Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.
Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.
Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?
Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?
Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.
Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)
Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Ajakan Menikah
"Ampun Pak, tolong lepaskan saya. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi."
Dengan tubuh gemetaran pria berbadan jangkung itu tak berhenti memohon untuk dilepaskan. Kali ini ia benar-benar tertangkapnya basah, dan harapan satu-satunya hanyalah meminta keringanan hukuman.
"Kamu tahu siapa yang kamu hadapi?" Erlangga menatapnya dingin bak elang menerkam.
Pria itu bahkan tak berani menatap matanya. Dia menunduk dengan meremas jemarinya.
"Kamu pikir enak berhadapan dengan saya! Bahkan saya bisa mematahkan kedua tanganmu."
Pria itu menggeleng. "J—jangan pak, saya mohon maafkan saya."
"Saya orangnya sulit untuk bisa memaafkan orang, terkecuali orang itu tunduk dan mau melakukan apa saja yang saya perintahkan."
Masih dengan posisinya yang menunduk pria itu menjawab. "Maksud Bapak?"
"Maksudnya kalau kau mau melakukan hal serupa terhadap orang yang menyuruhmu."
"Menculiknya maksudnya pak?"
"Hm..., cerdas."
Erlangga mengeluarkan sebungkus rokok dan mengambil sebatang lalu disulutkan ke api dan menghisapnya candu. Dia membuang asapnya ke udara tepat di depan pria itu.
"Kau belum jelaskan, siapa yang menyuruhmu menculik anak-anakku?"
"Em..., anu pak."
"Anu siapa? Kau itu jadi laki-laki yang tegas!"
"Nyonya Sulastri."
Erlangga mengerutkan keningnya. "Sulastri? Siapa itu Sulastri?"
"Soal itu saya kurang tahu pak. Saya hanya diminta untuk menculik dua bocah itu di rumahnya. Dan saya tidak tahu kalau itu putra anda. Saya pikir anak itu hanya tinggal bertiga dengan ibunya."
"Istri saya lagi ngambek. Dia memilih untuk tinggal bersama anak-anak dan meninggalkan saya, tapi bukan berarti mereka tak memiliki Ayah."
Sofyan yang ada di tempat itu mencebikkan bibirnya sembari menggumam. 'istri? Kapan nikahnya? Kawin sih udah..., tapi nikahin belum. Sok keras Lo Ngga!'
"M—maaf pak, saya benar-benar tidak mengerti. Saya butuh uang jadi saya terima tawaran untuk menculiknya."
"Sekarang kau menjadi tawanan saya. Dan saya minta kau membawa Sulastri itu ke hadapan saya."
Pria itu mendongak namun tak berani menatap netranya. "S—sekarang pak?"
"Tahun depan."
"Hah?" Pria itu tercengang.
"Ini sudah larut bodoh! Besok kau datangi rumahnya dan seret dia ke hadapan saya. Saya tunggu!"
Pria itu mengangguk dan agak lega karena masih mendapatkan ampunan meskipun hukumannya diminta untuk menculik orang yang sudah menyuruhnya.
"Kamu jangan coba-coba buat kabur atau membodohi saya. Setiap langkahmu, anak buahku akan menguntaimu."
Setelah itu Erlangga langsung melenggang pergi. Sebelumnya ia sudah menyerahkan pria itu pada anak buahnya untuk diurus.
Kriet,, suara pintu terbuka. Dilihatnya dua bocah itu tertidur nyenyak ditemani oleh Ayuna. Dia melangkah mendekat, mengecup pipinya satu persatu.
"Kamu belum tidur?"
Ayuna menggeleng. "Belum pak. Saya masih kepikiran siapa yang sudah menculik anak-anak. Memangnya saya punya salah apa sampai membuatnya nekat menyakiti anak-anak saya."
Erlangga menatapnya begitu intens hingga membuat wanita itu salah tingkah.
"Bisa nggak tidak memanggil saya pak ketika di luar kantor?"
"Hah?" Ayuna tercengang. "Tapi kan anda atasan saya pak! Mana sopan saya memanggil dengan sebutan lain. Apalagi diantara kita~~
"Kau yang tentukan."
Ayuna mengerutkan keningnya. "Maksud Bapak?"
Dia tidak tahu apa yang tengah dipikirkan oleh pria itu.
"Besok atau lusa kita ke kantor sipil untuk mendaftar pernikahan."
"Hah? Nikah?"
Satu alis Ayuna terangkat. "Memangnya apa lagi yang kau pikirkan? Kau ingin anakku dikatai anak haram oleh orang-orang di luar sana."
