Indonesia
NovelToon NovelToon
Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.

Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?

#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27

Tidak ada jawaban. Hanya suara orang-orang yang mulai meninggalkan kantor. Dimas tetap duduk di tempatnya. Untuk pertama kalinya ia sadar bahwa Tira tidak sedang menunggunya. Tira tidak sedang memberikan kode. Tira bahkan tidak sedang marah kepadanya. Perempuan itu sudah pergi. Dan yang lebih menyakitkan, Tira tampaknya benar-benar ingin melanjutkan hidup tanpa dirinya. "Ya ampuuuuun Tira, aku itu sayang banget lho sama kamu!" Dimas kelepasan, ia bicara cukup keras hingga semua rekan yang seruangan melirik. Ada yang tertawa, ada yang bingung ada juga yang tak peduli.

***

Tepat pukul lima sore, Tira langsung bangkit dari kursinya. Meja kerjanya sudah rapi. Laptop sudah dimasukkan ke dalam tas, berkas-berkas sudah tersusun, bahkan botol minumnya sudah berada di dalam tas. Tidak ada alasan lagi untuk menunda pulang.

Salah seorang teman yang sejak tadi memperhatikannya langsung bersiul. “Wah, wah, wah...”

Tira menoleh. “Kenapa?”

“Jam lima sudah berdiri. Biasanya kamu paling terakhir keluar.”

Teman yang lain ikut menyahut, “Maklum, pengantin baru. Sudah ada yang nunggu.” Tawa langsung pecah di ruangan.

Tira bukannya malu, malah tersenyum santai. “Iya dong.” Jawabannya begitu tenang sampai teman-temannya semakin heboh.

“Ih! Dulu kalau diajak pulang cepat paling banyak alasan.”

“Sekarang beda,” sahut Tira sambil memasukkan ponsel ke dalam tas. “Ada suami yang nunggu.”

“Cie... Kangen, ya?”

Tira hendak menyangkal, tetapi kemudian mengurungkan niat. “Iya.” Teman-temannya langsung tertawa.

“Ya Allah, baru nikah sudah terang-terangan!”

Tira ikut tertawa. “Memangnya kenapa? Salah?”

“Nggak salah. Kami cuma belum terbiasa melihat Tira yang begini.”

Tira mengangkat bahu. “Aku juga belum terbiasa.” Dan memang benar. Sebelum menikah, Tira tidak pernah merasa harus terburu-buru pulang. Bahkan biasanya ia sengaja menunggu sampai suasana kantor sedikit sepi. Ia lebih sering pulang setelah Magrib. Bukan karena tidak ingin pulang, tetapi perjalanan menggunakan transportasi umum pada jam pulang kantor terasa melelahkan. Kereta penuh, stasiun ramai, jalanan macet, dan orang-orang berdesakan seperti semuanya berlomba ingin sampai rumah lebih dulu.

Tira sudah terbiasa menunggu. Kadang ia menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya bisa dikerjakan besok. Kadang ia duduk sambil membuka ponsel sampai arus penumpang mulai berkurang.

Namun sekarang semuanya berbeda. Ada Fahri yang menunggunya di stasiun. Lelaki itu biasanya mengirim pesan beberapa menit sebelum jam pulang. [Sudah selesai? Saya berangkat ke stasiun.]

Dan anehnya, pesan sesederhana itu bisa membuat Tira ingin segera meninggalkan kantor. Hari ini pun begitu. Baru beberapa menit lalu Fahri mengirim pesan. [Saya sudah di stasiun. Pelan-pelan saja, jangan buru-buru.]

Tira justru semakin ingin cepat sampai. Ia membalas, [Aku sudah berangkat dari kantor.]

Tidak lama kemudian Fahri menjawab, [Baik. Hati-hati.]

Tira tersenyum sendiri.. “Aku pulang dulu.” Tira berjalan keluar dengan wajah cerah. Ia sendiri tidak tahu sejak kapan dirinya menjadi seperti ini. Baru pagi tadi mereka berpisah di stasiun. Seharian mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Hanya bertukar beberapa pesan singkat. Tetapi sekarang, ketika waktu bertemu kembali semakin dekat, hatinya terasa ringan. Rasanya sudah rindu. Baru sehari tidak bertemu, tetapi kenapa seperti lama sekali? Tira bahkan sempat menertawakan dirinya sendiri. Baru juga punya suami. Ia turun menuju stasiun dengan langkah cepat. Sesampainya di stasiun, suasana sudah mulai padat. Orang-orang baru pulang kerja memenuhi peron. Tira berdiri sambil sesekali melihat ponselnya.

