tak kalah ramai—Rin Mashita si blasteran Jepang-Indo yang cerdas, Safi murid pindahan Malaysia dengan logat Melayu khasnya, serta Melati si cantik berdarah Arab-Indo—Alexa membawa warna baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Kehangatan Mangkuk Bakso dan Cerita Mertua
Malam semakin larut di kediaman keluarga Pramudya. Suara jangkrik bersahut-sahutan di halaman depan, beradu dengan hembusan angin malam yang membawa aroma tanah basah seusai gerimis. Suasana rumah terasa sangat tenang dan bersahaja, jauh dari kesan megah nan dingin seperti apartemen atau kediaman utama Dirgantara.
Di area teras belakang yang beratapkan kanopi kayu, Exel sedang duduk sendirian di atas kursi rotan. Pria bertubuh tegap itu hanya mengenakan kaus polos hitam dan celana kain santai. Jemari panjangnya memegang cangkir teh hangat yang kepul uapnya perlahan membumbung ke udara.
Mata cokelat gelap Exel menatap lurus ke arah taman kecil di depannya. Pikiran rasionalnya yang biasanya dipenuhi oleh grafik saham, strategi ekspansi bisnis, dan ancaman peretasan dari Surya Wijaya kini terasa jauh lebih tenang. Di rumah yang sederhana ini, Exel menemukan kedamaian yang tak pernah ia dapatkan di dalam ruang rapat eksekutifnya.
Suara langkah kaki yang santai mendekat dari arah pintu kaca. Surya Pramudya—Papa mertua Exel—melangkah keluar sambil membawa sebuah mangkuk besar beraroma gurih yang amat menyengat, diikuti oleh dua cangkir teh tebal di nampan kayu.
"Belum tidur, Exel?" sapa Surya dengan suara beratnya yang ramah dan penuh kehangatan.
Exel seketika menegakkan posisi duduknya secara refleks, mengangguk sopan. "Belum, Pa. Masih menikmati udara malam. Katanya gerimis membuat udara jadi lebih segar."
Surya meletakkan nampan dan mangkuk besar itu di atas meja kayu di antara mereka. Di dalam mangkuk berbahan keramik tua itu, terdapat belasan butir bakso sapi urat berukuran sedang yang mengapung di atas kuah kaldu hangat yang ditaburi daun seledri dan bawang goreng.
"Ini, Mama tadi sengaja memanaskan bakso buatan sendiri," kata Surya seraya terkekeh pelan dan duduk di kursi rotan seberang Exel. "Katanya tadi Alexa merengek minta dibuatkan bakso malam-malam. Tapi begitu mangkuknya siap, anak itu malah sudah tertidur pulas di kamar sambil memeluk boneka beruangnya."
Sudut bibir Exel seketika terangkat tipis. Sebuah senyuman hangat penuh kepatuhan dan rasa gemas terukir alami di wajah kaku sang CEO. "Alexa memang seperti itu, Pa. Tadi di kamar dia sempat mengeluh lapar, tapi baru lima menit Mas buatkan roti panggang, matanya sudah terpejam rapat."
Surya memperhatikan raut wajah menantunya dengan saksama. Senyuman tipis namun sangat tulus di bibir Exel tak lepas dari pengamatan pria tua yang kenyang makan asam garam kehidupan itu. Surya merengkuh mangkuk kecilnya, menyesap kuah bakso hangat itu pelan.
"Exel," panggil Surya dengan nada suara yang perlahan berubah lebih dalam dan penuh keseriusan.
Exel menoleh, menatap Papa mertuanya dengan pandangan penuh rasa hormat. "Iya, Pa?"
Surya menyandarkan punggungnya, menatap ke arah lampu taman yang temaram. "Kamu tahu... Alexa itu lahir saat usia Papa dan Mama sudah tidak muda lagi. Dokter sempat bilang kalau Mama tidak bisa punya anak karena kondisi kesehatannya yang lemah. Tapi Tuhan berkehendak lain. Lahirlah Alexa."
Exel menyimak setiap kata yang keluar dari bibir Surya tanpa memotong sedikit pun.
"Sejak hari pertama dia menangis di rumah sakit, dia adalah pusat dari dunia Papa," lanjut Surya, matanya menerawang mengingat masa lalu. "Suaranya sejak kecil memang sudah cempreng, kelakuannya heboh, dan kadang kalau marah suka melotot seperti hamster. Tapi di balik semua kehebohannya itu, Alexa adalah anak yang sangat tulus. Dia tidak pernah punya niat jahat pada siapa pun. Kalau dia terluka atau sedih, dia lebih suka menyembunyikannya di balik tawa cemprengnya agar Papa dan Mama tidak cemas."
