Reyga membenci aturan ayahnya. Berry membenci cinta karena perceraian orang tuanya.
Keduanya memilih hidup bebas dengan cara masing-masing—sampai mereka menyelamatkan seorang bayi berusia sembilan bulan dari penculikan.
Tak tahu siapa orang tua bayi itu, Reyga dan Berry terpaksa merawatnya bersama.
Dua lelaki yang bahkan tak tahu cara mengganti popok itu perlahan belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu.
Di saat Reyga mulai jatuh cinta pada Amelia, reporter muda yang selama ini selalu ia hindari, Berry justru dihantui masa lalu bersama Melda—perempuan polos yang pernah ia sakiti hingga harus menghadapi kehamilannya seorang diri.
Namun ketika identitas bayi mulai terungkap, mereka sadar bahwa penculikan itu bukan kebetulan.
Bayi kecil yang awalnya mereka anggap sebagai beban ternyata menjadi jalan bagi dua lelaki yang terluka untuk menemukan cinta, keluarga, dan kesempatan kedua.
Bila suka ceritanya, jangan lupa subscribe, like, komentar & votenya ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 : GOSIP YANG MULAI MENGGANGGU
...BAB 25...
...GOSIP YANG MULAI MENGGANGGU...
Siang itu, Amelia akhirnya berhasil mendapatkan kesempatan mewawancarai Alessia.
Setelah beberapa hari menunggu jadwal kuliah gadis itu yang padat, akhirnya Alessia bersedia ditemui di sebuah kafe yang berada tidak jauh dari kampusnya.
Amelia datang membawa kamera, alat perekam, dan buku catatan. Ia sudah berusaha menyiapkan dirinya seprofesional mungkin.
Namun begitu melihat Alessia duduk di hadapannya, hati Amelia kembali teringat pada Reyga.
Lelaki yang beberapa hari terakhir semakin sering meminta bantuannya mengurus Bintang. Dan memintanya nomer rekening.
Sebab Bintang-lah juga, Amelia dan lelaki dingin itu bisa saling mengenal lebih dekat.
Dan sekarang, ia harus mewawancarai perempuan yang dikabarkan dekat dengannya.
Amelia menarik napas. "Baik, kita mulai?"
Alessia tersenyum. "Silakan."
Pertanyaan pertama masih seputar kehidupan Alessia sebagai mahasiswa.
Namun perlahan Amelia mulai memasuki topik yang sebenarnya.
"Oh ya, belakangan ini nama kamu cukup sering dikaitkan dengan Reyga. Bagaimana sebenarnya hubungan kalian?"
Senyum Alessia semakin lebar. "Aku memang menyukai Reyga."
Amelia menulis. "Sejak kapan?"
"Sudah cukup lama. Aku penggemarnya sejak dia mulai dikenal sebagai pembalap." jawabnya.
"Jadi hubungan kalian semakin dekat setelah pesta ulang tahunmu?"
Alessia mengangguk. "Iya."
Kemudian gadis itu mulai bercerita. Namun sebenarnya cerita itu tidak semuanya benar.
"Reyga datang ke pestaku sampai membawaku bunga."
Tangan Amelia berhenti menulis. "Bunga?"
"Iya." Alessia tersenyum malu.
"Dia memang tidak terlalu romantis. Tapi menurutku itu cara dia menunjukkan perhatian."
Amelia menatapnya. "Jadi Reyga memberikan bunga secara langsung padamu?"
"Iya." Alessia mengangguk yakin.
Padahal kenyataannya, Reyga tidak pernah membawa bunga untuknya.
Bahkan saat datang ke pesta, lelaki itu hanya datang karena merasa tidak enak menolak undangan Alessia setelah gadis itu menjadi sponsor pertandingan.
Namun Amelia tidak mengetahui hal itu. Ia terus menulis.
"Apakah Reyga juga mengatakan sesuatu tentang perasaannya?"
Alessia tersenyum. "Dia memang belum mengatakannya secara langsung."
Amelia menatapnya.
"Tapi... Aku tahu dia nyaman denganku."
Alessia sengaja memberikan jawaban yang menggantung. Kemudian menambahkan kebohongan lainnya.
"Dia juga bilang kalau dia senang aku selalu mendukungnya."
Amelia menunduk. Setiap kata yang keluar dari mulut Alessia terasa seperti menekan dadanya.
Entah mengapa. Padahal ia datang sebagai reporter. Seharusnya ia tidak ikut merasakan apa pun.
"Kalau begitu..." Amelia menelan ludah. "Apa harapanmu untuk hubungan kalian?"
Alessia tersenyum lagi. "Aku berharap suatu hari nanti Reyga menjadi pasangan hidupku."
