Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.
Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.
Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.
Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.
Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Tanpa Menoleh
Gelas Matcha Latte di tanganku sudah menyisakan es batu yang meleleh. Udara di lantai dua kafe itu terasa makin lengang, tetapi suasana di sekitar meja kami perlahan diselimuti ketegangan tipis. Naura melirik cangkir kopinya yang tinggal separuh, lalu mengalihkan pandangan kembali padaku dengan raut wajah yang penuh pertimbangan.
"Sera..." panggil Naura pelan, suaranya sedikit diturunkan agar tidak memantul di ruangan.
"Kenapa, Ra?"
Naura menyenderkan badannya ke sandaran kursi, matanya secara sadar menyapu sudut seberang, meja tempat Adrian dan cewek berambut pendek itu masih duduk. Ia menatapku lurus-lurus dengan tatapan memastikan.
"Kalo kita pergi sekarang, otomatis kita bakal ngelewatin bangku Adrian sama pacarnya. Gak apa-apa, Ser?" tanya Naura hati-hati.
Aku menarik napas panjang, merapikan tali tas kain yang sudah kusampirkan di bahu. Tidak ada getaran di jemariku, tidak ada keraguan di dalam mataku. Aku menatap Naura dengan mantap.
"Gak apa-apa, Ra. Santai aja," jawabku singkat namun tegas.
Naura mengangguk pelan, ikut menghembuskan napas lega. Kami berdua berdiri serentak dari kursi kayu. Aku membetulkan posisi jaket yang kukenakan, melangkah sejajar di samping Naura menyusuri lorong lantai dua menuju arah tangga turun, lorong yang tepat berada di samping meja Adrian.
Langkah kakiku teratur di atas lantai kayu. Setiap tapakan terasa mantap.
Begitu posisi kami berdua makin dekat dengan mejanya, Adrian yang tadinya menatap kosong ke luar jendela mendadak memutar kepalanya. Pandangan mata kami beradu secara tidak sengaja. Adrian membatu di tempatnya, matanya membelalak lebar melihat keberadaanku yang melintas di dekatnya.
Aku hanya menoleh sedikit, sebuah gerakan tipis yang dingin dan tanpa ekspresi, seolah-olah pria di hadapanku ini hanyalah orang asing yang tak sengaja berpapasan di jalan.
Aku langsung membuang pandangan kembali lurus ke depan, melanjutkan langkah menuju tangga. Namun, aku bisa merasakan tatapan mata Adrian mengikat punggungku. Pria itu terus menatapku tanpa berkedip, memperhatikan setiap jengkal langkahku yang makin menjauh menuju pintu keluar.
"Kenapa sih, Adrian?"
Suara perempuan berambut pendek itu terdengar melengking heran di belakang kami, menembus keheningan ruangan saat ia mendapati Adrian mendadak kehilangan fokus dan terus menatap ke arah tangga dengan raut wajah penuh kepanikan yang ganjil.
Tanpa memedulikan sahutan perempuan itu, aku dan Naura menuruni anak tangga dengan cepat. Begitu melintasi pintu kaca lantai dasar, aku bergegas menuju area parkir. Tanganku bergerak sigap memasang helm dan menyalakan mesin Scoopy merahku. Tanpa buang waktu satu detik pun, aku langsung melajukan motor membelah jalanan kota, memacu kecepatan menuju rumah Naura agar tidak ada panggung untuk konfrontasi apa pun.
Roda motorku berhenti di depan pagar rumah Naura. Kami berdua melepas helm dan melangkah masuk ke dalam halaman yang teduh.
Begitu pintu depan terdorong terbuka, kami langsung disambut oleh Kak Citra, kakak Naura, yang sedang merapikan beberapa barang di meja ruang tamu. Wajah Kak Citra yang ramah seketika menyunggingkan senyum hangat saat melihat keberadaanku.
"Eh, Sera!" sapa Kak Citra riang. Kakinya melangkah mendekati kami. "Gimana kemarin? Adik kakak ini merepotkan gak pas menginap di rumah?"
Aku terkekeh pelan, melirik Naura yang langsung memasang raut wajah cemberut di sampingku.
"Sedikit merepotkan sih, Kak," jawabku berseloroh seraya tertawa kecil. "Bikin Sera susah tidur semalaman, soalnya suara ngoroknya kenceng banget!"
