Sinopsis:
Lima belas tahun setelah perpisahan yang dipenuhi salah paham, Helena kembali bertemu dengan Arthur Fernando, mantan suami yang tak pernah berhenti mencarinya. Di balik perceraian mereka, tersimpan konspirasi musuh yang ingin menghancurkan klan Fernando. Kini, saat kebenaran terungkap, Arthur bertekad merebut kembali Helena, meski harus menjadikannya tawanan cinta yang tak pernah padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Masa Pemulihan dan Kebersamaan
Sejak pernikahan itu, hari-hari di rumah pantai terasa begitu hangat. Arthur sudah mulai bisa berjalan tanpa tongkat, meskipun dia masih harus berhati-hati saat melakukan gerakan yang berat. Dokter memperbolehkan dia untuk beraktivitas normal, tapi dia harus tetap melakukan fisioterapi dua kali seminggu.
Pagi itu, Helena menemani Arthur ke rumah sakit untuk fisioterapi. Setelah selesai, mereka duduk di ruang tunggu, menunggu Aldi menjemput mereka.
"Arthur, bagaimana perasaanmu? Apakah lukamu masih terasa sakit?" tanya Helena.
Arthur tersenyum. "Masih sedikit nyeri, tapi jauh lebih baik. Aku bersyukur bisa cepat pulih. Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu untuk berbaring di tempat tidur."
Helena menggenggam tangan Arthur. "Kamu harus tetap berhati-hati, Arthur. Jangan memaksakan diri."
Arthur menatap Helena dengan tatapan lembut. "Aku tahu, Hel. Tapi aku juga ingin beraktivitas. Aku ingin mengajari James banyak hal. Aku ingin mengajaknya memancing, berenang, dan bermain di pantai."
Helena tersenyum. "James pasti senang sekali."
Aldi tiba di depan rumah sakit. Mereka berdua masuk ke mobil, dan Aldi membawa mereka pulang. Dalam perjalanan, Arthur menatap pemandangan pantai yang terlihat dari kejauhan.
"Aldi, bagaimana kabar tim yang menjaga kita?" tanya Arthur.
Aldi menjawab dari kursi depan. "Semua aman, Pak. Hendra sudah ditahan di penjara, dan semua anak buahnya sudah diamankan. Tidak ada lagi ancaman untuk keluarga Bapak."
Arthur mengangguk. "Terima kasih, Aldi. Kamu sudah bekerja keras."
Aldi tersenyum. "Ini tugas saya, Pak. Saya senang bisa membantu Bapak."
---
Sesampainya di rumah, Arthur masuk ke ruang tamu dan menemukan James yang sedang duduk di lantai, membaca buku. James menoleh dan tersenyum lebar saat melihat Arthur dan Helena masuk.
"Pa, Ma! Kalian sudah pulang!" seru James.
Arthur tersenyum. "Iya, Nak. Papa sudah selesai fisioterapi."
James berjalan mendekat, memeluk Arthur dengan hati-hati. "Pa, apakah kamu sudah bisa berjalan normal?"
Arthur mengangguk. "Sudah, Nak. Papa sudah bisa berjalan. Sekarang, Papa bisa mengajari kamu berenang lagi."
James melompat kegirangan. "Kapan kita mulai, Pa?"
Arthur tertawa. "Bagaimana kalau sore ini? Setelah makan siang."
---
Sore harinya, Arthur dan James sudah berdiri di tepi kolam renang. Helena duduk di kursi di samping kolam, menikmati pemandangan keduanya.
"James, kamu harus rileks saat berenang. Jangan kaku," kata Arthur, berdiri di dalam kolam dengan air setinggi dada.
James mengangguk, mencoba mengikuti instruksi Arthur. Dia mengapungkan tubuhnya, tetapi masih terlihat kaku.
"Pa, aku takut tenggelam!" seru James.
Arthur tersenyum, mendekat. "Papa akan memegangmu, Nak. Kamu tidak akan tenggelam. Percayalah pada Papa."
James menatap Arthur, lalu mengangguk. Dia mencoba mengapungkan tubuhnya lagi, kali ini dengan lebih santai. Arthur memegang perutnya, membantunya tetap mengapung.