Kereta telah sampai di stasiun Depok. Tempat ia dan suaminya berpisah tadi pagi. Tira mencari-cari di antara kerumunan. Lalu ia melihat lelaki itu. Fahri berdiri tidak jauh dari pintu keluar, masih mengenakan pakaian kerjanya. Satu tangannya memegang helm, sementara tangan lainnya memegang botol minuman. Begitu melihat Tira, Fahri tersenyum. Tira membalas senyum itu tanpa sadar. Entah kenapa, hanya melihat wajah suaminya setelah seharian bekerja membuat lelahnya seperti berkurang.

Fahri mendekat. “Capek?” tanyanya.

Tira menggeleng. “Nggak.”

“Yakin?”

“Sekarang sudah nggak.”

Fahri tertawa kecil. “Kenapa?”

Tira menatapnya sebentar, kemudian menjawab dengan jujur, “Karena sudah ketemu Abang.”

Fahri terdiam sepersekian detik. Kemudian senyumnya melebar. “Oh.”

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Abang senang?”

“Banget.”

Tira tersenyum malu. Mereka kemudian berjalan menuju tempat parkir. Fahri memakaikan helm Tira. Ia lalu naik ke motor dan memegang pinggang Fahri. Motor perlahan meninggalkan stasiun. Di tengah kemacetan sore Depok, Tira menyandarkan kepalanya sebentar ke punggung suaminya. Tidak ada percakapan. Tidak perlu. Ia hanya ingin menikmati perjalanan pulang. Tira memejamkan mata sebentar. Hari itu ia akhirnya mengakui sesuatu yang selama beberapa hari terakhir berusaha ia abaikan. Ia memang mulai mencintai Fahri. Pelan-pelan. Tanpa dipaksa. Tanpa direncanakan. Tetapi nyata. Mungkin nggak sih, ini yang dinamakan cinta hadir karena bersama?

***

Sore itu mereka kembali bertemu di stasiun setelah jam pulang kerja. Seperti biasa, Tira keluar dari kereta sambil melihat-lihat mencari Fahri di antara orang-orang yang baru pulang kantor. Begitu melihat lelaki itu berdiri dekat pintu keluar, senyumnya langsung muncul.

Fahri pun mengangkat tangan, memberi tanda bahwa ia sudah melihatnya. “Capek?” tanya Fahri begitu Tira mendekat.

“Lumayan.” Tira menyerahkan tas kecilnya sebentar agar bisa merapikan jilbab. “Abang sendiri?”

“Capek juga.”

“Kalau begitu pulang aja yuk?”

Fahri menggeleng. “Nggak.”

Tira mengangkat wajah. “Kenapa?”

“Aku mau ajak kamu makan. Kita ngedate bentar ya.” Fahri mengedipkan sebelah matanya pada istrinya, lalu menggandeng perempuan itu menuju parkiran. Seperti biasanya, sebelum naik motor ia memasangkan helm pada istrinya itu.

Mata Tira langsung berbinar. “Makan apa?”

Fahri sengaja tidak menjawab. “Ikut saja.”

Tira mengerucutkan bibir. “Abang kalau bikin penasaran suka banget.”

“Kalau saya kasih tahu, bukan kejutan.”

Setelah motor melaju beberapa menit, Tira mulai mengenali arah perjalanan mereka. “Bang... Kok ke arah ITC?” Tira langsung duduk lebih tegak. “Kita mau ke sana?”

Fahri tersenyum. “Sabar.”

Begitu mereka berhenti di sebuah tempat yang menjual sup durian, Tira langsung berseru kecil. “Ya Allah!”

Fahri tertawa melihat wajah istrinya yang mendadak cerah. “Senang?”

“Bang, serius?” Tira sampai melepas helmnya dengan tergesa-gesa. “Kok Abang tahu aku mau ini?” seperti anak kecil yang tak sabar masuk ke warung sup durian kesukaannya, Tira menyelonong meninggalkan Fahri. Suaminya mengikuti dari belakang. Mereka duduk berhadapan. Tidak lama kemudian dua mangkuk sup durian datang. Tira langsung mengambil sendok. “Bismillah.” Ia mencicipi satu suapan, lalu matanya langsung berbinar. “Enak banget!”

Fahri tersenyum melihatnya. “Pelan-pelan.”

“Aku sudah lama nggak makan ini.” Tira kembali menyendok. “Abang nggak suka durian?”

“Suka.”

Tira terus menikmati sup duriannya. Sesekali ia bercerita tentang kejadian di kantor. Fahri mendengarkan sambil sesekali menanggapi, dalam percakapan sederhana itulah Tira merasa bahagia. Setelah selesai makan, mereka kembali menuju parkiran. Tira berdiri di samping motor sambil tersenyum. “Bang. Terima kasih.” andai saja ini bukan di tempat umum, Tira sangat ingin mengecup pipi suaminya. Kejutan kecil seperti ini saja berhasil membuat hatinya berbunga-bunga. I love you suamiku! Tira ingin berteriak sekeras mungkin sambil memeluk Fahri, tapi ia menahannya sebab banyak orang di jalan Margonda ini. Tira nggak mau viral untuk kedua kalinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!