Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Berbaikan / Janda / Dokter / Peramal
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27

Uang Bukan Segalanya, Katamu

"Saya ikut untuk menambah pengalaman," kata Baskara.

Ratri menatap setelan lamanya dan sepatu yang sengaja tidak dipoles sempurna. "Pengalaman apa?"

"Melihat orang kaya dari dekat."

Wira yang berdiri di samping mobil menoleh ke arah lain.

Malam itu, Sinar Sentosa harus menghadiri acara amal di sebuah klub mewah PIK. Beberapa calon mitra program hukum komunitas akan berada di sana. Ratri tidak bisa menolak hanya karena setengah tamunya lebih suka bergosip daripada berdonasi.

Baskara ikut dengan alasan sebagai suami pengangguran yang ingin belajar dunia atas.

Begitu mereka masuk, beberapa perempuan langsung berbisik.

"Dia membawa suaminya lagi."

"Kasihan. Setelah tiga tahun hidup seperti janda, sekarang harus membiayai lelaki itu."

"Mungkin itu harga punya suami hidup."

Ratri mendengar, tetapi terus berjalan.

Maharani Cakraningrat menunggu di dekat meja utama. Gaun biru gelapnya sederhana menurut ukuran keluarga lama, tetapi kalung yang dipakainya berasal dari koleksi yang tidak dijual kepada publik.

"Akhirnya kau datang," katanya sambil memeluk Ratri singkat.

"Saya datang untuk program, bukan gosip."

"Sayang sekali. Gosip malam ini jauh lebih mahal daripada makanannya."

Maharani menoleh kepada Baskara. "Suami yang bangkit dari kematian?"

"Teman yang terlalu banyak bicara?" balas Baskara.

Maharani tertawa. "Aku suka dia sedikit."

"Jangan," kata Ratri.

Seorang petugas meja tamu datang membawa kartu tempat duduk. Nama Ratri ditempatkan di ujung meja, jauh dari para pemimpin perusahaan yang hendak ditemuinya. Maharani melihat kartu itu, lalu menukar kursinya sendiri dengan Ratri tanpa meminta izin panitia.

"Mereka bilang susunan sudah tetap," kata petugas.

"Sekarang tetapnya berbeda," jawab Maharani.

Beberapa anggota komite langsung mendekat untuk memperbaiki situasi. Tidak ada yang ingin keluarga Cakraningrat tersinggung. Dalam dua menit, nama Ratri kembali ke meja utama.

"Kau tidak perlu melakukan itu," kata Ratri.

"Aku tahu. Itulah arti teman."

Ratri memandangnya sesaat, lalu merapikan kartu tempat duduk tanpa ucapan terima kasih. Maharani mengenalnya cukup lama untuk menerima gerakan kecil itu sebagai rasa terima kasih.

Sesi penggalangan dana dimulai setelah makan malam. Para tamu bergantian menyebut angka sambil memastikan kamera menangkap nama mereka. Seorang nyonya dari lingkaran luar Wiryawan berdiri dengan senyum lebar.

"Keluarga kami menyumbang lima ratus juta rupiah," katanya. "Bukan jumlah besar, tentu saja, tapi kami percaya amal harus sesuai kemampuan."

Ia melirik Ratri.

"Sebagian orang mungkin lebih membutuhkan bantuan daripada mampu memberi. Apalagi kalau harus membiayai suami yang belum punya pekerjaan."

Tawa kecil terdengar.

Baskara memasukkan tangan ke saku. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang yang terlipat dan sedikit kusut. Jumlahnya tidak sampai satu juta.

"Saya juga mau menyumbang untuk istri saya," katanya.

Tawa berubah lebih keras.

Ratri menutup mata sesaat. "Simpan uang Anda."

"Tapi aku ingin membantu."

"Dengan uang kusut?"

"Masih berlaku."

Nyonya tadi menutupi mulut dengan kipas. "Bu Ratri, suami Anda benar-benar menggemaskan. Seperti orang yang baru pertama kali datang ke acara semacam ini."

"Bukan seperti," kata Ratri. "Dia memang tidak tahu malu."

Baskara tetap meletakkan uang itu di kotak donasi. "Yang penting niat."

Ratri kemudian berdiri. Ia menyebutkan komitmen dana untuk membiayai pendampingan hukum selama satu tahun bagi keluarga pekerja yang tidak mampu membayar advokat. Angkanya dua kali lipat dari sumbangan nyonya tersebut, tetapi ia tidak berhenti pada jumlah.

