*THE HEIR'S MISTAKE*
*Kesalahan Sang Pewaris*
Mereka tidak pernah ditakdirkan untuk saling mencintai.
Dia adalah pewaris keluarga terpandang. Dingin, arogan, dan punya reputasi buruk.
Pertunangan yang diatur kedua orang tuanya adalah mimpi buruknya.
Dia adalah gadis baik-baik, putri dari sahabat orang tuanya.
Sama-sama benci perjodohan ini. Sama-sama ingin bebas.
Sampai satu malam menghancurkan segalanya.
Alkohol. Amarah. Dan satu kesalahan besar.
Dia hamil. Tanpa pernikahan. Tanpa cinta.
Penuh benci dan malu, dia memilih pergi.
Menghilang selama 5 tahun. Membesarkan anak itu sendirian.
Bersumpah tidak akan pernah kembali.
Kini dia kembali. Lebih kuat. Lebih dingin.
Menggandeng tangan putra yang wajahnya mirip sekali dengan sang pewaris.
Dia tidak butuh istri.
Tapi dia akan melakukan apa saja demi anaknya...
Bahkan jika itu berarti berlutut di hadapan wanita yang bersumpah akan membencinya selamanya.
_Beberapa kesalahan tidak bisa dihapus.
Kau harus menikahinya._
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Empat
# Tiga puluh empat
Keributan di kamar mandi terus berlangsung, baik Hanum dan Leon sama-sama tidak mau mengalah. Keduanya berpendapat sama-sama benar. Leon merasa ada yang salah dengan hidung Hanum, sehingga ia akan membawa istrinya tersebut ke dokter spesialis THT.
Tersinggung dengan sikap Leon, Hanum ogah dekat-dekat dengan suaminya itu.
“Sudah... Mas ke luar sana!” Huek huek
Hanum kembali memuntahkan isi dalam perutnya.
Cemas, Leon mulai melembut. “Kamu tadi makan apa, Hanum?”
“Makan apa? Cuma makan seperti biasanya saja. Jangan dekat-dekat, baunya menyengat.” Hanum menepis tangan Leon yang menyentuh tubuhnya.
“Ya sudah, aku akan mandi dulu. Agar baunya hilang!” Leon yang selesai mandi pun langsung mandi lagi, ia pun mengambil pakaian yang tanpa parfum pewangi. Sehingga baunya cukup netral. Hanya bau matahari.
Dilihatnya Hanum sudah terbaring miring di tepi ranjang, “Apa aku harus memanggil dokter malam ini?” tanya Leon sembari menempelkan tangan di dahi sang istri.
“Gak, tidak usah. Sepertinya aku salah makan.”
Leon pun berbaring di sisi Hanum, karena ia memakai baju anti parfum. Hanum pun tak menepis tangannya yang memeluk Hanum.
“Tidurlah, biar aku pijitin,” Leon memijat tubuh istrinya. Hingga sang istri tidur lelap.
Keributan terjadi lagi setelah matahari bersinar dengan terik. Siang itu Hanum meminta Leon datang menjemputnya ke kantor. Setelah Leon datang, padahal kala itu suaminya sedang meeting di kantor. Langung datang karena istrinya menelpon.
Akan tetapi, setelah sampai di kantor sang istri. Ia malah disuruh pulang kembali. Hanum semula ingin melihat wajah suaminya, begitu sudah ketemu. Ia malah menyuruh Leon pulang.
“Hanum kamu ini kenapa akhir-akhir ini!” protes Leon. Agar rekan kerja Hanum tak melihat mereka, Leon sengaja mengunci ruang kerja istrinya dari dalam.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin ketemu.”
“Lalu sekarang menyuruhku pergi?”
“Itu...!” Hanum tak bisa menjawab, ia sendiri juga tak tahu. Mengapa menjadi super rese seperti begini.
“Ada apa denganmu, Hanum?” Leon mendekati istrinya, semakin dekat dan sangat dekat.
Huek huek
Hanum langsung ke luar ruang kerjanya, lari ke kamar kecil.
“Ya Tuhan ada apa dengan wanita itu?” Leon memegang kepalanya yang terasa pusing.
Sesaat kemudian, Hanum muncul dengan mengenakan masker. “Kok belum pulang, Mas?”
“Hanum, kamu benar mengusirku?” Leon menatap seolah tak percaya.
“Itu...” Hanum terdiam.
“Besok kita ke psikiater!”
“Hah?” Hanum takjub dengan apa yang telinganya dengar, apa gak salah? Ngapain ke psikiater. Siapa juga yang mengalami ganguan kejiwaan. Keterlaluan!