Exel meremas cangkir teh di tangannya. Kata-kata Surya menghantam sudut hatinya yang paling dalam. Pria itu teringat bagaimana Alexa yang polos dan pemberani tetap memilih tersenyum dan menguatkan dirinya di tengah teror pesan kaleng dari Clara beberapa hari lalu.
Surya menatap lurus ke mata Exel. Tatapan mata seorang ayah yang menyerahkan harta paling berharganya kepada pria lain.
"Papa tahu pernikahan kalian diawali oleh amanah dan perjodohan mendiang Kakekmu," ujar Surya pelan. "Dan Papa tahu, hidup di dunia bisnismu yang keras itu penuh dengan risiko dan bahaya. Tapi sebagai seorang Ayah... Papa cuma mau bertanya satu hal padamu malam ini, Exel."
Exel menegakkan dadanya, tatapannya berkilat tegas dan mantap. "Silakan, Pa. Exel siap menjawab."
"Apakah kamu sungguh-sungguh menyayangi Alexa?" tanya Surya dengan nada menuntut yang sangat dalam. "Bukan karena rasa hormat pada kakekmu, bukan karena rasa kasihan... tapi karena kamu memang mencintainya sebagai suaminya?"
Keheningan sempat menyelimuti teras belakang selama beberapa detik. Hanya ada hembusan angin malam yang menggesek dedaunan.
Exel tidak berkedip sedikit pun. Nada suaranya saat membalas pertanyaan itu terdengar sangat rendah, tegas, dan sarat akan komitmen yang tak tergoyahkan:
"Pa," buka Exel mantap. "Pada awalnya, saya memang menerima pernikahan ini semata-mata karena rasa hormat pada Kakek dan Papa. Saya adalah pria kaku yang mengurung diri dalam trauma masa lalu dan menganggap pernikahan ini hanya formalitas. Tapi kehadiran Alexa telah mengubah seluruh dunia saya."
Exel menghembuskan napas pelan, senyuman hangat kembali menghiasi bibirnya. "Alexa adalah cahaya di tengah kegelapan hidup saya. Saya tidak cuma menyayanginya, Pa... Saya mencintainya melebihi hidup saya sendiri. Saya berjanji di hadapan Papa malam ini, atas nama diri saya sendiri dan Tuhan, saya akan menjaga, melindungi, dan membahagiakan Alexa seumur hidup saya. Tidak akan ada satu pun manusia di dunia ini yang diizinkan menyentuh atau melukainya selama saya masih bernapas."
Surya menatap ke dalam manik mata Exel, mencari celah keraguan di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah dinding ketegasan dan cinta mati yang tak terbatas dari seorang suami.
Senyuman lega dan bangga akhirnya terbit di wajah paruh baya Surya. Pria tua itu menepuk bahu tegap Exel kencang berkali-kali.
"Terima kasih, Exel," bisik Surya dengan suara yang sedikit bergetar haru. "Kata-kata seorang pria sejati terpancar dari matanya. Dan Papa percaya penuh padamu."
"Terima kasih atas kepercayaannya, Pa," balas Exel tulus.
"Nah! Sekarang habisi bakso ini!" seru Surya kembali santai seraya mendorong mangkuk besar itu ke tengah meja. "Kalau tidak dihabiskan, nanti bisa mengamuk si Botol Yakult itu kalau bangun esok pagi!"
Exel terkekeh renyah, meraih sendok dan mulai menikmati mangkuk bakso hangat bersama Papa mertuanya di tengah malam yang syahdu.
Pukul 06.00 WIB.
Sinar matahari pagi yang cerah menerobos masuk lewat celah gorden kamar tidur bernuansa pink milik Alexa. Suasana kamar terasa sangat hangat dan damai.
Di atas kasur empuk berseprai bunga-bunga itu, Alexa masih terbaring lelap. Tubuh mungilnya meringkuk nyaman di dalam selimut tebal. Namun, gadis itu tidak tidur sendirian. Exel duduk bersandar di kepala ranjang di sebelahnya, mengenakan kaus polos abu-abu.
Tablet pekerjaan yang biasanya dipegang Exel di jam-jam pagi seperti ini tergeletak begitu saja di meja samping kasur. Sang CEO berdarah dingin itu sama sekali tidak memedulikan puluhan surel bisnis yang masuk. Perhatian penuhnya—seratus persen dari jiwa dan raganya—terkunci sepenuhnya pada sosok istri mungil yang sedang tidur di sampingnya.
Exel menyandarkan pipinya di telapak tangan kanan, memandangi wajah polos Alexa tanpa berkedip. Jemari panjang tangan kirinya terulur secara sangat halus, mengelus rambut bergelombang Alexa yang tersebar di atas bantal, lalu berpindah mengusap lembut pipi tembam istrinya yang merona alami.