Tawa Kak Citra seketika pecah mendengar kelakarku. "Tuh kan! Dibilang juga apa, ngoroknya emang kayak buldozer! "
"Mana ada gue ngorok!" protes Naura tidak terima, menyenggol lenganku gemas seraya memasang muka bersungut-sungut yang justru membuat tawa kami bertiga makin renyah di ruang tamu.
Kak Citra mengusap air mata di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa, lalu menunjuk ke arah dapur. "Yaudah, kalian mandi atau ganti baju sana. Oia, Kakak udah masak ayam gulai buat makan siang. Kalo kalian mau makan, tinggal ambil aja ya di meja makan."
"Asyik! Makasih, Kak Citra!" sahut Naura gembira.
Kami berdua berjalan menyusuri koridor rumah lalu melangkah masuk ke dalam kamar tidur Naura. Kamar bernuansa pastel itu terasa sejuk. Naura melempar tasnya ke atas meja belajar, lalu merebahkan tubuhnya secara terlentang di atas kasur empuk. Aku menduduki kursi kayu di dekat meja, menyandarkan punggungku yang terasa sedikit pegal.
Suasana kamar hening untuk beberapa saat, hanya diisi oleh suara hembusan pendingin ruangan. Naura menatap langit-langit kamarnya, tampak sedang merenungkan sesuatu yang mengganjal di benaknya sejak kami meninggalkan kafe tadi.
"Sera..." panggil Naura pelan, memutar kepalanya menatapku dari atas kasur.
"Kenapa, Ra?"
"Gue mikir ya..." tutur Naura dengan nada spekulatif. "Mungkin si Adrian tuh emang lagi nyari yang pas gak sih? Bukannya laki-laki emang rata-rata begitu ya? Gue pernah denger Bastian bilang waktu itu pas nongkrong... katanya cowok kalo milih cewek tuh ada proses audisi, seleksi, terus apa tuh satu lagi..."
"Eliminasi?" tebakku pelan.
"Nah! Itu dia! Audisi, seleksi, terus eliminasi!" seru Naura menepuk bantalnya. "Kayak ajang pencarian bakat aja!"
Aku tak sanggup menahan tawa kecil yang lolos dari bibirku. Aku menggeleng-gelengkan kepala seraya terkekeh pelan. "Bisa-bisanya para lelaki mempermainkan perasaan wanita kayak gitu."
Namun, raut wajah Naura yang tadinya bercanda mendadak berubah menjadi lebih hangat dan penuh keseriusan. Ia mengubah posisi duduknya menjadi bersila, menatap manik mataku lekat-lekat.
"Tapi, Ser..." bisik Naura tulus. "Kalo dari matanya tadi... gue liat Adrian tuh kayanya masih sayang sama lo."
Kata-kata Naura mengudara di dalam kamar yang sunyi.
Aku terdiam.
Bibirku terkunci rapat, tak sanggup menyusun kalimat balasan seketika. Hati yang tadinya tenang mendadak berdesir pelan. Masih sayang... Kata itu terasa begitu manis, tetapi sekaligus teramat pahit di saat yang bersamaan.
Aku menghembuskan napas panjang, menatap jemariku sendiri yang terpaut di atas pangkuan.
"Mungkin emang masih sayang, Ra..." bisikku lirih, menatap Naura dengan binar mata yang jernih namun dingin. "Tapi sayang aja tuh gak pernah cukup kalo gak ada kesetiaan di dalamnya."
Naura membisu, menyimak setiap patah kata yang meluncur dari bibirku.
"Buat apa dia bilang sayang, atau natap gue kayak gitu..." lanjutku dengan ketegasan yang makin bulat, "...kalo di belakang gue dia masih nyimpan kontak Sayang 1, Sayang 2, atau jalan berdua sama cewek lain tanpa bisa jujur?"
Naura menatapku dalam-dalam, lalu tersenyum mengangguk pelan. Ia melangkah turun dari kasur, mendekatiku dan merangkul bahuku erat.
"Lo bener, Ser," puji Naura lembut di dekat telingaku. "Lo terlalu berharga buat dia. Gue seneng lo bisa selogis ini."
Rasa sesak yang sempat menyusup pelan seketika sirna digantikan oleh kehangatan persahabatan. Aku membalas pelukan Naura, menyadarkan diriku sendiri bahwa keputusan untuk melangkah pergi adalah hadiah terbaik yang bisa kuberikan untuk diriku sendiri.