Dia bukan siapa-siapa di keluarganya sendiri. Dihina, dipukul, dan dianggap sampah oleh adik kandungnya sendiri, Su Yu hanya punya satu harga diri tersisa: kepatuhan. Ketika ia diperintahkan masuk ke Hutan Kelabu yang mematikan untuk mencari Tanduk Rusa Malam, ia tidak punya pilihan selain menurut.
Namun di dalam hutan, ia menyaksikan pertarungan antara dua makhluk dahsyat yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Ketika seorang peri cantik terjatuh tak berdaya di hadapannya, Su Yu dihadapkan pada pilihan sederhana: pergi menyelamatkan diri, atau mempertaruhkan nyawanya untuk orang asing.
Ia memilih yang kedua.
Tanpa disadarinya, satu tindakan kecil itu akan mengubah takdirnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Seni Tubuh Penghancur
Di luar aula, angin aneh masih berhembus pelan di antara bangunan-bangunan putih yang sunyi. Wanita muda berjubah biru itu berdiri di balik pilar besar, tubuhnya separuh tersembunyi. Kedua matanya tidak pernah lepas dari paviliun kecil di atas bukit, tempat Su Yu masuk lebih dari sebulan silam.
"Sudah tiga puluh enam hari..." bisiknya lirih.
Pupilnya perlahan berubah, memancarkan kilau hitam pekat yang tidak wajar. Sesaat kemudian, kilau itu lenyap seperti ditelan udara. Sang perempuan mengerutkan kening, jemarinya menekan sisi pelipis.
"Kenapa aura di dalam sana tidak ada pergerakan? Apa jangan-jangan dia terjebak?"
Belum sempat pikirannya mencari jawaban, suara ledakan keras menggelegar dari arah jalan utama.
DUARRR!
CLANG... CLANG...!
Gedebuk kaki yang berlari, dentingan pedang yang beradu, serta teriakan-teriakan marah bercampur menjadi satu.
Wanita itu menoleh cepat ke arah sumber suara, lalu mengedarkan kesadaran spritualnya. Matanya menyipit saat melihat puluhan pendekar saling serang di tengah jalanan batu putih yang sebelumnya tampak tenang.
"Berikan kitab itu padaku!"
Pedang berkilat menebas dari kiri ke kanan, mengarah lurus ke leher pendekar lain yang sedang berlari membawa sebuah kotak kayu.
"Jangan mimpi! Ini milikku!"
Kedua Bilah bertemu di udara.
CLANG!
Percikan bunga api melompat dari titik benturan, sementara kedua pendekar itu saling dorong dengan kekuatan penuh.
Tidak jauh dari mereka, pendekar lain terjatuh dengan darah mengalir dari bahunya yang robek. Di tangannya masih tergenggam sehelai kertas tua yang ternoda merah.
"Boneka tempur! Ada boneka tempur di ruang bawah tanah!"
Seruan itu memicu kekacauan yang lebih besar. Para pendekar yang sebelumnya masih bertahan di bangunan-bangunan sekitar langsung berlarian keluar, wajah mereka berubah serakah. Sebagian dari mereka membawa botol-botol kecil berisi cairan bening yang berkilau keemasan, sementara yang lain mengacungkan pedang ke arah siapa pun yang menghalangi jalan mereka.
"Air suci itu milik Sekte Singa Perak! Kalian semua minggir!"
"Minggir? Ha! Di sini tidak ada sekte. Yang ada hanyalah siapa yang lebih kuat!"
Pandangan wanita itu kembali tertuju pada aula awan kecil. Bangunan itu masih memancarkan cahaya keemasan redup dari dalam, seolah menyimpan rahasia yang tidak ingin dibagikan kepada siapa pun di luar.
"Harta membuat mereka buta..." gumam wanita itu datar.
*****
Di dalam aula, getaran hebat mengguncang altar kedua. Su Yu yang baru saja menyelesaikan terobosannya merasakan lantai batu di bawah kakinya bergetar seperti ingin terbelah. Ia segera mundur beberapa langkah hingga berdiri tepat di tengah ruangan.
Energi emas tiba-tiba menyembur dari sisi kiri dan kanan altar.
Di sisi kanan, sepuluh senjata muncul melayang, masing-masing dibungkus cahaya keemasan yang berdenyut pelan. Pedang, tombak, belati, dan senjata-senjata lain yang bahkan tidak bisa disebutkan namanya. Sementara di sisi kiri, sepuluh kitab tebal mengambang dengan aura yang berbeda-beda.
Su Yu masih berusaha mengatur napas ketika getaran mereda. Belum sempat ia melangkah lebih jauh, dua sosok muncul di hadapannya.
Wush!
Pak tua berjanggut putih itu muncul dan berdiri tenang didepannya, sementara Xioutian mengepakkan sayap kecilnya di samping pria tersebut.
Su Yu tersentak kecil karena melihat Xioutian diperbolehkan naik dengan pria tua itu, tetapi ia segera menenangkan diri.
Su Yu menangkupkan kedua tangannya di depan dada. "Senior, saya sudah menyelesaikan ujian kedua."
Pria tua itu mengangguk. "Bagus. Sekarang pilih hadiahmu. Kitab... atau senjata."
