Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Perjalanan selama tiga jam akhirnya sampai juga. Mobil yang dikendarai Narendra perlahan melambat, melintasi jalanan berpasir hingga akhirnya berhenti di sebuah tepi tebing rendah yang menghadap langsung ke arah laut lepas.
Naren mematikan mesin mobil. Ia menoleh ke samping dan melihat Tiyas yang tertidur pulas.
Kelelahan dari kepedihan kemarin dan sisa sisa pusing akibat alkohol rupanya benar-benar menguras tenaga wanita itu.
Wajah Tiyas terlihat begitu tenang dan polos saat terlelap.
Naren tersenyum tipis, menatapnya dengan pendar mata yang amat lembut.
"Sleeping beauty, ayo bangun." bisiknya halus.
Naren bergerak membantu Tiyas. Dengan gerakan amat pelan agar tidak mengejutkan wanita itu, ia merengkuh bagian belakang kepala Tiyas dan membuka penutup mata kain halus yang terikat di sana.
Tiyas mengedipkan matanya berkali-kali, menyesuaikan penglihatannya dengan pendar cahaya cerah di luar.
Saat kesadarannya terkumpul sepenuhnya, pandangannya langsung menyapu pemandangan di balik kaca depan.
Tiyas melirik debur ombak putih yang bergulung-gulung menghantam garis pantai berpasir luas, dibingkai langit biru cerah dan angin laut yang bertiup kencang.
"Naren," gumam Tiyas terpana, matanya berbinar tak percaya.
Rasa sesak yang semalam memenuhi dadanya seolah terangkat seketika oleh keindahan alam di hadapannya.
"Ini yang aku lakukan jika suntuk," ucap Naren pelan seraya menatap Tiyas yang kini tersenyum lepas.
Tanpa menunggu lama, Naren keluar dari mobil, membukakan pintu untuk Tiyas, lalu yang kemudian mengajak Tiyas bermain air.
Ia melepaskan alas kakinya, menyambar jemari Tiyas, dan menarik wanita itu berlari kecil menuju bibir pantai.
Sentuhan air laut yang dingin membasahi kaki mereka, bercampur dengan gelak tawa bebas yang akhirnya kembali terdengar dari bibir Tiyas.
Di bawah deburan ombak dan embusan angin laut, Tiyas perlahan menemukan kembali separuh jiwanya yang sempat hilang.
Tiyas tertawa lepas, berlari-lari kecil menghindari kejaran buih ombak yang menyapu jemari kakinya.
Sudah sekian lama ia tidak merasakan kebebasan murni seperti ini.
Tanpa sadar, kakinya pijakan pasir yang mendadak amblas tergerus arus air.
"Naren!" pekik Tiyas panik saat tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Refleks yang cepat, Naren memburu dan menangkap tubuh Tiyas sebelum wanita itu terhempas ke pasir.
Benturan kecil tak terelakkan. Tiyas jatuh memeluk tubuh Naren yang tegap dan kokoh, menahan bobot tubuhnya dengan sempurna.
Dada mereka berdua naik turun memburu. Di antara deru angin pantai dan aroma garam yang tajam, dunia seolah mendadak membisu.
Mereka berdua saling pandang. Manik mata Tiyas yang bening terkunci rapat pada tatapan Naren yang begitu dalam, sarat akan pendar rasa protektif dan kehangatan yang belum pernah Tiyas rasakan dari pria manapun.
Jemari Tiyas masih meremas pelan bahu kemeja Naren, sementara kedua tangan Naren mendekap erat pinggang Tiyas, enggan melepaskannya.
Jarak di antara mereka terkikis. Naren mendekat ke arah bibir Tiyas, mengikis sisa udara di antara wajah mereka dengan hembusan napas yang hangat.
Tiyas meremang, memejamkan matanya pasrah, membiarkan hatinya menyerahkan sisa-sisa pertahanan yang ada.
BYUURRR!
Sebuah ombak besar mendadak bergulung tinggi dan menghantam tubuh mereka dari samping.
