Dante Herrera adalah bos organisasi kriminal paling ditakuti—seorang pria yang tumbuh di dunia penuh timah panas, perintah, dan darah. Namun ketika sebuah bom menghancurkan helikopternya, takdir menjatuhkannya ke tempat yang paling mustahil: halaman sebuah biara yang sunyi.
Mary Mendez baru delapan belas tahun. Seorang yatim piatu yang dibesarkan di balik tembok biara, hidupnya adalah doa, ketenangan, dan kasih tanpa syarat untuk anak-anak panti asuhan. Sampai ia menemukan pria berlumuran darah itu di halaman—dan sesuatu dalam hatinya berbisik bahwa kedatangannya akan mengubah segalanya.
Dua dunia yang seharusnya tak pernah bersinggungan kini saling bertaut. Sang mafia yang tak percaya cinta, dan sang suster yang terikat sumpah pada Tuhan. Setiap tatapan adalah dosa. Setiap detak jantung adalah pertaruhan. Dan semakin keras mereka berusaha menjauh, semakin dalam mereka terjerat.
Namun cinta terlarang bukan satu-satunya bahaya. Rahasia masa lalu, sebuah keluarga yang mengubah gairah menjadi setia, dan musuh lama yang haus balas dendam—semua bersiap menyeret mereka ke dalam badai yang belum pernah mereka bayangkan.
Bisakah kemurnian menyelamatkan seorang pria yang tangannya berlumur dosa? Dan sanggupkah cinta bertahan ketika seluruh dunia menuntut mereka berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gizelly Ladislau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
POV Suster Mary Mendez
Aku tak pernah bepergian sejauh ini.
Sepanjang sebagian besar penerbangan, aku tetap membuka Alkitab di pangkuanku, tapi mataku nyaris tak sanggup mengikuti barisan katanya. Pikiranku terlalu gelisah.
Di sebelahku, Natália mengamati segalanya lewat jendela seperti seorang anak kecil yang berhadapan dengan dunia baru.
"Ya Tuhan... lihat betapa besarnya awan-awan itu!" bisiknya untuk kesepuluh kalinya.
Bárbara tertawa.
"Kau seperti turis yang tersesat."
"Dan kau seperti tukang gosip profesional."
"Memang begitu."
Graziela hanya menggeleng, berusaha menjaga ketenangan.
Sementara itu, aku berusaha untuk tidak menatap Dante.
Kucoba.
Tapi gagal.
Setiap kali kuangkat pandangan, mataku bertemu dengan matanya.
Sunyi.
Menghunjam.
Menghunjam secara berbahaya.
Dan setiap kali tatapan kami bersirobok, jantungku lupa cara kerjanya.
Ini salah.
Sangat salah.
Tapi mustahil untuk mengabaikannya.
Ketika akhirnya kami tiba di properti keluarga Herrera, kupikir aku sedang menyaksikan sebuah adegan film.
Gerbang besi raksasa itu terbuka perlahan.
Jalan yang dikelilingi taman-taman seakan tak berujung.
Air mancur.
Patung-patung.
Pepohonan yang tertata sempurna.
Semuanya megah.
Mewah.
Agung.
Natália nyaris menempelkan wajahnya ke jendela.
"Ini bukan sebuah mansion."
"Ini memang mansion," sahut Giovanni.
"Bukan, Tuan. Ini sebuah kerajaan."
Giovanni terbahak.
Bárbara berusaha mempertahankan sikap seorang biarawati.
Berusaha.
Selama tiga detik.
"Ya Tuhan yang Mahakudus..."
Graziela membelalak.
"Berapa orang yang tinggal di sini?"
"Keluarga kami dan beberapa staf," jawab Kevin.
"Beberapa?" Natália mengulang.
"Ya."
"Berapa?"
"Sekitar tiga puluh."
Natália membuat tanda salib.
"Yesus terkasih."
Giovanni kembali tertawa.
Bahkan Dante tersenyum tipis.
Dan senyum itu nyaris membuatku lupa bernapas.
Ketika kami turun dari mobil, Nyonya Consuelo Herrera menyambut kami di pintu masuk.
Ia membentangkan kedua lengan seperti seorang ibu yang menyambut putri-putrinya yang pulang ke rumah.
"Selamat datang."
Pelukannya begitu hangat.
Tulus.
Penuh kasih sayang.
Ia memeluk kami satu per satu.
Ketika tiba giliranku, ia menangkup wajahku dengan kedua tangannya.
"Kau bahkan lebih cantik dari yang kuingat."
Aku langsung merona.
"Terima kasih."
"Dan jauh lebih manis juga."
Dante berdeham aneh di belakang ibunya.
Consuelo tersenyum.
Sebuah senyum yang penuh maksud tersembunyi.
Dan aku punya firasat bahwa ia tahu persis apa yang sedang terjadi antara aku dan putranya.
Kamar-kamar kami lebih luas daripada seluruh asrama di biara.
Natália mondar-mandir.
"Aku bakal tersesat di dalam sini."
Bárbara membuka lemari pakaian yang besar itu.
"Muat untuk lima puluh biarawati."
"Atau untuk seorang suami dan sepuluh anak," goda Natália.
"NATÁLIA!"
"Apa?"