“Udah... Mas pulang saja!” tambahnya setelah melirik Leon dengan ekor matanya. Sebal, Leon pun pergi meninggalkan kantor Hanum.
Malam hari di rumah. Saat mereka akan berangkat tidur, tiba-tiba saja Hanum menciptakan dinding pembatas diantara mereka berdua. Ia mengunakan guling sebagai pagar agar Leon tak dekat-dekat padanya.
“Apa-apaan ini, Hanum? Kalo begini aku bener-bener pergi menemui orang itu!” ancam Leon. Jadi ceritanya Leon tak jadi ke luar kota menemui pelaku penabrakan karena Hanum melarangnya. Lah setelah Leon memenuhi apa kata istrinya, ini malah Hanum bersikap kelewat tak wajar.
Masa satu ranjang dibagi dua dengan pembatas guling serta bantal, mereka kan sedang tak ribut. Dan hubungan baik-baik saja. Lalu mengapa dipisah segala. Tersinggung, Leon melempar semua bantal dan guling ke bawah lantai.
Hanum melongo dibuatnya. “Ya Ampun, apa yang Mas lakukan!”
“Kamu itu, apa yang kamu lakukan!”
“Aku... Cuma!” Lagi-lagi Hanum tak memiliki alasan atas sikap tak wajarnya akhir-akhir ini. “Aku hanya tak ingin dekat-dekat dengan Mas!” ucapnya sambil tertunduk. Ia tahu pasti, sebentar lagi gunung amarah Leon pasti akan meletus dan memuntahkan wedus gembel yang akan membakarnya.
“Kamu masih istriku kan Hanum?” Leon menatap nanar pada wanita super aneh itu.
“Aku gak suka baumu!”
“Ya Tuhan! Lagi-lagi bau?” Leon masih menatap tak percaya. Kesal, jengkel campur marah. Ia pun melepas semua pakaiannya. Hingga kini hanya memakai kolor ijo saja. “Sudah! Puas?” Leon memalingkan wajahnya. Kemudian tidur membelakangi Hanum. Wanita itu selalu mempermasalahkan aromanya. Membuat Leon merasa geram.
Dini hari, ketika udara malam terasa dingin, Leon tidur sambil menggigil. Karena tak mengenakan apapun sama sekali. Bahkan pria itu sampai mengerakkan gigi-gigi putihnya.
“Mas... Mas!” Hanum menggoyangkan lengan suaminya, karena berisik. Mulutnya menimbulkan suara yang membuatnya tak bisa tidur.
“Iya!” Leon pun menyahut namun masih setengah sadar.
“Jangan berisik!” ujar Hanum sambil menepuk lengan kekar suaminya itu.
“Apa sih Hanum! Ini gak boleh, itu gak boleh!” Leon membuka mata, ia membentak istrinya yang cerewet dan super menguji akhir-akhir ini.
Karena Leon membentak dirinya, tanpa permisi matanya langsung basah. Hanum yang berubah jadi baperan dan perasa langsung menangis sesenggukan.
“Hanum... sorry Hanum. Maaf... ya aku salah!” Leon memeluk tubuh istrinya.
Marah karena Leon berteriak padanya, Hanum menepis pelukan itu. Ia mendorong tubuh Leon sampai pria itu terjungkal ke bawah ranjang.
“Hanum!” pekik Leon yang merasa pinggangnya terasa kesakitan.
Hanum sendiri hanya menelan ludah, merasa salah juga iya. Tapi engan meminta maaf, ia pun hanya melengos tak membantu suaminya bangun.
Sebal, Leon pun memilih tidur di sofa. Hanum benar-benar membuatnya sangat frustasi kali ini. Satu jam kemudian, Leon sudah tertidur di atas sofa. Pria kaya raya itu hanya mengenakan kolor ijo dan meringkuk di sofa.
Hanum yang terserang insomnia, matanya tak bisa terpejam. Ranjang ia kuasai sendiri terasa hampa. Kakinya pun perlahan turun dari ranjang, mencari Leon suaminya.
“Mas... Mas Leon.”
Dilihatnya Leon tidur dengan tak nyaman. “Mas, cepat pindah. Nanti tubuhmu sakit semua.”
“Hemmm, ogah! Nanti kamu tendang lagi. Sakitnya saja belum hilang!” jawab Leon dengan ketus, padahal ia masih setengah sadar.
“Ish! Pendendam sekali!” rutuk Hanum. Tak ingin kesepian di ranjang ukuran king tersebut, Hanum menggoyang-goyangkan tubuh suaminya. “Ayo pindah!”
“Aduh Hanum, ada apa sih denganmu?” Leon duduk dengan malas-malasan.
“Pindah!” Hanum menampakkan wajahnya seperti peri, membuat Leon tak tahan.