Air laut membasahi pakaian mereka hingga kuyup dalam sekejap, membuyarkan suasana romantis yang baru saja terbangun.
Tiyas tersentak kaget sambil terbatuk kecil, matanya membelalak lebar.
Naren pun tak kalah terkejutnya, mengusir air laut yang mengalir turun dari rambutnya yang kini basah kuyup.
Keheningan ajaib tadi hancur lebur seketika. Mereka berdua salah tingkah, menyadari betapa dekatnya posisi mereka beberapa detik yang lalu.
Wajah Tiyas merona merah padam, cepat-cepat melepaskan pelukannya dari dada Naren dan memalingkan wajahnya.
Sementara Naren menggaruk tengkuknya yang tak gatal, berdehem mencoba menguasai rasa canggung yang mendadak memenuhi dadanya.
Namun, menatap satu sama lain dengan kondisi basah kuyup seperti kepiting rebus, pertahanan mereka akhirnya jebol juga.
Tiyas dan Naren tertawa kecil secara bersamaan, melepaskan kepenatan dan canggung di tengah gulungan ombak.
"Ayo beli es kelapa muda," ajak Naren seraya tersenyum lebar, meraih jemari Tiyas kembali untuk menuntunnya berjalan menuju warung kecil di tepi pantai.
Mereka menuju ke sebuah warung sederhana beratap jerami yang berdiri santai di tepi pantai.
Angin laut yang berembus perlahan membelai wajah mereka yang masih tersisa gurat kebasahan dari air laut.
Narendra memesan dua kelapa muda utuh kepada penjual warung.
Sembari menunggu pesanan disiapkan, Tiyas yang merasa lapar melihat jajaran camilan hangat di etalase.
Ia mengambil lumpia goreng yang masih mengepul, lalu memberikan saus kacang kental di atasnya dengan cermat.
"Enak?" tanya Narendra memperhatikan Tiyas yang langsung melahap gigitan pertamanya dengan lahap.
Tiyas menganggukkan kepalanya antusias, mengunyah dengan rasa puas yang terpancar jelas di wajahnya.
"Enakkan di sini dari pada mabuk?" ledek Naren dengan nada jahil seraya terkekeh pelan.
Wajah Tiyas seketika merona merah teringat kejadian semalam, namun ia tidak bisa membantah.
"Iya, Naren." bisiknya malu-malu, menunduk sedikit sambil menyunggingkan senyum tulus.
Tak lama kemudian, dua buah kelapa muda es dengan sedotan dan sendok kerok disajikan di meja mereka.
Kemudian mereka menikmati es kelapa muda bersama, meneguk kesegaran manisnya di tengah hangatnya pendar matahari pantai dan obrolan ringan yang terus mengalir naturally, menyapu bersih sisa-sisa duka dari masa lalu mereka.
"Apa rencana kamu setelah bercerai dengan Gio?" tanya Naren seraya meletakkan sendok kerok kelapanya.
Matanya menatap Tiyas dengan lekat, mencari kepastian di balik binar mata wanita itu.
Tiyas menghela napas panjang, memandangi buih ombak yang menyapu pasir pantai di depan mereka.
"Aku akan menghabiskan waktuku untuk kerja, kerja, dan kerja," jawabnya mantap, berusaha menguatkan hatinya sendiri.
"Aku mau fokus menata karier dan membesarkan perusahaan kembali."
Tiyas memutar duduknya menatap Naren yang masih bergeming.
"Kalau kamu? Apa rencana kamu?" tanya Tiyas balik.
Naren menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kayu, menatap lurus ke dalam manik mata Tiyas tanpa ada sedikit pun keraguan.
"Rencanaku adalah menikahi kamu."
Tiyas yang mendengarnya langsung tersedak.
"Uhuk! Uhuk!" Tiyas terbatuk-batuk hebat hingga dadanya naik turun.
Ia cepat-cepat meraih es kelapa mudanya dan meminumnya tergesa-gesa untuk meredakan rasa gatal di tenggorokannya.