Su Yu menurunkan tangannya, lalu Xioutian segera terbang mendekat dan berhenti di sisi kanan tuannya.
"Tuan, selamat atas terobosanmu." Burung kecil itu menatap Su Yu dengan sorot bangga. "Tapi lebih dari itu, saranku pikirkan matang-matang sebelum memilih."
Su Yu mengangguk. "Kau benar. Biar aku pikirkan dulu."
Pak tua tersenyum tipis. "Untuk seorang pemula, teknik jauh lebih baik daripada senjata. Kalaupun kau mendapatkan harta tingkat dewa, itu akan sia-sia jika fondasimu rapuh. Lebih baik memegang tongkat kayu sebagai senjata, tetapi pemahaman luas, daripada menggunakan pedang dewa dengan pemahaman yang dangkal."
Xioutian mencondongkan kepalanya ke arah Su Yu. "Dia benar, Tuan." Suara itu nyaris seperti bisikan. "Tapi sebenarnya... aku curiga dia merencanakan hal buruk. Karena dia terlalu baik."
Su Yu menyipitkan matanya, ucapan Xioutian ada benarnya, tetapi ia tidak menjawab. Pria tua itu hanya tersenyum tipis, seolah tidak mendengar ucapan Xioutian padahal jarak mereka tidak sampai dua langkah.
Pemuda itu akhirnya melangkah ke sisi kiri altar.
Ketika sampai, terlihat sepuluh kitab melayang dalam dua baris rapi, masing-masing memancarkan aura yang berbeda-beda. Su Yu mengamati satu per satu dengan teliti, merasakan tarikan energi dari setiap sampulnya.
"Kitab... teknik..." batinnya pelan.
Matanya berhenti pada satu kitab yang letaknya di barisan paling belakang. Sampulnya dilapisi energi abu-abu pekat, berputar perlahan di udara tanpa arah yang jelas. Aura dari kitab itu terasa berat, seperti sepotong logam tua yang telah ditempa ribuan kali.
"Saya memilih kitab teknik ini, Senior," ucap Su Yu sambil menunjuk kitab tersebut.
Pak tua itu menghilang dari tempatnya dan muncul kembali di samping Su Yu dalam sekejap. Matanya memandang kitab berenergi abu-abu itu sebentar, lalu sudut bibirnya terangkat.
"Oh, Seni Tubuh Penghancur. Pilihan yang cukup berani."
Su Yu belum sempat menanggapi, kitab itu sudah luruh terlebih dahulu tanpa suara. Cahaya abu-abunya melebur menjadi aliran tipis yang langsung menerjang masuk ke dahi pemuda tersebut.
Su Yu memejamkan mata.
Rangkaian pemahaman langsung membuka di dalam kesadarannya.
Seni Tubuh Penghancur merupakan teknik yang menjadikan tubuh sebagai senjata. Kecepatan, kekuatan, dan ketahanan adalah tiga inti yang ditekankan dalam setiap lapisan latihannya.
Namun teknik ini tidak bisa dikuasai dalam satu malam. Latihan yang diperlukan melibatkan tempaan tubuh secara ekstrem dan bertahap. Pengguna harus membiasakan diri dihantam benda keras, menahan beban di atas tubuh, hingga melatih setiap otot untuk menerima guncangan tanpa patah.
Setelah memahami tentang itu, Su Yu memutuskan untuk menunda latihan teknik tersebut. Tangga-tangga ujian di aula ini punya tekanan luar biasa. Ia sadar, justru di tempat inilah tubuhnya telah ditempa sedemikian rupa tanpa perlu mencarinya di luar.
Su Yu membuka matanya, lalu menoleh ke arah pria tua di sampingnya. "Senior, saya akan melanjutkan ujian selanjutnya setelah memantapkan kultivasi."
Pak tua itu tersenyum miring. "Silakan. Aku akan menunggumu di atas."
Su Yu mengangguk pelan, kemudian sosok pria tua itu menghilang seperti kabut yang tersedot ke dalam lantai.
Xioutian segera mendekat ke arah tuannya, ekspresinya mengandung kekhawatiran. "Tuan, aku benar-benar merasa ada yang tidak beres."
Su Yu menghela napas, ia juga merasakan hal aneh sejak menerima hadiah di altar pertama. Karena di rasa terlalu mudah untuk mendapatkan sesuatu yang berharga tanpa kerugian, tetapi ia juga tidak bisa berbuat banyak.
"Kalaulah firasatmu benar, kau mau apa? Melarikan diri? Bagaimana caranya?"
Pertanyaan itu begitu telak, membuat burung tersebut terdiam dan menundukkan kepalanya.
Su Yu menjauh dari Xioutian, lalu duduk bersila di atas lantai altar. "Apa pun yang terjadi, kita hadapi bersama."
Setelah kalimat itu, pemuda tersebut menutup kedua matanya dan tenggelam dalam meditasi. Energi spiritual di sekelilingnya kembali bergerak, mengalir ke dalam dantiannya secara perlahan, memadatkan semua pemahaman yang baru saja ia peroleh.
biasanya novel karyamu selalu mendapatkan atensi yang banyak🤔🤔🤔