Wajah Graziela memerah.
Aku menyembunyikan wajah di balik kedua tangan.
Dan mereka bertiga mulai tertawa.
Malam itu kami dipanggil untuk makan malam.
Ketika kami masuk ke ruang utama, aku kehilangan kata-kata.
Sebuah meja raksasa memenuhi hampir seluruh ruangan.
Lampu-lampu kristal berkilauan di atas kepala kami.
Semuanya tampak terlalu anggun.
Terlalu mewah.
Dan kami tampak terlalu tak pada tempatnya.
Tapi Consuelo tak membiarkan kami merasa demikian.
Ia sendiri yang menarik kursi-kursi kami.
Menyajikan hidangan ke piring kami.
Menanyakan apakah kami merasa nyaman.
Apakah kami membutuhkan sesuatu.
Bagai seorang ibu sejati.
Lalu masalahnya bermula.
Susunan tempat duduk.
Karena, entah karena kekejaman takdir yang mana...
Natália duduk di samping Pietro.
Bárbara di samping Giovanni.
Aku di samping Dante.
Dan Graziela di samping Kevin.
Jantungku langsung berdegup kencang.
Berdegup makin kencang ketika kurasakan Dante duduk di sebelahku.
Terlalu dekat.
Sangat dekat.
Aroma tubuhnya seketika menyelimutiku.
Dan itu adalah kesalahan.
Kesalahan besar.
"Jadi, Suster Mary..." Giovanni memulai.
"Ya?"
"Dante banyak bercerita tentangmu."
Aku nyaris tersedak.
Dante memejamkan mata.
"Giovanni..."
"Apa? Aku cuma mengobrol."
Consuelo tersenyum tipis.
Pietro menyembunyikan tawa.
Kevin berpura-pura tak mendengar.
Dan aku ingin menghilang saja.
Sementara itu...
Natália terlibat dalam pertempurannya sendiri.
"Jadi kau si Pietro yang tersohor itu."
"Tersohor?"
"Si kakak yang serius."
"Dan kau si novis yang bikin onar."
Natália memicingkan mata.
"Siapa yang bilang begitu?"
"Semua orang."
Ia membuka mulut, tersinggung.
Pietro tersenyum untuk pertama kalinya.
Dan untuk beberapa detik, mustahil untuk tidak menyadari bahwa ia terpikat.
Sepenuhnya terpikat.
Di seberang meja...
Giovanni mengamati Bárbara.
Bukan dengan cara yang tak sopan.
Melainkan dengan cara yang membuat niatnya jelas terlihat.
"Kau irit bicara."
"Karena harus ada yang mengimbangi kau."
Giovanni menaruh tangan di dada.
"Itu penghinaan."
"Itu diagnosis."
Ia terbahak.
Dan Bárbara terpaksa menyembunyikan senyum.
Sedangkan Kevin...
Kevin cuma mendengarkan Graziela.
Dengan penuh perhatian.
Dengan minat yang tulus.
Seolah setiap kata darinya adalah hal yang penting.
"Kau suka buku?"
"Sangat."
"Apa buku favoritmu?"
Dan begitulah keduanya memulai sebuah obrolan yang tenang.
Kalem.
Damai.
Seakan mereka dua jiwa yang akhirnya menemukan seseorang yang mampu memahami mereka.
Tapi tak ada yang sebanding dengan apa yang terjadi antara aku dan Dante.
Karena kami nyaris tak bertukar kata.
Dan itu justru lebih buruk.
Jauh lebih buruk.
Keheningan di antara kami seakan sarat dengan segala hal yang tak boleh kami ucapkan.
Segala hal yang tak seharusnya kami rasakan.
Pada suatu saat, tangan kami saling bersentuhan bersamaan di atas meja.
Hanya sebuah sentuhan.
Singkat.
Tak sengaja.
Tapi itu sudah cukup.
Sengatan listrik menjalari sekujur tubuhku.
Aku langsung menarik tangan.
Dante pun begitu.
Namun mata kami bertemu.
Dan saling terpaku.
Selama detik-detik yang terlalu panjang.
Terlalu berbahaya.
Lalu Consuelo memutuskan untuk mengakhiri segala kemungkinan ketenangan.
"Mary."
"Ya?"
"Kau membuat senyum putraku kembali."
Aku membeku.
Dante nyaris menjatuhkan gelasnya.
Giovanni meledak dalam tawa.
Pietro menunduk.
Kevin memejamkan mata, pasrah.
Dan aku berharap lantai terbelah menelanku.
Tapi ketika kupandangi Dante...
Ia tidak tertawa.
Ia tidak canggung.
Ia tidak mengalihkan pandangan.
Ia hanya mengamatiku.
Seolah aku satu-satunya orang di ruangan itu.
Seolah ia ingin mengatakan sesuatu.
Sesuatu yang tak berani diakui oleh kami berdua.
Dan pada saat itu aku memahami bahwa bahaya yang sebenarnya bukanlah mansion ini.
Bukan jarak dari biara.
Bukan berada di tengah para mafia.
Bahaya yang sebenarnya adalah hatiku sendiri.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidup...
Aku tak yakin apakah aku sanggup melarikan diri darinya.
Dan itu membuatku lebih ketakutan daripada hal apa pun.