“Iya, iya!” Leon dengan malas berjalan ke arah ranjang. Begitu sampai, ia langsung tengkurap di tempat paling nyaman itu.
“Agak minggir ke sana!” protes Hanum karena Leon mengambil banyak tempatnya.
“Hanum, jangan mulai ya. Aku ngantuk banget. Jangan cari gara-gara!” Leon ngambek.
Pagi harinya, Leon bangun. Ia membuka mata, melirik ke samping. Sang istri sudah tak kelihatan batang hidungnya. “Ke mana si cerewet itu?” tanyanya sambil menarik selimut, karena dingin sekali. Sepertinya Hanum menurunkan suhu AC di dalam kamar.
Srekkk
Seseorang membuka gorden jendela kamar, membuat cahaya matahari langsung menimpa wajah Leon. Pria itu pun langsung menghalangi cahaya itu dengan tangan.
“Bangun!” Hanum menyibak selimut yang menutupi tubuh sang suami.
“Aku masih mau tidur lagi, semalam kamu membuatku tak bisa tidur!” Leon menarik selimut, tak peduli pada Hanum yang menyuruhnya bangun, ia malah memilih tidur lagi.
“Mau tidur sampai kapan?” cibir Hanum, ia memaksa menarik kain tebal yang menyelimuti tubuh sang suami.
“Sebentar lagi!” seperti anak kecil, keduanya berebut kain tebal itu.
“Ya sudah, aku berangkat dulu.” Saat Hanum akan mengecup pipi suaminya, baru beberapa inci ia pun mundur. Gak jadi, bau Leon terasa gak enak. Membuat ia mual-mual.
Hanum pun lari ke kamar mandi lagi. Dari atas ranjang Leon nampak berpikir, sepertinya ada yang salah dengan Hanum, mengapa seminggu ini istrinya itu selalu muntah-muntah. ‘Jangan-jangan?’ pikirnya dalam hati.
Tidak akan menanyakan pada sang istri, begitu Hanum berangkat kerja. Ia pun langsung siap-siap ke kantor. Tangannya meraih ponsel, ia ingin meminta tolong pada sekretarisnya.
“Desi! Tolong belikan aku alat tes kehamilan!” titahnya pada Desi.
“Bu Hanum hamil, Pak?” dari nadanya, Desi sang sekretaris nampak ikut senang bila itu benar adanya.
“Belum tentu, hanya saja aku curiga. Belikan yang banyak!”
“Baik, Pak!”
Di kantor Hanum. Wanita itu sedang curhat pada sahabatnya.
“Lia, sepertinya ada yang salah pada tubuhku. Apa aku harus ke dokter?”
Lia yang merupakan rekan kerja Hanum di kantor lantas menanyai Hanum, apa keluhan Hanum selama ini.
“Memangnya sakit apa, coba katakan gejalanya.”
“Aku seminggu ini muntah terus, dan terutama kalau menghirup parfum yang kelewat wangi, malah terasa mual.”
“Jailah! Kamu hamil!” ucap Lia dengan enteng.
“Engak! Aku udah cek sekali. Dan hasilnya negative.”
Lia menatap aneh. “Lalu? Sebaiknya kamu ke dokter.”
“Iya, harusnya aku tak mengabaikannya.”
“Semoga tidak masalah, mungkin kamu salah makan.”
“Iya, aku berdoanya ya gitu.”
Obrolan mereka terhenti saat manager datang. “Meeting sebentar lagi, kalian malah gibah di sini!” ucap Manager baru yang merupakan teman akrab Hanum.
“Iya, Bu!” Mereka semua pun masuk ke ruang rapat.
Sore hari, tidak ada angin tidak ada hujan. Leon pulang cepat dengan wajah sumringah. Ia senang lantaran mengira sikap Hanum yang aneh karena mungkin sedang hamil anak ke dua mereka.
“Sayang!” sapanya saat masuk ke kamar. “Aneh gak ada orang?” Leon bicara pada dirinya sendiri. Mencari penghuni rumah. Mengapa rumahnya mendadak seperti kuburan, kosong begini.
“Hanum!” panggilnya.
“Non Hanum sedang ke rumah sebelah, Pak!” jawab asisten rumah tangganya.
“Ngapain Bu Hanum ke sebelah?”
“Ada acara ulang tahun, Bu Hanum nganter Non Sean tadi.”
“Oh!”
Lon masuk ke dalam kamar, ia menatap ke atas meja rias. Ada sebuah paper bag warna merah muda berisi alat tes kehamilan beberapa buah dari segala merek yang berbeda. Ia sengaja menyuruh Desi sang sekertaris untuk membelikannya untuk Hanum.