Ia menjelaskan target penerima, mekanisme audit, pembatasan biaya administrasi, dan laporan triwulan yang dapat diperiksa donor. Dalam lima menit, percakapan berubah dari pamer angka menjadi pertanyaan tentang dampak.

Seorang pemilik perusahaan logistik bertanya apakah program menerima kasus kecelakaan kerja. Ratri menjelaskan bahwa bantuan hanya diberikan setelah pemeriksaan konflik kepentingan, dan donor tidak boleh menentukan perkara mana yang diterima. Seorang tamu lain menanyakan biaya. Ia menjawab dengan angka per keluarga, perkiraan jam kerja, dan batas penggunaan dana.

Para wartawan yang semula hanya menunggu gosip mulai mencatat. Mereka menemukan sesuatu yang lebih berguna daripada cerita tentang suami miskin.

Maharani langsung menambahkan dukungan setara melalui yayasan keluarganya.

"Dengan syarat pengelolaan tetap di tim Ratri," katanya. "Saya lebih percaya orang yang menjelaskan audit daripada orang yang hanya menyebut nominal."

Nyonya itu tidak lagi tersenyum.

Baskara berdiri di samping kotak donasi, melihat uang kusutnya tenggelam di antara lembar komitmen bernilai besar. Seorang tamu pria menepuk bahunya.

"Mas, lain kali tidak perlu memaksakan diri. Di tempat seperti ini, niat saja tidak cukup."

"Benarkah?"

"Uang menentukan seberapa keras orang mendengar."

Baskara tersenyum ramah. "Kalau begitu, semoga Anda tidak pernah bertemu orang yang bisa membuat seluruh uang Anda diam."

Pria itu mengira kalimat tersebut hanya usaha menyelamatkan harga diri dan tertawa. Wira yang mendengar dari belakang tidak ikut tertawa.

Setelah sesi selesai, Ratri menarik Baskara ke sisi aula.

"Jangan mempermalukan saya dengan uang kusut lagi."

"Aku hanya punya itu di dompet."

"Jam Anda bisa membeli separuh meja di sini."

Baskara menutupi pergelangan tangannya. "Ini barang lama."

"Tentu. Dan Anda kebetulan berteman dengan perusahaan yang bisa menutup jalur distribusi."

"Aku punya teman yang rajin."

Ratri hendak pergi. Baskara berkata pelan, "Aku cuma ingin mereka tahu kau punya orang yang melindungimu."

Langkah Ratri berhenti.

Selama tiga tahun, semua orang datang ketika membutuhkan kemampuannya. Sangat sedikit yang berdiri di sisinya hanya agar dunia tahu ia tidak sendirian.

"Saya bisa melindungi diri sendiri," katanya.

"Aku tahu. Tapi kau tetap tidak harus melakukannya sendirian."

Ratri tidak menemukan jawaban cepat. Ia mengambil segelas air dari pelayan dan berpura-pura tertarik pada panggung.

Maharani muncul di sampingnya. "Kalau tidak mau, berikan kepadaku."

"Apa?"

"Suamimu. Menarik untuk dipelihara."

"Dia bukan hewan."

"Tadi kau bilang tidak tahu malu."

"Itu tidak berarti boleh diambil."

Maharani tersenyum penuh arti. Ratri baru sadar telah membela Baskara untuk kedua kali.

Di ujung aula, Sekar berdiri bersama beberapa tamu. Ia menyaksikan seluruh percakapan tanpa mendekat.

Tatapannya berhenti paling lama pada Baskara, seolah sedang menilai seberapa jauh lelaki yang dianggap miskin itu akan bertindak demi istrinya.

Acara hampir selesai ketika nyonya yang kalah bicara tadi kembali membawa segelas anggur merah. Ia berjalan terlalu dekat dengan Ratri dan sengaja memiringkan pergelangan.

Cairan merah tumpah ke bagian depan gaun putih Ratri.

"Aduh," katanya tanpa penyesalan. "Maaf. Tangan saya licin."

Ratri melihat noda yang menyebar seperti darah.

Perempuan itu mendekat dan berbisik cukup keras agar meja sekitarnya mendengar.

"Gaun bisa dicuci. Dosa membunuh Larasati tidak akan hilang. Perempuan seperti Anda memang tidak pantas berada di sini."

Seluruh aula menahan napas.

Wajah Baskara berubah gelap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!