"Bagus, James! Kamu sudah mulai bisa mengapung!" puji Arthur.
James tersenyum bangga. "Aku bisa, Pa! Aku bisa!"
Helena tersenyum melihat keduanya. Dia merasa sangat bahagia melihat James belajar dari Arthur. Setelah beberapa lama, James akhirnya bisa berenang sendiri, meskipun masih dengan gaya yang kaku.
"Pa, aku bisa berenang!" seru James, melompat-lompat di dalam air.
Arthur tertawa. "Kamu memang anak yang hebat, James. Papa bangga padamu."
---
Malam itu, Helena memasak makan malam favorit James—ayam goreng dan sayur sup. Mereka bertiga duduk di meja makan, menikmati makanan dengan suasana yang hangat.
"James, bagaimana sekolahmu hari ini?" tanya Arthur.
James mengangguk. "Baik, Pa. Hari ini kami belajar tentang sejarah. Aku senang, karena aku bisa belajar banyak hal baru."
Arthur tersenyum. "Kamu memang anak yang cerdas."
Helena menatap James. "James, Mama ingin bertanya. Apakah kamu tidak keberatan jika Papa dan Mama tinggal di Jakarta? Kamu tidak rindu Surabaya?"
James menggeleng. "Tidak, Ma. Aku sudah betah di sini. Aku suka rumah ini, aku suka pantai, dan aku suka bisa tinggal bersama Papa dan Mama. Aku tidak rindu Surabaya."
Helena tersenyum. "Kamu sudah beradaptasi dengan baik."
James menatap Arthur. "Pa, aku ingin mengajak kamu ke sekolahku besok. Kita bisa bertemu dengan guru-guruku. Mungkin mereka penasaran dengan ayahku."
Arthur tersenyum. "Tentu, Nak. Papa akan pergi ke sekolahmu besok."
---
Keesokan paginya, Arthur dan James berangkat ke sekolah. Arthur mengenakan kemeja putih dan celana panjang, terlihat rapi dan berwibawa. James tersenyum bangga saat mereka berjalan melewati gerbang sekolah.
"Pa, ini kelas sejarahku," kata James, menunjuk sebuah ruangan.
Arthur menatap ruangan itu. "Bagus, Nak. Papa dulu juga suka sejarah."
Guru sejarah James, seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal, keluar dari ruangan. "James, siapa pria tampan di sampingmu ini?"
James tersenyum bangga. "Ini ayahku, Pak. Dia baru saja kembali ke hidupku."
Guru itu tersenyum. "Senang bertemu denganmu, Pak. James adalah siswa yang sangat cerdas. Dia selalu aktif di kelas."
Arthur tersenyum bangga. "Terima kasih, Pak. Saya bangga pada James."
Setelah berkeliling sekolah, Arthur dan James duduk di bangku taman. James menatap Arthur. "Pa, apakah kamu akan selalu ada untukku?"
Arthur menatap James dengan penuh kasih sayang. "Aku akan selalu ada untukmu, James. Apapun yang terjadi. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi."
James tersenyum, memeluk Arthur. "Aku sayang kamu, Pa."
Arthur memeluk James erat. "Aku juga sayang kamu, Nak."
---
Malam itu, Helena dan Arthur duduk di teras belakang. Helena menatap Arthur. "Kamu benar-benar berubah, Arthur. Kamu sudah menjadi ayah yang luar biasa."
Arthur tersenyum. "Karena kamu memberiku kesempatan, Hel. Kamu memberiku kesempatan untuk menjadi ayah bagi James."
Helena menggenggam tangan Arthur. "Aku tidak pernah menyesal, Arthur. Ini adalah keputusan terbaik dalam hidupku."
Arthur menatap Helena, lalu menciumnya lembut. "Aku mencintaimu, Helena. Selamanya."
Helena tersenyum. "Aku juga mencintaimu, Arthur. Selamanya."
Malam itu, di bawah bintang-bintang yang bersinar, keluarga Fernando yang baru terbentuk terus memperkuat ikatan mereka. Tidak ada lagi masa lalu yang menghantui, tidak ada lagi rahasia yang disembunyikan. Hanya ada cinta, kebahagiaan, dan harapan yang baru.