Amelia terdiam. Kamera masih merekam. Alat perekam masih menyala. Namun untuk sesaat Amelia merasa ingin menghentikan semuanya. Ia tidak tahu kenapa.
"Apakah kamu yakin Reyga juga menginginkan hal yang sama?"
Alessia menatapnya. "Aku yakin." Jawaban itu begitu percaya diri. "Karena setelah pesta kemarin, hubungan kami semakin dekat."
Amelia memaksakan senyum profesional. "Baik cukup. Alessia sekali lagi terima kasih banyak atas waktunya."
"Sama-sama."
Wawancara pun selesai. Alessia kemudian tersenyum puas. Ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan.
Media dan perhatian. Dan yang paling penting, sekarang publik mulai melihat dirinya dan Reyga adalah sebagai pasangan selebritis.
*****
Sore harinya, Amelia menyerahkan hasil wawancara kepada atasannya. Ia sebenarnya masih ragu.
"Pak, saya sudah mendapatkan wawancaranya."
Atasannya langsung mengambil rekaman tersebut. "Bagus."
Amelia berdiri diam. "Pak..."
"Hm?"
"Pastikan beritanya tidak dilebih-lebihkan."
Atasannya menatapnya. "Kamu reporter, Amelia. Tugasmu hanya memberikan berita."
Amelia mengangguk. "Iya."
Ia kemudian kembali ke mejanya. Namun tidak lama kemudian, berita itu langsung tayang. Judulnya membuat Amelia terdiam.
“ALESSIA UNGKAP KEDEKATANNYA DENGAN REYGA : AKU BERHARAP DIA JADI JODOHKU!”
Di bawahnya terdapat foto Alessia dan Reyga. Ada foto di pesta, foto saat Alessia memberikan piala, dan ada pula foto ketika mereka berdiri berdekatan di depan kolam renang dengan di kelilingi cahaya lilin di pinggiran taman.
Berita itu menyebar sangat cepat. Amelia memejamkan mata. Ia tidak tahu bahwa sebagian besar cerita yang ia tulis ternyata adalah kebohongan.
Ia hanya mengetahui apa yang dikatakan Alessia. Dan sekarang, publik mulai mempercayainya.
*****
DI KEDIAMAN RUMAH DARMAWAN
Di ruang keluarga yang luas, Darmawan sedang duduk menonton televisi. Berita hiburan kembali menayangkan nama putranya.
Pembalap muda Reyga semakin dekat dengan Alessia, putri pengusaha ternama Armand Wijaya...
Darmawan mengangkat alis. Matanya tertuju pada foto Reyga dan Alessia.
Kemudian muncul pernyataan Alessia tentang harapannya berjodoh dengan Reyga.
Darmawan tersenyum miring. "Jadi begitu rupanya..." Ia bersandar.
Sejak semua fasilitas Reyga dibekukan, Darmawan memang bertanya-tanya bagaimana putranya bisa bertahan.
Sekarang ia merasa sudah menemukan jawabannya. "Memanfaatkan anak orang kaya..." Darmawan terkekeh. "Reyga memang keras kepala. Tapi ternyata dia cukup pintar."
Menurut pikirannya, Reyga pasti sedang memanfaatkan kedekatan itu agar bisa mendapatkan dukungan finansial.
Namun anehnya, Darmawan tidak merasa marah. Justru ia melihat itu sebagai peluang.
Alessia berasal dari keluarga kaya. Armand adalah pengusaha besar.
Kalau Reyga benar-benar menikah dengan Alessia, hubungan bisnis keluarga mereka tentu akan semakin kuat.
Darmawan mengambil ponselnya. "Hubungi sekretaris saya."
Beberapa saat kemudian sekretarisnya datang.
"Iya, Pak?"
"Atur pertemuanku dengan Armand."
Sekretaris itu terkejut. "Pak Armand?"
"Ya." angguk Darmawan.
"Kapan Pak?"
"Kalau bisa secepatnya."
Darmawan kembali melihat layar televisi. Foto Reyga dan Alessia masih terpampang. Senyum miring muncul di wajahnya.
"Kalau memang kau memilih jalan itu, Reyga..." Ia terkekeh pelan. "Setidaknya kali ini pilihanmu tidak buruk."
Padahal Darmawan sama sekali tidak tahu, bahwa Reyga tidak pernah berniat memanfaatkan Alessia.
Dan Reyga bahkan belum tahu dirinya sedang dijodoh-jodohkan oleh media.
*****
SORE MENJELANG MALAM
Di apartemen Berry, suasana justru jauh dari berita dan kemewahan. Reyga sedang duduk di lantai sambil berusaha menyuapi Bintang.
"Satu sendok lagi." Reyga yang tak menyerah merayu Bintang.
Bintang terus memalingkan wajah. Reyga menghela napas. "Kenapa susah banget?"
Bintang malah memainkan sendok.