Lama rasanya ia menunggu, Hanum kok gak pulang-pulang. Ingin menjemput tapi gak enak, kan lagi ada acara. Leon pun memutuskan untuk mandi, selesai mandi Hanum tak kunjung datang. Bosan, ia pun membaca surat kabar online.
Diliriknya jam dinding yang menempel di tembok dengan wallpaper warna biru tua itu, “Ke mana sih, kok gak pulang-pulang?” gerutunya.
Tak lama kemudian, Hanum datang masuk ke kamar.
“Astaga!” pekiknya. Wanita itu kaget karena Leon sudah ada di dalam kamar. Biasanya juga belum pulang jam segini.
“Gak usah kaget gitu, kayak ngelihat hantu!” cibir Leon yang sudah jengah menunggu terlalu lama.
“Lah, ngapain mukanya kusut gitu?”
Leon lantas menyerahkan paper bag yang ada di atas meja. “Bukalah!” titahnya pada Hanum.
“Apa ini?” Hanum melirik ke dalam paper bag tersebut. Ia sangat tak asing dengan benda di dalamnya. Karena baru beberapa yang lalu ia sudah memakainya.
Hanum pun menatap kaku pada Leon, suaminya. Ia rasa suaminya akan kecewa bila ia mengatakan yang sejujurnya. Tapi tak ingin suaminya salah paham terlalu lama, ia pun jujur saja.
“Aku gak hamil, Mas!”
Muka Leon langsung mengeras.
dan Leon sudah tidak di marahin lagidi usir di dorong dan tidak pakai baju ya hanya koloran saja wong kadung nesu ga ngertio ulah calon Leon Junior 👍👍🌹🌹😂😂
Su TREMOSI. hampir meledak kaya gunung Krakatau ,,, memuntahkan lahar koyo wedus gembel 😆 gregeten sama dua orang itu,,,,sudah di panghil sayang ga terima,,,di galak i mewek,,,di belani hanya pakai kolor ijo. ngopo ga pakai kaca mata riben nya Hanum Leon,,,,,biar kocak. ,
coba acak cerita bagaimana awal ketemu nya ,,,tapi lagi senang ketemu pak Su nya beruntung Lo ga di bikin amnesia. sapa sang jawara penulis 😂 baik Lo Jeng Sept
wong di buat jebur berenang lama,,
mempermain kan wanita Ahir sekarang
sedang di uji,, kasian Hanum dan Shian
sabar ya shean ,,,jadi kantor nya siapa yang pegang,,,apa di jarah
anak dan istrinya berpisah dalam keadaan tidak tau mati opa urip,,,😭😭 penuh air mata
namanya juga pELaKoR dan dia juga mau balas dendam menggunakan anak pria lain dodol kuprettt Leon,,,
Leonardo ko ga cerds si sewa dong mata mata,,,masa percaya begitu saja. dan jujur pah agar ada tempat untuk curhat jangan
malah jadi takut,,, justru malah ketauan
bobrok nya cerdas dong Leon. jangan terlbat,,,,ehhh protes sama penulis nya keles 😄😄 ngapa sama Leonardo di ke
pruk i,,😈😈
berat Leon. menjaga hati sang istri dan buah hati,,,
dengan sendirinya lebih baik jujur dan seperti tadi bilang seandainya terjadi sesuatu di masa lalu jangan tinggalkan Ak ya Hanum gitu dan jangan bawa Sean,,,
ya katakan juga mengapa baru bilang ya
karena baru tau dan yang tau justru mama Yesi ,,,
seandainya tau ternyata kebaikan Leon
saat ini ada Nido besar di masa lalu kini,,
tinggal menunggu Bom nya meledak ,,,,
beruntung Hanum tidak keluar dari kerjanya. jadi apabila kelak terjadi percekcokan karena masa lalu sang Suami sebagai pemain wanita ternyata membuahkan anak laki-laki tak berdosa,,,
berarti lebih cerdas Hanum. memang si di tolong Hendra. tetapi tidak pacaran apa
lagi menikah,,,lebih baik hanya hidup berduaan dengan putrinya,,
yang sudah sudah kalau abis bahagia biasanya di bikin sedih sengsara. mudah mudahan kali ini ga ya kasian sudah sama sama menderita 4 th dah cukuplah tinggal meraih kebahagiaan saja,,,,tapi masih ada Anak nya Zura bikin dah dig dug derrrr,,,,
menyesal karena merusak Anak gadis
wanita yang sangat di kenal,,,duh kayanya akan ada perang dunia ke empat 😂👍
semoga Leon benar' benar insyaf ,,,menjadi suami dan Ayah terbaik dan Mama Yesy. menjadi orang tua yang sangat bangga 👍🤲🤲♥️♥️