Tingkat kebucinan sang CEO kini telah mencapai tahap akut yang tidak tertolong lagi.
Chup.
Exel menundukkan kepalanya, mendaratkan ciuman singkat di dahi Alexa.
Alexa sedikit bergoyang dalam tidurnya, bibir tipisnya mengembung pelan seraya bergumam tidak jelas. "Eungghh... Mas Es Batu... jangan ambil bobanya..."
Exel terkekeh pelan—sebuah suara tawa yang sangat renyah dan penuh kasih sayang. Pria itu kembali menunduk, mencium pipi kiri Alexa yang menggemaskan, lalu berpindah mencium pipi kanannya.
Chup! Chup!
"Bangun, Sayang," bisik Exel dengan suara rendahnya yang sangat seksi dan lembut tepat di dekat telinga Alexa. "Sudah pagi. Kamu tidak mau sekolah?"
Sentuhan bibir hangat dan suara bisikan Exel yang begitu dekat sukses membuat kelopak mata bulat Alexa perlahan terbuka. Gadis mungil itu mengeripkan matanya beberapa kali, mencoba mengumpulkan nyawanya yang melayang.
Begitu pandangan matanya yang buram menjadi jernih, hal pertama yang dilihatnya adalah wajah sangat tampan Exel yang berjarak hanya lima sentimeter dari wajahnya. Binar mata cokelat gelap milik Exel memancarkan aura cinta dan kehangatan yang begitu pekat, membuat jantung Alexa seketika berdegup kencang secara tidak wajar.
"M-Mas Exel...?" cicit Alexa dengan suara khas bangun tidurnya yang agak serak dan polos. "Kenapa... nempel-nempel banget mukanya?"
Exel tidak menjauhkan wajahnya. Malah, pria itu makin memajukan kepalanya dan mendaratkan satu ciuman manis di bibir tipis Alexa yang masih polos tanpa riasan.
Chup!
"Selamat pagi, Istriku yang cantik," sapa Exel seraya tersenyum sangat manis—senyuman yang sanggup meruntuhkan pertahanan anak SMA mana pun di muka bumi.
DUARRR!
Wajah Alexa seketika membara merah padam seratus persen bagaikan kepiting rebus! Seluruh kesadaran dan rasa salah tingkahnya meledak drastis. Gadis mungil itu refleks menarik selimut tebalnya hingga menutupi seluruh kepala dan wajahnya!
"AAAAA! MAS EXEL CURANG!" jerit Alexa histeris dari dalam gulungan selimut, suara cemprengnya melengking nyaring menggelegar di dalam kamar pink tersebut. "Pagi-pagi main cium-cium aja! Aca kan belum cuci muka, belum gosok gigi!"
Exel tertawa lepas—suara tawa gembira yang berulang kali memenuhi ruangan. Pria itu menarik pelan pinggiran selimut Alexa, mencoba membebaskan wajah merah padam istrinya.
"Memangnya kenapa kalau belum gosok gigi?" goda Exel, tatapannya makin memancarkan kehangatan yang luar biasa. "Mau belum mandi atau belum gosok gigi, istri Mas tetap paling cantik dan paling wangi di dunia."
"GOMBAL! Mas Es Batu belakangan ini belajar dari mana sih kalimat-kalimat alay begitu?!" racau Alexa heboh, matanya melotot bulat seraya memayunkan bibirnya kencang untuk menutupi rasa salah tingkahnya yang membakar dada. "Pasti diajarin sama Paman Achmad kan?!"
Exel merengkuh tubuh mungil Alexa bersama selimutnya, menarik gadis itu ke dalam dekapan hangat dadanya. Ia mengecup puncak kepala Alexa berkali-kali tanpa rasa bosan.
"Tidak ada yang mengajari," bisik Exel jujur di rambut Alexa. "Semua kalimat itu keluar sendiri setiap kali Mas melihat wajahmu."
Alexa menyembunyikan wajah panasnya di ceruk leher Exel, menghirup aroma maskulin suaminya yang sangat menenangkan. Jemari mungilnya memeluk balik pinggang tegap Exel kencang. Di dalam hatinya yang paling dalam, rasa bahagia yang teramat sangat membuncah indah.
Ancaman teror dari luar, konflik peretasan perusahaan, atau intrik jahat dari wanita mana pun... kini tak lagi mampu menggoyahkan keyakinan Alexa. Karena ia tahu persis, di dalam dekapan dada tegap pria berdarah dingin ini, ia telah menemukan benteng perlindungan dan cinta sejati yang tak akan pernah padam seumur hidupnya.