Wajahnya memerah padam, bukan hanya karena tersedak, tapi juga karena degupan jantungnya yang mendadak melompat liar.
"Jangan bercanda, Naren," ucap Tiyas seraya mengusap bibirnya dengan tisu, mencoba tertawa kecil untuk mencairkan suasana yang mendadak intens.
"Tiyas, aku nggak bercanda," potong Naren cepat. Suaranya rendah, namun tegas dan penuh penekanan.
Tiyas menggelengkan kepalanya pelan, menatap Naren dengan sorot mata yang dipenuhi keraguan dan rasa tak percaya.
"Naren, mungkin sekarang kamu sedang emosi sesaat. Kamu baru saja memergoki pengkhianatan Mia, dan aku baru lepas dari Gio. Jangan mengambil keputusan cuma karena rasa kasihan atau emosi yang campur aduk."
Tiyas tidak ingin hubungan yang lahir dari kebingungan dan luka masa lalu hanya akan kembali berujung pada kekecewaan.
Namun, Naren justru meraih jemari Tiyas di atas meja, menggenggamnya erat dan menyalurkan rasa hangat yang menghujam langsung ke dada Tiyas.
"Tiyas, aku serius. Apa kamu mau menikah dengan aku?" ulang Naren, sama sekali tidak goyah oleh keraguan Tiyas.
Tiyas memandang wajah Naren. Ia mencari gurat kebohongan, keraguan, atau sekadar lelucon di sana, namun yang ia temukan hanyalah ketulusan yang telanjang dan tekad bulat dari seorang pria yang tahu betul apa yang diinginkannya.
Dada Tiyas bergemuruh hebat; ada kebahagiaan yang menyelinap, tetapi ketakutan akan kegagalan masa lalu masih membayangi pikirannya.
"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang," bisik Tiyas lirih, menundukkan pandangannya ke arah genggaman tangan mereka.
Naren tidak tampak kecewa. Sebaliknya, sebuah senyum tipis yang amat lembut terulas di bibirnya.
Ia mengusap punggung tangan Tiyas dengan ibu jarinya.
Naren menganggukkan kepalanya memahami. "Aku mengerti, Tiyas. Aku akan menunggu jawabanmu."
Setelah itu mereka mencari tempat ganti untuk mengganti pakaiannya.
Di area fasilitas pantai yang bersih, Tiyas mengganti kemeja dan celana milik Naren yang kuyup dengan pakaian cadangan yang kebetulan dibawa Naren di dalam bagasi mobilnya.
Usai mengeringkan rambut dan merapikan diri, Tiyas keluar dengan wajah yang jauh lebih segar.
Pendar kemerahan di pipinya akibat efek alkohol semalam kini telah berganti dengan rona alami yang hangat.
"Ayo, sekarang kita jalan-jalan, setelah itu kita makan siang di ikan bakar," ajak Naren seraya menyunggingkan senyum manisnya. Pria itu menyandarkan tangannya di atas atap mobil, menatap Tiyas yang baru saja melangkah mendekat.
"Ikan bakar?" mata Tiyas berbinar. Aroma gurih bumbu bakar yang tertiup angin dari deretan warung pantai memang sejak tadi menggugah selera makannya.
"Yup. Ada warung makan di ujung tebing sana yang terkenal sama bumbu olesan rempahnya. Dijamin bikin kamu lupa sama semua pusing kamu," ledek Naren tipis, mencoba mencairkan sisa kecanggungan dari pembicaraan serius mereka beberapa saat lalu.
Tiyas tertawa kecil, melupakan sejenak beban lamaran mendadak dari Naren.
"Ya sudah, tunggu apa lagi? Jangan sampai kehabisan!"
Naren membukakan pintu mobil untuk Tiyas dengan gestur manis khas seorang pria sejati.
Mereka pun melaju menyusuri pesisir pantai, menikmati semilir angin laut dan kebersamaan sederhana yang perlahan-lahan menyembuhkan dua hati yang pernah terluka.
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
sokooorrr.....😛😛😛
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