Alena menikah dengan Hendra meski tak direstui keluarganya karena dianggap miskin. Selama lima tahun ia dihina, dianggap mandul, dan hanya diberi satu juta rupiah sebulan untuk kebutuhan rumah. Saat Alena mulai berusaha bangkit, tekanan ibu mertua membuat Hendra akhirnya berselingkuh. Alena memilih bertahan, hingga ia menemukan jalan untuk membuktikan dirinya dan membalas semua perlakuan yang menyakitkan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEKECEWAAN HENDRA
Keesokan harinya, dokter mengizinkan Siska pulang. Pendarahannya sudah berhenti dan janinnya aman, namun sepanjang perjalanan pulang, Hendra hanya diam. Matanya menatap lurus ke jalan raya, rahangnya mengeras, dan napasnya terasa berat menahan segala pertanyaan yang mengganjal di kepalanya sejak kemarin.
Sesampainya di rumah, Hendra membantu Siska duduk di kursi ruang tengah. Siska hendak bersandar dengan santai, namun tiba-tiba Hendra berbalik dan menatapnya lekat-lekat. Tatapan itu begitu tajam, dingin, dan penuh kecurigaan hingga membuat Siska menelan ludah dengan susah payah.
"Siska..." suara Hendra terdengar rendah namun berat sekali.
"Dokter bilang usia kandunganmu sudah delapan bulan."
Siska tersentak. Wajahnya berubah pucat seketika, namun ia berusaha tetap tenang.
"Ya... lalu kenapa? Mungkin dokternya salah perkirakan saja..."
jawab Siska sambil membuang muka.
"Salah perkirakan?"
Hendra melangkah mendekat, suaranya tiba-tiba meninggi.
"Bagaimana mungkin salah perkirakan Siska?! Pernikahan kita baru berjalan tujuh bulan lebih sedikit! Kalau kandunganmu sudah delapan bulan... itu artinya... itu artinya anak itu sudah ada bahkan sebelum kita menikah!"
Wajah Siska semakin pucat. Tangannya meremas ujung baju erat-erat. Ia berusaha mengatur napasnya agar tetap tenang.
"Itu... itu tidak mungkin Mas! Kamu jangan berpikiran macam-macam!" seru Siska sambil memaksakan senyum.
"Mungkin saja perhitungannya dihitung dari hari terakhir haidku! Itu kan hitungan medis! Bukan berarti sejak hari pembuahannya! Kamu tidak paham soal kedokteran, jadi jangan menuduh sembarangan!"
"Hitung medis?" Hendra tertawa getir, matanya menatap tajam ke arah istrinya.
"Kau pikir aku bodoh Siska? Aku sudah tanya kepada perawat di luar! Mereka bilang perhitungan USG sangat akurat! Delapan bulan! Bagaimana bisa selisihnya satu bulan penuh?! Jelaskan padaku! Jelaskan sekarang!"
Suara Hendra semakin meninggi, membuat Siska mundur perlahan hingga punggungnya menyentuh dinding. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Kenapa kau diam?! Jelaskan!" bentak Hendra tak sabar.
"Aku... aku tidak tahu Mas! Mungkin memang begitu hitungannya! Aku tidak mengerti soal itu! Yang aku tahu anak ini adalah anakmu! Anak kita! Kamu adalah ayahnya!"
Siska berusaha membela diri, matanya mulai berkaca-kaca pura-pura hendak menangis.
Namun kali ini air mata Siska tak lagi mempan. Hendra justru semakin curiga melihat gelagat istrinya yang begitu gugup dan tidak tenang.
"Anakku? Kau yakin itu anakku?" tanya Hendra pelan namun menekan setiap katanya.
"Kalau benar anak ini anakku... kenapa kau tampak begitu takut saat kutanyakan? kenapa kamu tidak bisa menjelaskan dengan tenang? kenapa kau terlihat begitu panik Siska?"
"Aku panik karena kau menuduhku dengan tuduhan yang keterlaluan begitu!" seru Siska dengan suara bergetar.
"Kau suamiku! Seharusnya kau percaya padaku! Bukan malah mencurigai begini! Aku hamil anakmu! Anak sah dari pernikahan kita! Kau tidak boleh berkata begitu!"
"Pernikahan kita baru tujuh bulan Siska!" Hendra membentak keras hingga membuat dinding seakan bergema.