"Lo mau makan atau main?" sungut Reyga mulai jengkel.
Bayi itu malah tertawa. Reyga menyerah. Ia mengambil ponselnya dan mencari satu nama.
Amelia. Ia langsung menelepon perempuan itu.
["Halo?"] Suara Amelia terdengar. ["Reyga?"]
"Lo sedang sibuk?"
["Baru saja selesai kerja."]
"Bisa ke sini?"
Amelia terdiam. ["Kenapa?"]
["Bintang susah makan."]
Amelia memejamkan mata. Sebenarnya ia sedang tidak ingin bertemu Reyga.
Setelah mendengar semua cerita Alessia siang tadi, hatinya terasa tidak nyaman.
Terlebih sekarang ia harus bertemu dengan lelaki yang dikabarkan sedang dekat dengan perempuan itu.
Namun ketika mendengar suara Bintang dari seberang telepon, rasa enggannya hilang.
["Baiklah."]
"Serius?"
["Iya."]
"Terima kasih."
Tidak lama beberapa menit kemudian Amelia tiba di apartemen. Begitu melihatnya, Bintang langsung tersenyum.
Reyga menggeleng. "Dia dari tadi nggak mau makan."
Amelia duduk di sofa dan memangku Bintang. "Sini sayang sama Tante."
Lalu ia mengambil mangkuk di tangan Reyga. Ajaibnya... Bintang langsung membuka mulut.
Reyga membelalak. "Kenapa kalau sama lo selalu mau?"
Amelia tersenyum geli. "Mungkin dia memang suka sama aku."
"Pengkhianat."
Bintang tertawa.
Amelia menyuapinya perlahan. Hingga akhirnya mangkuk bubur bayi itu bersih tanpa tersisa.
"Akhirnya habis juga..." sahut Amelia puas.
Reyga yang sedari tadi duduk memainkan ponselnya di samping Amelia, diam-diam memperhatikan.
"Kalau gue lihat, Lo itu lebih cocok jadi pengasuh daripada reporter." celetuknya
"Emm, bilang aja kamu memang lagi butuh bantuanku." cibir Amelia.
Reyga mendengarnya langsung terkekeh.
Setelah selesai makan, Amelia juga membantu memandikan Bintang. Sebelumnya ia menyiapkan air hangat.
Setelah Bintang selesai dimandikan dan memakai pakaian bersih, Amelia lalu menyerahkannya kepada Reyga.
"Sudah selesai..."
Reyga menggendong Bintang. "Untung ada Lo, makasih ya..."
Amelia mengangguk tersenyum. Reyga kemudian mengambil ponselnya hendak membuka aplikasi GoFood.
"Em, Lo mau pesan makan apa? Sekalian gue mau beli makanan."
Amelia menggeleng kepala. "Nggak usah tidak perlu Rey..."
Ia awalnya hanya ingin memesan makanan namun ia melihat ada pesan masuk. Beberapa detik kemudian, keningnya langsung berkerut.
Satu berita. Dua berita. Bahkan foto dirinya dan Alessia memenuhi media sosial.
Reyga membuka salah satunya.
“ALESSIA AKUI REYGA ADALAH PRIA YANG DISUKAINYA!”
Reyga membeku. "Apa-apaan ini?"
Amelia yang sedang merapikan perlengkapan Bintang menoleh. "Kenapa?"
Reyga menggulir layar. "Media..." Ia mendengus kesal. "Mereka mulai lagi."
Amelia mendekat. Reyga menunjukkan layar ponselnya. Foto dirinya bersama Alessia. Video pesta. Berita tentang hubungan mereka. Dan komentar publik yang sudah menjodoh-jodohkan keduanya.
Wajah Reyga semakin kesal. "Ini nggak benar."
Amelia terdiam. Reyga menatapnya. "Lo lihat sendiri."
Ia menunjukkan salah satu judul. "Katanya gue sama Alessia semakin dekat."
Reyga tertawa sinis. "Sejak kapan?"
Amelia tidak menjawab. Karena ia tahu, berita itu berasal dari wawancaranya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya, Amelia mulai merasa takut. Takut jika Reyga tahu siapa yang membuat berita itu.
Takut jika Reyga mengira dirinya sama saja dengan reporter lain.
Sementara Reyga masih terus membaca berita. "Media memang suka mengarang cerita bohong. Kerjaannya hanya menggosip."
Ia mengusap wajah. "Besok pasti makin parah lagi."
Amelia hanya bisa berdiri diam. Tidak menyangka bahwa pekerjaannya hari ini akan menjadi sumber masalah baru.
Dan lebih buruk lagi, Reyga sama sekali belum mengetahui bahwa Amelia sendiri yang mewawancarai Alessia dan membuat berita itu tersebar.
Bersambung...