Ayuna diam dengan mengatupkan bibirnya. Ia bingung, belum siap untuk memberikan jawaban.
"Mereka butuh status. Dan aku tidak rela ada pria lain yang menjadi ayah sambung buat mereka."
"Iya, saya mengerti pak, tapi apakah harus buru-buru," bantah Ayuna. "Ini bukan hanya soal status pak. Tapi diantara kita belum saling mengenal. Kita masih terlalu asing. Haruskah kita memutuskan untuk segera menikah? Bagaimana dengan perasaan Bapak terhadap saya? Sedangkan menikah itu juga perlu kenyamanan."
Dengan degup jantungnya yang berdetak cukup keras Ayuna memberanikan diri untuk memberikan penjelasan agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan kedepannya. Ia tidak ingin mengambil posisi orang lain di hati Erlangga. Sudah jelas pria itu memiliki kekasih dan sudah merencanakan pernikahan, tapi kini dia malah mengejarnya karena merasa harus bertanggung jawab atas anak-anak yang dilahirkannya.
"Dan kamu tidak nyaman berada di sisiku?"
Ayuna menggeleng dengan tangan melambai. "B—bukan seperti itu pak," cicitnya. "Saya hanya tidak ingin anda kecewa setelah menikahi saya. Saya ini hanya wanita rendahan, tidak pantas bersanding dengan orang seperti anda. Kehidupan kita bagaikan bumi dan langit. Kalaupun bapak ingin bertanggungjawab terhadap anak-anak, kan nggak harus menikahi saya. Cukup anda berbuat baik pada mereka saja, itu sudah membuat mereka senang."
Erlangga tersenyum Devils. Baru kali ini ada wanita yang sulit untuk ditaklukkan. Bahkan tidak sedikit dari wanita cantik ingin sekali menjadi pendampingnya.
"Berhubung kamu orang yang nggak mampu, aku akan bantu mengangkat derajatmu. Memangnya kau tak senang hidup mapan memiliki status yang jelas. Apa aku ini masih kurang tampan? Atau mungkin seleramu sangatlah rendah."
Ayuna menarik napasnya mencoba untuk lebih sabar menerima cacian apapun yang keluar dari mulut bosnya. Sebenarnya ia kagum dengan ketampanan dan keberanian pria itu, hanya saja status yang membuatnya minder.
"Bapak benar. Selera saya bukan orang seperti Bapak. Saya juga nggak yakin bisa mendapatkan pria yang sempurna seperti anda. Tapi sayangnya saya masih belum kepikiran untuk mencari pasangan. Anak-anak bahkan tidak ingin saya mencarikan Bapak untuk mereka."
Erlangga tertegun. Begitu obsesinya ia ingin mendapatkannya, begitu egoisnya Ayuna untuk bisa ditaklukkannya. Bagaimana mungkin bocah kecil itu tidak memiliki keinginan untuk memiliki Ayah. Mungkin itu hanya akal-akalan Ayuna untuk menolak niat baiknya.
"Kamu yakin anak-anak yang bilang nggak ingin memiliki Ayah?"
"Apa anda berpikir saya tengah berbohong?"
Erlangga menarik nafasnya yang sempat tertahan. "Huft..., Aku hanya ingin mendengar sendiri dari mulut mereka. Aku juga akan meyakinkan bahwa aku orang yang tepat untuk dijadikan Ayahnya, karena pada dasarnya aku adalah Ayah kandung mereka."
"Terserah anda saja pak, saya nggak akan menghalangi Bapak untuk bicara dengan mereka. Tapi saran saya jangan membuat mereka syok dengan pengakuan anda."
"Terus apakah aku harus menahan untuk tidak mendapatkan pengakuan dari anak-anak ku? Apakah aku harus diam dan hanya menjadi bayang-bayang buat mereka?"
Erlangga serba salah. Kesalahan yang dilakukan sekali dan harus ditanggung seumur hidup membuatnya benar-benar tak bisa hidup dengan tenang.
"Mereka sudah terbiasa hidup tanpa kehadiran seorang Ayah. Jadi mereka tak terlalu berharap memiliki sosok ayah di kehidupannya."
"Dan itu semua gara-gara kamu," sungut Erlangga. "Kalau dari awal kamu cari aku dan memberikan penjelasan terkait kehamilanmu mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Aku tidak mau tahu. Kamu harus jelaskan pada mereka siapa aku buat mereka. Secepatnya."
Dengan muka masamnya Erlangga langsung bergegas pergi meninggalkannya.