"Coba jelaskan padaku! Bagaimana caranya aku menghamili mu sebulan sebelum kita menikah?! Bukankah saat itu kita belum pernah melakukan hubungan ?! Bukankah kau sendiri yang bilang akan menjaga kesucianmu sampai hari pernikahan kita?!"
Siska terdiam seribu bahasa. Mulutnya terbuka hendak menjawab, namun tak satu pun kata yang mampu keluar. Wajahnya putih pasi, matanya tak berani menatap mata Hendra.
Di saat yang tepat, pintu depan terbuka dan Bu Sari masuk membawa belanjaan. Ia tertegun melihat suasana di ruang tengah yang begitu menegangkan. Hendra berdiri dengan napas memburu penuh amarah, sedangkan Siska bersandar di dinding dengan wajah ketakutan.
"Ada apa ini?!" tanya Bu Sari heran sambil meletakkan tas belanjaannya di meja.
"Hendra! Kenapa wajahmu merah begitu? Apa yang terjadi? Kenapa kalian berdua bertengkar ?!"
Hendra menoleh ke arah ibunya, napasnya masih belum teratur.
"Ibu... ibu tanya sendiri pada menantu kesayangan Ibu itu!" jawab Hendra dengan nada penuh kemarahan. "Tanyakan padanya sejak kapan kandungannya berumur delapan bulan!"
Bu Sari mengernyitkan dahi bingung. Ia berjalan mendekat. "Delapan bulan? Bukankah pernikahan kalian baru tujuh bulan? Apa maksudmu Hendra?"
"Itulah yang ingin kutanyakan Ibu!" Hendra menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca penuh amarah dan kecewa.
"Dokter bilang kandungannya sudah delapan bulan! Sedang kami baru menikah tujuh bulan lalu! Bagaimana mungkin Ibu?! Bagaimana bisa anak itu ada sebelum kami menikah?! Apakah Ibu tahu sesuatu yang tidak aku ketahui?!"
Bu Sari terbelalak. Ia menatap Siska yang kini menunduk gemetar ketakutan.
"Siska... benar apa yang dikatakan suamimu?" tanya Bu Sari pelan namun penuh tekanan.
"Katakan padaku... bagaimana bisa kandunganmu sudah delapan bulan?"
Siska mendongak dengan mata berkaca-kaca. "Ibu... aku... aku tidak tahu... Mungkin dokternya yang salah hitung... atau ada kesalahan pemeriksaan... Aku tidak bohong Ibu! Anak ini benar-benar anak Hendra! Percayalah padaku!"
"Dokter salah hitung?" Hendra kembali berseru.
"Satu bulan lebih?! Itu bukan kesalahan hitung Siska! Itu kenyataan! Katakan padaku! Siapa ayah kandung anak itu sebenarnya?! Katakan sekarang!"
"Tidak! Tidak ada orang lain!" Siska menangis histeris.
"Kau ayahnya! Hanya kau! Jangan tuduh aku macam-macam! Aku tidak bersalah!"
Bu Sari berdiri terpaku di antara keduanya. Matanya menatap meneliti wajah menantunya yang penuh keringat dingin dan ketakutan. Perlahan rasa curiga mulai merayap di hatinya. Ia melangkah mendekat, menatap tajam tepat ke mata Siska.
"Jangan menangis Siska... tatap mataku..." ucap Bu Sari pelan namun tegas. "Katakan padaku dengan jujur... apakah ada yang kau sembunyikan dari kami?katakan Sekarang juga!"
Siska tergugu. Air matanya mengalir deras, namun bibirnya terkatup rapat. Tak ada satu pun kata yang mampu keluar dari mulutnya. Keheningan yang menyelimuti ruangan itu justru menjadi jawaban yang paling menyakitkan bagi Hendra.
Hendra mundur perlahan, sekujur tubuhnya terasa lemas seketika. Ia menatap istrinya yang tak berani menatap matanya, lalu menatap ibunya yang tampak tak percaya. Hatinya terasa remuk redam seketika.
"Jadi... kau benar-benar menyembunyikannya dariku..." bisik Hendra dengan suara parau penuh keputusasaan. "Selama ini... selama ini aku hidup dalam kebohongan..."
hukum tabur tuai itu ada